
"Apakah mama sudah memilih perawat untuknya? Tanya Dito pada Dimas di dalam mobil pulang ke apartemen. Semenjak bekerja Dito memilih tinggal di apartemen dengan alasan ingin fokus bekerja.
"Iya bos, saya dengar dari Bi Imah tadi sore. Pelamar yang datang cukup banyak. Tapi tadi Bi Imah belum mengatakan siapa yang dipilih oleh mama bos" jawab Dimas
"Tidak apa - apa. Hanya saja aku ingin kamu menyelidiki latar belakang perawat mama. Pastikan ia bukan orang jahat".
"Baik bos".
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Dimas melaju, Dito tampak memejamkan matanya. Hari ini begitu banyak pekerjaan, membuat waktu istirahatnya sedikit.
Setelah sampai, Dito masuk. Sedangkan Dimas kembali ke rumah naik taksi.Malam ini mereka memang tidak menggunakan supir karena akan pulang terlambat.
Malam semakin larut tetapi Erania tidak dapat memejamkan matanya. Ia bingung bagaimana harus mengatakan kepada orang tuanya kalau ia akan tinggal bersama di rumah nyonya Aselin.Nyonya Aselin ingin agar ia tinggal agar lebih mudah merawat atau lebih tepatnya menemaninya.
Pagi hari di ruang makan keluarga pak Brata sudah berkumpul. Pak Brata memang mengharuskan semua anggota keluarga untuk sarapan bersama. Namun, sampai waktu makan, Erania belum juga keluar kamar.
"Vian, coba ketuk kamar kakakmu. Kok jam segini belum bangun juga sih. Gimana rejekinya mau bagus kalau kayak gitu"" kata pak Brata ayah Erania kepada Vian anak kedua.
Vian kemudian bangkit dari duduknya menuju kamar kakaknya.
Tok..tok..tok. Vian mengetuk kamar kakaknya." Kak bangun. Di tunggu sarapan bersama" panggil Vian pada Erania.
"Erania kemudian bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan ikut bergabung sarapan bersama. Saat sarapan, Erania kemudian memberanikan diri bicara dengan orang tuanya.
"Ayah,, ibu Erania kan tinggal menunggu ujian akhir. Boleh gak kalau Nia kerja? tanya Erania
Ayah dan ibu Erania terdiam beberapa saat.
"Emang kamu mau kerja apa nak, kamu kan belum punya ijazah? kata Pak Brata lembut.
"Eh... itu,, anu yah" Erania terbata - bata
"Eh... itu,, anu. Bicara yang jelas nak. Kok jadi takut gitu. Ayah kamu gak makan orang loh" kata ibu mencairkan suasana.
Erania menarik nafas panjang kemudian berbicara " Nia kemarin diterima bu kerja jadi perawat seorang wanita paruh baya."
"Perawat?" ucap semuanya serempak.
"Kamu ini nak ada - ada aja Kuliah jurusan manajemen kok kerjanya jadi perawat sih" kata ayah
"Eh, itu yah. Sebenarnya bukan perawat seperti dipikiran kalian semua. Nyonya ini tidak sakit, hanya saja butuh teman. Anak dan suaminya sibuk bekerja, jadi anaknya ingin agar ada yang menemani" lanjut Erania menjelaskan.
"Trus kapan kamu mulai bekerja nak?"
"Nah itu dia bu, Nia ingin izin sama ayah dan ibu untuk mulai bekerja hari ini. Tapi nyonya itu mau agar Erania tinggal bersamanya".
Pak Brata dan istrinya tampak saling memandang. Pikiran mereka sepertinya sama, tidak ingin anaknya meninggalkan mereka. Beberapa saat kemudian, pak Brata berkata " Trus apa kamu gak ada waktu pulang ke rumah?" Bagaimana dengan ujian akhir kamu?" lanjut ayah
"Setiap sabtu Nia akan nginap di rumah yah. Trus minggu sore kembali lagi. Soal kuliah ayah dan ibu tidak perlu kuatir. Nia boleh kuliah asal izin sama nyonya. Ayah ibu izinan Nia kerja ya, biar ayah dan ibu tidak usah memikirkan biaya akhir kuliah Nia" kata Nia memelas.
Dengan berat hati akhirnya orang tua Erania mengizinkan dengan catatan jangan sampai kuliahnya yang tinggal selangkah lagi menjadi terbengkalai.
Erina yang sudah mendapat izin orang tuanya kemudian kembali ke kamar dan bersiap - siap untuk ke rumah nyonya Aselin.
"Selamat siang nyonya" sapa Erania saat tiba di rumah Nyonya Aselin.
"Eh, Nia. Kamu sudah datang. Ayo sini masuk".
"Iya Nyonya. Terima kasih"
"Bagaimana, apakah orang tua kamu mengizinkan kamu kerja dan tinggal bersama saya?"
"Iya nyonya. Orang tua saya sudah mengizinkan.
