
Nyonya Aselin dan Erania sangat asyik berbelanja kebutuhan rumah tanpa mereka sadari 2 keranjang telah penuh dengan bahan – bahan makanan dan kebutuhan rumah lainnya.
“Nyonya apa kita tidak kebanyakan belanjanya?” mendengar itu nyonya Aselin kemudian berbalik dan melihat
belanjaan mereka.
“Astaga, iya kamu benar Erania. Ini sudah kebanyakan. Tapi gak apa – apa, biar saja sekalian sudah terlanjur d keranjang juga” nyonya Aselin tersenyum mengingat kejadian ini.
Mereka kemudian pulang ke rumah. Dalam perjalanan “Erania gimana kalau siang ini kita masak? Nanti biar saya telpon papanya, Dito dan Dimas sekalian biar bisa makan bersama. Kan sudah seminggu ini Dito belum pulang ke rumah”
“Ide bagus nyonya, kalau saya ajak Caca apa boleh?” tanya Erania dengan penuh harap. Sejak hari iya ujian, Erania sudah tidak pernah lagi bertemu Caca.
“Boleh, semakin ramai semakin bagus. Lagian Dimas kok gak pernah ajak adiknya sih main ke rumah. Ya sudah kalau begitu saya hubungi Dito dulu” nyonya Aselin kemudian mengambil ponselnya. Ia menghubungi suaminya terlebih dahulu. Setelah itu, ia lalu menghubungi Dito.
“Halo nak, apa kamu sibuk?” tanya Nyonya Aselin saat telponnya tersambung.
“Halo ma, iya. Dito sedikit sibuk. Ada apa ma?” balas Dito.
“Oh, mama kira kamu tidak sibuk. Mama mau ngajak kamu dan Dimas untuk makan siang di rumah. Kebetulan kami baru saja berbelanja bahan makanan yang banyak”
“Maafin Dito ma, nanti siang Dito ada janji ketemu dengan klien jadi sekalian makan siang”
“Ya sudah kalau begitu nak, selamat bekerja”
“Makasih ma, ya sudah Dito tutup ya ma” Percakapan Dito dan mamanya selesai.
“Dim, dimana kita akan bertemu tuan Max?” tanya Dito pada Dimas yang masih sibuk dengan berkas – berkas di depannya.
“Nanti di restoran jepang bos sekalian makan siang. Apa kita akan berangkat sekarang bos?” jawab Dimas.
Dito melihat jam yang ada di tangannya kemudian mengangguk.
__ADS_1
“Ayo berangkat sekarang, biar kita bisa santai di jalan” Dito kemudian berdiri dari kursinya dan menuju ke pintu. Dimas membereskan berkas – berkas yang sedang di kerjakan kemudian menyusul Dito.
Mereka tiba di restoran tepat waktu sesuai dengan yang mereka rencanakan. Restoran tampak ramai karena memang waktunya untuk makan siang.
Seorang pelayanan tampak mengampiri Dito dan Dimas “Maf tuan – tuan ada yang bisa saya bantu?” sapa pelayan restoran.
“Iya, kamu ingin bertemu dengan tuan Max” balas Dimas.
“Oh tuan Max sudah datang beberapa saat yang lalu. Mari saya antar” Dito dan Dimas kemudian mengikuti pelayanan tersebut yang akan mengantar mereka ke ruang VIP yang telah dipesan oleh tuan Max.
Pelayan tersebut kemudian mengetuk pintu kemudian mempersilahkan Dito dan Dimas untuk masuk.
Saat mereka masuk, tampak seorang pria yang hampir seusia dengan papa Dito dan juga seorang gadis yang cantik. Dito dan Dimas tampak tenang.
“Mari silahkan masuk nak” tuan Max mempersilahkan mereka masuk.
“Ah, orang ini memanggil ku dengan sebutan nak? Apa yang dipikirkan ?” Ucap Dito dalam hati dan tersenyum sinis.
“Oh iya, Dito lama kita tidak bertemu. Kamu masih ingatkan dengan anak om Devinda?” Tuan Max memperkenalkan wanita disampingnya yang ternyata adalah putrinya. Devinda dengan segera mengulurkan tangannya untuk menjabat tangat Dito.
