
**Meski terlambat ku mengenalmu,
Kuharap di hatimu hanya aku,
Akupun juga sama,
Akan kuhapus semua cinta yang telah lama,
kubuang sejauh-jauhnya.
Aku tidak peduli dan tak ingin tahu masa lalumu seperti apa,
Yang kutahu sekarang kau orang baik di mataku.
Kita buka lembaran baru bersama.
Cinta memang tak memandang kasta,
cinta memang tak memandang umur,
Apalagi harta.
Harapanku kamulah pelabuhan cinta terakhirku,
Hingga kita tutup usia dan di surga.
Aamiin..
πΈπΈπΈπΈπΈ
Saat masih di bulan Ramadhan, Lula mendapat pesan SMS dari teman-teman kuliah, bahwa mereka akan mengadakan halal-bihalal hari Ahad setelah Syawalan bertempat di rumahnya Bu Rohatin di Karanganyar. Namun pada saat pelaksanaan Lula tidak bisa ikut hadir karena tidak ada yang mengantarnya.
Ini hari pertama masuk kuliah setelah liburan Hari Raya Idul Fitri berakhir. Lula harus bersiap-siap untuk menghadapi dampratan dari Bu Him, meskipun kadang hanya bercanda.
Lula duduk dengan santai sambil di bangku kosong sesuai keinginannya karena suasana masih sepi, seperti biasanya Lula menyukai tempat duduk di deretan sebelah kanan yang dekat dengan jendela.
Lula kembali mengambil HP nya dan memainkan game aquadro kesukaannya sambil menunggu teman-temannya datang. Satu persatu mereka mulai menampakkan batang hidungnya.
Orang yang sejak tadi ditakutkan oleh Lula akhirnya datang juga, setelah mengucap salam dia duduk di belakang Lula. Lula sudah mengambil ancang-ancang. Dia sudah menebalkan telinganya bersiap menampung omelannya Bu Him.
"Duh, yang sudah jadian." goda Lula pada Bu Him.
"Kamu ini ya Bu Lula, jadi orang terlalu jujur banget sih, sama orang yang belum aku kenal kamu ceritakan semuanya tentang aku." Bu Him mulai mengeluarkan taringnya.
"Biar dia nggak banyak tanya lagi, kan langsung tahu." sahut Lula.
"Aku malu tahu nggak." timpal Bu Him.
"Cerita donk!" pinta Lula.
Bu Him senyum-senyum.
Heleh pakai marah-marah segala padahal hatinya berbunga-bunga. Gerutu Lula dalam hati.
"Malam itu aku kaget ada pesan masuk dari nomor tak dikenal tapi dia kok sudah tahu namaku alamat rumahku juga, dia manggil aku Sanah, 'Assalamualaikum, Ini nomornya Sanah ya?' itu SMS-nya," Bu Him mulai cerita.
"Aku balas, 'He.. ini siapa? dapat nomorku dari siapa?'" lanjut Bu Him.
__ADS_1
"Kapan dia SMS njenengan?" tanya Lula.
"Pas idul Fitri hari kedua," sahut Bu Him.
Berarti dia langsung SMS Bu Him setelah pamit dariku, batin Lula.
"Terus dia balas apa?" tanya Lula Lagi penasaran.
"Dia balas 'Aku Nahrowi, asal Kayugeritan Karanganyar," jawab Bu Him.
Tunggu! Kayugeritan? bukankah dia bilang Rowokembu. Ini Mas Rowi bohong sama aku atau sama Bu Him? batin Lula.
"Kami ngobrol sampai malam, eh..tiga hari kemudian dia datang ke rumah." ungkap Bu Him.
"Secepat itu?" Lula terbelalak kaget.
"Dia bilang, 'Aku ini nggak punya apa-apa, Sanah.' Terus aku jawab, 'Nggak apa-apa, yang penting kamu sholat," cerita Bu Him lagi.
Wah hebat Bu Him, walaupun perawan tua tetapi masih memegang prinsip dalam mencari pasangan hidup, aku merasa tersindir, selama ini aku tidak pernah berfikir ke arah situ, sungguh aku malu. batin Lula.
Sampai berakhirnya kuliah sore hari ini, Lula pulang dijemput dan diantar pulang oleh Atif.
Satu minggu berlalu, masih di tempat yang sama Lula duduk di bangku bersebelahan dengan Bu Midah, teman sekantor Bu Him.
"Bu Lula sudah dapat jenang dari Bu Him, belum?" tanya Bu Midah kepada Lula secara tiba-tiba.
Lula kaget dan juga heran, ia berfikir mungkin Bu Him habis pulang ziarah dari Kudus kali sehingga beli oleh-oleh jenang banyak, tetapi nggak mungkin kalau itu jenang oleh-oleh dari pulang ziarah, Bu Midah sampai memberi tahu Lula segala.
"Jenang?" tanya Lula singkat memohon penjelasan.
Jawaban Bu Midah mungkin masih ambigu, tetapi Lula sekarang faham bahwa yang dimaksud Bu Midah dengan 'Jenang' adalah hantaran sangsangan atau seserahan.
"Cepet banget, Bu." sahut Lula.
"Pantesan pas halal bihalal Bu Him mampir, dijemput di depan gang." tutur Bu Midah Lagi. Lula semakin kaget, pasalnya acara halal bihalal hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Nahrowi ke rumahnya.
