Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#29


__ADS_3

Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku


Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api


Menyusuri jalanan lengang


Bersimbah angan tanpa tujuan


Dalam derap gerimis yang pongah menghujam


Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi


Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani


Di atas pengharapan tak berkesudahan


Tentang rindu kusam


Tentang cinta terbuang


Mengutip satu namamu di antara keluh kesah


Gundah gelisah, air mata, dan lara


Masihkah ada sedikit senyum darimu


Di batas penantianku yang kini makin terbata


Jika masih ada ruang di hatimu


Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah


Pada tanah membentang


Pada pohon-pohon rindang


Dan angin yang mengusik keangkuhan


Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba


Janganlah sepi yang hadir


Janganlah semu yang membeku


Karena aku selalu berjalan menujumu


Di ujung kata-kata by Anonim


Setelah melakukan registrasi kartu sim perdananya, Lula mengirim pesan kepada semua kontak yang ada dalam HP-nya.


[Assalamu'alaikum, Ini no. Lula yang baru, tolong disave y. tq. ]


send


Ada yang membalas ada juga yang tidak. Namun tiba-tiba ada pesan dari nomor yang tidak dapat ia kenal, Nomor itu sama persis dengan nomor punya Lula yang baru cuma beda satu nomor saja.


cling


[Ini nomer Dadank yang baru, tolong disimpan ya]


Penasaran, Lula membalas pesan tersebut.


[Dadank siapa?]


send


cling


[Lho, kok Dadank siapa? memang kamu siapa?]


[Kamu dulu donk siapa, yang duluan SMS kan, kamu]


send


cling


[Namaku Dadank dari SL3, aku pikir ini nomor temanku, bukan yah?]


[Aku Alula, dari Pekalongan. Panggil saja Lula


BTW SL3 itu apaan? memangnya teman kamu orang mana?]


send


cling


[SL3 maksudnya Salatiga, temanku Salatiga juga]


[Oh, Solo..makanya jangan disingkat-singkat, aku kira malah dari Sunda, namanya kayak orang Sunda]


send


cling


[Hehehe... Bukan Solo Lula, tapi Salatiga]


[Hehehe, beda ya?]


send


cling


[Iya, hehehe..kamu lucu, ngomong-ngomong kamu masih sekolah atau kerja, udah punya pasangan belum?]


[Aku ngabdi di MI, kuliah di Semarang 2 Minggu sekali, aku baru diputusin sama cowokku, kamu sendiri bagaimana?]


Send


Jujur kacang ijo kamu, Lul.


cling


[Aku pernah kuliah di UKSW, sekarang nganggur belum dapat kerjaan, kamu kuliah di univ apa?]

__ADS_1


[di Unwahas, kamu Muslim?]


send


cling


[Aku muslim, Lula. Cuma pernah kuliah di UKSW karena itu univ favorit di kotaku, tapi sekarang udah keluar karena nggak ada biaya lagi, keluargaku miskin.]


[Oh.. memang berapa umur kamu?]


send


cling


[ 22 tahun, kamu sendiri umur berapa? ]


[ Wah, brondong. Aku udah tua, umurku udah 28 tahun ]


send


cling


[ Nanti malam aku free call mau gak? ]


[ Free call aja, kalau aku angkat berarti aku mau, kalau nggak kuangkat berarti aku tidur, hehe..]


send


cling


[ Hehe..iya juga. Yaudah sampai nanti malam, Assalamu'alaikum ]


[ Wa'alaikumussalam ]


send


Ada beberapa nomor nyasar yang masuk, dari mereka ada yang sekedar iseng, ada yang mencari teman curhat ada juga yang memang mencari jodoh.


Alhamdulillah, dapat hiburan baru meskipun beda dibawah jauh umurnya yang penting nyambung kalau diajak ngomong. Ada sedikit rona bahagia terpancar dari mata Lula.


Tiga hari kemudian setelah kejadian tersebut, saat jam Istirahat di kantor.


"Bu Lula, syukurannya mana?" tagih Pak Hardi.


"Syukuran? Apa SK-ku udah keluar, Pak?" tanya Lula bingung.


"Memangnya kamu ikut test?" Pak Hardi balik tanya.


"Enggak, kan nggak ada formasi untuk ijazah SMA." jawab Lula.


"Kok nanya SK, SK halu?"


"Hehehe, terus syukuran apa?" tanya Lula masih bingung.


"Syukuran nomor telpon baru lah."


