
“Bos, hari ini jadwal anda sudah tidak ada acara yang penting lagi. Apakah bos mau pulang ke apartemen atau pulang ke rumah? Tanya Dimas pada Dito setelah mereka selesai pertemuan.
“Ah, entahlah aku pusing Dim?” jawab Dito sambil berbaring di sofa ruangannya.
“Apakah aku perlu memanggil dokter bos?” Dimas cemas.
“Hei, aku tidak sakit tahu. Ngapain kamu harus panggil dokter segala. Apa kamu tidak melihat kalau aku sehat bugar begini?” ucap Dito kesal
“Ma…maaf bos. Abisnya bos bilang tadi sakit kepala. Jadi saya cemas, makanya saya mengusulkan untuk memanggil dokter”
“Aku bilang tadi pusing, bukan sakit kepala” Dito semakin kesal dengan asistennya yang cerdas tapi kadang sedikit lambat ini seperti sekarang ini.
“Lah, apa bedanya bos bukannya pusing itu berarti sakit?” Dimas bingung dengan jawaban bosnya itu
“Sudah berapa lama kamu kerja denganku?” Dimas terlihat berpikir tentang apa yang ditanyakan bosnya. "Apa hubungannya dengan berapa lama saya kerja dengan si bos ya?" Guman Dimas dalam hati.
Melihat kebingungan Dimas, Dito kemudian melanjutkan perkataannya.
“Aku tuh pusing karena mama. Kamu tahu dulu mama tidak pernah terang – terangan mencarikan jodoh buatku. Tapi sekarang sudah berbeda. Mama dan Papa dulu biasa saja dan tidak mempermasalahkan status ini. Bagaimana aku tidak pusing coba” keluh Dito pada Dimas asistennya.
Mendengar keluh kesah Dito membuat Dimas tertawa hingga air mata tampak di sudut matanya.
“Jadi kamu sekarang berani ya menertawakan aku?” Dito kesal dengan respon Dimas.
“Maaf bos, maafkan aku. Aku hanya kaget dan merasa lucu. Sungguh aku sama sekali tidak kepikiran masalah ini. Ya seperti yang bos bilang selama ini status single bos tidak pernah jadi masalah dan bahan pembicaraan kita” Dimas merasa sedikit kaget dan lucu dengan jawaban bosnya
“Lalu, apa jawabanmu bos?” tanya Dimas lagi dan memasang wajah serius.
“Nah itu yang aku bingung, aku merasa mama berlebihan dengan menyuruh aku menihkahi Erania?”
“Apa, Erania bos? Erania teman Caca dan perawat mamanya bos itu?” ucap Dimas memotong perkataan Dito. Dito hanya menganggung lesuh dengan pertanyaan Dimas.
“Bos, yang aku dengar dari Caca sih Erania memang gadis yang baik juga cerdas. Dia bahkan bisa menjalani kuliahnya lebih cepat dari teman – teman seangkatannya. Mungkin itu yang membuat mamanya bos suka dengan Erania.
__ADS_1
“Entahlah Dim, aku heran saja kenapa mama begitu menyukai perawatnya itu?”
“Bos, apakah dia cantik?” Dimas ragu dengan pertanyaannya itu tapi juga penasaran.
Dito menoleh ke arah Dimas kemudian kembali menatap langit – langit di ruangannya.
“Hmm,,, walaupun sederhana tapi dia cantik” jawab Dito datar
“Lalu apa yang membuat bos bingung?”
“Aku hanya belum memikirkannya. Aku juga tidak mengenal gadis itu dengan baik. Dan mungkin saja kan
dia sudah punya pacar?”
Dimas tampak mengangguk – ngangguk mendengar perkataan bosnya. Tak lama kemudian dia menghubungi seseorang.
Tut…tut..tut.. Terdengar sambungan telpon Dimas tersambung. Tak lama telpon Dimas di angkat.
“Halo dek, lagi ngapain? sibuk gak?” tanya Dimas pada Caca adiknya . Dito menoleh ke arah Dimas . Melihat itu, Dimas meletakkan jarinya di mulut memberi israyat agar Dito Diam.
“Gak sih bang, adek lagi di kantin nih. Ada apa bang?” tanya Caca.
