
Layar gelap hiasi malam yang panjang
Bintang-bintang pamerkan sinarnya
Heningnya malam penuh dengan kemegahan alam
Ada satu bintang berada di kejauhan
Keluar dari gerombolan sinar malam
Duduk di langit sendiri dalam kesunyian
Bintang yang sepi menatap bumi
Tinggi diangkasa anggun sinarnya
Jatuh dalam kehidupan yang fana
Ditemani pekatnya kehidupan alam dunia
Sang bintang berbaring di tanah
Menatap sang rembulan dalam impian
Masa lalu tidak akan pernah lagi kembali
Selamat datang bagi masa depan
Sang bintang duduk sendiri dalam sepi
Cahayanya redup dalam angan-angan
Menunggu sebuah jawaban akan kesendirian
Berharap pada sang rembulan
Untuk menjemput semua impian
Bintang Yang Kesepian by NN
________________________________________
Masalah adalah bagian dari kehidupan, terimalah ia dan memohonlah pertolongan hanya kepada Allah, jalan penyelesaiannya adalah dengan mempercayai Allah.
Pagi itu, rasa penasaran masih saja menggelayut di benak Lula, padahal teman-temannya sudah mengingatkan. Tapi Lula pikir sayang masih ada pulsanya, kan bisa ditransfer ke nomor yang baru. Lulapun membuka tempat kartu sim di hpnya kemudian menyelipkan sim card lamanya ke dalam kotak tersebut.
Ada beberapa pesan masuk, salah satunya pesan dari Santoloyo
[Hai, namaku Fajar. Aku Nemu kartu sim ini waktu jalan-jalan di pantai Purwahamba, aku masukkan ke HPku, ada namamu, boleh kenalan kan?]
Lula mendengus kesal membaca pesan tersebut.
Masih saja songongmu nggak ilang-ilang. Gerutu Lula.
Lula mengetik balasan pesan,
[Dasar anak mama, tidur masih mentil sama mama saja belagu, paling nanti nangis-nangis berlindung dibawah ketiak mamamu.]
send
Memang Santo pernah cerita ke Lula, kalau malam harus digaruk-garuk pelan punggung tangannya supaya bisa tidur, Mbak Ayu pun membenarkan hal tersebut, itu sama saja ngempeng atau mentil, kan?
Bel tanda masuk telah berdentang, Lula meninggalkan HP di meja kerjanya dan bergegas pergi meninggalkan kantor menuju ke kelas untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
Lula kembali ke kantor saat jam pelajaran di kelas usai, dia membuka HP-nya, sudah ada balasan pesan dari Santoloyo,
"Haaaa!?!" Lula menjerit histeris.
"Ada apa sih, Bu? bikin orang jantungan saja." tanya Pak Yahya yang mejanya di depan Lula.
"Lihat ini, Njenengan pasti akan lebih jantungan kalau baca pesan-pesannya ini." ucap Lula menyerahkan HP-nya.
__ADS_1
Pak Yahya meraih HP dari tangan Lula, ia membaca salah satu pesan yang ada di HP tersebut.
[Hai perawan tua, kusumpahin Kowe nggak bakalan dapat jodoh sampai nenek-nenek. Dan kowe bakal jadi p*****r sampai mati, nggak ada laki-laki yang mau sama Kowe, ingat baik-baik.]
"Ini gimana awalnya kok bisa begini, nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa tiba-tiba dia ngomong begini?" tanya Pak Yahya.
"Njenengan kan bisa baca SMSku kan, Pak?" tanya Lula. "Aku tadi niatnya mau transfer pulsa dari nomor itu ke nomorku yang baru." jelasnya.
"Ya udah, transfer dulu Nih, tapi sisain buat SMS, nanti aku yang balas SMS nya." suruh Pak Yahya sambil menyerahkan HP kepada Lula.
Lula menerima HP tersebut, kemudian segera mengetik pesan kepada operator perintah mentransfer pulsa. Kemudian menyerahkan kembali HP tersebut kepada Pak Yahya.
Pak Yahya menerima HP tersebut dari tangan Lula dan mengetik balasan pesan buat Santo.
[Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh, ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut seseorang itu mencerminkan tingkat keimanan dan akhlak seseorang itu sendiri. Orang yang berbicara kotor biasanya juga orang tersebut jarang atau bahkan mungkin tidak pernah beribadah, oleh karena itu bertaubatlah sebelum perkataanmu kembali kepada dirimu sendiri. Wa'alaikumussalam]
"Ini Bu, segera ganti kartu simnya, dan buang!" suruh Pak yahya.
