
Masih hari ke dua KMD Desember akhir,
Sinar matahari sedang terik-teriknya, menembus ozon yang mulai meradang karena ulah manusia,
panasnya menyengat kulit yang tak bertabir surya,
tak pedulikan mereka para petani yang sedang meraup rizki,
tak peduli mereka para nelayan di lautan yang sedang mencari nafkah untuk keluarga,
tak pedulikan mereka para kuli bangunan,
dan para gembala yang sedikit berkurang pakan ternaknya.
Mobil catering yang mengangkut kotak nasi baru tiba di depan halaman MIN Kedungwuni yang merupakan lokasi kegiatan KMD. Faizah keluar dari dalam mobil itu kemudian menenteng 1 plastik besar di tangannya.
Sampai di ruangan transit, ternyata sebagian besar penghuni sudah terlelap tidur, kecuali peserta yang memang tadi malam pulang ke rumah dan tidur di rumah masing-masing.
Lula berulang kali dibangunkan oleh Ucik tetapi tidak mau bangun juga.
Ucikpun mendekatkan mulutnya ke telinga Lula.
"Mbak Lula banguuun..!" seru Ucik.
"Astaghfirullah al'adzim!" Lula terperanjat kaget bukan main. Ia mengepalkan tangannya meniupnya dan menempelkan di kuping kiri dan kanan secara bergantian. "Sarkujb Bucik!" seru Lula.
"Habisnya Mbak Lula dibangunin malah tambah keras ngoroknya," kilah Ucik. "Lihat udah jam berapa, Mbak?" tanyanya sambil menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Bukannya terimakasih, sudah dibangunin," ucap Ucik lagi mengerucutkan bibirnya.
"Iya...iya.. terimakasih. tapi lain kali jangan begitulah! kupingku sakit nih nggak ilang-ilang." tukas Lula.
"Hehe..maaf! nggak lagi, Mbak." Ucik memohon.
Lulapun melangkah pergi meninggalkan ruangan menuju ke toilet untuk mencuci muka sekalian berwudlu. Setelah itu kembali lagi ke ruangan transit untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Setelah selesai sholat barulah iya menyantap nasi box yang ia pesan, Lula menikmatinya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Lula saat ia makan.
"Mbak Izah, makasih ya bonusnya, aku suka pisang Ambon." ucapnya setelah selesai makan.
"Sama-sama, Mbak Lula!" jawab Faizah.
"Kalau pisang Ambon udah Mateng ranum gini, biasanya kalau dirumah jika sudah kumakan buahnya nggak aku buang langsung kulitnya." cerita Lula.
"Buat kasih makan embek ya, Mbak?" tebak Uus sok tau.
"Bukan, bagian dalam kulit pisang ini aku pake untuk maskeran, ku gosokkan ke muka." papar Lula.
"Emang bisa kulit pisang buat maskeran, Mbak?" tanya Imas tidak percaya.
"Bisa kok, kulit pisang ini bisa menghaluskan kulit loh," jawab Lula.
"Kalau aku lebih suka kulit semangka, Mbak Lula." ujar Faizah. "lha dalamannya yang berwarna putih itu yang biasa kupakai untuk menggosok pipi atau rambut." paparnya.
"Hahahaha...baru tahu aku ada semangka pakai dalaman," celetuk Ucik tidak bisa menahan tawanya.
Gerrrr...
"Sarkucik! kebiasaan dech kalau bicara pasti menjurusnya ke situ." ujar Bu Sri.
"Hahaha..Itu dalamannya berenda nggak, Mbak?" Lula menambahi.
"Hahaha..Iya. rendanya warna hijau, Say." sahut Faizah.
"Wkkkkkkk...."
Dasar perempuan, kalau sudah berkumpul ada saja yang dibicarakan, bicara ngalor ngidul nggak perduli pembicaraan itu ada manfaatnya atau tidak, yang penting hati senang, daripada memikirkan kebutuhan rumah tangga yang tidak ada habisnya, sekali-sekalu tidak apalah.
