Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#24


__ADS_3

Malam berbalut sepi


dingin merayu hati


cahaya bulan ikut menghiasi


nuansa misteri menyelimuti


Hilang pandang dalam mata


bayangmu menepi diangkasa


entah berapa lama engkau disana


aku tak bisa tuk meraihnya


Korbankan diri dalam ilusi


hanya sekedar hilangkan rindu yg membelenggu


membuang waktu bersama angin


terbang bebas sesuka hati


Pada malam kutitipkan salam


adakah engkau merasakan


rindu yg begitu mendalamโ€ฆ


#Titip salam pada malam by NN


Kelompok Miftah dan kawan-kawan atau Regu Melati sampai di gedung MIN Kedungwuni sekitar pukul 01.00. Mereka semua memutuskan untuk menginap di lokasi KMD, karena mereka perempuan sudah larut malam pula bahkan sudah masuk waktu pagi, sebagai perempuan jadi takut untuk pulang.


Bukan cuma takut pada binatang buas, tetapi juga takut pada manusia yang punya sifat seperti binatang buas yang kadang bisa saja menghadang motor mereka di tengah jalan yang sepi. Apalagi kondisinya seperti sekarang ini, banyak pengangguran merajalela, sehingga mereka menghalalkan segala cara demi mendapatkan kertas merah yang disebut dengan uang.


Lula melepas sepatunya dan berganti dengan sandal jepit, kemudian mencuci muka dan kakinya di kran air di depan ruang transit.


"Lampunya matiin bentar ya, gaess. Aku mau ganti baju." tanpa menunggu jawaban penghuni ruangan Lula menekan saklar.


"Ya Allah, Mbak Lula. Aku lagi mau pake night cream nih." Dewi merajuk.


"Maaf ya teman-teman, sudah terlanjur. tunggu bentar ya!"


Lula mengganti seragam Pramuka dengan baju rumahan. Selesai mengganti pakaian ia menyalakan lampu kembali.


"Sudah aku nyalakan lagi, berarti nanti jangan aku yang matikan lho!" tukas Lula.


Lula merebahkan dirinya di tikar miliknya, mencoba memejamkan mata untuk menjemput impian, impian yang nyata.


Baru juga Lula mencoba memejamkan mata, dari dalam tas slempangnya terdengar dering ponsel.


Nggak tahu waktu banget sih jam segini telpon, gerutu Lula.


"Aduuh..itu hp siapa sih dari tadi bunyi nggak diangkat-angkat, mengganggu saja!" radio bodol mulai berbunyi.


"Tau tuh, paling si Santoloyo telpon," sahut Lula.


"Astaghfirullah Al'adziim, Bu Lula. Senang banget sih melihat orang lain sengsara." seru Bu Sri. "


"Males ah, aku juga sudah ngantuk kali. Sabar! sebentar lagi juga berhenti sendiri,"


"Kuatkan hati dan imanmu, Bu Sri Rosa! jangan cuma namamu saja yang kuat." Miftah menimpali.


Ternyata tidak seperti dugaan Lula kalau dering hp itu akan berhenti sendiri, kayak nggak tahu saja bahwa si Santoloyomu itu kalau telpon selalu malam, mumpung ada gratisan.


"Dewi, kamu yang belum rebahan, tolong ambilkan HP Mbak Lula. Non aktifkan sekalian!" titah Bu Sri.


Dewi yang tidurnya dekat dengan meja tempat Lula menaruh tasnyapun berdiri dan mengambil hp Lula dari dalam tas tersebut, namun tidak menon aktifkan HP tersebut,


Dewi malah menekan tombol merah untuk menolak panggilan, dering HP itupun seketika berhenti berbunyi.


Dewi meletakkan HP tersebut kembali ke dalam tas Lula. Kemudian iapun duduk dan merebahkan tubuhnya. Tiba-tiba dering HP itu berbunyi lagi.


"Duh..kenapa enggak dinonaktifkan sih, Dewi?" nada sopran Bu Sri menggema lagi, bahkan lebih nyaring dari dering HP milik Lula.


Dewi bangkit kembali mengambil HP Lula. Ia menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan.


"Halo, Assalamu'alaikum," ucap Dewi.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Santo di ujung telepon sana. "Suaramu kok berubah, Say! lembut seperti bidadari." keluar deh gombalnya.


"Aku Dewi, Mas!"


"Iya, maksud mas Dewi, Say. Sama aja kan Dewi sama bidadari,"


"Isss..."


"Oh ya, kamu tahun barunan ke mana?"


"Kuburan,"


"Ih, jangan donk, Say! kita kan belum nikah, masa udah mau mati."


Astaghfirullah al'adzim, Mbak Lula kok betah ya ngladeni orang kayak gini.


"Maaf, Mas! aku Dewi bukan Mbak Lula, Mbak Lula sudah tidur. Aku juga mau tidur, Mas. ngantuk dan capek banget, Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Santo, Dewi langsung memutuskan panggilan. Kemudian ia menonaktifkan HP tersebut da meletakkannya di meja.