"Baiklah kalau begitu, kamu sekarang masuk ke kamar kamu. Setelah itu kita akan masak bersama"
Erania kemudian masuk ke dalam kamar sesuai dengan petunjuk Nyonya Aselin.
"Waw, kamarnya bagus banget.". Erania kagum dengan kamar yang akan ditempati. Ini sangat jauh berbeda dengan kamarnya di rumah. Namun, Erania tetap bahagia karena bisa berkumpul dengan keluarganya.
Canda tawa terdengar di dapur, tampak Nyonya Selin asyik memasak dengan Erania. Bahkan kedatangan suaminya pun tidak di sadari oleh mereka. Sudah 1 minggu Erania bekerja. Nyonya Aselin sangat senang dengan kehadiran Erania. Bahkan ia kini sudah melupakan kesepian yang dirasakan selama ini ketika suaminya ke luar kota atau keluar negeri.
Tuan Wardana, papa Dito masuk ke dalam rumah namun tidak mendapat sambutan dari istrinya.
"Bi Imah, mama Dito ada dimana? Tumben gak menyambut ku. Telponnya juga gak diangkat?
"Ini tuan, nyonya dengan asyik memasak dengan Non Erania?"
"Memasak? Erania, siapa dia Bi?"
"Non Erania itu perawat untuk nyonya dari Tuan Muda Dito"
Tuan Wardana semakin bingung. 2 Minggu meninggalkan rumah banyak perubahan yang terjadi.
__ADS_1
"Baiklah Bi, tolong bawa tas saya. Saya akan langsung ke dapur".
Sesampainya di dapur tuan Wardana tampak senang melihat istrinya yang sungguh terlihat bahagia. Sudah lama ia tidak melihat istrinya tertawa seperti ini.
"Hmmmm, sekarang sudah ada yang baru ya, papa sampai dilupakan. Gak disambut, padahal papa bela - belaiin loh buru - buru pulang takut mama kesepian. Eh.. taunya malah sebaliknya". kata Tuan Wardana pura - pura merajuk.
Nyonya Aselin dan Erania yang kaget dengan kedatangan suaminya langsung menghampiri suaminya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya
"Ah, papa. Maafin mama abis katanya Papa pulangnya minggu depan" kata Nyonya Aselin memeluk suaminya.
"Ih, mama gimana sih. Papa tuh mau ngasih kejutan, eh malah papa yang kecewa"
"Hahahaha,, aduh mama jadi terharu deh pa.Ini semua karena anak Papa yang bandel tahu. Mama pura - pura sakit biar dia pulang eh malah mama di suruh nyari perawat".
"Kamu kan tau ma Dito gak suka dipaksa. Kita kan sudah bahas itu"
"Iya, mama tahu, tapi kan kalian sibuk. Mama gak ada temannya. Untung sekarang ada Erania". lanjut mama sambil memanggil Erania.
Erania yang sejak tadi senang melihat keharmonisan tuan dan nyonya kaget saat nyonya Aselin memanggilnya. Ia kemudian menghampiri tuan dan nyonya Wardana.
"Pa, kenalkan ini Erania, dia yang akan menemani mama. Erania ini suami saya"
"Selamat siang tuan, perkenalkan saya Erania" tuan Wardana membalas salam Erania dan memperhatikan sikap Erania yang sopan dan memang Erania memiliki daya tarik tersendiri.
"Ya sudah, papa ganti baju dulu. Kita akan makan bersama.
*****
Sementara itu, matahari sudah hampir tenggelam. Dito baru saja tiba di bandara setelah perjalanan bisnisnya selama 1 minggu. Kelelahan tampak di wajahnya.
"Dim, apakah papa ku sudah pulang?"
"Iya bos, sudah 1 minggu yang lalu"
"Oh, iya. Bagaimana soal perawat mama, apakah kamu sudah tahu?"
"Sudah bos, namanya Erania, dia anak yang baik. Ternyata dia teman adik saya Caca. Caca bilang dia jamin perawat mama Bos tidak akan mengecewakan".
"Bagus kalau begitu. Sekarang kita kembali ke rumah papa dan mama. Caca bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tidak melihatnya"
"Caca kabarnya baik bos. Sekarang dia sedang sibuk tugas akhir, makanya dia jarang kemana - mana".
Sepanjang perjalanan pulang Dito dan Dimas mengobrol banyak hal. Jalanan yang padat membuat mereka tiba sudah malam. Sepertinya semua orang di rumah , Dito langsung masuk ke kamarnya.
Erania yang baru saja selesai menyelesaikan perbaikannya skripsinya juga ingin menyimpan gelas kotornya. Ia kaget melihat ada pria lain di rumah itu.
Itu siapa ya, di sini kan hanya ada tuan Wardana. Tapi di lihat dari posturnya lebih tinggi. Guman Erania . Ia kemudian mengambil sapu dan berjalan mengendap - ngendap. Dito yang sedang minum tidak menyadari kehadiran Erania.
Tiba -tiba .... maling .... maling... maling.
__ADS_1
__ADS_1