Hampir saja mereka lupa waktu kalau saja tidak mendengar suara bel tanda masuk berbunyi. Mereka akhirnya kembali ke kelas untuk mengikuti sesi berikutnya.
Materi siang ini adalah tentang Penegak dan Pandega. Hingga jam tiga sore peserta dibubarkan untuk kegiatan pendirian tenda bagi penggalang dan persiapan untuk acara api unggun dilanjutkan penjelajahan malam nanti malam. Untuk hari ini kegiatan materi di kelas cukup sampai disini.
Para peserta bergabung dengan kelompoknya masing-masing di luar kelas untuk praktek mendirikan tenda di halaman. Lula mengambil tenda di ruang transit yang dibawanya dari rumah.
Keluar dari ruang transit ia berjalan ke halaman dan mencari lokasi yang strategis untuk mendirikan tenda.
"Miftah, ini tendanya sudah ada talinya sekalian. Bambunya sudah ada?" tanya Lula pada Miftah.
"Sudah Mbak, sudah dipotong juga, lagi diambil sama Imas dan Fatimah. Tapi nggak tau pas atau tidak." jawab Miftah.
Tidak lama kemudian Fatimah dan Imaspun datang menggotong bambu untuk penyangga tenda. Tenda didirikan bersama teman satu regu.
"Miftah, ini sudah selesai, sudah boleh pulang kan?" tanya Uus.
"Boleh, Say. Aku juga mau pulang. tapi nanti jam delapan sudah kumpul di sini ya gaess!" tukas Miftah.
"Tah gasik amat, acara api unggunnya kan jam 09.00." protes Ucik.
"Buat persiapan, Say." sahut Miftah.
"Memang ada acara pentas seninya?" tanya Lula.
"Wahaha....Mbak Lula pasti mau nyanyi ya!" tebak Ucik sok tahu.
"Ogah," jawab Lula singkat. "tapi mau juga dong kalau disawer, hehe.." lanjutnya.
Akhirnya merekapun kembali ke habitatnya masing-masing, Miftah, Ucik, Fatimah, Uus dan peserta lain yang membawa kendaraan pulang ke rumahnya. Sementara Lula, Bu Sri, Imas, Nur Janah dan lain-lain yang tidak membawa motor kembali ke ruangan.
Lula mengganti sepatu yang dipakainya dengan sandal jepit, ia lalu mengambil peralatan mandi dan baju ganti di ruangan transit kemudian melangkah menuju ke toilet untuk mandi dan berwudlu. Setelah itu ia kembali ke ruang transit dengan pakaian yang sudah terganti.
"Bu Sri, tunggu aku!" seru Lula saat melihat Bu Sri dan Imas hendak sholat berjamaah
"Ayo, gercep!" ujar Bu Sri.
Lula pun meletakkan baju seragam Pramuka yang tadi dipakainya dan peralatan mandinya sembarangan. Dengan secepat kilat ia mengambil perangkat sholatnya, memakai mukenahnya dan menggelar sajadahnya di samping Imas. Imas membacakan iqomah,
Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Ashadu an laa ilaaha illallah,
Ashadu Anna Muhammadur Rasulullah,
Hayya alas sholaah
Hayya alal Falaah
Qodqomatissolah qodqomatissolaah,
Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah.
Merekapun melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyu' dilanjutkan dengan dzikir.
"Mbak Lula, aku sama Bu Sri mau jalan-jalan melihat pasar kaget di depan. Mbak Lula mau ikut tidak?" tanya Imas sambil melipat mukenahnya.
"Ikut donk!" seru Lula.
Lula melipat mukenah dan sajadahnya, ia mengambil peralatan mandi dan baju seragamnya yang tadi di taruh sembarangan kemudian meletakkannya di mejanya dekat dengan tas ranselnya.
