Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#52


__ADS_3

Saat waktu asar tiba, suasana rumah sudah sepi, hanya tinggal pengantin baru. Tamu sudah sepi, para rewang dan anggota keluarga yang lain juga sedang menghadiri pengajian. Lula mengajak suaminya sholat berjamaah. Selesai sholat mereka kembali masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Lula memindahkan baju-baju suaminya ke dalam lemari pakaiannya. Hanya beberapa baju saja yang dibawa suaminya. Ia juga memindahkan parsel hantaran yang menumpuk di kasur ke atas lemari.


Kamar Lula terasa sempit, kamar yang berukuran 300 cm x 300 cm itu sudah penuh dengan ranjang yang berukuran Queen size, 200 cm x 200 cm dan lemari 2 pintu. Tidak ada perabot lain lagi di kamarnya.


Padahal ukuran kasur springbednya hanya 200 cm x 160 cm, tapi kata pembuatnya takut ukurannya kurang lebar, jadi ranjangnya kosong 20 cm.


Atif sudah berbaring di atas ranjang, menunggu kegiatan istrinya yang diada-adakan hingga selesai. Ada saja yang Lula kerjakan sejak tadi.


"Mih," panggil Atif.


"Sebentar," jawab Lula.


"Sini dulu, itu kan bisa dikerjakan nanti," bujuk Atif.


Sebenarnya Lula hanya mengerjakan pekerjaan yang dibuat-buat, karena ia malu berdekatan dengan suaminya. Lula menghentikan kegiatannya juga, ia mau tidak mau harus menurut kata suami, ia berbaring di samping Atif.


Tangan kanan Atif merengkuh pinggang Lula, hingga kini mereka berhadapan. Atif langsung mel*mat bibir Lula. Lulapun pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya terhadapnya, karena memang ia sudah dewasa, sudah kewajibannya memberikan hak kepada suami. Dan iapun juga ingin belaian dan pelukan hangat dari sang suami.


Sore itu, mereka telah menunaikan ibadah yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Bunyi deritan ranjang tidak mereka pedulikan, mereka pikir yang penting tidak ada orang yang mendengar.


Lula langsung mengenakan kembali pakaiannya, karena waktu sudah hampir Maghrib, ia menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat ia buang air kecil, ada rasa perih yang ia rasakan di bawah di antara selangkangannya, ia melihat celana dalamnya, ternyata ada bercak merah di sana.


Namun di sprei alas tidurnya tidak ada bercak darah yang tertinggal, hanya di CDnya saja, Lula takut kalau suaminya menganggapnya tidak perawan lagi saat sore pertama tadi, meskipun dia tidak pernah mengatakannya.


Pak Yahya pernah bilang, dia pernah bertanya pada seorang dokter, dokter mengatakan bahwa v seorang gadis tidak selalu harus mengeluarkan darah saat pertama kali berhubungan badan, itu tergantung dari keelastisitasan selaput dara dari v itu sendiri.


Kalau v elastis maka kemungkinan tidak terjadi robekan, dan katanya jika selaput dara elastis maka suatu saat jika melahirkan akan mudah mengalami pembukaan. Wallahu a'lam.


Author sedikit mengutip dari Kompas.com


Selaput Dara Patokan Penanda Keperawanan?


Selasa, 19 Juli 2016 | 22:07 WIB.


Dr. Heru Oentoeng Sp. And, pakar seksualitas menjelaskan jika keperawanan tak bisa diukur dari sobeknya selaput dara atau darah malam pertama. Alasannya, selaput dara bisa sobek oleh berbagai sebab yang tak ada kaitannya dengan berhubungan seksual. Misalnya, olahraga ekstrem dan benturan keras seperti jatuh atau kecelakaan.


“Sebaliknya, selaput dara bisa tetap utuh meski wanita tersebut sudah pernah melakukan hubungan seksual. Yang memengaruhi adalah elastisitas selaput darah wanita tersebut,” ujar Dr. Heru.


Sepakat dengan hal ini Dr. Carmellia Sp. OG, ahli kebidanan dari Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk mengatakan, bahwa elastisitas selaput dara tiap orang itu berbeda.


