Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#27


__ADS_3

Melangkah jauh bersama sang waktu 


Bayangan pilu masih terus memburu 


Semusim telah lama berlalu 


Namun kenangan dirimu masih ada 


Daun berguguran di musim semi 


Rontoknya dedaunan oleh sang angin


Cinta sejati telah lama pergi 


Hilang menjauh takkan pernah kembali


Nyanyian burung sore menanti senja 


Tentang simfoni sore alam semesta 


Menikmati senja melamun rindu 


Tertidur nyenyak dalam doa dan pilu


Kenangan cinta sejati terus terngiang 


Takkan bisa kulupakan itu semua 


Walau berpisah menjadi akhir segala 


Ku tetap merasakan cinta bersama sang rindu


by NN


______________________________________


Alula POV


Ini kali keduaku datang ke rumah Santo di Tegal. Hari ini bertepatan dengan pesta demokrasi masyarakat Jawa Tengah, lebih tepatnya pemilihan Gubernur Jawa Tengah.


Setelah menggunakan hak pilihku, Aku dan adikku Izur berangkat dengan menaiki kendaraan roda dua, yang kupinjam sama adik sepupuku, Maftuh.


Biasanya setiap ada Pemilu aku menjadi anggota KPPS, tetapi karena ada penggabungan TPS jadi ada pemangkasan petugas, Alhamdulillah ayem, jadi bisa libur.


Kami berangkat dari rumah kira-kira pukul 08.00 lebih sedikit melewati jalur Pantura, Kami mampir di Toko kue depan pasar Kedungwuni terlebih dahulu untuk membeli Snack sebagai oleh-oleh.


Kami juga mampir lagi di sebuah Pom bensin untuk mengisi bahan bakar motor yang kami naiki. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, Izur melajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi.


Suasana jalan raya nampak sedikit lengang tidak seperti biasanya. Mungkin karena sebagian pengguna jalan masih larut dalam pesta rakyat tersebut.


Tiba di daerah Pemalang ketika Izur hendak menyalip sebuah bus besar, ternyata di depan kami ada seorang pengendara motor hendak menyeberang dan sedang berhenti, otomatis Izur mengerem motor mendadak, sementara dari arah kanan jalan melaju bus dengan kecepatan tinggi, Aku kaget dengan keadaan ini, Izurpun tak kalah kagetnya. posisi kami di tengah terhimpit dua bus dengan kecepatan tinggi.


Alhamdulillah kami masih diberi umur panjang, bus itu hanya lewat di samping kami.


Sekitar pukul 10.00 lebih sedikit kami sampai di rumah Santo, rumah yang dicat berwarna biru gelap menghadap ke selatan. Izur memarkir motor yang dinaikinya langsung di teras. Pintu rumah itu tertutup, keadaannya sepi, aku berfikir apa mungkin Santo menjadi anggota KPPS?


Akupun mengetuk pintu rumah itu seraya mengucap salam,


"Assalamu'alaikum!" ucapku. Setelah tiga kali baru ada jawaban dari dalam.


"Wa'alaikumussalam,"


Keluarlah sesosok mahluk paling tampan di keluarga ini, dia membukakan pintu untuk kami. Tak lama kemudian keluar juga dua mahluk cantik di keluarga ini.


"Jam berapa berangkat dari Pekalongan, Lula, Zur?" tanya Bu Sri.


"Jam delapan lebih sedikit, Bu!" jawabku.


Ku serahkan pada Bu Sri oleh-oleh yang kubawa. Kamipun dipersilahkan masuk dan duduk, aku duduk di kursi tamu yang panjang. Kamipun terlibat perbincangan sesaat. Dari belakang tampak Isohnya Santo membawa nampan dengan empat gelah teh manis hangat dan dia meletakkan gelas itu di depan kami.


"Silahkan tehnya diminum, Lula, Izur!" suruh Mbak Ayu yang kemudian duduk di hadapanku.


"Terimakasih, Mbak." jawabku.


Kamipun meminum teh yang disuguhkan untuk kami, dan mencicipi cemilannya juga, cemilan yang kami bawa tadi.


