Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#35


__ADS_3

Aku terbangun saat ku dengar suara dari pengeras suara sekretariat berbunyi, malas aku untuk bangun, dingin sekali rasanya seperti di kutub, mataku juga masih pedas untuk kubuka, kulihat jam di HPku yang kuletakkan di samping kepalaku, masih pukul 02.23 WIB, tapi suara itu..


"Tolong kakak pembina pendamping, putra-putrinya itu dijaga, disuruh tidur, jam segini kok masih keluyuran. Besok pagi kegiatan masih banyak, dik. Persiapkan tenaganya untuk besok pagi."


Ih...itu anak dari gudep mana sih? bikin malu kakak pembina pendampingnya saja. Lagian itu kakak panitia jam segini kenapa pakai pengeras suara sih, bikin orang nggak nyenyak tidur saja. Gerutuku.


Akupun dengan berat hati membangunkan tubuhku, bangkit dan berjalan menuju tenda, kelongok dari balik celah. Aku mulai menghitung jumlah manusia yang berjajar seperti pindang ikan di dalam tenda, betapa terkejutnya aku, harusnya 13 ditambah Bu Mimah kan jadi 14, ini tinggal 10 berarti masih kurang 4 donk, malu beneran ini mah.


Sekonyong-konyong ku lihat dalam keremangan 4 anak mendekat ke tenda dengan canda tawa khas mereka, mereka membawa lipatan baju di tangan kiri dan salah seorang membawa ember.


"Dari mana, Mbak? Hana, Widi, Ayu dan Nurul?" tanyaku mengintimidasi.


"Mau mandi di sungai, Bu. Hana bilang tadi sudah subuh." jawab salah seorang di antara Mereka. Alamak.


"Ini masih jam 2, Sayang. Tidur lagi gih, besok masih banyak kegiatan." perintahku. Merekapun masuk ke dalam tenda dan menutupnya. Aku kembali melanjutkan tidurku.


Aku terbangun dari tidurku karena suasana sudah mulai ramai, aku meraih ponselku untuk melihat jam, waduhh.. jam setengah enam pagi, benar-benar tidak mendengar suara azan subuh tadi. Akupun bangkit untuk merapikan tikar dan selimut yang kupakai.


Aku mengambil mukenah dan segera pergi menuju ke mushola untuk melaksanakan sholat subuh.


Aku kembali ke tenda, sebentar lagi aku harus pulang. Sambil menunggu kakak pembina pendamping yang bertugas shift pagi datang, aku merebus air untuk membuat kopi dan teh sebagai teman sarapan pagi bagi penghuni tenda.


"Bu Mimah sudah pulang ya, Mbak?" tanyaku pada salah seorang peserta putri.


"Sudah, Bu. Tadi pas ibu sholat." jawabnya.


Untuk makan siang sudah pesan Katering, namanya juga kemah jaman now, kalau dulu waktu aku kemah ya masak sendiri dibuat jadwal piket, anak sekarang memang manja-manja.


Dari kejauhan nampak Bu Sri datang berjalan melenggang, makin lama makin mendekat.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," sapa Bu Sri memberi salam.


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh, gasik Bu." jawabku sekedar basa-basi. Bu Sri Duduk di sebuah tikar di depan tenda.


Kak Andri Gunawan dan Kak Muqodim berbicara dengan pengeras suara di sekretariat tak pernah sepi memberikan info.


"Ditemukan sebuah tanda peserta atas nama Ananda Tiara dari gudep SD Rogoselo 1, bagi yang merasa kehilangan, silahkan diambil di sekretariat."


Tiba-tiba kulihat Widi merajuk sama temannya.


"Mbak Widi kenapa?" tanyaku. Widi tidak menjawab tapi masih merajuk sama temannya.


"Celana dalamnya hilang, Bu." jawab Hana.


"Iya, Bu. Tadi sewaktu berangkat mau mandi udah tak simpan di lipatan baju. Ternyata pas ganti baju sudah nggak ada." jawab Widi polos.


"Terus gimana? Apa mau tanya ke sekretariat ada celana dalamnya Widi apa tidak, gitu?" tanyaku memberikan solusi. "Kalau Bu Lula yang ke sana, Bu Lula kan nggak tahu celana dalam Widi bentuknya yang seperti apa, nanti malah dikira punya Ibu lagi."


