
Alula POV
Hari berikutnya sesuai dengan rencana, target pertama kita adalah menuju ke RSUD Kajen membuat kir dokter. Aku berangkat boncengan dengan Bu Mimah, sementara Pak Yahya dengan Pak Son.
Kira-kira pukul 08.00 WIB lebih, di depan loket antrian pendaftaran sudah berjubel para pendaftar, mereka rata-rata bertujuan sama, mau membuat surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas dari Narkoba dan psycotropika.
Setelah berhasil mendaftar aku diarahkan masuk ke dalam, di sana sudah ada petugas yang mengukur dan mencatat tinggi badan dan berat badan, terntu saja kita harus nunggu nomor antrian kita dipanggil.
Aku duduk di depan poly gigi, karena di bangku antrian poly umum sudah tidak ada tempat duduk, bisa dibayangkan nunggu berapa lama sampai nomor antrianku no.52 dipanggil, udah gitu ngantrinya bareng masyarakat yang mau periksa lagi, boring banget.
Akhirnya sampai masuk waktu sholat dhuhur pun nomorku belum dipanggil. Mau aku tinggal sholat takut nomorku dipanggil terus nomor antrian setelahku yang maju duluan, arrrgh..
Akhirnya tepat pukul 12.00 WIB dokter dan perawat pendamping menyatakan istirahat. Alhamdulillah.. jadi nggak takut kalau nomor antrian dipanggil, mana cacing di perutku juga sudah pada konser lagu seriosa lagi.
Akupun diajak Bu Mimah sholat dahulu di Mushola rumah sakit yang ada di belakang, sebelah timur apotek. Aku mengambil air wudlu dari kran yang ada di luar, kemudian masuk ke dalam mushola, mukenanya juga ngantri di sana, kebetulan aku tidak membawa mukena.
Akhirnya aku mendapatkan mukena dari seorang wanita yang baru saja selesai sholat. Aku melakukan sholat dengan keadaan perutku yang masih keroncongan, tentu saja tidak bisa khusyu', mulutku melafalkan do'a tapi benakku terbayang-bayang warung makan Padang yang ada di depan rumah sakit, tadi pagi waktu berangkat aku sempat melirik, sepertinya nikmat sekali. Sholatkupun akhirnya secepat kiriman paket expedisi, express.
Selesai sholat, kami pergi ke warung mi ayam yg ada di depan rumah sakit seberang jalan, tidak seperti bayanganku tadi waktu sholat, Mungkin itu hanya godaan syaiton yang terkutuk semata, sekarang aku tidak tertarik lagi, aku hanya ingin mi ayam yang pedas dan nampol, biar mata ini fress from the oven, nastar kali.
Kami duduk di bangku yang ada di dalam, agak risi rasanya di ruangan yang berukuran 4 x 3 meter bareng sama laki-laki lain. Akupun menikmati mi ayam dengan suasana tidak nyaman.
Selesai makan mi ayam aku ke toko sebelah untuk membeli permen dan air mineral, aku mengambil permen asam jawa, lalu kami bergegas kembali ke rumah sakit, kali ini aku duduk di teras yang dekat dengan ruangan poly umum agar mendengar jika nomor antrian kami dipanggil.
Pukul 13 WIB lebih sedikit perawat mulai melanjutkan memanggil nomor antrian, nomor antrian 48 mulai memasuki ruangan praktek, tidak lama kemudian dia keluar. mungkin pemeriksaannya dipercepat tidak seperti saat sebelum waktu dhuhur.
Selanjutnya dipanggil nomor antrian 49 dan 50 tidak ada orang yang masuk, mungkin mereka masih ishoma, akhirnya nomor antrianku dipanggil, Alhamdulillah.
Akupun bergegas memasuki ruangan itu, sekarang aku bisa melihat Bu dokter cantik yang ada di balik pintu, karena sejak tadi yang kulihat hanyalah perawat yang mondar-mandir keluar masuk membuka dan menutup pintu sambil berulang kali mulutnya membacakan nomor antrian. Mungkin kalau pintu itu bisa bicara pasti sudah mengumpat perawat tersebut.
"Silahkan duduk, Bu!" ujar perawat tersebut lembut. "Diperiksa tekanan darahnya ya, Bu." ucapnya lagi sambil merekatkan bantalan tensimeter pada lengan kiriku. Sesaat dia mulai memompa.
Akupun hanya menurut saja tanpa membantah apa yang akan dilakukan oleh Suster dan dokter tersebut. Perawatpun mencatat hasil ukurannya pada selembar kertas.
"120/80 Mhg, normal ya, Bu." kata perawat.
Dokter pun memakai stetoskopnya dan menempelkan ujung stetoskop tersebut beberapa kali di tempat yang berbeda di dadaku.
__ADS_1
"Ada keluhan tidak, Bu?" tanya dokter sambil memeriksa.
"Kalau hari-hari biasa sih tidak ada, Dok, tapi pas datang bulan, rasanya nyeri banget perutku." jawabku.
"Itu wajar, Bu. Sebagian wanita mengalaminya. Ada yang ingin ditanyakan, bu?" tanya Bu dokter.
"Tidak ada, Bu." sahutku.
Susterpun memberikan secarik kertas.