Lula menepok jidad,


"Bakso."


"Tekor donk bandar, buat beli kartu perdana cuma 10 ribu, syukuran nggak cukup 100 ribu." elak Lula.


"Sekali-kali lah, Bu Lula." Pak Hardi masih memohon.


"Aku kan masih puasa." masih berusaha menolak.


"Puasa apaan hari Sabtu?" tanya Pak Hardi lagi.


"Puasa nazar 3 hari, hehe.." jawab Lula singkat.


"Pasti nazar putus dari wong Tegal." terka Pak Hardi.


"Nazar biar sukseslah." sahut Lula.


"Hahaha, aneh. Puasa nazar itu kalau nazarnya sudah tercapai, Bu Lula. Kalau sesuatu belum tercapai itu namanya do'a."


"Pokoknya rahasia lah, nazar itu urusanku sama Allah." jawab Lula telak.


Hari itu Lula ijin pulang awal, karena siang nya berangkat kuliah waktu menunjukkan pukul 11.17 menit Lula membonceng Lutfia.


"Nanti berangkat bareng, Mbak!" ajak Lutfia.


"Iya." jawab Lula semangat.


"Tapi gasik ya! jam setengah satu sudah siap, soalnya aku mau ke Perpustakaan STAIN dulu, mau pinjam buku buat referensi Skripsi." jelas Lutfia.


"Siap."


Ketika mereka sampai di gang masuk kampung, dari jauh Lula melihat ada dua orang laki-laki dan perempuan sedang duduk di tumpukan batu material milik tetangganya yang hendak mendirikan rumah.


Lula memperhatikan kedua orang itu, sepertinya aku kenal kedua orang itu.


Hingga pandangan mereka bertemu saat melewatinya.


"Bu Lut, tadi aku seperti melihat Santo sama kakaknya." ucap Lula memberitahu Lutfia.


"Dimana, Mbak? Kok aku nggak lihat." tanya Lutfia.


"Mereka duduk di tumpukan batu, di kebunnya Mak Wahimi." jawab Lula.


Lutfia menghentikan motornya karena sudah sampai di depan rumah Lula.


"Oh.. nanti jam setengah satu jangan lupa, Mbak!" Lutfia mengingatkan.


"Siap." sahut Lula.


Lulapun turun dari motor berjalan setengah berlari menuju rumahnya. Ia meraih gagang pintu sambil mengucap salam, lalu nyelonong masuk ke dalam kamar, melempar tasnya sembarangan di atas kasur dan tanpa mengganti baju seragamnya, Lula keluar lagi menuju ke dapur untuk menemui ibunya yang sedang menggoreng keripik pisang.


"Mak, Santo dan Mbak Ayu nggak kesini tadi?" tanya Lula langsung pada Mak Kulsum.


"Ndak, apa mereka kesini?" Mak Kulsum balik bertanya.


"Tadi kulihat mereka duduk di tumpukan batu di kebun Mak Wahimi." jawab Lula.

__ADS_1


"Kenapa mereka nggak kesini langsung?" tanya Mak Kulsum nggak tahu ditujukan pada siapa.


"Lula nggak tahu, Mak. Lula susul dulu ke sana ya!" pamit Lula.


Lulapun segera beranjak pergi lewat pintu belakang menuju tempat Santo dan kakaknya berada. Setelah sampai di sana, ternyata benar itu Santo dan kakaknya masih duduk di atas tumpukan batu.


"Mbak, Mas kenapa di sini? Ayo kerumah! ajak Lula.


"Kita nunggu kamu pulang, Lul." jawab Mbak Ayu.


Santo hanya diam saja seperti ada rasa canggung.


"Iya, ayo ngomong di rumah saja, masa di sini?" ajak Lula lagi. "Aku tunggu di rumah ya, Mbak!" ujar Lula, lalu dia berjalan lagi kembali ke rumah.


"Beneran Santo sama Ayu?" tanya Mak Kulsum saat Lula sudah sampai di dapur.


"Iya." jawab Lula singkat.


"Kenapa mereka nggak ke rumah kangsung?" tanya Mak Kulsum dengan pertanyaan yang sama seperti tadi.


"Nggak tahu, Mak. Coba Mak yang bujuk biar Lula yang goreng keripiknya." pinta Lula.


Namun sebelum Mak Kulsum berdiri, dari pintu yang terbuka terlihat motor Santo dan Ayu lewat di samping rumah.


