
Hari berikutnya berjalan dengan lancar meski sampai jam tiga sore juga akhirnya aku mendapatkan SKCK dan Kartu kuning juga fotokopi yang sudah dilegalisir, tidak lupa waktu berangkat juga mampir dulu di RSUD Kajen untuk melegalisir fotokopi surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba dan psikotropika.
Sore hari pukul 17.00 WIB Kami harus ke lapangan guna pengambilan nomor kavling dan pendirian tenda. Sebenarnya acara pendirian tenda itu besok pukul tujuh pagi, tetapi gudep-gudep terdekat banyak yang sudah mendirikan terlebih dahulu.
Senja semakin meredup, ketika diatas awan nampak gerombolan walet berputar-putar mengelilingi mega, semburat rona jingga tertutup bayangannya, sendyakalapun terlihat tak sempurna. Diufuk barat sana sang mentari menutup mata
Suara jangkrik mulai memainkan orkestra senja. Para katak bersahutan menabuh genderang petang, semua saling melengkapi.
Azan Maghrib berkumandang, selesai maupun tidak tenda yang kita dirikan harus kita tinggalkan, karena belum ada instalasi listrik yang menerangi bumi perkemahan, sementara malam mulai menggelap.
"Gaess, sholat dulu di Mushola, nanti sebelum pulang mampir di warung baksonya Pak Hasyim ya." aku mengingatkan mereka. merekapun mengiyakan setuju.
Akhirnya sebagai upah kerja keras kami dalam mendirikan tenda, kami makan bakso bersama di warung bakso Pak Hasyim.
Aku pulang bareng Lutfia, sampai di rumah aku segera mempersiapkan segala sesuatu yang akan kubawa besok pagi seperti mukena jaket dan selimut, berkas-berkas yang sedang kukumpulkan juga hendak kubawa serta.
🌸🌸🌸🌸🌸
Ketika kau melakukan sesuatu yang mulia dan indah dan tak seorang pun memperhatikan, jangan bersedih. Karena matahari pun tampil cantik setiap pagi meski sebagian besar penontonnya masih tidur. John Lennon
Pukul tujuh pagi aku sudah siap dengan pakaian seragam Pramuka lengkap untuk berangkat, aku menunggu Lutfia di depan rumah, duduk di teras, ku kemas baeang-barang yang akan kubawa dalam sebuah tas plastik, sebagai persiapan dan perlindungan untuk nanti malam, perlindungan dari dinginnya embun malam pertama di bumi perkemahan.
Dari kejauhan kulihat Lutfia dengan sepeda motor bebeknya mendekat, dan berhenti di depan rumahku. Akupun bangkit berjalan menghampirinya lalu segera naik dan duduk ke boncengan motornya.
Lutfia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, sampai di Madrasah semua peserta sudah diberangkatkan menggunakan mobil sewaan. Akupun mengirim pesan kepada kakak pembina lain, Bu Mimah, yang sudah berada di lapangan menanyakan perlengkapan apa yang belum terbawa.
[Aku masih di Madrasah, apa masih ada yang perlu di bawa ke lapangan?]
send
Belum ada jawaban mungkin masih sibuk. Sesaat kemudian,
Cling
[Taplak meja dan vas bunga belum ada, Mbak, tadi sudah tak siapkan. Kalau masih ada di Madrasah tolong dibawakan ya.]
[Oke,]
Send
Akupun mencari keberadaan barang-barang yang dimaksud oleh Bu Mimah tersebut di depan ruang guru maupun di depan gudang, namun belum kutemui, akupun masuk ke dalam ruang guru, ternyata benda tersebut ada di sana.
Sampai di lapangan tenda kami sudah berdiri tegak, tinggal melengkapi di sana sini saja.
Acara selanjutnya setelah pendirian tenda adalah persiapan untuk kegiatan Upacara Pembukaan Jambore ranting pada pukul 13.00 WIB.
Matahari sudah semakin tinggi, meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10.22 WIB, Namun karena lokasinya berada di tengah lapangan jadi terasa begitu panas menyengat. Sambil membawa tikar evamatik milik salah satu peserta, Bu Sri mengajakku berteduh di bawah pohon mangga yang rindang dan tumbuh mengelilingi lapangan.
Sebagian kakak pembina pendamping menggunakan bambu panjang yang ujung nya diberi botol air mineral yang telah diiris-iris untuk mengambil buah kersen dari pohonnya.
Semilir angin membelai wajah-wajah yang kusut nan sayu. Hawa terasa panas namun angin yang menerpa terasa dingin.
"Bu, pengen kelapa muda nggak?" tanyaku pada Bu Sri.
"Hus, hawanya pringsang gini jangan minum es!" sergahnya
"Nggak dikasih es, minta air degan murni saja, jangan kasih gula." timpalku.
