
“Apa rencana mu bos dengan proposal mereka ini?” tanya Dimas pada Dito saat mereka sudah ada di ruangan Dito.
“Kamu pelajari proposal itu seperti biasa tapi tidak usah di proses. Aku tidak ingin bekerjasama dengan mereka, tapi tidak perlu kamu memberitahukan ke mereka. Biarkan mereka menunggu” perintah Dito.
“Baik bos, saya kerjakan” jawab Dimas.
“Oh iya, jangan lupa beritahukan apa yang perlu aku tahu terkait proposal itu” Dimas mengangguk kemudian keluar daru ruangan Dito.
*****
“Halo bu, apa kabar?” tanya Erania kepada ibunya melalui sambungan telpon.
“Kami baik nak, kok kamu jarang telpan nak?” tanya ibu dengar suara yang gemetar mehanan tangis haru karena merindukan Erania anaknya.
“Maafkan Erania bu” Erania juga sedih karena tidak bisa pulang menemui keluarganya.
“Iya nak, bagaimana kuliahmu? Kapan wisuda?”
“Kuliah ku baik bu, nah 2 hari lagi Nia wisuda bu. Apa ibu dan ayah bisa datang?”
“Tentu nak, kami akan datang. Kakek kamu juga sudah ada kemajuan. Sekarang sudah bisa pulang. Nanti adik bu yang akan menjaga selama kami pergi. Hanya saja mungkin ayah dan ibu tidak akan lama di situ”
“Jadi Ivan dan Vano tidak bisa datang? Padahal Nia sudah sangat rindu sama mereka bu” Suara Erania sedikit pelan.
“Ya, mau bagaimana lagi nak. Kakek kamu juga tidak ada yang menemani kalau mereka ikut. Lagian setelah wisuda apa kamu tidak pulang dulu untuk bertemu adik dan kakekmu?”
“Oh, iya bu. Nanti Nia akan izin sama nyonya Aselin untuk pulang. Ibu dan ayah jangan sampai gak datang ya, karena Nia punya kejutan buat ayah dan ibu” jawab Erania yang Kembali bersemangat.
Erania dan ibunya mengobrol sangat lama, setelah itu Erania kemudian bersiap – siap untuk ke kampus mengambil undangan untuk orang tua.
Kini tiba harinya Erania wisuda, nyonya Aselin sengaja memanggil penata rias untuk datang ke rumah agar Erania tidak perlu terburu – buru pergi ke salon.
Tok ..tok..tok. Pintu kamar Erania di ketuk.
“Eh, nyonya mari masuk” nyonya Aselin di masuk dan di ikuti penata rias.
“Erania, saya cuman mau mengantar mereka. Sekalian mau pamit” ucap nyonya Aselin.
“Loh, nyonya mau kemana? Ya gak jadi menemani saya ke tempat wisuda” Erania sedih karena nyonya Aselin sebelumnya telah berjanji.
“Saya minta maaf sayang, ada urusan mendadak papanya Dito dan dia minta saya untuk ikut. Kamu jangan sedih ya, nanti Dito yang akan mengantar kamu”
__ADS_1
“Gak ………” Erania akan menolak namun belum selesai nyonya Aselin sudah mengangkat tangannya tanda tidak ingin dibantah. Erania menurut.
“Ya sudah mbak, silahkan mulai. Saya pamit ya. Nyonya Aselin kemudian pergi meninggalkan kamar Erania.
Setelah beberapa saat, Erania sudah siap dengan kebaya dan make up sederhana. Erania tampak sangat cantik. Dito yang kebetulan juga baru selesai sarapan kagum melihat penampilan Erania.
“Tuan, apa aku kelihatan jelek? Atau make up aku terlalu menor ya sampai tuan melihat ku seperti itu?” tanya Erania pada Dito yang memandanginya.
“Ah,, gak kok. Kmau cantik. Ayo berangkat” balas Dito yang sedikit canggung karena memuji Erania. Tapi Dito akui Erania sangat berbeda.
Mereka kemudian berangkat Bersama. Sepanjang perjalanan Erania tampak gelisah, Dito yang melihatnya menjadi bingung.
“Kenapa kamu gelisah?” tanya Dito.
“Ah, gak apa – apa tuan?”
“Gak apa – apa tapi wajah dan mata mu bilang lain” Erania menatap Dito.
“Emmm,,, aku kuatir tuan. Ayah dan ibu ku belum ada kabar. Padahal mereka harusnya sudah tiba”
“ Kenapa kamu gak telpon mereka?”
