
Alula POV
Setelah penerimaan SK CPNS, beberapa hari kemudian Aku menerima Surat Tugas, alhamdulillah. Aku ditempatkan di MI tempatku semula mengajar, dan bulan depan sudah bisa terima gaji pertama. Sedangkan gaji yang belum dibayarkan sejak tanggal TMT di SK, pemerintah akan membayarnya rapelan dengan Yen, Yen Ono danane.
Suatu hari saat jam istirahat pertama, Pak Hardi menagih janjiku, padahal kan aku enggak punya uang buat beli durian.
"Pacar kamu pasti punya durian banyak." katanya optimis.
Memang benar, tapi aku kan enggak enak mau minta, dia kan masih barengan sama kakak laki-lakinya, Mas Amin.
"Kita main ke rumahnya saja, gimana?" tanyaku memberi usul.
"Boleh, kapan?" Tanya Pak Hardi.
"Hari ini kan pulang gasik, nanti siang saja." jawabku lagi.
"Oke, nanti siang ya. Kamu kasih tahu dulu pacar kamu, biar mereka siapkan." tukas Pak Hardi.
Aku mengetik pesan, kukirim pada Atif.
[Pi, teman-temanku nanti siang mau main ke rumahmu.]
send,
Alhamdulillah, pesanku langsung di jawab olehnya.
cling
Pi2h Cynk
[Iya, Silahkan]
Balasan pesan singkatnya,
Hanya aku, Pak Hardi dan Bu Lutfia yang mau main, sementara yang lain ditawari nggak ada yang mau, ada rasa tidak enak, pekewuh.
Waktu itu aku sekalian mau berangkat kuliah, sehingga aku sekalian langsung memakai pakaian bebas, tidak memakai seragam lagi.
Sekitaran jam 11 lebih kami berangkat dari MI, hanya butuh waktu 15 menit perjalanan menuju ke rumah Atif, rumah yang akhirnya kutempati sejak menikah dengannya hingga sekarang.
Sesampai di depan rumah kami menuju pintu samping, karena pintu bagian depan sudah tidak ada, dibongkar dan dipotong untuk pembangunan rumah Mbak Imah, kakak perempuan Atif yang ke tiga yang masih dalam proses. Masih ada tukang yang berkerja.
Dari depan pintu sudah tercium aroma durian yang sangat menyengat, membuat perutku eneg jika tidak menyantapnya. Bukannya aku tidak suka durian, tetapi kalau hanya bau saja membuat perutku mual dan eneg. Aku sih memang enggak doyan durian, tapi doyan banget.
Pintu dibuka dari dalam sebelum kami mengetuknya dan mengucapkan salam. Kamipun mengucap salam sambil memasuki rumah. Calon suamiku menggelar karpet jaguar untuk tempat duduk kami.
Kami bertiga duduk di atas karpet jaguar, mengobrol ringan sejenak. Tidak lama kemudian rewangnya Mbak Imah keluar membawakan 5 gelas teh manis.
Emmh, bau ini aku tidak tahan. Ingin aku menyantapnya sesegera mungkin. Atif menemani kami bertiga ngobrol. Sementara Mas Amin tampak sedang memilih beberapa buah durian yang dikiranya enak untuk kita nikmati.
Sejenak kemudian dia bergabung bersama kami dan membelah durian-durian tersebut di depan kami.
"Ayo, dicicipi duriannya." Mas Amin mempersilahkan kepada kami.
Memang ini tujuan kita datang kemari, Mas. batinku.
Kamipun segera menikmati durian tersebut. Hanya kami bertiga yang menyantap durian tersebut. Tiga butir durian untuk tiga orang. Rasanya manis, agak pahit-pahit sedikit dan legit. Benar-benar sesuai dengan ekspektasi, podo koyo impen. Atif dan Mas Amin hanya menemani kami, tidak ikut menyantap durian tersebut.
__ADS_1
"Durian punya sendiri atau beli di pohon?" tanya Pak Hardi pada Atif dan Mas Amin.
"Punya sendiri, dirawat sendiri, dipetik sendiri." Jawab Mas Amin.
"Wah hebat, bisa manjat pohon durian?" tanya Pak Hardi lagi.
"Bisa lah." jawab Atif.
Azan dzuhur berkumandang, puas kami makan durian. Aku pergi ke belakang untuk menumpang ke kamar mandi, menguras kemih. Bertemu dengan Mbak Imah.
"Bu Lek, teman-teman mau disuruh makan,'po?" tanya Mbak Imah padaku.
