Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#37


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban dariku, dia langsung pergi meninggalkanku. Yah, mesti nunggu air mendidih dulu nih, padahal aku sudah kebelet pingin pipis. Mau minta tolong sama anak-anak, nanti kalau terjadi sesuatu tanggung jawabnya gede. Duh.. sabar ya, kemih, cuma sebentar kok.


Setelah menunggu kurang lebih tiga menit, aku pun melihat asap yang keluar dari panci yang tutupnya meletup-letup karena air di dalamnya mendidih. Segera kubuka tutup tersebut dan kutuangkan ke dalam termos dan teko yang sudah kutaburi teh serbuk, baru aku pergi ke mushola dengan mencangking mukena parasutku yang biasa kubawa saat bepergian dan peralatan mandiku.


Pagi ini aku tidak pulang, nanti saja pulangnya sekalian.


Sesampai di Mushola, aku segera meluncur ke toilet wanita yang hanya satu-satunya di Mushola tersebut untuk menuntaskan HIV-ku, Hasrat ingin vivis yang kutahan sejak bangun tidur tadi.


Aku sholat subuh terlebih dahulu untuk mengejar waktu subuh yang sebentar lagi akan berakhir, baru setelah itu aku mandi dan ganti baju dengan pakaian Pramuka lengkap, karena nanti harus mendampingi peserta wide game dan upacara penutupan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi ini, mentari mengintip dari balik Lazuardi, cahayanya masih terasa lembut namun menyilaukan mata. Malam masih menyisakan dinginnya, butiran embun yang menerpa rerumputan berkilauan terkena cahaya sang surya.


Aku kembali ke tenda, waktu menunjukkan belum genap dari pukul enam pagi, masih lama waktu untuk sarapan, sementara cacing-cacing di perutku sudah berdemo menyanyikan lagu seriosa.


Di belakang tenda sudah ada tukang bubur naik haji mangkal di sana, eh maksudnya penjual bubur ayam. Penjual bubur kacang hijau juga tidak mau kalah, mereka berdua seperti sedang berlomba menabuh mangkok dengan sendok deh kayaknya.


Terserah kalian saja dech..


Sementara Mbak Susah, penjual pecel yang biasa keliling di pasar juga membuka stand di deretan sebelah barat tenda, tadi waktu aku kembali dari Mushola pas lewat didepannya, aku lihat bubur pelangi yang sudah di wadahi dalam cup mangkuk mika.


Jadi delima ini mah, eh dilema ya, mau nunggu kang Khadik datang membawa jatah sarapan, tetapi cacing-cacing di dalam sana sudah tidak sabar, mau beli bubur nanti jatah sarapan tidak kemakan.


Setelah tidak lama-lama berfikir, akhirnya Mbak Susahlah yang berjaya sebagai pemenang. Aku bangkit dan melangkah menghampiri lapaknya.



Alhamdulillah masih kebagian, aku membeli satu saja, yang lain biar beli sendirilah. Setelah membayarnya aku membawa bubur itu kembali ke tenda, sambil promosi ke peserta atau pendamping yang sudah hadir, siapa tahu nanti bisa dapat komisi, wkwkwk.


Sampai di tenda ternyata sudah banyak pembina pendamping lain yang datang, Bu Sri, Bu Lut dan Bu Zana. Otakku jadi parno nih, pasti bubur pelangiku yang cuma 1 cup ini nanti jadi Bancakan.


"Apa itu, Mbak?" tanya Lutfia.


"Bubur macem-macem." jawabku singkat. "Ayo, kita makan bareng-bareng," aku pura-pura menawari mereka sebagai topeng untuk menutupi rasa maluku karena cuma beli 1 cup, padahal hatiku menjerit.


"Beli dimana, Mbak? Aku mau beli sendiri saja." ungkap Lutfia. Lutfia emang suka jijih kalau makan berbaur dengan orang lain, dengan suaminya saja dia tidak pernah minum 1 gelas buat berdua.


"Beli di lapaknya Mbak Susah," sahutku. Lutfia pun segera berlalu pergi.


Sementara Bu Zana tidak merespon, Wanita itu sibuk mengaduk gula pada teko yang sudah kuberi teh serbuk.


"Aku icip-icip dulu sini, Bu Lula. Nanti kalau enak aku beli sendiri." seru Bu Sri yang ternyata di tangan kanannya sudah memegang sendok.

__ADS_1


Aku hanya mencebik.


Kami menikmati bubur itu semangkok berdua sampai habis. Yang dibilang Bu Sri cuma icip-icip ternyata bablas, seperti iklan jreng nong.


"Beli lagi, Bu." ucapku setengah meminta Bu Sri untuk memenuhi janjinya.


"Udah ah, nanti nasi catering nggak kemakan." jawabnya enteng.


"Kan masih lapar, Bu. Lagian nasinya juga belum datang." bujukku.


"Tuh, datang." sahutnya sambil menunjuk ke suatu arah.