Mereka telah siap untuk menghabiskan sore ini dengan jalan-jalan mengunjungi pasar kaget. Mereka melangkah beriringan menuju ke gerbang sekolah.
"Mau beli apa kita nanti?" tanya Lula pada Imas dan Bu Sri.
"Cuci mata saja, Mbak." jawab Imas.
__ADS_1
"Paling-paling mampunya beli tahu Aci atau sempolan. hehehe..." sahut Bu Sri.
"Aku lagi pengen kue gandasturi, kira-kira ada nggak ya?" ucap Lula.
"Kasturi apa itu, Mbak?" tanya Lula.
"Gandasturi, Imas!"
"Iya, maksudku itu Mbak,"
"Itu kue yang berbentuk bundar pipih yang terbuat dari kacang hijau yang dibalut tepung kemudian digoreng." papar Lula.
"Oh..iya Mbak, aku paham." sahut Imas. "Itu biasanya ada di penjual pisang molen, Mbak." ingatnya
Kini mereka telah sampai di pasar kaget. Kebanyakan dari para pedagang di pasar kaget itu menjual pakaian, sebagian lagi menjual makanan dan sebagian lagi menjual mainan.
Setelah puas berjalan-jalan, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke gedung MIN sebelum Maghrib tiba. Tiba di depan ruang transit mereka tidak langsung masuk ke ruangan, tetapi duduk-duduk di teras sambil menikmati apa yang mereka dapatkan dari pasar kaget barusan.
"Mba Lula, dapet kasturinya?" tanya Imas.
"Kasturi lagi, dapet nih makan bareng-bareng!" sahut Lula.
Imas mengambil satu dan mencicipinya. "emm... enak ya, lumer di mulut." ujarnya. "Mbak mau asinan mangga nggak? nih aku beli tiga bungkus."
"Hah, kapan kamu belinya?" tanya Lula.
"Tadi waktu Mbak Lula pergi ke penjual molen, aku lihat penjual asinan mangga, terus aku beli tiga." jawab Imas.
"Ini sempolan Bu Sri yang beli?" tanya Lula.
"Iya Bu Lula, habiskan saja!" suruh Bu Sri.
"Ih enggak doyan aku," kata Lula sambil mencicipi.
"Heleh, enggak doyan tusuknya," sergah Bu Sri.
Tak lama kemudian azan Maghrib pun berkumandang. Bu Sri mengambil air wudlu di kran tempat cuci tangan yang ada di depan ruang transit.
"Kalau nggak kebelet buang air, mending wudlu disini saja, di belakang pasti antriannya panjang," usul Bu Sri.
"Iya aku juga mau wudlu di situ saja, ke belakangnya nanti kalau antriannya udah lebih longgar." sahut Lula.
Mereka melaksanakan sholat berjamaah di dalam ruang transit dengan Bu Sri bertindak sebagai imam. Usai sholat dan berdzikir mereka gunakan untuk membaca Alquran sambil menunggu waktu isya' untuk melaksanakan sholat isya' sekalian sebelum berganti seragam Pramuka kembali.
Pukul 20.00 WIB Miftah dan anggotanya sudah siap mengikuti upacara api unggun yang akan di laksanakan pada pukul 21.00 WIB. Tampak para petugas yang ditunjuk sedang melakukan gladi bersih.
"Ayo teman-teman mumpung belum mulai kegiatan, bantu aku merobohkan tenda!" ajak Lula. "sudah boleh dirobohkan kan?" tanyanya.
"Ayo, Mbak aku bantu." Imas menawarkan diri. "tuh yang lain juga sudah dicabut kok." tunjuknya.
Lula merobohkan tenda dibantu oleh Imas dan dua orang teman lainnya. Tenda itu dilipat dan dimasukkan ke dalam tas khusus kemudian di simpan di ruang transit berjajar dengan tas ransel milik Lula.
"Gaess, nama regu kita apa?" tanya Miftah pada teman-temannya. "Kita sekarang kan ceritanya lagu jadi penggalang, kata kakak panitia tadi harus punya nama regu." lanjutnya.
