
Selamat pagi cinta,
Sambutlah kasih seperti janji mentari,
yang selalu setia menemani bumi,
hingga hari akhir nanti,
Walau aku bukan mentari,
yang selalu memberikan senyumnya setiap pagi,
aku juga tidak ingin melambungkan harapan tinggi,
karena yang kuharapkan darimu adalah bukti, bukan janji.
Selamat pagi reader dan viewer,
jangan lupa awali pagimu dengan sarapan,
karena aku sudah mencoba berulang kali mengawali pagi dengan senyuman,
tetap saja perutku masih lapar.
wkwkwk...
__________________________________________
Hari ini Santo sedang mengantar ibunya kondangan di Wiradesa, Bos plastik yang biasa menyuplai kantong plastik di toko ibunya sedang mengadakan acara tasyakuran pernikahan. Kabarnya nanti sepulangnya mau mampir di rumah Lula.
Akhirnya sekitar pukul 15.00 Santo dan ibunya sampai di kediaman Lula. Mereka di disambut dengan hangat oleh Mak Kulsum, Mak Kulsum hanya senyum-senyum melihat penampilan ibunya Santo.
Perempuan paruh baya itu mamakai blus berbahan kaos lengan sesiku dan celana model baggy pant warna hitam, rambutnya yang dipangkas lebih cepak dari model rambut Lady Diana itu masih tanpa penutup kepala, persis seperti dugaan Lula.
Bu Sri di temani Mak Kulsum duduk di sebuah tikar sambil menonton televisi di ruang tengah, Sementara Santo ditemani Lula di ruang tamu. Santo dan Lula duduk berdampingan di kursi yang panjang.
"Mas, nanti malam nonton, ya!" ajak Lula.
"Nonton apa, Say?"
"Nonton film di bioskop." Jawab Lula.
Wajah Santo pias dadas seketika.
"Mas kira nonton orkes dangdut"
tweng tweng tweweweng...
"Apa? Orkes? males banget," sahut Lula.
"Kenapa males?" tanya Santo.
"Tiap ada orkes pasti ada saja penonton yang berkelahi." Jawab Lula. "lagian sepupuku Malik, dia Players organ, klo lagi training pasti minta bantuan aku buat jadi penyanyinya, bosan nonton orkes terus." imbuhnya.
"Mau nonton film apa?" tanya Santo
"Lihat nanti lah, Mas. Di bioskopnya adanya film apa, lagian kita belum pernah kencan kan." jawab Lula.
"Entar filmnya jelek-jelek gimana?"
"Kalau filmnya jelek-jelek, nanti Mas Santo yang dipajang dilayarnya, hehehe," Sahut Lula, "Sholat Ashar yuk, Mas!"
"Kamu duluan aja, mas nanti nyusul."
"Sebenarnya Mas serius nggak sih mau jadi imamku?" tanya Lula kesal.
"Serius lah,"
"Buktiin donk!"
"Do'anya ketinggalan di rumah, Say." jawab Santo.
Lula mengusap wajahnya kasar.
"Nggak lucu," Ucapnya lalu pergi meninggalkan Santo sendirian di sana.
Lula mengambil air wudlu lalu melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai sholat Lula menghampiri ibunya yang sudah berada di dapur hendak memasak untuk makan malam nanti.
Saat Lula sedang menguleg bumbu, ibunya Santo datang menghampiri, dan melihat tumpukan piring dan peralatan makan lainnya di samping sumur, dia hendak mencucinya.
"Jangan, Bu! Itu tugas Lula." cegah Lula.
"Enggak usah Bu, itu sudah tugasnya Lula kok, nanti dia enggak ada kerjaan di rumah." Mak Kulsum juga menimpali.
Bu Sripun akhirnya menghampiri resbang yang ada di ruangan itu dan mendudukan pantatnya disana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Senja membalut sebagian bumi,
temaram terhampar dalam pandangan,
rona jingga di ufuk barat terhampar di kaki langit.
hari semakin menutup matanya,
__ADS_1
tenggelam di kaki lazuardi,
suasana berangsur-angsur menggelap,
berganti terangnya cahaya neon,
juga lampu minyak di bilik si miskin,
Sayup-sayup terdengar suara azan Maghrib,
memanggil dan memanggil kita untuk mendatanginya,
namun terkadang kita menyepelekan panggilan itu,
tanggung tinggal sedikit lagi, itu jawaban kita pada diri sendiri,
padahal nenek moyang kita hingga menurun ke ayah ibu kita, mengingatkan tentang
"Sandikala" katanya, apa itu?