"Lula nanti ikut ke Brebes, ya!" ajak Mbak Ayu.


"Ke Brebes? Mau ngapain, Mbak?" tanyaku yang belum paham.


"Main ke rumah teman Mbak Ayu." jawab Mbak Ayu. "Nggak jauh kok, perbatasan Brebes dan Tegal." jelasnya.


"Oh, iya. Memangnya nggak apa-apa?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, biar rame," jawab Mbak ayu.


Mbak Ayupun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang. Tinggal kami bertiga yang ada di ruang tamu. Kami sibuk dengan HP kami masing-masing, hingga HP yang kupegang berdering.


Kulihat di layar HPku panggilan dari kontak yang bernama Fajar, kutekan tombol jawab, dan kudekatkan ke telingaku tanpa aku berucap sepatah katapun. Di seberang sana juga tidak ada suara, hanya suara burung perkutut milik tetangga sebelah kiri rumah Santo, kenapa terdengar sangat jelas sekali di sana.


Kulirik Santo yang sedang senyum-senyum memandang HPnya, aku jadi berpraduga kalau selama ini dia yang sudah ngerjain aku menyamar menjadi Fajar untuk mengetes kesetiaanku, akhirnya kuketik pesan ke kontak yang menelponku tadi huruf kapital semua.


"DASAR GILA!"


Kusimpan HPku kembali ke dalam saku tasku. Aku melihat Izur menikmati keripik tahu yang kami bawa untuk oleh-oleh. Aku menasehatinya dengan berbisik,

__ADS_1


"Zur, itu kan kita yang bawa, jangan dihabisin! malu."


"Habis enak, Mbak, keripik tahunya." sahut Izur.


"Kamu lapar ya?" tebakku karena ini memang sudah jamnya makan siang. "Tadi pagi nggak sarapan?" tanyaku lagi.


"Sarapan tapi dikit." sahut Izur.


Seketika Mbak Ayu nampak melangkah menghampiri kami dengan mengusung nasi dan piring serta sendok. Aku berdiri hendak ke pergi ke belakang membantu membawakan, barangkali ada makanan lainnya yang perlu dibawa sekalian mau cuci tangan.


Ternyata yang tertinggal hanyalah sepiring bihun goreng menu andalan keluarga ini, dan itupun sudah dibawa oleh Mbak Ayu juga, akhirnya aku kembali ke ruang tamu dengan tangan hampa. Tapi kulihat di meja belum ada air putih, akhirnya ke belakang dan kembali ke depan dengan membawa air putih. Akupun duduk dan Kami menikmati makan siang di ruang tamu.


"Ibu nggak diajak makan siang bareng sekalian, Mbak?" tanyaku pada Mbak Ayu.


"Ibu sudah makan di belakang." jawabnya.


Akupun menikmati kuliner andalan chefs Sri Rahayu dengan lahap, karena memang perutku sudah lapar.


Setelah selesai makan, aku dan Izur melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah, masih sama seperti waktu pertama datang ke sini, hanya kami berdua yang sholat, sedangkan mereka nggak tahu, sholatnya ghoib kali, bukan sholat ghoib buat dikirim untuk orang yang sudah meninggal lho ya, tetapi ini sholat ghoib karena sholat mereka tidak terlihat oleh kami.


Setelah selesai sholat aku tidur siang di kamar yang tadi aku pakai untuk sholat, kamar tengah, melepaskan kelelahan setelah dua jam perjalanan jauh.


Aku terbangun saat mendengar azan ashar, dan Mbak Ayu sedang bersiap-siap untuk menemui kekasihnya di Brebes. Aku segera bangkit untuk menyambar handuk kecilku dan kemudian melangkahkan kakiku menuju ke kamar mandi.


Masih sama seperti waktu itu, kutanggalkan pakaianku, Kubasahi seluruh badanku kecuali rambut, kugosok perlahan dan kubasuh kembali, setelah kupakai pakaianku kembali akupun berwudlu.


Akupun kembali ke kamar yang tadi untuk melaksanakan sholat ashar, tetapi di sofa ruang tamu kulihat Izur masih tertidur, kubangunkan dia terlebih dahulu baru aku sholat.