“Pada umumnya memang terjadi robekan saat pertama kali terjadi penetrasi. Tapi, ada juga yang selaput daranya liat sehingga tak terjadi robekan,” jelas Dr. Carmellia.


🌸🌸🌸🌸🌸


Satu hari, dua hari hingga satu minggu masih saja ada segelintir tamu yang datang, baik itu


tamu temannya Lula maupun temannya Atif.


Setelah acara Mbalik kloso nanti, Lula berencana untuk tinggal di rumah Atif, dan mengunjungi rumah ibunya seminggu sekali pada setiap malam Jum'at.


Dia sudah mengemas seragam mengajar dan keperluan lainnya ke dalam tas besar.


Sehari sebelum acara Mbalik kloso, dari pihak keluarga pengantin pria melakukan Tilik Manten, mereka membawa rombongan 2 armada angkot dan 1 mobil pribadi. Mereka membawa hantaran berupa nasi beserta lauk pauk, nasi liwet, jajanan kering, kue basah, dan perabotan memasak dan menghidangkan makanan.


Acara ditutup dengan makan-makan, selanjutnya mereka berpamitan, bersalaman sambil menyelipkan amplop kepada mempelai putri.


Esok harinya adalah acara Mbalik kloso, sejak tadi malam para rewang dan sanak saudara sudah memasak aneka macam makanan untuk di bawa.


Pukul 9 pagi Lula sudah dirias seperti pengantin kembali, kali ini ia memakai setelan kebaya warna oranye. Tetapi karena sudah tidak ada tukang foto, ya terpaksa tidak ada dokumen yang mengabadikan.

__ADS_1


Pukul 10 pagi, 3 mobil rombongan Mbalik kloso berangkat, sementara makanan dan hantaran sudah dikirimkan sebelumnya, sekarang tinggal manusianya saja yang mengiring pengantin.


Hanya butuh waktu 15 menit rombongan telah sampai di kediaman Atif. Mereka disambut dan diterima di rumah Atif, dan sebagian di rumah Mbak Imah, sementara sebagian lainnya duduk di teras rumah Mbak Imah.


Tidak ada acara lepas sambut dalam acara ini, hanya mengantar, menikmati hidangan, makan selanjutnya pulang.


Sementara yang lain pulang, adik-adik dan adik sepupu Lula masih menemani Lula. Mereka yang masih tertinggal semua yang berangkat bawa motor sendiri atau berboncengan, tidak ikut rombongan mobil.


Mereka antara lain Nia dan Arifin, Eva dan Munir, Ayu dan Maftuh, serta Usnul dan Izur. karena kebetulan hari Jum'at, maka kaum cowok termasuk Atif melaksanakan sholat Jum'at terlebih dahulu, sementara yang cewek membantu Lula untuk membersihkan riasan dan melepaskan kerudung yang disematkan dengan banyak peniti.


Sekarang yang menemani Lula tinggal Nia, Eva, Usnul dan Ayu. Tidak ada yang membawa kamera, jadi riasan Lula kali ini tidak diabadikan.


"Nia, haid kamu masih telat?" tanya Lula pada Nia mengingat seminggu yang lalu Nia bilang telat haid tiga hari.


"Masih, Mbak," jawab Nia.


"Sudah di testpeck belum? Atau periksa ke bidan langsung saja!" Lula memberikan usul.


"Belum, takut kalau cuma telat biasa," jawab Nia yang harap-harap cemas.


"Mudah-mudahan beneran hamil, Ya," Lula membalas dengan berdo'a.


"Aamiin," ucap adik-adik Lula serempak.


Sudah tiga tahun Nia menikah, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Mungkin karena dia sering mengkonsumsi obat-obatan dan jamu-jamuan herbal. Sejak masih sekolah Nia pernah kena sakit tipus, kemudian ada flek di paru-parunya.


Dari dokter, tukang pijat juga pengobatan alternatif sudah dia datangi. Pernah dia berobat di tempat praktek pengobatan alternatif, ahlinya ada tiga penyakit, paru-paru, mag dan kista, tapi yang mendesak untuk diobati adalah paru-paru, karena ahli pengobatan tersebut hanya akan mengobati satu penyakit saja.