Dewi kembali merebahkan tubuhnya di lantai beralaskan karpet evamatik dan memejamkan matanya.


Sementara malam telah merangkak menuju pagi,


Embunpun berjatuhan menimpa dedaunan,


menawarkan dahaga pada tumbuh-tumbuhan kecil,


yang tak mampu menyimpan cadangan makanan di saat kemarau.


Dingin masih menyeruak menemani sang malam yang tinggal sepertiga,


Rasanya bagaikan bongkahan es runcing yang menusuk kulit hingga ke tulang,


sebagian orang kadang dibuatnya hypothermia,


Di sepertiga malam ini,


puluhan manusia itu terlena dalam buaian mimpi,


hingga fajar menjelang.


Bunyi alarm HP milik Bu Sri terdengar sangat keras karena suasana yang hening saat itu. Namun sepertinya matanya tak bisa diajak berkompromi.


pukul 05.00, masih pagi, pikirnya. Iapun memencet tunda, matanya terpejam kembali.


Sepuluh menit kemudian suara itu terdengar kembali,


"Hai jin, enyahlah kau dari tubuhku, Subhanallah walhamdulillah wa laa Ilaaha Illa Allah Wallahu Akbar wa laa Haula wa laa quwwata ila billaahil aliyyil adziim" gumam Bu Sri.


Bu Sri bangkit dan berdiri, dia membangunkan teman-temannya satu persatu, namun hanya lenguhan yang ia dapatkan.


"Bentar lagi, Bu!"


"Aah, masih ngantuk,"


"Nanti aku qodlo saja subuhannya, Bu!"


"Aku kan masih M, Bu."


Bu Sri mendengus kesal,


"Heuh, terserah kalian lah, yang penting aku sudah membangunkan kalian lho."


Bu Sri melangkahkan kakinya keluar dari ruangan menyusuri lorong menuju ke toilet untuk buang air kecil dan berwudlu.


Setelah melaksanakan sholat subuh Bu Sri mencoba membangunkan teman-temannya lagi sebelum ia merebahkan diri kembali, namun sepertinya hasilnya nihil,mereka tidak bergeming sama sekali.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Astaghfirullah Al'adziim, ini pada mau ikut Wide Game apa tidak, Sih?" seru Faizah saat mengantarkan nasi untuk sarapan pagi.


Tidak ada jawaban,


"He.. bangun semuanya, ini sudah jam tujuh pagi loh! Baru tadi malam bertaubat nangis-nangis, eh sekarang sudah nyicil dosa lagi," serunya lagi. "Dewi, Ncus, Miftah, Mbak Lula, Bu Sri!"


Grigah..


mencoba membuka matanya,


"Padahal tadi kayak nya aku sudah bangun, sudah mandi dan sudah ganti seragam Pramuka juga, kenapa aku masih pakai baju ini?" tanya Lula pada diri sendiri heran.


"Tadi Mbak Lula bangun dalam mimpi, ayo bangun semua ya, Adik-adikku Sayang!" seru Faizah, "Jam 08.00 kita Wide Game." tambahnya.


"Nih, Sarapannya ambil sendiri-sendiri, nasinya 2 tempe mendoannya 2. Aku mau ke ruangan kelompokku dulu." pamit Faizah.


Iapun melangkah pergi meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan.


Lula segera bangun dan beranjak pergi dari ruangan itu sebelum keduluan teman-temannya untuk mandi dan berganti pakaian seragam Pramuka. Bisa sampai jam 10.00 kalau nunggu mereka.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Lula kembali ke ruang transit dan mengambil jatah sarapan paginya. Wow nasi megono, Alhamdulillah bisa mengobati kangenku tiga hari ini.


Lula mengambil dua bungkus nasi dan tempe mendoan. Nasi itu dibungkus dengan daun pisang dan disemat dengan lidi. Ia membuka bungkusan itu dan menggelarnya di lantai. Ada sambal gorengnya juga didalam. Mereka menyantap sarapan pagi bersama.



Alhamdulillah, begitu nikmat sarapan pagi ini, mantape poll.


"Ayo, gerakannya. sudah mau jam delapan ini!" seru Bu Sri.


"Yee.. Kakak Pembina Sri Rosa, ketua regunya saja belum rapi kok." sahut Ucik.


"Biar salah satu saja yang telat yang lain jangan. kalau salah satu kan dapat nilai 90." ujar Bu Sri.


Miftah memang bangun paling akhir, gadis tomboy yang pembawaannya selalu kocak itu belum selesai dari ritual mandinya.


Pukul 08.00 Seluruh peserta sudah banyak yang berbaris per regu masing-masing untuk mengikuti kegiatan Wida game.


Seperti kegiatan jelajah malam tadi malam, saat pemberangkatan wide game tiap regu harus busa penjawab dulu pertanyaan yang diperagakan dengan sandi Morse, barulah regu boleh keluar menuju Pos-pos yang harus dilewati.


Regu Miftah dan kawan-kawan mendapat urutan ke 7 pemberangkatan. Perjalanan dari Pos pemberangkatan sampai Pos 1 memerlukan waktu setengah jam.


