
*Waktu telah berganti senja
langit pun berubah menjadi jingga
seakan malu mentari bersembunyi di batas cakrawala
Tak mau kalah, sang ombak berderu dari kejauhan
pasir putih tampak berkilauan
diterpa sinar si jingga bundar
Burung terbang menghias langit
angin laut berhembus lembut
membelai kulit dan wajah-wajah kusut
Kutarik nafas sejenak
dan mulai menikmati senja
tak sedikitpun berlalu percuma
Air laut yang biru
perlahan merangkak menyentuh kakiku
membelai jari jari kecilku*.
**********
Saat pulang, jalan yang kita lalui berbeda dengan jalan yang sebelumnya. Deretan lapak penjual sovenir berjejer di sana. Semula kukira hanya sovenir biasa, hingga Bu Sri menunjuk ke arah gerombolan sovenir yang menggantung di setiap toko, bentuknya seperti mutu, atau anak ulekan sambal, setelah kuamat-amati dengan seksama,
"Astaghfirullahal'adzim, mata suciku ternodai," seruku.
Ternyata itu adalah sebuah alat pembuka tutup botol yang gagangnya dibentuk sedemikian rupa menyerupai barang pusaka kaum adam.
Dulu warnanya coklat polos atau hitam, sekarang sudah dilukis dengan indah. Punya siapa ini, hayo?
Kami sampai di area joger, dan langsung menuju ke tempat parkir.
Setelah semua berkumpul, bus yang kami tumpangi membawa kami ke rumah makan untuk makan malam walaupun sebenarnya masih sore.
Dari rumah makan kami dibawa ke pusat oleh-oleh Krisna, setengah jam kami dalam perjalanan. Ada yang iseng tanya sama Bli Putu.
"Bli, Itu tadi pas pulang dari pantai Kute, kok banyak gantungan kunci atau apa itu, punya orang Bali kayak gitu?" tanya Bambang.
"Itu bukan punya orang Bali. Orang Bali ndak ada yang sunat," jawab Bli Putu.
"Berarti Bli belum sunat? hahaha," celetuk Isro'.
"Saya kebetulan sudah sunat," timpal Bli Putu.
"Bli muslim?" tanya yang lain.
"Alhamdulillah, sejak kecil saya muslim," jawab Bli Putu.
Kamipun sampai di pusat oleh-oleh Krisna, satu persatu mulai turun dari bus.
"Yang mau sholat, sholat dulu ya. sudah masuk waktu maghrib," seru Pak Den.
Aku mah bebas, Aku segera masuk ke dalam melihat-lihat barang-barang yang cantik-cantik, jiwa miskinku meronta. Setiap barang yang kulihat cantik selalu kulihat bandrolnya pula.
Kami di sana sampai jam sembilan malam, padahal hanya berkeliling doang kenapa bisa selama itu ya, heran.
__ADS_1
Di dalam keranjang yang kucangking sudah ada kaos lengan panjang dengan gambar tulisan pusat oleh-oleh khas Bali Krisna dengan harga 19. 000 rupiah, dress pantai bayi 1 tahun dengan harga 8.500 rupiah dan beberapa camilan oleh-oleh khas Bali, tentunya yang berlabel halal donk ya.
Aku mulai mengantri di depan kasir yang panjangnya seperti orang mau mengantri BLT. Lama ku mengantri. Dan ketika di depanku tinggal 2 orang pembeli, tiba-tiba Bu Kasiah istrinya Pak Den menghampiriku.
"Lula, titip sekalian ya, cuma satu tok," ucapnya.
"Iya, Bu," jawabku.
Bu Kasiahpun meletakkan barang yang diambilnya di keranjang yang kucangking.
"Uangnya nanti di bus ya," ucap Bu Kasiah lagi kemudian pergi.
"Nggeh, Bu," sahutku lagi.
Fatikha, kakak kelasku transfer juga ikut-ikutan menghampiriku.
"Titip juga ya, Mbak. Cuma satu," ujarnya.
"Iya, Mbak," sahutku.
Tibalah saatnya bagi keranjang ku untuk dibikin perhitungan oleh kasir, aku membayar sesuai jumlah total yang tertera dalam struk belanja yang distapleskan di kantong kresek putih. Akupun mengambil kantong kresek putih tersebut kemudian buru-buru pergi.
Susah payah aku keluar dari kasir, karena semua pengunjung sepertinya minta dihitung belanjaannya, dan tiga orang Kasir berjajar dalam satu meja.