"Tidak usah, Mbak. Kami sudah mau pulang kok." jawabku.
"Sudah ada kok, Bulek. Tinggal menyajikan." Tambah Mbak Imah lagi memaksa.
Aku segera masuk ke kamar mandi tanpa menyahut lagi ucapannya. Segera kuluruhkan kemihku. Saat aku keluar sudah ada Lutfia dengan tujuan yang sama seperti aku. Akupun kembali ke depan.
Ternyata bandel juga Mbak Imah beserta rewangnya. Dua baskom berisi ayam goreng dan telur bacem sudah tersaji di tempat duduk kami, tinggal menunggu nasi aja. Perutku sudah kenyang makan durian, apalagi duriannya rasanya agak pahit jadi tambah penuh sesak, gerah rasanya.
Setelah Bu Lutfia kembali bergabung bersama, kami berpamitan. Dari belakang Mbak Imah datang membawa sebakul nasi.
"Lho, ini nasinya sudah siap kok, bereran nggak mau makan?" tanya Mbak Imah pada kami.
"Makasih, Mbak. Kami sudah kenyang makan durian kok." tolakku. "Kami pamit, Mbak." ucapku mohon pamit.
Kamipun berpamitan pada tiga orang penghuni rumah tersebut, tidak lupa mengucapkan terimakasih atas suguhannya, kami pulang. Aku membonceng Bu Lutfia sampai di perempatan masuk gang menuju rumah Atif Bu Lutfia menghentikan motornya.
"Sampai sini saja ya, Mbak." ucapnya.
"Iya sampai sini saja. Terimakasih ya." ucapku.
Alhamdulillah, ternyata bus yang lewat lebih dahulu, akupun menghentikannya dengan melambaikan tangan kananku. Aku naik dan duduk di bangku yang kosong. Tidak banyak penumpang, bus melaju dengan cepat. Mungkin karena sekarang sudah banyak orang yang memiliki sepeda motor. Jadi penumpang bus sekarang menjadi berkurang.
Lima belas menit kemudian bus berhenti di pertigaan bendo. Aku turun dan menyeberang jalan ke sisi sebelah kanan jalan. Aku langsung menuju ke mushola untuk menunaikan sholat dzuhur.
Usai sholat kulihat handphoneku, masih jam satu, satu jam lagi baru teman-temanku pada datang. Aku memutuskan pergi ke warnet yang ada di sebelah kiri kampus untuk mencari rekomendasi judul skripsi.
Sampai di warnet aku segera masuk ke dalam bilik yang kosong. Aku duduk di sebuah bantal duduk dan kugenggam mouse. Kucari judul skripsi beserta contoh-contoh skripsi. Ketika contoh skripsi tersebut mau kuunduh, ternyata langsung dikunci oleh pemiliknya.
Satu jam aku di dalam bilik warnet, aku keluar dari bilik menghampiri petugas jaga, kubayar tagihanku. Aku keluar dari warnet untuk kembali ke kampus. Sudah banyak kendaraan terparkir di tempat parkir. Aku masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah sore ini.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pembangunan rumah milik Mbak Imah, kakak iparku sudah rampung tinggal finishing. Rumah itu masih satu bangunan dengan rumah semula, hanya saja pintunya ditutup dengan tembok.
Suatu hari saat main ke rumahku, Atif bilang bahwa minggu depan Mas Amin mau nikah, aku disuruh untuk rewang.
"Kita kapan?" tanyaku pada Atif.
"Ya, nunggu satu tahun lagi." jawab Atif.
"Kenapa enggak bareng saja?" protesku.
"Enggak boleh, Mimih. Ora ilok. Nanti pengiring pengantinnya bingung mau ngiring ke mana." papar Atif.
"Kan bisa beda hari, hari ini Mas Amin besoknya baru kita." protesku lagi.
__ADS_1
"Biayanya Mimih, sekarang kita bantu Mas Amin, tahun depan gantian kita yang dibantu. paham?" tanya Atif.
"Iya paham," jawabku. Tapi aku merasa sedikit kecewa.
Hari itupun tiba, aku bingung mau ngasih kado apa, pas kebetulan Imas, teman kuliahku lagi promo batik sutra dan katun dobby buatanya sendiri. Aku ambil 2 lembar kain batik sutra, kubayar nyicil 3 kali, DP pas pengambilan, bulan kedua dan bulan ke tiga.
Kubuat dua lembar kain itu menjadi sebuah parcel yang berbentuk kipas.