Sandikala adalah campuran warna merah, kuning dan jingga yang terlihat saat matahari terbenam. Ketiga warna ini memiliki frekuensi yang rendah sehingga tetap bergerak lurus di atmosfer.
Sementara warna lainnya yakni biru dan ungu sudah dihamburkan ke segala arah oleh atmosfer karena frekuensi kedua warna ini lebih tinggi. Jadi sandikala bisa dikatakan warna sisa yang bisa terlihat karena warna lain telah dihamburkan.
Mengapa sandikala hanya pada sore hari? Karena saat matahari tenggelam artinya matahari makin jauh sehingga jarak yang ditempuh cahaya sampai di mata kita makin jauh. Cahaya yang bergerak lurus yakini merah kuning dan jingga akan terlihat sementara cahaya biru ungu tidak terlihat lagi karena jauh dan sudah terhambur. (Brainly.co.id)
Konon kata orang tua, kita tidak boleh melakukan kegiatan saat sandikala, terutama melakukan perjalanan. Kalau menurut author sih sandi artinya rahasia sedangkan kala artinya waktu, jadi sandikala itu artinya rahasia waktu.
Usai sholat Maghrib Lula bersiap-siap untuk pergi nonton film bersama Santo. Lula sengaja tidak makan malam dari rumah, rencananya mau makan malam di luar nanti sebelum nonton.
Lula dan Santo berpamitan kepada Mak Kulsum dan Bu Sri.
"Kami pamit mau nonton film, Mak, Bu!" Lula mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Nanti pulangnta lewat Doro saja ya, Lula! belikan Mak e bubur kacang hijau, Jangan pakai es!" pinta Mak Kulsum.
"Insha Allah, Mak. kami pergi dulu!" pamit Lula.
Dengan hati berbunga-bunga Lula melangkahkan kakinya ke luar rumah, menunggu Santo yang sedang menstarter motornya.
Kali ini pasti aku dan Santo bisa kencan dengan mulus tanpa kehadiran Si Isohnya Santo itu. batin Lula.
Jangan melambungkan harapan terlalu tinggi Lula, apalagi setinggi bintang di langit, sakit kalau jatuh.
Dengan mengendarai motornya, Santo menghampiri Lula yang sedang menunggunya. Lula segera naik ke atas boncengan motor tersebut. Mereka pergi meninggalkan kampung.
Di sepanjang jalan kampung suasana gelap dan sepi karena sawah di sisi kiri dan kanan jalan yang sebelumnya ditanami padi sekarang sudah berganti menjadi tanaman pohon sengoh dan minim penerangan jalan, pantaslah jika ibunya Santo bilang kalau tempat tinggal Lula itu di tengah hutan.
Hingga sampai di kampung perbatasan yang masuk wilayah Kecamatan Kedungwuni sudah ada sedikit penerangan. Lula mengarahkan Santo sebagai penunjuk jalan ke kiri atau ke kanan.
"Di sini, Mas. Kenapa berhenti?" tanya Lula.
"Di sini lengkap ada bioskop dan restoran juga." paparnya.
"Rame banget, Say." sahut Santo.
"Namanya juga Mall ya pasti ramai," timpal Lula.
"Nggak usah masuk ya! Mas nggak suka keramaian."
Tanpa menunggu jawaban dari Lula, Santo membelokan kendaraannya searah jarum jam 180Β°.
Astaghfirullahal'adzim...Lula menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
pupuslah sudah harapan Lula untuk menonton film islami yang diangkat dari karya novelis ternama Asma Nadia.
Akhirnya Lula hanya diam hingga sampai di Kedungwuni, Lula mengeluarkan suaranya.
"Jangan lewat jalan yang tadi, Mas! di depan lurus saja." pinta Lula.
Lula teringat pesan ibunya yang minta dibelikan bubur kacang hijau. Akhirnya Lula sampai di terminal Doro dan mampir sebentar untuk membeli bubur dan es kacang hijau. Santo hanya menunggunya sambil masih tetap nangkring di atas sepeda motornya.