Sampailah Regu Melati di Pos 1,


"Salah satu nulis perintahnya, siapa? Patimah nulis, pinjam punggung Bu Sri!" perintah Miftah.

__ADS_1


Uus yang aktif di DKR kebagian tugas menerjemahkan perintah, dan mengerjakannya bersama-sama.


"Ini Santi Arab, dibaca dari kanan seperti kita mengaji." papar Uus.


"Buatlah sebuah dragbar tandulah salah seorang temanmu dari Pos 1 ke Pos 2." Miftah mengeja.


"Astagfirullah, Pos 2 dimana lagi? ayo siapkan 2 tongkat dan 2 tali! ujar Miftah lagi.


Mereke membuat dragbar atau tandu.


Selesai tugas di Pos 1 masih ada 6 Pos lagi, semua ada 7 Pos, Pos 2. Menaksir tinggi pohon, Pos 3. Halang rintang, Pos 4. PBB, Pos 5. Menaksir jarak, Pos 6. Membuat peta panorama dan Pos 7. Peta pita.


Karena yel-yel lagu Melati nggak cocok untuk yel-yel, maka diganti dadakan pakai lagu cucak Rowo tapi diganti liriknya dan ritmenya dipercepat.


Minggiro minggiro minggiro,


Regu melati arep lewat,


Minggiro minggiro minggiro,


Yen ora minggir tak kandaake morotuo...


(diulang-ulang)


Sebelum Jam 11.00 WIB seluruh peserta sudah harus sampai di lokasi KMD, sambil menunggu untuk kegiatan berikutnya seluruh peserta diharap memasuki ruang kelas untuk mengikuti Post test. Setelah post test masih ada kegiatan upacara penutupan dan Sayonara.


"Bu Sri,nanti pulang bareng ya!" ajak Lula.


"Oke, jalan-jalan kaki bareng kita." sahut Bu Sri.


"Pakai kakilah, masa pakai tangan, nanti kapalan." ujar Lula, "Nunggu angkot di depan ke terminal Kedungwuni.


Panitia memasuki ruangan membawa setumpuk naskah soal post test. Sebelum post test dilaksanakan panitia mengumumkan hasil perolehan nilai pree test, dan Lula mendapat nila 65.


"Wah, kalau nanti hasilnya malah berkurang, sia-sia donk aku capek-capek tiga hari ini." ucap Lula pesimis.


"Ya enggaklah Bu Lula, masa tiga hari teori dan praktek cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Lagian kemarin kan cuma menghitung kancing baju, sekarang pakai ini donk!" kata Bu Sri sambil menunjuk kepalanya


"Insha Allah, optimis ae!" sahut Lula. "Bismillah!" ucap Lula menyemangati dirinya sendiri.


"Semangat!" Bu Sri mengepalkan tangannya.


Naskah soalpun dibagikan, Mereka mengerjakan dengan tekun.


"Alhamdulillah, selesai!" ujar Miftah.


"Soalnya sama, tapi lebih mudah yang ini ya." ujar Lula.


Naskah Soal dan jawaban post test telah dikumpulkan. Sekarang tinggal menunggu Upacara penutupan. Sambil menunggu Kakak Pembina memasuki ruangan, intermezo sejenak, seorang Kakak Panitia Cowok menantang kepada peserta putri yang berani maju ke depan akan mendapatkan hadiah.


Miftahpun dengan pedenya maju ke depan,


"Siapa nama kamu?" tanya kakak panitia.


"Miftahul Jannah atau Em-Ji, Kak!" sahut Miftah.


"Em-Ji..." Kakak panitia meraih kedua tangan Miftah.


"Ya, Kak!" sahut Miftah


Mungkin kakak panitia mau mengeluarkan jurus rayuan bucinnya, pikir para peserta yang fokus pada mereka berdua.


Kakak panitia terdiam sesaat...


Tiba-tiba Kakak Panitia tersenyum licik.


Dan tanpa diduga ia menarik jari telunjuk Miftah dan memasukkannya ke lubang hidungnya.


Hahaha.. gelak tawapun memenuhi ruangan.


Reflek Miftah menjerit histeris sambil mengibaskan tangannya dan segera berlari ke luar ruangan.


Somplak.


Upacara penutupan berlangsung khidmat. Kegiatan diakhiri dengan bernyanyi lagu Sayonara dan cipika-cipiki sesama peserta cewek.


Sayonara


Kini... tiba saat berpisah


jangan berkecil hati


namun... hatiku kan selalu


terbayang akan dirimu


Sayonara sayonara


Selamat tinggal Adinda Tercinta


Sayonara sayonara


Selamat jalan Kakanda Tersayang.


__________________________________________


Ini sebagian dari personil grup "Ijlig" yang sekarang, dari kiri belakang Iin, Fatimah, Miftah, Yayuk, dari kiri depan Uus si "kucrut", Imas b, Vivi Yuli yang nggak kelihatan dan Ucik.

__ADS_1



Terimakasih partisipasinya ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2