"Oh..yaudah aku mau satu." sahutnya.
"Oke, tunggu di sini ya."
Akupun beranjak dari dudukku menghampiri penjual es kelapa muda.
"Mas, air degan aja 1 butir jadiin 2 gelas ya!" pintaku pada penjual yang sedang membuka kelapa muda.
"Sebentar ya, Bu." pintanya padaku untuk bersabar.
__ADS_1
Akupun menunggu dengan duduk pada sebuah tikar yang digelar disana. Selain menjual es kelapa muda, ternyata penjual itu juga menyediakan pisang krispi, pisang coklat dan lainnya. Mas-mas itu yang membuka kelapa muda sementara istrinya yang melayani para pembeli.
Kelapa sudah berhasil dibukanya dan sudah ditampung pada sebuah teko plastik, ia nampak sedang mengeruk daging kelapa muda dengan sendok karena daging kelapa tersebut sangat lunak.
"Mau dibungkus pakai plastik atau dituang di gelas, Bu?" tanyanya padaku memberikan pilihan.
Sejenak aku berfikir, yang beli ramai kayak gitu, pasti nyucinya asal-asalan.
"Plastik saja, Mas. Jadikan dua ya." pintaku.
"Nggih, Bu." sahutnya.
"Berapa, Mas?" tanyaku menanyakan harga.
"Sepuluh ribu rupiah, Bu. Ini kelapa yang besar soalnya.
Akupun menerima dua bungkus air kelapa muda tersebut, dan menyerahkan selembar uang yang sejak tadi kupegang.
Aku kembali menghampiri Bu Sri yang sedang menikmati angin yang sepoi-sepoi di bawah rindangnya pohon mangga dan memberikan sebuah sebungkus air kelapa padanya.
Akupun duduk, menikmati segarnya air kelapa muda, menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi, pasti lebih nikmat jika ditemani pengamen yang menyanyikan lagu-lagunya Via Valen, Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang mau kau dustakan Alula.
Lagi asyiknya menikmati suasana, dapat pesan dari Bu Mimah,
[Mbak, ini blangko absennya sudah jadi, sekalian mipil ditandatabgani, tak taruh di tenda putri ya.]
[Iya, aku segera ke tenda,]
send
Akupun bangkit dari dudukku, dengan malas kulangkahkan kakiku menuju tenda yang berada di pinggiran lapangan, namun panasnya begitu menyengat, bagaimana rasanya nanti saat upacara pembukaan, apa tidak banyak yang pingsan.
Sampai di tenda putri aku masuk, Bu Mimah juga sedang menandatangani daftar absen itu, 2 gepok, yang lain mungkin di taruh di tenda putra supaya bisa ditandatangani oleh Pak Yahya dan Pak Son.
Aku mengambil 1 bendel yang isinya jumlah hari aktif selama 1 tahun pelajaran, dan mulai menandatanganinya sambil duduk bersimpuh, bagaikan seseorang yang sedang memohon, memohon agar kerja kerasku selama ini menuai hasil nyata, aamiin..
"Besok siang mungkin aku tidak bisa ikut mendampingi anak-anak mengikuti kegiatan, Mbak. Aku mau ke Binagriya, mau mencetak foto. Aku sudah biasa cetak foto di sana soalnya." pamit Bu Mimah di sela ia menandatangani berkas absen yang 1 bendel lagi, aku hanya mengiyakan.
Saat sedang santai di tenda aku menyempatkan waktu untuk melanjutkan mengisi rapelan tanda tangan daftar hadir walaupun sedikit, nanti lama kelamaan akan selesai juga.
Hingga malam harinya saat aku juga sedang mengisi tanda tangan, aku mendapat pesan dari Dadank di ponselku, akupun membukanya.
[ Assalamu'alaikum, Yank. Aku sedang di bus perjalanan ke Pekalongan nih.]
Deg,
[ Wa'alaikumussalam, Ke Pekalongan? ada urusan apa?]
Send
Aku melanjutkan kembali pekerjaanku,
Cling,
[ Ke rumah Mbakku di Binagriya, Mbakku sekeluarga Besok Lusa mau pindah ke Padang, kita ketemuan di sana ya.]
Kirain mau main ke rumahku, kok mendadak?
[ Kok kamu nggak bilang punya Mbak di Pekalongan? Maaf, aku lagi sibuk nggak bisa pergi kemana-mana, kamu bilangnya mendadak sih.]
Send,
Sebenarnya aku bisa saja besok ikut Bu Mimah, besok juga dia mau ke Binagriya untuk mencetak foto, tapi pasti akan ada radio bodol berkoar-koar kalau tahu aku ijinnya untuk main-main.