Setelah membayar bubur kacang hijau yang dibelinya, Lula kembali menghampiri Santo. Lula naik dan duduk di belakang Santo.
"Mau kemana lagi, Kita?" tanya Santo. Lula mendengus kesal.
Ke Hongkong, sok menawari mau kemana lagi, kalau aku minta nonton lagi ntar pingsan, dasar pahit njetit kayak brotowali, gerutu Lula dalam hati.
"Pulanglah, memang mau kemana lagi?" sahut Lula balik bertanya.
Santo menjalankan motornya pergi meninggalkan tempat itu. hanya butuh 10 menit perjalanan dari tempat itu menuju rumah Lula jika ditempuh dengan kendaraan bermotor. Sampailah Lula di rumah kembali yang mereka tinggalkan satu jam yang lalu.
Lula mengucapkan salam sambil membuka pintu, ia langsung nyelonong masuk ke ruang tengah mendapati Mak Kulsum dan Bu Sri dengan posisi masih sama seperti saat Lula berpamitan meninggal mereka tadi.
Lula menaruh kantong kresek yang sejak tadi ditentengnya di depan Mak Kulsum dan Bu Sri.
"Bubur kacang hijaunya, Bu!" tawarnya.
"Lho, kok sudah pulang? cepat sekali" tanya Bu Sri kaget.
"katanya mau nonton?" imbuhnya, Kalau nonton beneran paling tidak perlu waktu tiga jam.
"Enggak jadi nonton, Bu. Bioskopnya tutup." sahut Lula ngawur.
"Tutup kenapa?" tanya Bu Sri lagi.
__ADS_1
Belum sempat menjawab pertanyaan dari Bu Sri, Lula sudah melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu pergi ke dapur. Lula kembali dengan membawa setumpuk mangkok dan sendok di tangannya.
"Masa semua bioskop tutup, bioskopnya kan nggak cuma satu Lula?" tanya Mak Kulsum masih tidak percaya.
"Tutup semua, Mak. Katanya yang punya bioskop pada bangkrut." jawab Lula sambil menuang bubur kacang hijau ke dalam mangkok.
Santo yang sedang duduk di ruang tamu hanya diam saja mendengar percakapan mereka. Lula menghampiri Santo dengan membawa dua mangkuk es bubur kacang hijau di tangannya.
"Mas Santo mau yang hangat atau yang pakai es?" tanya Lula pada Santo.
"Yang pakai es saja." Jawab Santo.
Mereka menyantap es kacang hijau bersama sambil menonton televisi dari ruang tamu.
Alhamdulillah akhirnya perutku terisi makanan juga. batin Lula.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pukul 22.00 WIB rasa kantuk sudah tak dapat ditahan, tubuhpun ingin direbahkan.
Di rumah Lula hanya ada dua kamar setelah Husnan menghuni rumah sebelah, dua kamar tersebut berukuran sama 3x3m, kamar depan ditempati Nia dan Mak Kulsum sedang kamar yang tengah ditempati Lula dan Usnul.
Sementara Izur kadang tidur di sofa kadang juga nginap di rumah temannya.
Sekarang ada tamu dua orang yang menginap bagaimana ya?
Nia pindah ke kamar Lula tidur bersama Usnul, Sementara Mak Kulsum menggelar tikar dan kasur di lantai kamar Lula. Sedangkan Lula tidur di kamar depan menemani Bu Sri, Izur kebetulan menginap di rumah temannya, dan Santo tidur di sofa ruang tamu.
Mereka terlelap, Lula tidur bareng Bu Sri, Lula berada di sisi yang dekat dengan tembok, dia tidur menghadap tembok. Sementara Bu Sri di tepi ranjang. Hingga tengah malam Lula terbangun karena merasa berat, ternyata ada sebuah tangan melingkar di pinggangnya, ada yang memeluknya dari belakang.
Tangan siapa ini? masa Bu Sri tidur meluk aku, pikir Lula.
Lula membalikan badannya, ternyata Santo tidur di antara Lula dan Bu Sri.
Apa-apaan ini, kenapa Bu Sri membiarkan Santo tidur disini? dasar ibu dan anak sama-sama songong, keluar uang enggak mau main pegang-pegang anak orang seenaknya. huh...
