Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 9


__ADS_3

Nyonya Aselin, Erania dan Caca sampai di sebuah mall. Nyonya Aselin kemudian mengajak mereka makan terlebih dahulu sebelum mereka berbelanja karena jam juga sudah menunjukkan waktunya makan siang.


Keakraban tampak di suasana makan mereka. Nyonya Aselin tampak sangat gembira. Begitu pula dengan Erania dan Caca.


Saat tengah asyik bercengkrama dari kejauhan samar – samar Caca melihat abangnya yang juga akan masuk ke dalam restoran tersebut.


“Bang Dimas” panggil Caca pada abangnya yang tengah mencari kursi kosong.


Nyonya Aselin dan Erania  melihat ke arah yang sama dengan Caca.


“Dito, sini” panggil Nyonya Aselin kepada anaknya. Dito dan Dimas akhirnya menemui mereka. Dito langsung mencium pipi mamanya.


“Mama kok di sini?’” tanya Dito


“Siang tante” ucap Dimas.


“Siang Dim, ayo duduk” balas nyonya Aselin.


Dito duduk di samping mamanya yang tepat berhadapan dengan Erania,sedangkan Dimas duduk di samping Caca.


“Kalian kok bisa di sini nak?” tanya Nyonya Aselin kepada anaknya.


“Iya ma, tadi kami habis ketemu klien. Karena sudah jam makan siang jadi Dito dan Dimas sekalian mampir” jawab Dito.


“Kebetulan kalau begitu. Ya sudah kalian pesan makanan nya sekarang. Biar kalian gak kelaparan” nyonya Aselin memanggil pelayanan yang kebetulan lewat untuk memesan makaanan.


“Oh iya bang, kenalin ini Erania sahabat Caca. Dan Erania, ini Bang Dimas kakak aku”


Erania tersenyum ke arah Dimas, Dimas yang melihat senyum Erania tampak termenung.

__ADS_1


“Gila, senyumnya manis. Pantas saja mama bos nyuruh nikah sama dia” guman Dimas dalam hati.


“Bang, kok bengong sih?” ucap Caca sambil mengoyang – goyang lengan abangnya itu.


“Gak apa – apa dek” balas Dimas. Sementara Dito tetap tenang dengan sambil melihat – lihat menu di hadapannya.


Setelah Dito dan Dimas memesan makanannya meraka kemudian mengobrol.


“Gimana ujian kamu Erania?” tanya Dito pada Erania.


“Eh,, ujian aku lancar tuan” jawab Erania singkat.


“Oh, selamat ya”


“Terima kasih tuan”


Pesanan Dito dan Dimas datang mereka kemudian melanjutkan makan Bersama. Nyonya Aselin tampak semakin senang. Ini momen yang sangat Langkah bisa Bersama makan siang. “Ah, andaikan papa nya Dito ada di sini pasti akan sangat menyenangkan’ ucap mama Dito dalma hati.


Sampai di depan sebuah toko pakaian, nyonya Aselin mengajak mereka masuk .


“Ayo, silahkan pilih pakaian yang kalian suka. Biar nanti saya yang bayar” ucap nyonya Aselin.


“Tapi nyonya, gak usah” ucap Erania merasa tidak enak hati atas kebaikan majikannya ini.


“Iya tan, gak usah. Kami kan hanya menemani tante belanja” sambung Caca.


“Tidak, saya tidak mau tahu. Kalian harus pilih. Apa perlu saya yang pilihkan buat kalian?” lanjut nyonya Aselin memaksa.


Akhirnya Erania dan Caca mengalah. Mereka berdua berkeliling untung mencari pakaian yang akan di beli, ya maksudnya akan di bayar oleh nyonya Aselin.

__ADS_1


Alangkah kagetnya Erania saat melihat harga – harga yang tertera pada pakaian – pakaian yang di pajang. Erania kemudian menghampiri nyonya Aselin yang juga sedang melihat – lihat pajangan yang ada.


“Hmm,,, nyonya permisi..” ucap Erania ragu.


“Iya, kamu sudah memilih pakaian nya?” jawab nyonya Aselin.


“Belum nyonya” Erania diam.


“Lalu” tanya nyonya Aselin lagi.


“Ehmmm,,, itu nyonya.. Harganya mahal. Saya  gak usah saja. Baju saya juga masih ada kok yang bagus”. Nyonya Aselin tersenyum mendengar jawaban Erania.


‘Sudah ya, kamu pilih saja. Ya hitung – hitung buat persiapan masuk kerja. Kan bentar lagi kamu wisuda trus kerja deh”


Erania yang tahu sifat majikannya ini akhirnya pasrah dan kemudian memilih beberapa pasang pakaian kantor.


Setelah selesai mimilh pakaian, mereka ke kasir. Nyonya Aselin membayar semua belanjaan mereka. Caca lalu permisi pulang terpisah, sementara nyonya Aselin dan Erania pulang Bersama.


Dito dan Dimas setelah dari restoran langsung Kembali ke kantor. Di perjalanan Dimas terlihat memikirkan pertemuan tadi.


“Bos, ternyata Erania itu cantik ya. Pantas kalo tante Aselin ingin menjadikannya menantu” ucap Dimas.


Mendengar itu, Dito hanya memandang sinis ke Dimas dan Kembali memainkan handphonenya.


“Bos, Erania itu kurang apa coba? Sudah cantik pintar, baik , uh pokoknya hampir sempurna deh” puji Dimas.


“Kamu tahu darimana kalau dia pintar?”


“Ya dari Caca lah bos. Caca saja kuliahnya masih belum beres. Nah Erania sudah lulus saja dia”.

__ADS_1


Dito tidak menjawab. Entah mengapa hari – hari nya kini selalu saja di bayang – bayangi oleh Erania. Tidak mamanya sekarang malah Dimas asistennya juga ikut – ikutan.


__ADS_2