Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 15


__ADS_3

Pagi harinya Erania bangun, meskipun ia masih sangat berduka namun Erania juga memikirkan kedua adiknya dan juga Dito anak majikannya. Sejak semalam kedua adiknya dan Dito tidak makan. Akhirnya Erania memutuskan untuk ke dapur dan memasak. Saat membuka kulkas tampak banyak bahan makanan, ya sebelum orang tua Erania sudah mengisi banyak bahan makanan untuk persediaan adik-adiknya saat orag tua Erania datang ke acara wisuda Erania.


Saat sedang Erania sedang memasak, Dito keluar dari kamar adiknya. Dito kemudian ke dapur untuk mengambil air putih. Erania menoleh saat mendengar ada langkah kaki yang mendekat.


“Selamat pagi tuan, silahkan ambil air yang di meja. Aku sudah menyediakannya” Erania kembali fokus pada masakannya. Walaupun baru beberapa kali bertemu dengan Dito namun Erania sudah hafal kebiasaan di rumah majikannya.


“Terima kasih” balas Dito kemudian menarik salah satu kursi dari meja makan lalu ia duduk sambil minum air putih.


“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Dito kemudian sambil minum air putij di tangannya.


“Sudah lebih baik tuan, terima kasih” Setelah beberapa saat Erania telah selesai membuat sarapan. Erania kemudian menghidangkannya di meja. Tak lupa ia menyiapkan piring serta teh hangat.


“Tuan silahkan sarapan, aku ingin membangunkan adik-adikku terlebih dahulu”


“Bangunkan saja mereka dulu, kita akan sarapan Bersama” Erania mengangguk lalu ke kamar orang tuanya untuk membangunkan kedua adiknya. Erania memandang kedua adiknya yang tertidur pulas di ranjang orang tuanya. Rasa sedih kembali menyelimuti Erania.


Erania kembali ke meja makan bersama kedua adiknya yang masih terlihat murung.


“Kalian makanlah, supaya kalian tidak sakit” Erania sedih melihat kedua adiknya namun kedua adiknya hanya menatap piring kosong di depannya.


Erania menarik nafas kemudian kembali berkata “Setelah ini kita akan pergi ke makam, jadi kalian cepatlah makan” mendengar itu kedua adiknya lalu makan walaupun dengan terpaksa.


Mereka sarapan seadanya karena nafsu makan yang hilang, ini hari pertama sepninggal kakek dan juga kedua orang tua mereka. Sekarang Erania dan kedua adiknya harus membiasakan melakukan sesuatu tanpa kakek dan juga orang tua mereka.


Dito kembali hanya bisa melihat semua yang terjadi tanpa bisa melakukan apapun. Setelah sarapan selesai, mereka berkumpul di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang nonton di rumah itu.


Rumah Erania yang sederhana namun sangat nyaman karena orang – orang di dalamnya.

__ADS_1


“Vian coba ceritakan ke kakak bagaimana semua ini bisa terjadi?” Erania bertanya kepada Vian sambil mengelus rambut Vano yang bersandar di bahu Erania.


“Vian …..” ulang Erania karena Vian tidak menjaawab pertanyaannya.


Vian menoleh ke arah Erania kemudian mulai bercerita “ Sewaktu kakak menelpon, ibu dan ayah sudah siap untuk berangkat menghadiri wisuda kakak. Tapi tiba – tiba penyakit kakek kambuh. Di luar hujan sangat deras, tapi karena kondisi kakek yang sangat lemah jadi ayah dan ibu tetap memutuskan untuk membawa kakek ke rumah sakit. Di perjalanan mereka kecelakaan kak, kakek dan ibu meninggal di tempat sedangkan ayah kritis. Namun, saat sampai di rumah sakit ayah juga menyusul kakek dan ibu” tangis Vian tak dapat dibendung setelah selesai menceritakan kejadian naas itu kepada kakaknya.


Untuk beberapa waktu mereka larut dalam kesedihan, dapat di bayangkan bagaimana hancurnya hati Erania dan kedua adiknya. Siapapun mungkin akan sesakit seperti mereka sekarang ini.