Akhirnya lolos juga, aku melangkah dengan lega langsung naik ke dalam bus. Kubuka kantong kresek yang kubawa, kuambil barang milik Bu Kasiah dan Mbak Fatikha dan kuserahkan kepada mereka berdua.
Betapa terkejutnya aku ketika mengaduk-aduk isi kantongku, kaos yang kubilang harganya murah dengan kualitas yang bagus, ternyata tidak kudapatkan, hancur harapanku seketika.
Mau kembali ke kasir, membayangkan yang tadi saja sudah penuh sesak. Iya kalau kaosnya masih berada di meja kasir, kalau sudah dimasukkan ke kantong orang lain bagaimana? Aku juga sudah capek. Ya sudahlah, mungkin uang 19.000 rupiah itu belum rejekiku, anggap saja sedekah supaya hati merasa tenang.
Akupun duduk dengan mata terus memandangi pusat oleh-oleh tersebut, belum ikhlas juga rasanya, walaupun hatiku terus meredam rasa itu. Andaikan tadi tidak dititipi kaos sama orang lain, pasti kelihatan kaos yang kuambil.
Kupegang terus struk belanjaan tadi dengan rasa kecewa. Benar-benar kecewa aku sama cara kasirnya menghitung barang. Masa dijumlah total dulu, dibayar baru barang dimasukkan ke dalam kantong. Tidak seperti di minimarket atau toko swalayan kebanyakan, 1 barang di-scan langsung dimasukkan ke kantong.
"Sudah masuk semua belum?"
Sebelum tidur aku membasuh muka terlebih dahulu. Tubuhku sebenarnya sangat lengket ingin dibersihkan, tetapi aku takut melakukan mandi di malam hari.
Aku keluar dari dalam kamar mandi, dan langsung membaringkan tubuhku di tempat tidur. Bu Kartini dan Bu Fat sedang berdzikir usai sholat isya. Mbak Izah entah kemana.
Mbak Izah masuk ke dalam kamar.
"Mbak Izah, tasbihnya tak pinjam lagi ya. Ternyata aku bisa tidur dengan memegang tasbihmu. Terimakasih sekali," ucap Bu Kartini saat melihat kedatangan Mbak Izah.
"Iya, Bu. Ini dipakai saja, saya cuma pakai buat berdzikir sehabis sholat saja kok," jawab Mbak Izah seraya menyerahkan tasbih yang diambil dari dalam tasnya.
Bu Kartini menerima tasbih dari tangan Mbak Izah.
Kami langsung terlelap tidur, mungkin karena kecapekan.
Aku terbangun ketika hari menjelang pagi. Orang-orang di sekitarku bangun untuk sholat shubuh, nah aku bangun mau apa? Mau mandi masih terlalu pagi, dingin.
Aku menunggu hingga antrian terakhir, sambil mendengarkan lagu-lagu di MP3 ponsel ku, lagu-lagunya Bunga Citra Lestari. Kuulang-ulang lagu Karena Kucinta Kau sambil kuikut mendendangkannya.
Saat kau ingat aku kuingat kau
Saat kau rindu aku juga rasa
Kutahu kau selalu ingin denganku
Kulakukan yang terbaik yang bisa kulakukan
Tuhan yang tahu kucinta kau
Hingga pukul enam pagi, kamar kami kedatangan dua orang tamu. Dia Bu Maeroh dan Bu Istilah kakak kelas trasferku. Mereka sudah mandi dan berpakaian rapi, sedangkan aku mandi saja belum.
Aku buru-buru ke kamar mandi dan menyelesaikan mandiku. Saat aku keluar kedua tamuku masih betah seja di kamarku. Akupun tanpa ragu dan juga malu berdandan di hadapan mereka.
__ADS_1
Setelah aku rapi berdandan lengkap dengan kerudung yang menutupi kepalaku, mereka mengajakku turun untuk sarapan pagi. Ah, aku jadi kepengen malu ditungguin dari tadi.
Kami turun dan melangkah beriringan menuju ke restoran, sampai di sana ada petugas yang siap mengambilkan makanan untuk kami, supaya tidak terjadi kehabisan makanan bagi yang datang terahir sendiri, seperti di rumah makan sebelumnya.
Menu ikan goreng tepung, sambal goreng tempe, sambal dan sayur menjadi pelengkap nasi yang kami makan. Tidak ketinggalan segelas teh hangat dan air putih.