Lulapun melakukan apa yang diperintahkan Pak Yahya, dia segera menonaktifkan HPnya, membuka penutup kartu dan menggantinya dengan kartu sim yang baru.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Kabar membahagiakan datang dari Kantor Kementerian Agama Pusat, Ketika para guru honorer penerima Bantuan Khusus Guru (BKG) diminta untuk mengumpulkan berkas dan hanya diberi tenggang waktu selama satu minggu.
Berkas yang harus dikumpulkan antara lain fotokopi SK Penerima BKG dilampiri daftar penerima BKG dari pertama kali menerima hingga terahir, fotokopi legalisir daftar hadir selama guru di madrasah menerima BKG, fotokopi ijazah/STTB legalisir dari SD/Sederajat sampai dengan ijazah terakhir, SKCK dari Polres, Fotokopi legalisir Surat keterangan Sehat dan fotokopi legalisir Surat keterangan bebas narkoba dan psikotropika dari dinas kesehatan, fotokopi legalisir kartu kuning/ kartu pencari kerja dari Departemen Tenaga Kerja, dan pasfoto hitam putih berukuran 3x4 dan 4x6 sebanyak masing-masing 2 lembar.
Ada 4 guru yang sudah masuk kriteria antara lain Lula, Bu Mimah, Pak Son dan Pak Yahya.
Pekerjaan bertambah berat ketika pada waktu bersamaan juga ada kegiatan Jambore Ranting oleh Kwartir Ranting Gerakan Pramuka selama 3 hari. Setidaknya waktu untuk mereka mengumpulkan berkas menjadi tersita oleh kegiatan tersebut.
Apalagi saat hasil rapat memutuskan bahwa yang belum nikah wajib dapat jadwal menginap di tenda menemani anak-anak yang ikut kemah, hufft.. tidak berperikemanusiaan sekali mereka.
Lula memulai kegiatannya dari yang dapat dijangkau dulu, saat jam istirahat Lula pergi ke balai desa untuk minta surat pengantar untuk membuat SKCK.
Sekembali dari balai desa, Lula mencari arsip buku daftar hadir lama, lama dia mengobrak-abrik lemari dokumen, akhirnya ketemu juga. Ternyata masih dalam bentuk buku Folio, tidak praktis juga tidak ada jam datang dan jam pulang.
"Ini gimana solusinya, Pak? Kalau ini difotokopi juga nggak bisa diperkecil." Lula meminta pendapat Pak Yahya sambil menunjukkan sebuah buku folio.
"Buat baru semua saja, Bu. Yang penting ada nama kita berempat dan kepala madrasah." usul Pak Yahya.
"Besok pagi kita mulai bergerak, aku juga mau legalisir ijazah dulu ke MTs Syahid dan ke MAS, tapi belum tak fotokopi" ujar Pak Yahya.
"Untung sekolahnya nggak ada yang di luar kota." sahut Lula. "Besok legalisir ke MTs bareng ya, Pak!" ajak Lula.
"Ayo, aku juga mau sekalian fotokopi. Sekalian minta tanda tangan ke Kecamatan kalau bisa." sahut Pak Yahya.
"Hari Kamis kan sudah mulai kemah, Pak. Jadi hari Rabu urusan keluar kita sudah harus kelar, seperti buat SKCK, kir dokter dan kartu kuning." terang Lula.
"Berarti sekarang saja kita legalisir ke MTs Syahid dan minta tanda-tangan surat pengantar ke kecamatan, biar besok kita sudah bisa ke Kajen." usul pak Yahya.
"Ayo, mumpung belum jam pulang ini." ajak Lula.
Bu Mimah dengan motor matiknya baru saja kembali dari luar.
"Aku dari percetakan, Mbak. Minta dibuatkan daftar absensi selama 5 tahun, terus buat stempel madrasah dan tanda tangan Pak Tardjuki, nanti habis uangnya berapa kita bagi berempat ya! kita nggak mungkin sempat kalau bikin sendiri." tutur Bu Mimah memberitahu sesampai di dalam ruang guru.
"Bagus, baru saja aku dan Pak Yahya bicarakan, kamu sudah selangkah lebih maju duluan." puji Lula. "Aku sama pak Yahya pamit mau legalisir ijazah ke MTs Syahid sekalian ke kecamatan dan fotokopi, ada yang mau nitip, nggak?" tawar Lula.
"Aku sudah ada kok, mungkin Pak Son." sahut Bu Mimah.
"Orangnya nggak tahu kemana, ya sudahlah."
"Ayo, Bu Lula!" seru Pak Yahya yang sudah bertengger di atas motornya memanggil Lula.
