Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#46


__ADS_3

Sepulang kuliah,


Seperti biasa Atif menjemput Lula di depan kampus, tetapi kali ini ia membawa motornya melewati jalur barat. Saat sampai area pasar Kedungwuni, dia memarkirkan motornya di depan salah satu toko depan pasar.


"Ayo!" Atif menarik tangan Lula, tidak sabar menunggu pergerakan Lula yang seperti cacing. Ia menyeret masuk ke dalam sebuah toko emas.


Kasar banget sih sama pacar, nggak ada romantis-romantisnya. Gerutu Lula.


Lula masih bingung, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba saja tanpa pemberitahuan dia diseret ke depan etalase toko emas.


"Maksudnya apa?" tanyanya memandang Atif.


"Mimih pilih yang mana model cincinnya."


Oo..bilang kek dari tadi kalau mau beliin cincin.


Lula mengamati cincin yang ada di etalase, matanya terfokus pada sepasang cincin yang ada di sana.


"Mbak, boleh lihat cincin yang pasangan itu?" pinta Lula pada pelayan toko.


"Yang ini, Mbak?" tanya pelayan sambil menunjuk deretan cincin.


"Yang matanya satu Mbak, iya yang itu." jawab Lula.


"Satu saja enggak usah sepasang." potong Atif.


"Satu?" tanya Lula memperjelas pada Atif.


Nggak ngikutin trend jaman sekarang sich.


"Memang boleh ambil satu saja, Mbak?" tanya Lula pada pelayan lagi.


"Boleh kok, Mbak. Mau ambil satu boleh, sepasang juga boleh." jawab pelayan dengan ramah. "Di coba dulu Mbak," tambahnya mengambilkan cincin dan meletakkan nya di atas etalase.


Lula memasukkan jari manisnya ke cincin tersebut.


"Pas, Mbak. Aku ambil yang ini saja." putus Lula.


"Mau langsung dipakai, Mbak?" tanya pelayan toko.


"Iya, Mbak. Aku pakai langsung saja."


Pelayan toko emas tersebut segera menulis nota pembelian. Setelah membayar cincin tersebut Atif membawa Lula pulang, tetapi tidak melewati jalan Rowocacing melainkan menuju arah Pasar Doro.


Ternyata Atif membawa Lula ke rumahnya, Lula masih saja terasa grogi. Jalan yang mereka lalui kali ini berkelok dengan tanjakan yang tajam, Tak lama berselang mereka sampailah pada sebuah rumah. Rumah sederhana menghadap ke selatan.


Rumah itu berukuran 6 x 15 meter, ada tambahan dapur dan kamar mandi di sisi kiri 4x 4 m meter dan di sisi kanan ada tempat motor berukuran 3 x 2,5 meter. Catnya berwarna krem sudah kusam, lantainya dari semen berwarna kuning kunyit seperti warna tegel.


Untuk pertama kalinya Lula masuk ke rumah ini dan duduk di sofa beludru berwarna merah marun, sedangkan Atif duduk di sampingnya. Suasana sepi, sejenak kemudian terdengar celotehan anak gadis kecil dari dalam.


Lula mengeluarkan mangganya dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.


"Pinjam pisaunya pih." pinta Lula pada Atif.


Atif membawa kakinya meninggalkan Lula sendirian di ruang tamu.


"Tante," panggil seorang gadis kecil.


Gadis kecil yang kira-kira berumur 3 tahunan dengan telanjang dan rambut masih basah berlari menghampiri Lula dari belakang. Bocah itu suka ngemut jari jempol kanannya.


"Hai, Dede. Kok belum pakai baju? Siapa namamu?" tanya Lula menyambut gadis kecil itu.

__ADS_1


"Dini, Tante." jawab anak itu polos.


"Bu Lek. Panggil Bu Lek saja." pinta Lula pada Dini.


Tok tok,


Suara benda dipukulkan terdengar tiba-tiba. Ternyata Atif memberikan pisau lewat jendela. Lula meraih pisau tersebut, Atif pergi lagi entah kemana, mungkin ngasih makan kambingnya kali.


