Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 3


__ADS_3

Dito tampak kesakitan dengan pukulan - pukulan yang diberikan Erania.


Tuan dan Nyonya Wardana yang mendengar keributan kemudian pergi ke dapur dan menyalahkan lampu.


"Dito, ada apa ini? ' tanya mama Dito.


Erania terkejut... "Mak....maksud nyonya apa? tanya Erania masih memegang salah ujung sapu dan satunya lagi dipegang Dito.


"Nia, ini Dito anak saya" Erania menunduk tak berani menatap Dito. Sedangkan Dito yang kesal dengan kemudian menarik dan membuang sapu yang ada di tangannya.


"Maafkan saya nyonya, saya kira maling. yang saya tahu  laki - laki di rumah ini hanya ada tuan".


"Dia siapa ma?" tanya Dito kepada mamanya mengabaikan perkataan Erania.


" Kok kamu malah tanya mama sih. Bukannya kamu yang mengirim orang - orang untuk daftar menjadi perawat mama?"


"Iya ma, tapi bukan Dito yang cari"


"Ya sudah, sekarang kamu duduk dulu. Erania, tolong kamu ambil kotak P3K trus obati lukanya ya. Kami ke kamar dulu. Ayo pa"


"Baik nyonya" kata Erania sambil berjalan mengambil kotak P3K.


"Auwh, pelan - pelan. Sakit tahu" kata Dito saat Erania mengoleskan obat ke lukanya yang sedikit lebam.


"Maa... maafkan saya tuan" ucap Erania sambil menunduk.


"Oh, jadi kamu perawat mama ?" lanjut Dito


"Iya, tuan"


"Siapa nama kamu? " Dito mengambil cermin dan mengobati lukanya sendiri. Erania tetap berdiri di samping Dito masih dengan wajah tertunduk.


"Nama aku Verania Sasmita, biasa dipanggil Erania".


"Trus sebelumnya kamu kerja dimana?"


"Aku belum pernah bekerja tuan"


"Trus selama ini kamu ngapain saja?"

__ADS_1


"Aku kuliah tuan, orang tua aku ingin saya fokus kuliah. Sekarang aku tahap akhir jadi ingin membantu orang tua mencari uang" ucap Erania lagi.


Dito yang mendengar tampak menatap Erania, "Luar biasa gadis ini, dilihat dari penampilannya dia sederhana tapi cukup cantik" guman Dito, Dito kemudian mengeleng - gelengkan kepalanya.


"Berapa usia kamu?"


"21 Tahun tuan". Dito diam sambil terus mengobati lukanya.


Setelah beberapa waktu, Dito selesai mengobati lukanya.


"Bereskan semua, lalu kamu kembali tidur" perintah Dito kemudian kembali ke kamarnya. Erania membereskan kotak P3K dan masuk ke kamarnya. Ia langsung merebahkan diri ke kasur dan terbuai mimpi.


Pagi hari, tampak mama dan papa dan Dito tengah berkumpul untuk sarapan.


"Gimana luka mu nak? Kok kamu pulang gak bilang - bilang sih? tanya mama Dito.


"Baik ma, hanya sedikit lebam saja. Maafin Dito ma, kemarin Dito abis dari luar kota. Lagian bukannya mama yang sekarang sudah gak ingat Dito lagi"


"Bukan hanya kamu yang dilupakan, papa juga" ucap papa Dito sambil melirik istrinya. Mama Dito yang mendengar protes suami dan anaknya hanya tersenyum.


"Kan kalian dulu yang suka ninggalin mama sendiri di rumah. Kalian terlalu sibuk. Oh iya, mama justru mo bilang terima kasih sama kamu Dit. Ide kamu mencari perawat buat mama top banget" lanjut mama Dito sambil mengangkat dua jari jempol tangannya kemudian terkekeh.


"Ya, mama kan jadi ada temannya. Apalagi Erani baik, rajin lagi anaknya. Hmmmm, mama serasa punya anak perempuan" lanjut mama Dito dengan bahagia.


"Huhuhuk,, Dito langsung mengambil air yang ada di depannya".


"Kamu kenapa, pelan - pelan nak" mama Dito mengelus belakang anaknya.


