Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 17


__ADS_3

Pertemuan Dito dengan kliennya malam ini berjalan lancar.


“Ah, terima kasih Dim. Tidak sia – sia malam ini kita datang. Kamu memang yang terbaik” puji Dito pada asistennya.


“Sama – sama bos, ehmm… berarti boleh dong bos saya liburan sebagai bonusnya?” Dimas langsung memberikan senyum terbaiknya.


“Boleh, tapi setelah itu gak usah balik lagi ke kantor” ucap Dito santai sambil menghabiskan minumannya. Dimas lalu menjatuhkan kepalanya di meja mendengar jawaban bosnya. Dito hanya terkekeh karena berhasil menjaili asistennya itu.


Malam ini Dito memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya, sejak pulang dari rumah Erania dia sepertinya merindukan kehangatan keluarga. Ia memikirkan bagaimana seandainya jika ia ada di posisi Erania, itu pasti sangat berat.


Sampai di rumah Dito langsung masuk ke kamar karena Dito tahu mama dan papanya masih ada di rumah Erania.


Dito berjalan menaiki tangga, sebelum sampai di kamarnya ia mendengar suara dari kamar tamu yang ada di samping kamarnya. Kamar ini biasanya di tempati oleh keluarganya yang datang berkunjung.


Karena penasaran Dito mengintip di pintu yang kebetulan sedikit terbuka,Dito kaget karena melihat Vian dan Vano yang sedang asyik bercanda saling memukul satu dengan yang lain.


“Kalian…?” tanya Dito.


Vian dan Vano lalu menoleh ke arah Dito.


“Eh kak Dito” ucap Vian dan Vano serempak.

__ADS_1


“Kalian kapan datang?” tanya Dito lagi.


“Mungkin 1 jam yang lalu kak”


“Sama siapa saja?”


“Sama om dan tante terus kak Erania dan kak Caca”


“O, ya sudah kalian istirahat ya. Cepat tidur, kalian pasti lelahkan?” Dito mengacak – acak rambut Vano dan Vian kemudian keluar.


“Mama dan Papa kok gak bilang mau langsung pulang?” guman Dito.


“Loh nak, kamu pulang?” tanya mama Dito sambil berdiri di depan pintu.


“Mama gak mau nih Dito masuk?” Sindir Dito karena mamanya hanya berdiri di depan pintu kamar.


“Ada apa nak?”


“Kok mama langsung pulang? Trus Erania dan adik – adiknya juga kok ikut ma?”


Mama Dito menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Dito “ Mama dan Papa setuju untuk mengajak mereka tinggal bersama kita. Karena Erania kasian melihat adik – adiknya terus bersedih kalau berada di rumahnya. makanya dia memutuskan untuk kembali saja secepatnya. Apalagi kan sebentar lagi dia harus bekerja”

__ADS_1


“Iya ma, aku juga kasian lihat mereka bersedih”


“Ya sudah, kamu istirahat sekarang nak”


Dito meninggalkan kamar mamanya untuk istirahat. Hari ini memang sangat melelahkan  buat Dito, meskipun lelahnya hari ini sebanding dengan hasil yang dicapai.


*****


“Dev, sudah ada kabar dari Dito?” tanya tuan Max pada Devinda putrinya.


“Belum pa, Devi sudah menghubungi asistennya tapi asistennya bilang belum ada jawaban dari bosnya”


“Sial,,,, apa Dito mencoba mempermainkan kita?” kekesalan tampak di wajah tuan Max.


“Pa sudah, papa harus ingat kondisi kesehatan papa. Besok Devi akan coba datang ke perusahaan Dito. Papa tenang ya” Devi mengusap punggung papanya.


“Ya sudah, papa percayakan sama kamu”


“Pa, apa papa sudah coba ketemu sama om Putra atau tante Aselin? Mungkin mereka mau menerima tawaran kerja sama kita” usul Devi pada papanya.


Tuan Max menarik nafasnya panjang “Itu sudah papa lakukan sebelum bertemu Dito. Putra dan Aselin sama – sama menolak. Makanya Papa mencoba menemui Dito, papa pikir Dito masih bisa kita pengaruhi. Dugaan papa salah, Dito justru lebih dingin di banding orang tuanya”

__ADS_1


__ADS_2