Bocah kecil yang mengaku bernama Dini itu sudah tidak nampak di ruangan tempat Lula berada. Lula langsung membelah mangganya hingga ke tengah dan mengerat menjadi kotak-kotak bagian dagingnya. Mangga tersebut belum matang betul, Tetapi sudah enak untuk dimakan.



Tiba-tiba Atif menghempaskan pantatnya disamping Lula dan menyerobot mangga yang hampir saja menyentuh bibir Lula. Lula tersungut kesal, akhirnya ia membelah lagi mangga di sisi lainnya yang masih tersisa.


"Cincinnya mana?" Atif menengadahkan tangan kanannya. "Lepas!" tukasnya.


"Kok lepas? bukankah ini beli buatku?" protes Lula.


"Belum boleh, Sayang. Ora ilok."


"Ora ilok? Oo.. raimu belok. (Mukamu penuh lumpur)" Canda Lula sambil melepas cincin dari jari manisnya. "Nih!" cicitnya meletakkan cincin di telapak tangan Atif lalu menyanyikan sebait lirik lagu milik Iis Dahlia,


Walaupun cuma dua gram


cincin yang engkau ikatkan


tapi nantinya diriku...


akan jadi hinaan


akan jadi cemoohan


ocehan orang..


"Nggak ada uang recehan, Mbak." ucapnya sambil mengetuk-ngetukkan dompetnya. Lalu memberikan selembar uang kertas warna biru.


"Sombongnya, beneran nih buat aku?" tanya Lula mengangkat uang tersebut dengan girang.


Mata Lula menjadi sendu kalau lihat yang biru-biru, apalagi kalau lihat yang warna merah, pasti akan tambah membara, maklumin sajalah.


Sepuluh tahun mengabdi sebagai guru Wiyata Bhakti di MI kampung lembar yang diterima tiap bulannya hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, sementara kebutuhannya semenjak kuliah semakin tidak dapat dijangkau dengan honornya.


"Nggak apa-apa kan segitu?"


"Nggak apa-apa yang penting lancar," harap Lula mulai ngelunjak. "Terimakasih ya, Pih." imbuhnya sambil senyum.


"Dua Minggu lagi akan ada tamu yang datang ke rumahmu." tutur Atif.


Lula memandang Atif dengan tersenyum, mengerti maksud dari kalimat Atif tersebut, hatinya sangat berbunga-bunga.


Hari mulai meremang, suara jangkrik mulai jelas terdengar, suara azan dan iqomahpun saling bersahutan, tanda waktu sholat maghrib sudah bisa dilaksanakan, hentikan aktifitas, luangkan waktu sejenak untuk berkomunikasi dengan sang pencipta.


Lula hendak mengambil wudlu ke kamar mandi yang ada di samping dapur. Di dapur ia bertemu dengan kakaknya Atif yang tinggal serumah yaitu Mbak Imah, ia sedang masak, masih menggunakan kompor minyak.


"Lagi masak apa, Mbak?" tanya Lula sekedar basa-basi.


"Cuma masak sayur bayam." jawab Mbak Imah. "Mau wudlu? Masih ada Lek Amin." tambahnya.


Sambil menunggu, Lula memperhatikan bangunan rumah Atif, ternyata di dapur ini terhubung dengan dapur rumah milik kakaknya Atif yang pertama, Mbak Rahayu. tidak ada pintu skat di sana, hanya lubang pintu saja. Rumah Mbak Rah menghadap ke barat.


Selesai berwudhu, Lula kembali lagi ke ruang tamu, sampai di ruang tengah bertemu dengan Mbak Imah yang membawa dua stel mukena potongan.

__ADS_1


"Bu Lek pakai ini, cukup tidak?" perintah serta tanyanya sambil menyerahkan mukena.


Lula menerima mukena tersebut, mukena yang sepertinya mahal harganya. Ternyata Mbak Imah meski orang pelosok kampung, tetapi dia suka barang-barang mahal. Lula mengepaskan mukena bawahannya dengan badannya, ternyata cuma sebatas mata kaki.