"Nggak usah, Mak. Itu mereka sudah datang. Aku temui mereka dulu ya, Mak." ucap Lula yang langsung nyelonong masuk ke depan untuk menemui Santo dan Ayu. Lula langsung membuka pintu.


"Silahkan masuk, Mbak Ayu, Mas Santo!"


Huhft...kenapa mereka jadi kaya siput sih.


Lula duduk di kursi terlebih dahulu sambil menunggu Santo dan Ayu masuk. Merekapun akhirnya masuk dan duduk jejeran. Sesaat hanya keheningan yang melanda jiwa, hingga Mak Kulsum keluar membawa nampan berisi teh manis dan keripik pisang dalam toples, kemudian meletakkannya di atas meja di hadapan mereka. Mak Kulsum kemudian duduk di samping Lula.


"Berangkat jam berapa dari Tegal?" tanya Mak Kulsum pada Santo dan Ayu.


"Jam sembilanan ya, To?" jawab Ayu sambil bertanya pada Santo yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Santo. "Kebetulan mau mampir ke rumah teman di Kecamatan Talun, jadi sekalian mampir ke sini." imbuhnya.


Astaghfirullah al'adzim, kukira memang sengaja datang untuk menemui ku.


Mak Kulsum yang juga kaget dengan jawaban Ayu pun, pamit kembali ke belakang untuk melanjutkan menggoreng keripik pisang.


"Silahkan dinikmati tehnya, Mak e mau ke belakang, masih menggoreng keripik pisang soalnya." pamit Mak Kulsum.


Suasana kembali hening,


Lula hanya memainkan jari-jari tangannya tidak tahu harus mulai darimana.


"Kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan baik-baik, Lula!" usul Mbak Ayu.


What's?


Lula hanya menatap Ayu sebentar dan beralih ke meja dengan pandangan kosong.


"Nomor HP kamu ganti ya, Lul?" tanya Santo yang sudah mulai menghilangkan panggilan sayangnya.


"Enggak kok, masih sama." jawab Lula berbohong.


"Kok Mas telpon nggak pernah nyambung?" tanya Santo.


"Coba saja telpon lagi!" tantang Lula.


Santo melakukan panggilan lagi ke nomor HP Lula yang lama, tiba-tiba terdengar dering HP dari kamar Lula yang memang tidak ditutup pintunya.


"Tuh nyambung kan?"


Yang sebenarnya Lula kaget dan juga heran kenapa bisa nyambung, padahal kartu sim sudah diganti.


Lulapun akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dan mengambil HP nya yang masih berdering dari dalam tas.


Ternyata Pak Tarjuki Sang Kepala Madrasah yang telepon. hihihi..


Lula kembali keluar dan menyandarkan punggungnya pada kusen pintu tengah, kemudian menjawab panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum, Pak."


"Iya, Pak. Besok pagi saja ya, soalnya sebentar lagi saya mau berangkat kuliah."


"Ya, Pak. Wa'alaikumussalam."


Setelah mengakhiri panggilan, Lula menyimpan kembali HP nya, kemudian duduk kembali di hadapan Santo dan Ayu.


"Kami mau pamit, Lula. Mau ke Talun takut nanti pulangnya kesorean." pamit Mbak Ayu.


"Sebentar, Mbak. Aku panggilkan Mak e dulu."


Lulapun memanggil Mak Kulsum di belakang,


"Lho, kok terburu-buru? Minumannya juga belum dihabiskan." tanya Mak Kulsum saat sampai di depan.


"Kita mau ke rumah teman di Talun, Mak. Takut kemalaman nanti pulangnya." jelas Ayu.


"Yaudah kalian hati-hati di jalan ya!" ujar Mak Kulsum.


"Iya, Mak. Kami permisi."


Merekapun pergi meninggalkan rumah Lula.


"Aku kira jauh-jauh datang ke sini dengan tujuan mau meluruskan masalah, ternyata cuma mampir. Egonya terlalu tinggi." gerutu Lula.


Mak Kulsum menepuk-nepuk pundak Lula.


"Sholat dulu, Lula!" Mak Kulsum mengingatkan.


"Eh, iya lupa. Aku kan mau berangkat gasik mbonceng Lutfia," ujar Lula sambil menepok jidat.


Lulapun segera beranjak untuk Sholat Dhuhur dan juga bersiap-siap untuk berangkat kuliah.


Mandi nggak yah? 🤔🤔🤔


happy reading


Semoga suka


jangan lupa jempolnya ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2