"Silahkan ke ruang Lab ya, Bu, ini diserahkan pada petugas di sana." ucapnya.
"Terimakasih, Bu." akupun keluar dari ruangan itu karena sudah mengantri nomor berikutnya.
Akupun berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang lab, ruangan tersebut berada di deretan poly kandungan sederet dengan mushola tempatku sholat tadi.
Di sana juga sudah banyak yang mengantri, akupun menyerahkan secarik kertas yang kubawa yang diberikan oleh perawat tadi kemudian duduk di bangku tunggu.
Tidak menunggu waktu lama namaku dipanggil, tidak nomor antrian lagi. Akupun masuk ke dalam ruangan, kulihat seorang petugas laboratorium sedang meneteskan alkohol pada butiran-butiran kapas kecil dan ditaruh pada kotak stainless.
"Silahkan duduk, Bu!" Perintahnya lembut. "Tolong lengan kirinya dibuka ya, Bu! Saya ambil darahnya." pintanya sambil memegang sebutir kapas yang sudah diolesi dengan alkohol tadi.
"Tidak sakit kok Bu, sedikit saja." rayu petugas tersebut sambil mencari kelenjar darah pada siku dalamku, kemudian mengoleskan alkohol disana.
Mungkin dia tahu kalau aku takut atau mungkin setiap orang yang masuk juga diucapi sama seperti itu.
Akupun semakin merinding saat dia memegang jarum suntik, ingin kuteriak tapi aku malu.
"Tahan sebentar ya, Bu." ucapnya lembur saat ia akan menusukkan jarum itu pada lenganku.
Mak tolong aku!
Akupun menahan napas saat jarum itu merasuk ke dalam tubuhku. Kupejamkan mata dan kupalingkan mukaku dari perawat itu.
"Sudah selesai. Bu," kata perawat itu sambil menutup bekas suntikan dengan kapas beralkohol untuk menutup jalan darah.
Petugas itu kemudian mengambil botol kaca kecil dan menuliskan tanda dengan spidol permanen, kemudian memberikan botol kaca tersebut kepadaku, akupun menerima botol tersebut.
__ADS_1
"Njenengan pipis di toilet, air pipisnya ditampung di botol itu ya bu. Nanti botolnya tolong diletakkan di meja ruangan itu ya, Bu!" pintanya sambil menunjuk ke arah suatu ruangan.
"Toiletnya di mana, Mbak?" tanyaku.
"Toilet ada diujung lorong ini ya, Bu." Jawabnya.
"Terimakasih ya, Mbak." ucapku.
Akupun berjalan menyusuri lorong mencari dimana keberadaan toilet, akupun menemukannya, kubuka pintunya di sana ada closet jongkok, akupun menghampirinya, kusingkap rok yang kupakai dan kubuka celana dalamku, aku segera berjongkok, kutadahkan botol itu sekenanya karena aku tidak bisa melihat di bawah sana. Akupun mengeluarkan isi kandung kemihku dan,
Sorrr...
Terasa hangat, cairan itu mengenai tangan kiriku, kuangkat tanganku yang memegang botol kaca tersebut, ah..
Ternyata hasil kurasanku sebagian besar masuk ke dalam closet, bidikanku di botol itu tidaklah tepat, ingin kuulangi tapi sudah tak bisa, kering sudah isi kemihku dan botol kaca itu hanya terisi 10%, ya sudahlah.
Kubersihkan bagian luar botol kaca itu dengan tisu dan kuletakkan tempat yang kuanggap tidak akan tersiram air. Akupun membersihkan diri dan memakai kembali pakaian dalamku.
Kuambil kembali botol itu yang kulapisi dengan tisu. Akupun beranjak pergi meninggalkan toilet. Aku berjalan menuju ke ruangan yang ditunjukkan oleh petugas laboratorium tadi, disana sudah tertata botol-botol kecil lainnya pada rak yang disediakan. Akupun menaruh botol yang kepegang pada rak yang masih kosong, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Aku keluar dari ruangan itu, Bu Mimah sudah duduk di bangku tunggu. Dia menepuk bangku kosong di sebelahnya.
"Sini, Mbak. Nunggu hasinya sekalian biar besok bisa langsung dilegalisir." tuturnya.
Akupun menghampiri dan duduk disampingnya. Kami menunggu Surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba dan psikotropika itu selesai dibuat.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB dan kami belum sholat ashar. Akupun mengajak Bu Mimah untuk sholat ashar terlebih dahulu supaya nanti tidak kesorean.
Ketika kami kembali ke loket di ruangan laboratorium ternyata nama kami sudah dipanggil. Akupun menerima hasil lab kami dengan senang hati, dalam surat itu menerangkan kalau aku negatif dari narkoba dan psycotropika. Alhamdulillah lega rasanya.
Ada beberapa teman kami yang harus menjalani tes lebih lanjut di RSUD Kraton karena ditemukan zat-zat tertentu, katanya disana sudah ada alatnya sementara di rumah sakit ini belum ada, memperlambat waktu saja.
Kamipun pulang dengan perasaan senang, tinggal fotokopi surat itu dan besok dibawa ke sini lagi untuk di legalisir.
Heppy reading
Semoga suka
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya ya 🙏🙏🙏