Cling,
[ Suami Mbak aku yang orang Pekalongan, Kamu bisa kan ke Binagriya, Yank?]
__ADS_1
[ Aku nggak bisa, Dank. Kamu aja yang ke sini. Aku ada di bumi perkemahan Jambore Ranting Kecamatan Doro.]
Send,
Cling,
[ Aku kan nggak tahu daerah situ, Yank.]
[ Kan bisa minta anter suami Mbak kamu, katanya dia orang Pekalongan, pasti tahulah daerah Doro.]
Send,
Cling,
[ Iya kalau dia mau, coba besok aja dech. Kalau dia nggak mau, kamu yang ke sana ya, Yank. Sampai besok ya Yank, Assalamu'alaikum.]
Maaf, Dank. Aku benar-benar tidak bisa.
[ Wa'alaikumussalam.]
Aku meletakkan kembali ponselku, kulanjutkan lagi pekerjaanku.
Malam semakin pekat, usai sudah kegiatan hari ini, tinggal menjemput impian. Waktu sudah menunjukkan pukul 22, namun para peserta yang kudampingi sepertinya belum ada tanda-tanda mereka mau tidur, jam segini masih saja terdengar gelak tawa dari mereka, entah apa yang mengundang mereka untuk tertawa, ada saja yang mereka obrolkan, mungkin karena tidak terbiasa tidur terpisah dari bantal gulingnya kali ya.
Mereka nampak sudah berjajar seperti rebusan pindang ikan yang dijual di pasar, ternyata tenda berukuran 2 x 4 meter itu tidak muat untuk menampung 13 peserta dan 2 pendamping. Akupun mengambil tikar evamatik milik peserta yang belum digelar, juga jaket Hoodie dan selimutku.
Segera kubentangkan tikar evamatik tersebut di samping tenda, di lahan yang kosong namun tetap di dalam pagar pembatas, letaknya masih di dekat dapur. Kuambil mukenahku sebagai bantal.
Aku berbaring menatap langit, bulan nampak tersenyum malu dari balik awan, kurasakan embun yang dengan jelas menerpa wajahku, kupegang ujung tenda ternyata sudah basah, rasanya semakin dingin, mungkin seperti ini yang dirasakan oleh gelandangan diluar sana saat malam hari tiba, kedinginan.
Langit sebagai atap rumahku
Dan bumi sebagai lantainya
Hidupku menyusuri jalan
Sisa orang yang aku makan
Jare wak Haji Rhoma Irama yang kunyanyikan di dalam hati
Aku bersyukur, walaupun miskin namun aku masih bisa tidur di bawah atap genteng. Tiba-tiba embun yang menerpaku semakin nyata kurasakan, ternyata gerimis, Astaghfirullahal'adzim.
Aku bangkit, kuambil lagi tikar milik anak-anak yang masih tersisa, kubentangkan tikar tersebut diatas tenda, tenda yang terbuat dari kain parasut yang dilapisi plastik, namun plastik itu sudah banyak yang terkelupas.
Alhamdulillah, gerimis itu tidak berlangsung lama, mungkin hanya 2 menit, Alhamdulillah tidak sampai hujan. Akupun merebahkan kembali tubuhku.
Ini sudah lewat tengah malam, aku mulai memejamkan mata dan mulai terlelap. Namun tiba-tiba terdengar suara berisik menggugahku. Akupun membuka mataku.
Dua anak siswa putra datang,
"Bu, Pak Hardi dan Pak Son minta dibuatkan Mi rebus sama kopi." tutur salah seorang dari utusan pak Hardi tersebut.
Astaghfirullahal'adzim, nggak bisa lihat orang tenang dech, padahal di tenda putra sudah disiapkan termos berisi air panas.
"Ditunggu ya, nanti dibawa sekalian!" perintahku.
Mereka duduk di depan tenda, akupun berkutat dengan alat-alat dapur membuatkan dua mangkok mi rebus dan dua gelas cantel kopi. Kenapa dua gelas cantel kopi? karena tidak ada yang membawa cangkir ke kemah lah.
Setelah matang, aku menyerahkan dua porsi makanan dan minuman tersebut yang ku taruh pada sebuah nampan kepada kedua siswa putra utusan pak Hardi tadi.
"Ini mi dan kopinya, Nang. Bisa bawanya, Kan?" ujarku sambil menaruh nampan di depan mereka.
"Bisa, Bu." sahutnya sambil mengambil nampan tersebut kemudian beranjak pergi.
Akupun kembali membaringkan tubuhku. Malam semakin dingin, sudah hampir pagi, bulanpun telah beranjak meninggalkan tempatnya yang tadi, kini dia seperti berlari menjauh ke arah barat. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
Good night,
__ADS_1
Semoga mimpi indah,
Jangan lupa jempolnya ya.