Hari itupun tiba, dua malam aku menginap di rumah Atif. Ternyata kedua kakak perempuan Atif sedang tidak akur, Mbak Rah dan Mbak Imah. Entah apa yang yang merasukimu, eh yang menyebabkan mereka bermusuhan.
Saat hendak mengiring calon pengantin untuk ijab qobul, orang-orang yang masuk ke rumah Mbak Rah sarapan dengan lontong sayur, dan orang-orang yang masuk ke dalam rumah Mbak Imah makan nasi dengan lauk komplit. Aku mau tertawa melihatnya, tapi takut dosa.
Sang mempelai pria juga pipinya bengkak sebelah karena kebetulan lagi sakit gigi, itu sakit gigi kok ya tidak memandang waktu datangnya.
Malam harinya acara resepsi, aku sudah berdandan sejak sehabis sholat maghrib, kupakai kebaya bahan hycon bordir dengan furing tertutup warna hijau mint jahitanku sendiri, dengan bawahan sarung batik warna army yang sudah kubuat menjadi rok, serta kerudung instan warna mint pula.
Orang-orang yang hendak nggading manten satu persatu sudah datang, memenuhi tikar dan karpet yang digelar. Sebelum mereka berangkat ke tempat resepsi di rumah mempelai wanita, mereka menyempatkan makan terlebih dahulu.
Hantaran parsel serta kaleng box cemilan sudah berjajar rapi di depan rumah Atif. Sesaat kemudian mobil berhenti di jalan depan rumah untuk mengangkut parcel dan kawan-kawan tersebut. Aku mendekat, ternyata mobil tersebut sudah penuh sesak dengan ibu-ibu kampung pengiring.
Memang kebiasaan di daerah sini pengiring resepsi hampir 90% adalah perempuan, sedangkan pengiring ijab qobul 95% adalah kaum bapak-bapak.
Aku kembali ke rumah Atif. Atif keluar dari dalam rumah, ia memakai celana bahan warna hitam dan kemeja berwarna putih serta berpeci hitam. Melihatnya seperti ini jadi berasa dia mau mengucapkan kalimat ijab qobul. xixixi...
"Mimih ikut mobil pengantin saja bareng keluarga." suruh Atif. "Itu udah mau jalan sana!" ucapnya membuatku tergesa-gesa.
Tanpa menyahut perintahnya, setengah berlari aku menghampiri mobil kijang yang terparkir di jalan, kulongokkan kepalaku ke dalam mobil demi melihat apakah aku masih muat masuk ataukah tidak.
"Ayo naik Bu lek!" suruh Mbak Imah yang melihatku celingukan.
Akupun segera naik dan duduk di kursi paling belakang. Mobil bergerak meninggalkan kampung menyusuri jalanan berbatu yang belum terjamah aspal, karena di jalan utama masih ada perbaikan jembatan dan belum bisa dilewati kendaraan.
Rumah mempelai putri berada di Desa Dororejo, sebelah selatan Desaku, Wringinagung. Mobil sampai di Jembatan, dan di sebelah jembatan itu ada gang masuk ke desaku, aku hampir saja keceplosan bilang ke pak supir untuk belok kanan.
Mobil telah berhenti di tempat parkir, para penumpang turun, akupun turun. Berjalan kaki sejauh 10 meter menuju ke tempat resepsi, di halaman rumah mempelai putri.
Aku bersalaman dengan para penerima tamu, dan penerima tamu laki-laki ada yang aku kenal. Mas Kelik, dia kakak kelasku sewaktu SMA. Ternyata dia adik dari Mbak Andriani, sang mempelai wanita, istri dari Mas Amin. Sedangkan Mas Amin itu waktu SMP sekelas sama Usnul, adikku.
Ternyata kakak adik, Atif dan Mas Amin dapat jodohnya sama-sama lebih tua. Aku sama Atif terpaut 6 tahun sedang Mas Amin dan Mbak Andri terpaut 7 tahun, lebih panjang dari aku.
Aku duduk di kursi berbaur dengan rombongan pengiring perempuan. Sedangkan Atif tidak tahu entah di mana. Aku mengikuti jalannya acara hingga hampir selesai.
Kulihat Atif melambaikan tangan, aku keluar menghampirinya.
"Ada apa, Pih?" tanyaku.
"Ayo, aku antar pulang." ajaknya.
Akupun mengiyakan. Karena sudah dua hari dua malam tak menginjakkan kaki di rumah. Aku sudah rindu sama bantal guling ku.
.
.
Terima kasih yang sudah mau membaca kisahku,
Terima kasih banyak yang sudah like, komen dan vote.
__ADS_1
πππ