"Tu celana dalam Widi mungkin." aku mengingatkan.


"Tapi itu tidak ada namanya, Bu." tolak Widi.


"Memangnya celana dalam Widi ada namanya?" tanyaku.


"Mamak sudah menuliskan nama Widi dengan spidol permanen, Bu."


Busyet,


"Bu Sri yang udah cantik, ini kan jam terbang N**jenengan. Tolong ke sekretariat ada CD milik Widi atau tidak?" pintaku pada Bu Sri, yang di mintai tolong hanya memutar kedua bola matanya saja.

__ADS_1


Aku menyibukkan diri membuat teh manis karena air yang kurebus sudah mendidih. Pusing mikirin anak kecil, dikasih solusi nggak mau, terus kalau aku yang belum mandi ini datang ke sekretariat apa kata dunia, yang dicari celana dalam lagi. Bisa tengsin aku di depan Andri Gunawan yang ganteng itu, mau ditaruh di mana mukaku kalau nggak di wajah, masa di bokong.


Jarum jam menunjukkan waktu pukul setengah tujuh pagi, sarapan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Ayo sarapan dulu, Mbak. Sebentar lagi Upacara Hari Pramuka. Biar enggak pingsan nanti." ajakku. Aku dan Bu Sri membagikan jatah sarapan pagi untuk peserta. "Aku ambil jatahku satu ya, Bu. Aku belum nafsu makan, jadi mau aku makan di rumah saja." ucapku sekalian minta pamit sama Bu Sri.


"Nanti ke sini lagi jam berapa?" tanya Bu Sri.


"Insya Allah, bakda duhur, Bu." jawabku.


Akupun berlalu meninggalkan bumi perkemahan, aku mengambil jalan pintas agar cepat sampai di pangkalan ojek yang ada di depan pasar, hanya butuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki untuk menuju ke sana, sekalian olahraga.


Sampai di pangkalan ojek aku langsung dapat tukang ojek, aku segera naik. Tukang ojek itu ramah ngajak bicara ngalor ngidul, tapi aku tidak ingin menggubrisnya, entah apa yang dia bicarakan, mataku sudah berat untuk bertahan dan kubiarkan terbuka. Aku hanya ingin segera sampai di rumah dan merebahkan tubuhku untuk tidur lagi.


Sampai di depan rumah aku langsung memberikan uang 10 ribuan kepada tukang ojek tersebut. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ke kamar, kuhempaskan tubuhku di atas kasur kapuk ya sudah usang itu, akupun langsung terlelap.


Aku terjaga dari tidur, karena cacing-cacing di perutku demo, mereka protes sejak semalam belum dapat asupan. Kulirik jam dinding, jarum panjang menunjuk angka 10, sedangkan jarum pendek menunjuk ke angka 9, lama juga ternyata aku tidur.


Aku teringat kembali jatah sarapan pagi yang kubawa, ternyata teronggok begitu saja di sampingku. Tubuhku juga lengket ingin merasakan segarnya air sumur, namun perutku juga lapar ingin diisi.


Aku bawa sekalian kantong kresek berisi nasi bungkus dan kusambar handuk. Aku melangkah menuju ke belakang, kutinggalkan kresek di meja makan, kucantolkan handuk pada kapstok kamar mandi, aku mencuci muka terlebih dahulu.


Saat Kubasahi mukaku, aku teringat Dadank. Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah sampai? Kenapa dia tidak kirim pesan ataupun telpon? Nanti sajalah ku telpon, sekarang aku ingin makan terlebih dahulu kemudian mandi.


Selesai mandi aku bersiap-siap untuk kembali ke lapangan. Aku enggak mau kena semprot radio bodol gara-gara terlambat datang, meskipun jatahku hanya malam hari, lagian pekerjaanku untuk tanda tangan belum selesai.


Aku sampai kembali di lapangan saat matahari sudah tergelincir ke arah barat, menghasilkan bayangan 1/3 dari tinggi benda. Peserta sedang bersiap-siap untuk mengikuti pembinaan PBB dari kepolisian. Aku melanjutkan menandatangani daftar hadir yang belum lengkap.


Happy reading

__ADS_1


semoga syuka


Jangan lupa jempolnya ya 🙏🙏


__ADS_2