Sebenarnya Lula pingin teriak, tapi dia tidak mau membuat onar tengah malam, karena antara kamar yang dia tempati dengan kamar yang ditempati ibunya saat ini hanya dibatasi tembok, sementara bagian atasnya plong-plongan tanpa flafon, sehingga suara berisik saja jelas akan terdengar.
Apalagi ranjang yang ditiduri Lula itu ranjang kuno yang sedikit saja bergerak pasti mengeluarkan suara deritan. Tetapi karena tangan itu semakin erat memeluk Lula maka dengan terpaksa dia bersuara.
"Mas, lepasin! ini tangan dijaga dong! Jangan main peluk-peluk sembarangan!"
Lula frustasi sekarang, ia jadi tidak bisa tidur, Ia bingung mau tidur di mana. Lula melepaskan tangan Santo yang kembali memeluknya, ia bangkit dari tempat itu dan melangkah keluar menuju sofa di ruang tamu, Lula menghempaskan pantatnya di sana.
Andaikan tidak ingat dosa mungkin sudah keluarkan nama-nama binatang bernajis mugholadzoh dari mulutnya. Dasar gila!
Belum sempat Lula merebahkan tubuhnya di sofa, eh.. si Santoloyo itu ikut keluar juga.
Astaghfirullahal'adzim! nggak bisa apa biarin aku tidur nyenyak.
"Say, anterin mas ke belakang yuk! mas mau buang air." pinta Santo.
"Sendiri aja kenapa sih? Mas kan cowok."
"Di belakang gelap, Say. Mas nggak tahu letak saklarnya." sahut Santo.
"Yaudah, Ayo!"
Lula berjalan mendahului Santo menuju ruang belakang, diikuti oleh Santo. Dengan meraba-raba akhirnya Lula dapat menemukan saklar lampu di ruangan itu.
"Buruan, Mas! aku masih ngantuk banget nih."
Santopun melangkah masuk menuju ke kamar mandi. Sementara menunggu Santo keluar dari kamar mandi, Lula mengambil air wudlu di kran yang ada di dapur, setelah itu ia duduk pada sebuah resbang yang ada di sana.
Tak lama kemudian Santopun tampak keluar dari kamar mandi sambil mencoba menutup resleting celananya. Ia menghampiri Lula.
"Nih, Say, punya mas segini." ucap Santo sambil menunjukkan sesuatu dibalik resleting celananya.
Lula kaget dengan apa yang dilakukan oleh Santo, Lula memalingkan mukanya.
"Astaghfirullahal'adzim, dasar gila!" akhirnya keluar juga kata-kata itu fasih dari mulut Lula, kata-kata yang selama ini tersimpan rapi.
Lula bangkit dan berjalan kembali ke ruang tamu kemudian menghempaskan pantatnya di sana.
"Sekarang pilih, Mas atau aku yang tidur di kamar bareng ibu?" tanya Lula memberikan alternatif.
"Mas mau tidur bareng kamu, Say." sahut santi.
"Nggak bisa, kalau Mas tidur di kamar aku yang tidur di sini. Kalau Mas yang tidur di sini aku tidur di kamar bareng ibu." kembali Lula memberikan alternatif.
"Astaghfirullahal'adzim...ternyata kalian belum tidur," seru Mak Kulsum diambang pintu tengah yang terbangun karena mendengar suara berisik
Lula yang malu karena kepergok oleh ibunya sedang berduaan bersama si Santoloyo itu bergegas menghambur ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar itu dari dalam.
Ia segera naik ke atas ranjang melewati Bu Sri yang sedang tidur seperti kebo. Ada kegaduhan dari tadi kok ya enggak bangun sih wanita paruh baya itu.
Akhirnya Lula menghempaskan tubuhnya kembali di ranjang tua itu, menyelimuti sekujur tubuhnya hingga menutupi kepalanya dan melanjutkan tidurnya yang sempat terjeda oleh iklan.
Mungkin tadi aku lupa berdo'a sebelum tidur, sehingga aku diganggu oleh jin berwujud manusia. Lula membaca doa sebelum tidur dan surat An-Nas sebelum tidur.
Happy reading, semoga suka..
jangan lupa jempolnya ya!
makasih πππ
__ADS_1