Setelah selesai makan kami kembali ke kamar masing-masing untuk mengambil barang-barang kami. Ada juga yang tadi membawa barang-barang nya dan langsung ditaruh di bus sekalian turun untuk sarapan pagi.
Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi, kan nggak harus naik turun tangga bolak balik.
Aku segera turun dengan menenteng ranselku. Tas besar langsung ku taruh di bagasi bus, sedangkan tas PKL yang kecil selalu terslempang di pundak ku.
Kami menunggu supir sambil melihat-lihat, apa perlu membeli oleh-oleh lagi. Sebenarnya aku ingin membeli salak bali, tetapi dari kemarin aku tidak menemukannya. Kalau jeruk bali di sekitar kampung banyak yang menanam. Di depan hotel yang banyak hanya penjual pakaian.
Hari ini jadwal kita pulang, tetapi sebelum pulang kita akan singgah sebentar di pasar seni Sukawati Gianyar Bali. Di sana banyak sekali pernak-pernik oleh-oleh khas Bali seperti tas anyaman enceng gondok, perhiasan dari bebatuan, selimut dan masih banyak pernak-pernik lainnya.
Pak sopir nampak sudah siap di kursi kemudi, kami sudah duduk di kursi kami masing. Bus mulai melaju. Selama dalam perjalanan menuju ke Pasar Sukawati, Sang Tour Guide alias Bli Putu berpamitan, kami saling maaf memaafkan mungkin selama 4 hari ini ada kesalahan yang tak disengaja.
Tiba di Pasar Sukawati, Bli Putu turun dari bus digantikan oleh tour guide dari biro pariwisata. Dia meminta kepada kami untuk berkumpul pada pukul 10.00 WITA
Kami turun dari bus dan langsung hunting pernak pernik yang terlihat pandangan mata. Berpencar dengan geng masing-masing. Kali ini aku mengitari pasar bersama Imas teman sebangku ku di dalam bus.
Rasanya lama aku berjalan mengitari pasar,. tetapi belum puas juga mata ini untuk memandang barang-barang yang dipajang. Imas membeli tas yang terbuat dari anyaman enceng gondok. Sedangkan aku, rasanya sudah cukup.
Aku ingin membeli selimut Bali sih sebenarnya, tetapi takut agak kesusahan saat membawanya nanti ketika pulang ke rumah nanti.
Sudah cukup kami keliling pasar, aku dan Imas kembali ke tempat parkir. Setelah semuanya berkumpul kami siap untuk pergi ke bali ning omah. 🤣🤣🤣
Bus yang kami tumpangi melaju meninggalkan Gianyar menuju ke pelabuhan Gilimanuk. Sekitar pukul setengah sebelas WITA kami menyeberangi laut menggunakan kapal feri. Sampai di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus.
Aku tertidur selama perjalanan menggunakan bus, aku terbangun ketika bus berhenti di sebuah rumah makan di Solo. Setelah ini tidak ada jadwal transit lagi. Oleh karena itu Pak Den minta kepada peserta untuk menjamak sholatnya.
Aku buka ponselku, ada pesan dari kakakku.
[Pulang jam berapa? nanti kujemput.]
Ih, tumben baik benar nih calon wali nikahku, senangnya hatiku.
[Nanti kalau sudah sampai alun-alun Batang tak kabari, Mas.]
Send,
Cling,
[Iyo.]
Aku kembali tertidur saat bus melaju kembali meninggalkan kota Solo. Dan terjaga ketika itu, aku melihat keluar jendela, ternyata sudah sampai Semarang. Dan sejak itu mataku sudah tidak mau terpejam lagi. Aku terus memandang ke arah luar, memperhatikan jalanan dari kota Semarang, Kendal, Batang dan terakhir Pekalongan.
Bus berhenti, semua penumpang turun secara bergantian setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Akupun turun, waktu sudah hampir Maghrib, tetapi kakakku belum nampak batang hidungnya.
Satu persatu mereka pergi, dijemput oleh sanak keluarganya, bus pun sudah pergi. Akhirnya yang kutunggu datang, kakakku yang paling tampan, ya iyalah kakakku cuma satu dia.
Kuletakkan barang bawaanku di bagian depan motor yang ia naiki, sebagian hendak kupangku, tas ransel kugendong di punggungku. Aku segera naik di belakangnya. Kakakku melajukan motornya melewati jalan arah Kedungwuni.
.
.
.
Terimakasih semuanya,
😘😘😘
__ADS_1