Mas Rowi melangkah lebih cepat ternyata, sedangkan aku? Atif saja belum memperkenalkan aku dengan keluarganya, aku juga masih belum siap untuk bertemu dengan keluarganya. batin Lula.
"Kalau boleh tahu Bu Him pas di jemput di mana, Bu?" tanya Lula.
"Di Kayugeritan," jawab Bu Midah.
"Bukan di Rowokembu?" tanya Lula lagi memastikan.
"Bukan, kayaknya itu masih wilayah desa Kayugeritan. Iya kan, Yan?" jawab Bu Midah seraya meminta dukungan dari Yanti yang duduk di bangku sebelah kirinya.
"Apa?" tanya Yanti kepada Bu Midah, karena sejak tadi tidak fokus dengan topik yang dibicarakan oleh Lula dan Bu Midah.
"Bu Him waktu halal bihalal kan dijemput di depan gang rumah yayangnya, itu di Kayugeritan atau Rowokembu?" Bu Midah kembali menjelaskan duduk persoalannya.
"Oo. Kayugeritan," jawab Yanti singkat.
Wajah Lula menjadi murung seketika.
Fix, berarti Mas Rowi membohongiku tidak hanya nama, tempat tinggal juga. Kenapa dia membohongiku sedang sama Bu Him yang baru dia kenal dia langsung jujur tanpa tedeng aling-aling. gerutu Lula dalam hati.
"Dia bilangnya sama aku rumahnya di Rowokembu, pantesan waktu kutanya kenal sama Dewi Aminah apa tidak, dia menjawab tidak kenal." tutur Lula kecewa.
__ADS_1
Sampai Bu Him datang, sebenarnya ia berniat mau mentraktir Lula dan teman-temannya makan bakso yang besarnya semangkok, tetapi melihat muka Lula yang mbesengut seperti kembang kacang, ia menjadi segan. Mungkin waktunya tidak tepat, besok lagi saja.
Lula tidak cemburu ataupun tidak suka melihat mereka bahagia, Lula justru malah senang jika mereka akhirnya berjodoh. Lula hanya sedih dan kecewa selama ini telah dibohongi.
Sepulang Kuliah kembali Lula dijemput dan diantar ke rumahnya oleh kekasihnya Atif. Sampai di rumahnya Atif tidak langsung pulang, seperti hari-hari kemarin, Atif menyempatkan diri dulu untuk sholat magrib dan ngobrol untuk mengenal lebih dalam Lula dan keluarganya.
Sesaat selelah selesai sholat maghrib, Atif duduk di sofa di ruang tamu, sembari menunggu dibuatkan teh manis oleh Lula atau bila memungkinkan, dipanggil untuk makan malam oleh Mak e.
Lula muncul dari ruang tengah dengan membawa nampan berisi 2 gelas teh manis panas kemudian ia letakkan di meja. Camilan sisa lebaran masih terhidang di sama, Mak e paling senang bikin wajik kletik gula jawa yang kalau dimakan bikin gigi nyer.
Lula duduk disamping Atif yang sibuk memainkan ponsel barunya, HP keluaran terbaru saat itu yang udah bisa dipakai sloropan.
"HP baru ya, Pih?" tanya Lula.
"Iya, beli kemarin sore. Biar kalau mau telfon kamu nggak pinjam lagi." tutur Atif.
"Jadi dijual kambingnya?" tanya Lula.
Atif berpaling memandang Lula,
"Kok kamu tahu aku mau jual kambing?" Atif menjawab pertanyaan Lula dengan bertanya balik.
"Fauzi yang bilang ke Mak e kalau Pipih belingsatan pengen jual kambing. Aku kira mau buat ngelamar aku, ternyata buat beli HP baru." jawab Lula. Atif hanya tersenyum.
"Pih," panggil Lula.
Yang dipanggil hanya menoleh menunggu apa yang diucapkan Lula selanjutnya.
"Orang yang aku comblangin sama teman kuliahku kemarin sudah pasrahan lho." ucap Lula yang membuat Atif berfikir sejenak.
"Pipih nggak enak kalau harus mendahului Mas Amin." tutur Atif. "Mimih yang sabar, kita ketemu saja belum ada satu bulan." tambahnya.
"Hehe.. aku kan cuma cerita aja kok, mereka kok cepet banget ya, lagian aku juga belum begitu mengenal kamu, Pih. Apalagi untuk diperkenalkan dengan keluarga Pipih, aku masih belum siap, malu." ucap Lula
"Hahaha.. pipih kira kamu mau cepat-cepat dilamar."
Mak Kulsum muncul dari ruang tengah,
"Lula, ajak Atifnya makan, gih!" titah Mak Kulsum kemudian langsung pergi setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Ayok, Pih. Aku sudah lapar." ajak Lula pada kekasihnya, karena dagi tadi siang memang belum makan.
Mereka bangkit dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu menuju ke meja makan di dapur. Mereka menikmati makan malam seadanya. Sekitar pukul sembilan malam Atif pamit untuk pulang.
***********************
*Bakso daging pakai cuka,
Jangan lupa sama sambalnya,
Heppy reading semoga suka,
jangan lupa like n komennya.
Tararengkiuuh* ππ π
__ADS_1