"Kalau regu Melati, bagaimana?" usul Lula.
"Iya melati juga nggak apa-apa?" sahut lainnya.
"Ada yang bisa lagu yel-yel tentang melati, enggak?" tanya Miftah lagi.
"Nggak ada."
"Nggak bisa,"
"Pakai lagunya Erna Sari aja, Mif!" usul Lula.
"Dangdut? nggak ada yang lain apa?"
Tepat pukul 21.00 WIB, para peserta sudah berbaris berbanjar ke belakang mengelilingi gunungan kayu yang akan dibakar untuk api unggun. Upacara segera dilaksanakan, 10 petugas pembaca Dasa Dharma kini sudah berada di tengah-tengah lapangan.
OAIO
Oaio..... 2x Api Unggun berkobar
Oaio..... 2x Pramuka riang dan sabar
Kalau hari sudahlah petang
Tenang di hati datang
Waktu berapi Unggun tiba
Saat bersuka ria.
Kita duduk berlingkar-lingkaran
Tak ada mula akhirnya.
Lingkaran persaudaraan
Kita kuat eratkan.
Oaio..... 2x Api Unggun berkobar
Oaio..... 2x Pramuka riang dan sabar
Api kita sudah menyala
Api kita sudah menyala
Api api api api api
Api kita sudah menyala.
Upacara api unggun selesai, para peserta mempersiapkan diri untuk penjelajahan malam dan renungan malam.
Perjalanan di mulai pukul 23.00. WIB, regu yang bisa menebak kalimat yang diperagakan dengan sandi Morse bisa berangkat duluan. ada 5 pos yang harus dilewati oleh setiap regu. Namun karena yang mengikuti kegiatan ini kaum kawak-kawak yang pasti bisa dengan mudah, lancar jaya.
Hingga sampailah saat seorang kakak panitia menuntun regu melati di sebuah kuburan.
"Ya Allah kuburan beneran, aku takut Mbak Lula." rintih Vivi Shofiah yang berbaris di belakang Lula.
Ada 2 Vivi di kelas Lula, Vivi kanan dan Vivi kiri? oh bukan! Vivi Sofiyah dan Vivi Yuliyanti.
Vivi yang Satu ini memang tidak akrab dengan teman-teman sekelasnya karena kekasihnya Zain juga teman sekelas dengan Lula, jadi tiap hari lebih sering bersama dengan Zain.
Kembali ke Kuburan, sebenarnya Lula juga merasa takut, apalagi ditambah udara tengah malam yang dingin mencekam.
Ya Allah..kepapa aku mesti merayakan tahun baru di kuburan." bathin Lula
Yang lain merayakan tahun baru di taman, di alun-alun atau nonton orkes, lah..ini di kuburan, malang benar nasibmu Lula. hehe...
Kakak panitia menyuruh peserta melepas hasduk yang dipakainya untuk dipakai sebagai penutup muka, kemudian mewanti-wanti agar jangan sampai pegangannya terlepas dari bahu teman didepannya.
Kakak panitia menuntun tangan Miftah hingga sampai di suatu tempat, dan menyuruh Miftah dan teman-temannya untuk duduk. Suasana hening hingga terdengar suara seorang wanita bergantian membacakan renungan malam dengan pelan dan menyayat hati.
RENUNGAN MALAM
Malam ini….
Disaksikan alam yang hening dan temaram….
Aku bersaksi akan kebesaran dan keagungan Mu ya Allah….
Engkau Yang Maha Besar dan Maha Pengasih….
__ADS_1
Aku yang selalu merasa bisa, merasa pintar, merasa hebat….
Tetapi Aku juga kerap lalai untuk mengingat dan lupa bersyukur atas apa yang
Engkau limpahkan kepadaku….