“Dek, abang mau tanya dong. Teman kamu Erania yang jadi perawat di rumah mamanya bos abang…Hmmm,,,?” Dimas ragu dan terdiam
“Ih, abang, ngomong yang jelas . Kalau gak Caca matiin nih telponnya”. Ancam Caca kesal
“Jangan dek, iya..iya abang lanjutin nih. Teman kamu itu sudah punya pacar ya dek?” lanjut Dimas sedikit ragu dengan pertanyaannya untuk adiknya itu.
“Ngapain abang tanya – tanya? Naksir ya? Caca tertawa, sementara Dito hanya mendengarkan percakapan kakak adik itu.
Dimas kesal dengan jawaban adiknya dan malah menertawakannya. “Jawab aja dek, ngapain pake ketawain abang sih” Gerutu DImas, mukanya sudah cemberut.
“Aduh, abang kok ngambek sih. Iya, Caca jawab. Setahu Caca sih belum ada bang” Jadi gimana, abang berminat? Tawa Caca kembali pecah.
__ADS_1
“Kok bisa dek, katanya Erania cantik?” tanya Dimas penasaran.
"Kok abang tahu kalau Erania cantik? Ya, abang suka ya mata-matai teman Caca ya? Goda Caca apada kakaknya.
"Kamu nih, malah godaiin abang sih. Jawab saja napa dek"
“Emang cantik bang, banyak yang mengejar – ngejar tapi dia itu hanya fokus sama kuliahnya. Pengen cepat- cepat kerja, ya termasuk seperti sekarang kerja jadi perawat itu” jelas Caca.
Dimas dan Dito tampak saling melirik kemudian Dimas mengakhiri percakapannya dengan Caca.
Dito kemudian kembali berbaring di sofa, sebelah tangannya di taruh di kening.
“Jadi gimana bos?” tanya Dimas kemudian.
“Aku belum memikirkan sejauh itu Dimas. Menurutku ini semua begitu tiba – tiba”.
“Umurnya sudah tua tapi belum memikirkan pernikahan? Trus selama ini apa saja yang dipikirkannya?” guman Dimas melihat tingkah bosnya.
“Kenapa bos belum memikirkan pernikahan? Ingat umur bos sekarang berapa? Apakah bos tidak merasa sudah terlambat menikah?"
"Menurut aku sih gak ada yang terlambat Dim, lagian kamu tuh lagak banget sih. Pacar saja gak punya gitu" Sindir Dito pada Dimas.
Dimas malah salah tingkah, "He..he..he.. bos kok suka bener sih kalau bicara"
"Lagian kamu, umur kita tuh hanya beda setahun. Malah berlagak kayak Abg 17 tahun" jawab Dito lagi.
Ya Dimas dan Dito memang hanya beda setahun, itu yang membuat mereka menjadi sangat akrab. Apalagi jika mereka hanya berdua tidak seperti bos dan bawahan. Selain itu, Dito yang ramah tidak mengharuskan Dimas bersikap formal padanya. Asal Dimas bekerja dengan baik dan melihat situasi Dito tidak mempermasalahkan.
Itu pula yang membuat Dimas betah bekerja dengan Dito. Ya selain gaji yang cukup besar tentunya.Walaupun Dimas harus sedikit kerja keras mengikuti bosnya yang memang gila kerja.
Dito meskipun masih muda namun ia sangat serius pada setiap pekerjaannya, ia bahkan terkadang lupa waktu jika saja Dimas tidak sering mengingatkan waktu pulang kepadanya.
Meskipun gila kerja namun Dito tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk orang tuanya. Bagi Dito bertemu dengan orang tuanya memberi semangat tersendiri baginya. Apalagi Dito tahu ia adalah anak tunggal.
__ADS_1
Dito tidak ingin orang tuanya merasa kesepian, jadi sebisa mungkin Dito meluangkan waktu khusus. Dito juga tahu ia banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaannya.
Dito sebenanrnya terkadang juga memikirkan permintaan mamanya, namun ia merasa bingung harus menjawab apa kepadanya mama. Namun ternyata itu sedikit menguras otaknya dan membuatnya sedikit pusing.