Benar saja, akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga pada saat waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Kang Khadik datang dengan membawa dua tas keranjang di tangannya mendekati tenda putri.


Akupun mengajak dan mengambilkan peserta putri untuk sarapan, dan mengutus peserta putra yang ada di tenda putri untuk membawakan nasi untuk temannya yang belum datang.


Pukul setengah delapan pagi, persiapan pemberangkatan untuk kegiatan wide game. Aku dan Bu Sri memilih untuk diam di tenda, melakukan bersih-bersih untuk penilaian K3.


Pukul delapan semua peserta sudah diberangkatkan wide game, kami segera menata dan membersihkan tenda dengan bantuan tiga anak yang tidak ikut kegiatan. Sebentar lagi akan ada petugas yang berkeliling.


🌸🌸🌸🌸🌸


Jambore ranting berakhir jam satu siang, aku pulang ikut kakakku yang kebetulan nongol. Sampai di rumah, aku merebah tubuhku di kasur kamarku.


"Harus sekarang? Aku masih capek besok saja." sahutku.


"Ya, terserah Mbak Lula. Aku cuma menyampaikan." jawab Usnul melangkah pergi.


Ada apa dengan simbah..


Aku jadi berubah pikiran, aku bangkit dan pergi menuju ke rumah Mbah Tari, rumahnya si di depan rumahku berhadapan dan terhalang jalan, tetapi keadaan tanah di kampung kami tidak rata jadi rumahku di atas rumah Simbah di bawah.


Aku masuk saat membuka pintu dan mengucap salam, berjalan langsung menuju ke kamarnya. Keadaan Simbah yang renta sering membuatnya sakit-sakitan, Simbah pasti berada di kamarnya.


Benar saja, kulihat di dipannya dia terbaring menyelimuti sekujur tubuhnya, padahal cuaca sedang terik-teriknya. Aku duduk di tepi dipan dan memijit-mijit kakinya, sepertinya Simbah hanya minta dipijit.


Simbah terbangun,


"Lula," panggilnya.


"Ya, Mbah." sahutku.


"Itu ada air di meja, kamu pakai buat mandi." ujarnya seraya memandang ke arah meja.

__ADS_1


Aku mengambil air itu,


"Ini biar apa, Mbah?" tanyaku sambil memegangi dan memperhatikan air berwarna pink yang dibungkus dengan plastik es panjang.


Di dalamnya ada kertas berwarna pink yang dilipat, mungkin karena warna kertas itu sehingga air berubah menjadi warna pink dan seperti ada tulisan rajah pada kertas tersebut.


"Sudah, nurut saja." tukas Simbah.


"Iya, Mbah." sahutku patuh.


Nggak ada salahnya mematuhi kata orang tua, tetapi aku bergidik ngeri juga, takut ada jin yang menghuni rajah itu, dan nanti malah merasuki tubuhku bagaimana?


Ah, sudahlah. Aku mencoba menepis pikiran itu, yang penting aku akan taat beribadah, sholat dan mengaji, pasti jin dan teman-temannya juga akan lari, positif thinking saja, Lula.


Saat terdengar kumandang azan asyar baru aku kembali ke rumah dan bertemu Mak e yang sedang duduk di ruang tamu, akupun duduk berhadapan dengannya.


"Mak, Simbah kok ngasih beginian, memang siapa yang pergi ke orang pinter?" tanyaku padanya.


"Wo Roji mungkin. Memang Simbah bilang apa?"


"Cuma bilang air ini buat mandi,"


"Simbah juga pernah minta tolong De Sokhani buat pergi ke orang pinter, kata orang pinternya ada pemuda di kampung ini yang suka sama kamu, tapi dia tidak berani ngomong sama kamu, katanya pemuda itu sudah menikah tetapi dia tidak rela kamu dimiliki oleh orang lain." ungkap Mak e.


"Mak e percaya hal-hal gituan?"


"Yah percaya saja, buktinya sampai sekarang kamu juga belum mendapatkan jodoh juga, mungkin jodoh kamu dibundeli sama pemuda itu." paparnya.


"Itu sudah takdir Allah, Mak." sanggahku.


"Tapi tidak ada salahnya juga kita berikhtiar, dan kamu juga harus perbaiki sikapmu, jaga ucapanmu terutama dengan lawan jenis, kamu kalau ngomong suka ceplas-ceplos dan pedas." tukas Mak e.


"Apa iya, Mak? Itu kan nurun dari Mak e." sahutku.


"Tuman kamu, sama orang tua sembrono. Sudah sana mandi!" usir Mak e.


Akupun pergi sambil tertawa, aku segera mandi karena tubuh ini rasanya sudah lengket, kugunakan air pink tersebut sebagai bilasan terakhir


Jalan-jalan ke taman ria,


di sana masih ada petugas bersih-bersih,


Jangan lupa like dan komennya ya,

__ADS_1


Semoga suka dan terimakasih.


__ADS_2