Aku kadang kaget menggugat, Kenapa tidak semua permintaan dan Do’aku tidak
Engkau kabulkan
Ibu…
Ma’afkan anakmu…
Yang belum bisa berbuat banyak untukmu ibu…
Berapa banyak yang sudah kau berikan, kau korbankan dan kau pasrah untuk
Membesarkan aku…
Kau mengandung, melahirkan, merawat, membimbing dan bahkan tersenyum saat aku berbuat nakal….
Kau jaga aku, kau rawat aku saat aku sakit…
Kau selalu berdo’a untuk kesehatan, kebaikan dan masa depanku…
Kau dampingi aku saat aku remaja…
hingga aku sebesar ini….
Ibu… Ma’afkan anakmu…
Yang belum bisa berbuat banyak untukmu…
Ibu… Ma’afkan aku… yang selalu ingat ibu saat aku galau, resah dan punya
masalah…
Isak tangis dari peserta mulai terdengar, bulir-bulir air mata tak dapat dibendung.
Ayah…
Aku kangen, aku rindu mendengar suara mu…
Kadang keras, kadang marah, tapi aku tahu itu adalah ekspresi kasih sayangmu
padaku…
Aku tidak mampu menghitung, berapa banyak, keringat, air mata bahkan darah
yang kau sudah korbankan, untuk bisa membiayai hidup dan sekolahku…
Ayah…
Aku bahkan sering kesal, karena Ayah sering pulang malam…
Aku sering marah saat melihat kawan-kawanku bermain dengan Ayah mereka…
Tapi Ayah malah bekerja, lembur lah, cari tambahan lah… semua alasan yang aku
tidak bisa terima…
Ma’afkan aku ayah…
Aku tidak faham, betapa Ayah sudah bekerja keras membanting tulang untuk
Menghidupi keluarga…
Ibu…
Ayah…
Sekarang aku ditantang untuk jadi Pelatih Pembina pramuka…
Terbayang, tanggung jawab yang besar sudah menanti…
Terbayang masa depan Gerakan Pramuka, ada dipundak ku…
Ibu….
Ayah…
Restui aku, untuk mampu mengemban amanat menjadi Pelatih Pembina Pramuka
Yang hebat dan paripurna…
Aku tidak ingin menjadi pecundang…
Aku bertekad menjadi Pelatih Pembina yang hebat…
Aku ingin membesarkan organisasi Gerakan Pramuka, dengan membina
Anak-anak negeri…
Sesuai dengan ilmu yang aku dapatkan dari Pembinaan.
Ya Allah,
Ampunilah dosa kami,
Ampunilah dosa kedua orang tuaku
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku masih kecil,
Astaghfirullah Al'adziim..alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaika
Astaghfirullah Al'adziim.. alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaika
Astaghfirullah Al'adziim.. alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaika
Ya Allah, betapa dosa hamba setinggi gunung dan seluas lautan,
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana; dosa-dosaku yang merusak karunia; ampunilah dosa-dosaku yang menahan (dikabulkannya) doa. Ya Allah, ampunilah dosa yang telah aku lakukan dan segala kesalahan yang telah kukerjakan.
Ya Allah, aku datang menghampiriMu dengan zikir padaMu, aku memohon pertolongan Mu dengan diriMu, aku bermohon padaMu dengan kemurahanMu, dekatkan daku keharibaanMu, sempatkan daku untuk bersyukur padaMu, bimbinglah daku untuk selalu mengingatMu.
Robbana aatina fiddunya hasanah
wa fil aakhirati hasanah,
wa qina azabannar,
Subhana robbika robbil Izzati Amma yasifun,
Wa salaamun alal mursaliin,
Walhamdulillahi robbil 'alamiin..
Suasana kini hening, mereka tenggelam dengan hati dan fikiran masing-masing.
" Penutup matanya sudah boleh dilepas ya!" ujar kakak panitia.
Akhirny mereka kembali ke gedung MIN Kedungwuni lokasi kegiatan KMD dan dapat tidur dengan lelap. good night!
__ADS_1