"Nggantung, Mbak." Kata Lula menyerahkan kembali mukena yang dipegangnya.


"Coba yang ini," ucap Mbak Imah menyerahkan kembali mukena yang satunya.


"Makasih, Mbak. Aku pakai mukena sendiri saja. Aku bawa kok." tolak Lula.


Lula mengambil mukenanya yang ada di dalam tas, dan memakainya. Kembali ke ruang tengah mereka sudah berkumpul. Mereka sholat berjamaah dengan Amin Fadholi bertindak sebagai imam.


Dini juga ikut dalam sholat berjamaah tersebut, Lula merasa geli dengan tingkah anak kecil itu yang lari-lari melintasi orang-orang yang sedang sholat berjamaah.


Usai sholat, Lula duduk di lantai ruang tengah, ada televisi yang dinyalakan di sana. Lula, Atif, dan Amin ada dalam ruangan tersebut, sementara Dini masih belum bisa diam. Ada rasa canggung antara Lula dan Amin. mereka sama-sama tidak menyangka kalau bakal jadi saudara ipar.


Dari arah ruang belakang tampak Mbak Imah mengusung nasi dalam panci magic com. Tidak lama berselang sudah terhidang nasi, udang goreng kering dan sayur bayam jagung manis, kurang sambal memang. Ada juga pindang ikan yang digoreng.


"Ayo makan, Lula. Meskipun tidak ada lauknya." ajak Mbak Imah merendah.


"Ini juga sudah banyak kok, Mbak." timpal Lula.


"Harusnya Lula yang masak ini," sindir Mbak Imah.


"Hehe, resep masakanku ketinggalan di rumah, Mbak." seloroh Lula.


Jadi teringat si Santoloyo yang kalau diajak sholat selalu bilang do'anya ketinggalan di rumah. Jadi, apa bedanya kamu sama Santo, Lula? Jelas bedalah, enggak sholat kan berdosa, sementara enggak bisa masak kan bisa beli yang udah matang. Perang Lula dalam hati.


"Aku kalau masak kok enggak pernah pakai resep, Bu Lek. Cuma pakai mata batin, dikira-kira saja." cicit Mbak Imah.


Ah, jadi terlihat bodoh aku di mata calon kakak iparku, padahal niatku kan cuma bercanda. Malu kan jadinya kelihatan nggak bisa masaknya, padahal aku juga sama kalau masak, bumbu cuma dikira-kira saja. Gerutu Lula dalam hati.


Lula mengambil piring lalu menyendok nasi untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan diselingi canda tawa meskipun terasa kaku karena belum begitu saling mengenal.


"Bu Lek, kau nanti Bu Lek udah nikah sama Lek Atif, mau kan tinggal disini?" tanya Mbak Imah tiba-tiba.


Kaget kan? itu pasti, mengingat Lula dan Atif belum punya status yang jelas.


"Ehm.. in sya Allah, Mbak." jawab Lula ragu-ragu.


"Dari pintu ini nanti rencananya mau aku potong hingga ke halaman aku jadikan rumah menghadap ke barat." tutur Mbak Imah lagi sambil menunjuk ke arah pintu tengah.


Lula hanya manggut-manggut.


Berarti nantinya rumah ini enggak ada ruang tamunya dong.


"Sebenarnya aku punya tanah di pinggir jalan sih Bu Lek, aku dapat dari beli. Tetapi aku belum mendapat jatah untuk mendirikan rumah." ungkap Mbak Imah.


Astaghfirullahal'adzim, kenapa berbanding terbalik dengan Mas Husnan. Dia sudah mendapat jatah tanah untuk mendirikan rumah, malah memilih membeli tanah di pinggir jalan yang lebih ramai untuk mendirikan rumah dan tokonya biar banyak pelanggan. batin Lula.


Sebenarnya Lula merasa risih belum apa-apa sudah dibukakan sisi buruk keluarganya Atif.


.


.


Memilih kekasih jangan pandang muka,


Yang penting baik dan taat agama,


Terimakasih semoga suka,

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya.


tararengkiuuh 😘😘😘


__ADS_2