“Tadi pagi sebelum mereka berangkat sudah tuan. Tapi sekarang telpon saya tidak diangkat tuan” jawab Erania sedih.
Sesampainya di kampus Erania terburu- buru turun. Tanpa ia sadari ponselnya tertinggal di mobil Dito. Saat akan diperjalanan menuju kantor ponsel Erania berbunyi. Dito melihat nama penelpon my brother Vano.
Dito mengabaikan namun ponsel Erania terus berbunyi. “Sial, ponselnya pake ketinggalan segala lagi, apa aku angkat saja ya?” guman Dito. Karena terus berbunyi akhirnya Dito memutuskan mengangkat panggilan di ponsel
Erania.
“Halo kak,,…….” Terdengar suara anak remaja yang menangis. Dito terdiam menunggu anak tersebut melanjutkan bicaranya.
“Maaf, ponsel Erania tertinggal di mobilku. Sekarang Erania sudah di tempat wisuda. Ada apa?” tanya Dito.
“ Hiks..hiks..hiks.. tolong sampaikan ke kak Nia. Ayah dan ibu serta kakek kecelakaan”
“Lalu bagaimana keadaan mereka?” Dito panik.
“Mereka… mereka meninggal kak” tangis adik Erania semakin menjadi.
Mendengar itu Dito seketika menghentikan kendaraannya.
__ADS_1
“Kamu tunggu ya, aku akan mencari kakakmu” Dito lalu menutup telponnya. Dengan cepat ia memutar balik mobilnya kembali ke kampus Erania.
Sesampainya di kampus Dito harus menunggu acara wisuda yang belum selesai. Dito lalu menghubungi Dimas untuk mengabarkan kalau ia tidak bisa ke kantor. Dito juga menghubungi mamanya. Mama Dito juga
sangat terkejut mendengar berita ini. Mama Dito kemudian menyuruh Dito menemani Erania dan mengantarnya ke rumah Erania.
Dito berjalan mondar mandir di depan gedung wisuda. Tampak para mahasiswa yang telah selesai wisuda keluar gedung dengan ~~~~wajah yang ceria. Setelah mencari – cari akhirnya Dito bertemu dengan Erania
yang terlihat sangat bahagia dengan Caca dan teman – teman lainnya berfoto.
“Erania, ponsel kamu ketinggalan” Erania kaget Dito Kembali.
“Ah tuan, maaf merepotkan. Tapi kenapa tuan mengantarkannya? Aku bisa ambil
di rumah” Jawab Erania.
Dito menatap Erania, Dito melihat Erania tampak bahagia dengan selendangan bertulis wisudawan terbaik yang melekat di tubuhnya. Dito menjadi tidak tega untuk mengatakan kabar tersebut ke Erania.
“Hem,,, ada telpon dari adikmu. Katanya penting, makanya aku segera datang” jawab Dito ragu sambil menyerahkan ponsel Erania kepada pemiliknya. Erania menerima ponselnya dari Dito.
“Oh iya, orang tua ku kok belum ada kabar ya?” Erania kemudian menelpon adiknya.
Saat telponnya terhubung terdengar suara “Kak,, hik..hiks..hiks…” suara Vano menangis.
“Van, bilang sama kakak ada apa? Kenapa kamu menangis dek?” tanya Erania kuatir.
“Ayah, ibu dan Kakek kak kecelekaan. Mereka meninggal” jawab Erania tanpa jeda.
“Apa?” Erania seketika jatuh. Beruntung Dito yang berada di samping Erania dengan segera menangkap tubuh Erania sehingga Erania tidak sampai tergeletak di tanah.
Dito segera membawa tubuh Erania ke dalam mobil dan membawa kembali ke rumah. Tak lupa Dito menelpon dokter untuk segera ke rumahnya.
Setibanya di rumah Dito kemudian mengangkat Erania ke dalam rumah, dokter juga terlihat sudah ada.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Dito setelah dokter selesai memeriksa Erania.
"Dia tidak apa-apa, hanya shock. Sebentar lagi ia akan sadar. Kalau begitu saya pamit" Ucap dokter.
"Terima kasih, mari saya antar ke depan"
Setelah beberapa saat, akhirnya Erania bangun," Bagaimana keadaanmu?" tanya Dito
__ADS_1
Erania bukannya menjawab, ia langsung menangis. Dito memenangkan Erania," Tenanglah, jangan menangis, sekarang kamu siap-siap. Kita akan berangkat beberapa jam lagi ke rumahmu"