Setelah para cowok kembali dari melaksanakan sholat Jum'at, mereka pulang meninggalkan Lula sendirian. Lula terpaksa membantu mengumpulkan gelas dan piring bekas rombongan Mbalik kloso, biar nanti diangkat para rewang.


Mak Kastiyah, ibu tirinya Atif muncul dengan membawa ceting panci berisi nasi dan piring berisi lauk. Ia meletakkan nasi dan lauk tersebut di hadapan Lula.


"Lula, kamu yang antarkan nasi ini ke tempat Rahayu, ya," perintah Mak Kastiyah pada Lula.


Lula membawa kedua barang tersebut dengan kedua tangannya. Lula pergi ke rumah Mbak Rah lewat pintu belakang, rumahnya dengan rumah Atif berdempetan hanya terhalang tembok, dan ada tembusan di dapur.


Lula masih ingat, kalau hubungan Mbak Rah dan Mbak Imah masih tidak akur, dan Mak Kastiyah sepertinya lebih memihak kepada Mbak Imah yang banyak uangnya. Karena suami Mbak Imah punya jabatan penting di PT. Trakindo di Timika Papua.


Walaupun suami Mbak Imah pulangnya tiga bulan sekali, dan di rumah hanya selama dua minggu tapi kalau uangnya pak-pok mungkin bisa bahagia. Entahlah kenapa jadi mikirin kebahagiaan orang lain.


Sampai di dapur, kebetulan Mbak Rah sedang memasak menggunakan tungku atau Pawon. Lula meletakkan apa yang dibawanya di meja makan.


"Mbak, ini ada sedikit nasi walaupun tidak ada lauknya," ucap Lula merendah seperti yang biasa diucapkan oleh orang-orang tua di kampungnya, padahal yang dibawa sudah lengkap dengan nasi.


"Iya, Bu Lek. Terimakasih, taruh di situ saja," sahut Mbak Rah.


Lulapun langsung kembali ke rumahnya, maksudnya ke rumah Atif. Di rumah itu tinggal juga kakak perempuannya Atif yang tunarungu, Mbak Istikomah dan keponakannya Atif, Karim, anak dari Mbak Imah dari suaminya yang pertama yang masih duduk di kelas IX MTs Syahid Doro.


Tetapi Mbak Isti jarang di rumah, ia lebih suka kumpul-kumpul bersama teman-temannya sesama tuna rungu. Lula juga bingung kalau berhadapan dengan dia, tidak paham dengan apa yang diomongkan.


Lula mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat dhuhur di kamar.


Usai sholat, tidak tahu harus mengerjakan apa lagi, Lula akhirnya memindahkan pakaiannya ke dalam lemari di kamar Atif. Di Kamar Atif ini hanya ada lemari, kasur yang dialasi tikar dan meja.


Selesai memasukkan semua pakaiannya, Lula meluruskan tubuhnya di kasur, ngeloh boyok.


Tak lama berselang terdengar suara tikar yang digulung, Lula menyibak tirai pintu kamar demi melihat siapa yang melakukan. Lula tersenyum memandangi orang yang sedang menggulung tikar tersebut.


Atif melirik sekilas wanita yang telah satu minggu menjadi istrinya.


"Kenapa senyum-senyum? Belum puas memandangi suamimu yang tampan ini?" tanya Atif tanpa menoleh kembali kepada Lula.


"Ih, Ge-er!" sergah Lula.

__ADS_1


Lula menutup kembali tirai pintu kamarnya. Kemudian melangkah merebahkan tubuhnya di kasur, memandangi langit-langit kamar dan dinding yang dicat warna dusty pink. Kamarnya bau sangit, karena di luar kamar tersebut dipakai untuk dapur tungku.


Atif menyusul istrinya ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


"Udah selesai gulung tikarnya?" tanya Lula pada suaminya.


"Jangan gulung tikar! kesannya kayak punya usaha yang bangkrut," tolak Atif.


"Aku ulangi dech, udah selesai Mbalik kloso ne?" tanya Lula lagi.


"Sudah, tinggal mbalik klambi yang ini," jawab Atif. Tangannya menunjuk kancing kebaya yang dipakai Lula dan melepaskannya satu-persatu. "Sekarang nggak perlu risih terdengar bunyi krengket-krengket lagi," bisiknya di telinga Lula.