Lulapun segera mengambil tas dan berkas yang harus di bawa, berjalan menghampiri Pak Yahya kemudian duduk di boncengan motornya.
"Ke MTs atau ke Fotokopian dulu, Bu Lula?" tanya Pak Yahya saat dalam perjalanan.
"Mampir di fotokopian yang di jalan menuju ke MTs Syahid saja, Pak." jawab Lula.
Akhirnya mereka mampir di FC. Kober sebentar untuk menfotokopi berkas yang sudah dibawa. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke MTs Syahid.
__ADS_1
Tiba di MTs Syahid Lula memperhatikan sekeliling lingkungan madrasah tersebut, bayangan saat dia sekolah di sana berputar-putar di otaknya bagai roll film yang di putar di lancar tancep.
Cinta pertamanya berawal di sini, cinta pada teman sekelasnya yang sekarang entah di mana rimbanya, cinta yang hanya ia pendam dalam hatinya.
Tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Lula!"
Deg,
"Hai, Nik!" sapa Lula.
Ternyata dia Nur Anisa atau yang biasa disapa dengan Anik, teman sekelas Lula yang menjadi tenaga TU di sini, dia juga menikah dengan Kang Jana, tetangga Lula.
Lula menghampiri Anik, bersalaman, berpelukan dan cipika-cipiki seperti tidak pernah bertemu saja.
"Ada perlu apa datang kesini?" tanya Anik.
"Kangen kamu lah, nggak boleh?" tanya Lula dengan gurauannya.
Anik pun hanya mencebik, "Heleh."
"Bu Kamad ada?" tanya Lula.
"Ada, masuk yuk!" ajak Anik.
Mereka masuk ke ruang tamu, Anik mempersilahkan duduk, Pak Yahya sudah ada di sana. Pak Yahya itu kakak kelas Lula, dia seangkatan dan sekelas dengan Husnan kakaknya Lula.
Lula mengeluarkan berkas yang akan dilegalisir, fotokopi STTB MTs Syahid Doro.
"Ini, Nik. Aku mau minta legalisir ijazah." ucap Lula seraya menyodorkan berkas yang dimasukkan ke dalam stofmap folio berwarna hijau, berkas milik Pak Yahya juga sudah dijadikan satu dengan milik Lula.
Anik menerima stofmap tersebut dan membukanya. Ia sejenak mengambil stempel legalisir dan stempel Madrasah, kemudian mulai menyetempel lembar demi lembar kertas yang dipegangnya.
"Transkrip nilainya juga dilegalisir ya, Nik." ujar Lula mengingatkan.
"Depan belakang ya?" Tanya Anik.
"Iyalah," sahut Lula.
Setelah selesai memberi stempel pada kertas-kertas tersebut, Anik merapikannya dan memasukkan kembali ke dalam stofmap, kemudian membawa stofmap tersebut ke ruang kepala madrasah untuk ditandatangani.
Tidak sampai 10 menit, Anik pun kembali dan menyerahkan berkas yang dipegangnya.
"Ini, Lula, Yahya, sudah selesai. Tolong isi kotak infaq ya!" pinta Anik.
Ia kemudian mengambil kotak infaq yang ada di atas lemari etalase dan meletakkannya di atas meja tamu di depan Lula.
Lula memasukan uang kertas sepuluh ribu rupiah.
Segini saja dech, masih banyak uang yang harus dikeluarkan, nanti kalau udah sukses aku tambahin ya, kotak. Pikir Lula.
Pak Yahya pun juga melakukan hal yang sama.
"Terimakasih, Nik! Kami pamit, masih banyak yang harus kami urus, tolong sampaikan ucapan terimakasih kami pada Bu Kamad ya, Nik!" pamit Lula.
"Insya Allah, nanti kusampaikan." sahut Anik.
"Kami permisi, maaf merepotkan."
Merekapun pergi meninggalkan gedung MTs Syahid menuju ke kantor kecamatan.
"Pak, nanti setelah ditandatangani pak camat, harus ke Polsek nggak?" tanya Lula saat dalam perjalanan, karena belum pernah bikin SKCK dari Polres.
"Katanya nggak usah ke Polsek, langsung ke Polres." jawab pak Yahya.
"Oo.. begitu."
Merekapun akhirnya sampai di kantor kecamatan, dan masuk ke dalam kantor menghampiri Loket. Tidak butuh waktu lama surat pengantar sudah ditandatangani, merekapun pulang kembali ke MI.
Heppy reading semoga suka
__ADS_1
jangan lupa krisar n jempolnya
terimakasih πππ