Telpon Erania berdering, terlihat nama Caca pada layar. Erania lalu menjawabnya “ Halo Ca, apa kabar?” tanya Erania.


“Na, aku yang harusnya nanya ke kamu. Bagaimana keadaanmu? Aku turut berdukacita, semoga kamu tabah dengan ujian ini” jawab Caca di seberang telpon.


“Terima kasih Ca, aku baik – baik saja” jawab Erania.


“Na, aku sekarang akan berangkat ke rumahmu. Apakah kamu ingin menitip sesuatu?” lanjut Caca.


“Terima kasih Ca, tapi apakah ini tidak merepotkan kalau kamu datang? Bukankah kamu sedang ujian? Apakah kamu tidak takut datang sendiri? Ini pertama kalinya kamu datang ke sini”


Erania tersenyum, “Baiklah silahkan jawab pertanyaanku, aku tidak akan menambah”


“Dengar, kita itu bersahabat jadi bagaimana mungkin aku merasa direpotkan dengan mengunjungi disaat kau dalam kesedihan. Justru aku sangat menyesal tidak bisa menemani mu kemarin. Ujian ku sudah selesai, kau lupa aku juga hampir selesai jadi tidak banyak mata kuliah yang aku ambil. Bahkan kamu yang satu angkatan denganku sudah selesai kuliah” jelas Caca.


“Baiklah, sekali lagi terima kasih. Aku menunggumu Ca” Setelah Caca dan Erania mengakhiri percakapan mereka terdengar pintu di ketuk. Mereka serempak menoleh. Tampak tuan dan Nyonya Wardana.


“Mama,, Papa,, kenapa kalian tidak bilang kalau akan datang?” tanya Dito menghampiri orang tuanya.


“Tuan dan Nyonya” Erania lalu menemui nyonya Aselin. Ia menangis dan langsung berhambur kepelukan majikannya itu. Nyonya Aselin dengan tangan terbuka menerima pelukan Erania.

__ADS_1


Nyonya Aselin berjalan ke kursi sambil memeluk dan mengelus rambut Erania. Ia membiarkan Erania menangis di dalam dekapannya. Sungguh ini membuat Erania sangat nyaman.


“Terima kasih tuan dan nyonya mau datang” ucap Erania dalam tangisnya.


“Sama – sama sayang, maaf kami terlambat datang” Tuan Wardana hanya memandang istri dan perawat istrinya.


“Oh iya dek, kenalkan ini majikan kakak di sana. Nyonya ini adik saya, yang besar namanya Vian dan adik saya yang kecil Namanya Vano” Erania berkata sambil menghapus air matanya.


Vian dan Vano kemudian mencium tangan tuan dan nyonya Wardana. Sementara itu, telpon Dito berdering. Dito berjalan keluar rumah agar tidak menganggu.


“Halo Dim, ada apa?” tanya Dito pada Dimas.


“Bos maaf menganggu waktu anda. Sepertinya bos harus segera pulang, klien dari Singapura tiba – tiba datang dan ingin bertemu dengan anda” Ucap Dimas ragu.


“Ah sial, apa itu tidak bisa menunggu?” balas Dito dengan menahan kekesalan di hatinya.


“Sekali lagi maafkan saya bos”


“Baiklah, siapkan saja semuanya kita bertemu saat makan malam” Dito mematikan telponnya dan kemudian kembali ke dalam rumah.


Suasana di dalam rumah sudah sedikit ceria dengan kedatangan mama dan papa Dito, Dito tersenyum melihatnya.


“Ma, Pa , Dito harus pulang sekarang. Ada pekerjaan yang menuggu Dito. Erania, maaf ya”


“Ya sudah, kamu hati – hati  nak” jawab Mama Dito, sedangkan papanya hanya menganggukkan kepalanya. Erania bangun dan menyusul Dito ke kamar untuk membereskan barang – barangnya.


“Ada yang perlu aku bantu tuan?” tanya Erania yang juga sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


“Tidak perlu, semua sudah siap. Ayo keluar” ajak Dito.


Dito kini sudah berangkat ke bandara setelah berpamitan pada orang tua dan juga kedua adik Erania.


__ADS_2