Lula hanya membalas dengan senyuman apa yang dibisikkan suaminya. Ia membalas dengan melepas kancing baju Atif satu persatu pula hingga baju terlepas.


Aroma parfum Atif yang khas dipadu padankan dengan aroma tubuh Atif membangkitkan gairah Lula, Lula tahu Atif pakai parfum bebek, parfum pasaran yang harganya terjangkau kalangan bawah, sekarang parfum tersebut sudah sulit dicari di toko.


Atif mel*mat bibir Lula yang tebal dan sensual, sementara salah satu tangannya bermain di balik kain jarik yang dipakai Lula yang tersingkap. Pergerakan tangan Atif berhenti sejenak, meraba keberadaan tangan Lula, membimbingnya menuju ke barang pusaka miliknya.


Lulapun membalas perlakuan Atif, lama mereka bertukar ludah, sementara sebelah tangannya memainkan sesuatu milik suaminya yang mulai mengeras. Skip🤭🤭🤭


Malam harinya ternyata di rumah tetangga belakang rumah, sedang ada acara resepsi pengantin, Lula diajak suaminya menonton resepsi pengantin, menonton lho bukan menghadiri. Banyak juga dari para tetangga yang menonton, karena tidak diundang.


Mereka berjalan melewati jalan setapak di kebun sebelah selatan rumah Mbak Imah yang gelap.


"Kang, awas di situ banyak semut kolang-kaling!" seru Nining pada tetangga Atif yang baru saja melewati jalan setapak tersebut.


Lula berjalan sambil meraba-raba.


"Aw," teriak Lula saat melewatinya.


Ternyata kaki kanan Lula digigit semut tersebut. Menyesal Lula ikut nonton kalau harus digigit semut. Padahal Lula sudah bilang malas, tapi suaminya memaksa, katanya ada tetangganya yang ingin kenalan.


Pagi harinya saat bangun tidur, Lula merasa kakinya sakit. Ternyata kakinya pada area yang digigit semut tadi malam bengkak, karena ternyata, semut tadi malam menggigit sela jari kelingking dan jari manis kaki kanan Lula yang terkena kutu air.


Hari ini Lula mulai berangkat mengajar, tetapi kaki Lula tidak bisa dipakaikan sepatu. Akhirnya Lula berangkat memakai sandal.


Lula baru mendapatkan 2 jam pelajaran di PPL, itupun di hari Senin. Sedangkan ia harus mengajar minimal 4 mata pelajaran. Sedangkan Bu Sri sudah 4 jam pelajaran di hari yang sama.


Saat hari Senin Lula berangkat ke tempat PPL, Fatimah bilang kalau Pak Nasikon dapat jatah 6 Pelajaran, dan dia tidak bisa mengisi karena jadwalnya hari Rabu. Dia ditugaskan di kantor Kemenag tidak boleh minta ijin, dia bisa mengisi saat hari libur kantor yaitu hari Jum'at dan Sabtu. Jadi yang 2 jam hari Rabu di ambil Lula.


Hari Rabu pun tiba, Lula mengajar mata pelajaran Akidah Akhlak 2 jam pertama di kelas VIIIb sampai istirahat. Saat istirahat Lula berada di ruangan tempat kumpul teman-teman PPL.


Lula mengecek ponselnya, ada pesan dari Pak Yahya.


[Bu Lula, Bu Sri ijin PPL 1 hari tok, Njenengan kok 2 hari sendiri, ini guru-guru yang lain pada protes. Njenengan itu guru kelas 6 harus fokus untuk menggembleng kelas 6 yang sebentar lagi mau ujian. Kata Bu Sri Njenengan mengganti jam nya pak Nasikon, tidak usah sok-sok an mengganti pekerjaan orang lain dech, kewajiban njenengan dulu dilaksanakan, ini anak-anak kelas 6 jam nya njenengan tidak ada yang mengajar.]


Astaghfirullah al'adzim.


.


.


TBC


Terimakasih udah mau baca


Baca karya haluku juga ya man teman


Jangan lupa like dan komen ya


😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2