"Mama nyindir Dito ya?"


"Gak, tapi kalau kamu merasa ya bagus dong. Biar cepat - cepat bawa mantu buat mama. Iya kan pa?". Papa Dito hanya mengeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


Mereka kemudian lanjut dengan sarapannya. Namun, beberapa saat  kemudian Erania tampak sudah rapi menghampiri meja makan.


"Permisi tuan dan nyonya, saya mohon izin untuk ke kampus mendaftarkan rencana ujian akhir saya" pamit Erania ragu.


Semua yang ada di meja makan menoleh ke arah Erania.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Nyonya Aselin

__ADS_1


"Iya ya, saya sudah sarapan".


"Ya sudah, hati - hati ya"


"Baik nyonya, terima kasih" Erania meninggalkan mereka.


^^^^^


Dito sampai di kantor melihat keributan kecil di meja resepsionis. Karyawan yang melihat kedatangan Dito langsung membubarkan diri. Seorang wanita tampak berlari ke arah Dito. Wanita itu hendak memeluk Dito namun Dimas yang entah datang dari mana tiba - tiba menarik tangan wanita tersebut menjauh dari Dito.


"Lepasin gak?' tatap Rinda kepada Dimas. Rinda adalah satu anak teman bisnis Dito yang tergila - gila padanya. Dito pengusaha muda yang sukses dan tampan.


Dito diam melihat tingkah Rinda. "Dim, pastikan wanita ini tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di sini sebelum dia bisa membawa Reza kembali ke tanah air" kata Dimas kemudian berjalan menuju lift untuk ke ruangannya.


"Baik bos" jawab Dimas


"Dito, itu bukan kesalahanku. Aku tuh cintanya sama kamu. Bukan sama Reza" teriak Rinda namun diabaikan oleh Dito.


Dimas kemudian menuruh pihak keamanan untuk membawa Rinda keluar.


Di ruangan Dito memejamkan matanya. Ia tidak tahu kalau Rinda masih berani datang ke kantornya setelah sekian lama.. Tiga tahun berlalu, Reza sepupu Dito belum juga kembali ke Indonesia setelah kesalahpahaman diantara mereka akibat ulah Rinda.


Siang hari setelah menyelesaikan administrasi kampusnya, Erania kembali ke rumah orang tuanya. Namun sebelum itu, Erania meminta izin kepada nyonya Aselin.


"Ayah, ibu ada apa , kenapa kalian harus pindah ke luar kota?' tanya Erania menangis memeluk ayah dan ibunya.


"Nak, ini juga mendadak. Kakek kamu sakit, tidak ada yang merawat. Kamu kan tahu kita tidak punya cukup uang untuk menyewa perawat.  Kebetulan juga ada tawarin dari kantor jadi ya sekalian" jawab ayah sambil mengelus rambut putrinya.


"Lalu nanti Erania gimana yah. Apa kalian akan pindah semua? Kenapa kalian tega meninggalkan Nia sendiri di sini?"   lanjut Erania dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa ia tahan.


"Maafkan ayah dan ibu nak, kami semua akan pindah. Kamu selesaikan kuliahmu dulu baru menyusul" Ayah Erania mengelus rambut putrinya yang terus saja menangis.


Akhirnya setelah beres merapikan barang - barangnya mereka semua berangkat. Erania masih terus menangis melihat kepindahan keluarganya yang tiba - tiba. Ia memeluk ayah, ibu, dan kedua adiknya. Sementara ia tidak bisa ikut karena harus menyelesaikan kuliahnya.


Kehidupan Erania dan keluarganya memang cukup sulit, apalagi dengan sakitnya kakek Erania membuat mereka membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Vian yang akan kuliah dan Vano yang akan masuk SMA. Sungguh berat buat mereka jalani, tapi itulah kehidupan tetap harus di syukuri.


Setelah perasaannya tenang, Erania meninggalkan rumah lama mereka dan kembali ke rumah nyonya Aselin. Namun, sesampainya di rumah nyonya Aselin dan tuan Wardana ternyata sedang keluar.


Erania akhirnya masuk kamar kemudian tertidur karena memang hari sudah malam. Lelah menangis membuatnya mudah tertidur ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2