Dito kemudian mengalihkan pendangannya kepada Devinda namun tidak membalas uluran tangan Devinda sampai Dimas menyenggol tangan Dito. “Bos, sampai kapan akan melamun?”
Dito kemudian tersadar dan membalas jabat tangan Devinda.
“Lama tidak bertemu nona?” ucap Dito. Sejak mereka berpisah Dito dan Devinda memang tidak pernah bertemu, bahkan Dito sedikit lupa dengan wajah Devinda, tapi soal kisah mereka Dito tidak mungkin melupakannya.
“Nona, Dit kamu tidak usah seformal itu bukan ka kita teman lama? Devinda tersenyum.
“Ha…ha..ha.Aku pikir itu sudah lama berlalu. Dan seingat aku bukannya nona sendiri yang mengatakan tidak mengenal aku dan tidak mempunyai teman seperti ku?” mendengar itu Devinda terdiam.
Ia ingat kejadian beberapa tahun lalu saat mereka di bangku SMA. Waktu itu mereka berteman akrab dan kemana mana selalu Bersama. Dito yang tampan, pintar serta anak orang kaya. Banyak yang berpikir kalau Dito dan Devinda adalah pasangan serasi padahal mereka sebenarnya hanya berteman.
__ADS_1
Namun setelah orang tua Dito bangkrut , Devinda tidak mau lagi berteman dengan Dito. Tidak berbeda dengan tuan Max ayahnya, Devinda juga berpurda- pura seperti tidak mengenal Dito.
“Mari kita makan terlebih dahulu” ucap tuan Max mencairkan suasana.
Mereka semua kemudian makan dalam diam. Setelah selesai, tuan Max lalu membuka Kembali obrolan.
“Saya dengar kalau kamu sekarang sukses Dito,kamu memang luar biasa persis sperti orang tuamu” ucap tuan Max.
“Anda terlalu memuji ku tuan Max” ucap Dito merendah.
“Bagaimana kabar papa dan mamamu? Om lama tidak bertemu” lanjut tuan Max
“Mereka sangat baik tuan” Dito menjawab singkat dengan nada yang sinis. Mendengar jawaban Dito yang sinis dan sangat singkat membuat Tuan Max sedikti frustasi, ia tidak menyangka kalau DIto sangat berubah tidak seperti dulu sangat ramah. Sementara Devinda hanya diam mendengar obrolan ayahnya dan Dito Devinda masih bingung harus bersikap seperti apa karena ia juga kaget dengan perubahan Dito.
“Kerjasama seperti apa yang anda tawarkan tuan? Bukanka anda mengajak bertemu untuk itu? “ lagi – lagi Dito berbicara dengan nada yang sinis.
“Benar sekali, saya ingin menawarkan Kerjasama dengan mu ya hitung – hitung untuk memperat kembali hubungan keluarga yang sudah lama renggang” Tuan Max menyodorkan proposal kerjasamanya yang telah di bawa Deviinda.
Dimas kemudian mengambil proposal tersebut tanpa membukanya karena instruksi Dito.
“Ha..ha,,ha.. lucu sekali anda tuan Max. Bukan ka anda juga yang merasa tidak mengenal orang tuaku dulu? Sekarang anda ingin memperatnya?" Dito sedikit kesal dengan sikap tuan Max yang seolah-olah mereka adalah teman yang baik.
Mendengar itu tuan Max kembali terdiam.
“Baiklah kalau begitu kami akan mempelajari proposal ini, nanti asisten ku akan memberi kalian kabar” Dito kemudian langsung berdiri dan hendak keluar namun di tahan oleh tuan Max.
“Saya pikir kita bisa langsung menandatanagi kerjasama ini Dito? Bukankan kita sudah lama kenal, saya yakin ini akan baik buat perusahaan kita?” Dito menatap tangan tuan Max yang menahannya. Tuan Max kemudian melepaskannya “Maaf Dito”
“Mungkin anda bisa yakin tapi tidak dengan ku. Setiap pekerjaan harus profesional, bagaimana mungkin kami akan menandatanganinya kalau kami belum mempelajarinya? Kami tidak mau membeli kucing dalam karung”
Setelah berkata demikian Dito dan Dimas meninggalkan tuan Max dan putrinya di dalam restoran tersebut.
__ADS_1