Usai sholat ashar aku berdandan, kupoles bedak serta lipstik tipis-tipis supaya wajahku tidak terlihat pucat. Akupun keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu. Kulihat Mbak Ayu sedang mengemas cemilan untuk oleh-oleh, semantara Santo sedang memanaskan motornya sambil menunggu Izur selesai sholat.


Izur keluar dari kamar, kamipun sudah siap berangkat tidak lupa berpamitan pada Bu Sri. Akhirnya kami berangkat dengan formadi boncengan seperti biasa.


Perjalanan kami memakan waktu sekitar 30 menit, kami sampai di sebuah dusun yang berada di dekat sungai, dari jalan raya menuju ke arah Utara, aku lupa nama tempat itu, mungkin karena aku tidak perduli.


Motor kami berhenti di sebuah gang komplek perumahan penduduk dimana badan jalan gang tersebut merupakan halaman rumah. Aku turun dari motor, Mbak Ayu yang berjalan paling depan. Ketika aku melangkah mengikutinya, tiba-tiba kaki kananku keseleo,


"Aduh!"


Ternyata hak sandalku yang cuma 5 cm itu patah dan terlepas, betapa malu aku saat itu, karena di depan rumah sebelah rumah yang kami tuju itu jualan jajanan, dan banyak ibu-ibu dan anak-anak yang saat itu perhatian mereka tertuju padaku.


Kucangking kedua sandalku dan hak yang patah tadi juga kuambil, berharap nanti masih bisa diperbaiki. Akhirnya aku berjalan telanjang kaki menuju rumah itu.


Pintu rumah yang kami tuju itu terbuka menandakan bahwa yang punya rumah sedang berada di rumah. Mbak Ayu tampak mengucap salam.


"Assalamu'alaikum" terdengar jawaban dari dalam,


"Wa'alaikumussalam"


Seorang bapak-bapak menemui kami,


Hah, itukan nama bapakku, aku jadi penasaran berapa umur gebetan Mbak Ayu tersebut, sudah tuakah?


"Oh, ada tetapi dia sedang di TPS." jawab bapak-bapak itu.


Di TPS? masa orang lagi jadi KPPS kok ditemui.


"Oh, jadi KPPS ya pak?" tanya Mbak Ayu kaget.


"Bukan, lagi nonton penghitungan suara. Sebentar lagi dipanggilkan kok." sanggah bapak-bapak itu.


"Oh, kirain jadi KPPS," ucap Mbak Ayu lega.


"Mari tunggu di dalam saja!" ucap bapak-bapak itu mempersilahkan kami.


Kamipun masuk ke dalam rumah, Mbak Ayu dan Izur duduk di kursi, sementara aku dan Santo duduk di sebuah dipan yang terletak di dekat pintu.


Tidak lama kemudian datanglah seorang perempuan, mungkin seusia Mbak Ayu, membawakan teh manis dan cemilan. Ia berjongkok untuk meletakkan satu persatu gelas di atas meja, kemudian berdiri.


"Silahkan dinikmati tehnya! Murinya lagi dipanggilin." tuturnya.


"Terimakasih, Mbak siapanya Muri ya?" tanya Mbak Ayu.


"Saya kakak iparnya." sahutnya, "Saya permisi mau melanjutkan pekerjaan di belakang.


"Mangga!" sahut Mbak Ayu. Perempuan itu pergi, Aku melongok maju.


"Mana mangganya, Mbak?" tanyaku karena yang kudapati di meja hanya telur blanak merah hijau.


Akhirnya datang juga yang kita tunggu-tunggu, dari dalam muncul seorang laki-laki, aku terperanjat saat itu, ini sih brondong, bahkan usia pemuda itu mungkin lebih tua sedikit dari Izur.


Aku mengajak Santo keluar sekedar untuk memberikan ruangan bagi mereka berdua, aku duduk di sebuah kursi kayu panjang yang berada di depan rumah. Sementara Santo berjongkok di tepi teras sambil menghisap rokok kesukaannya. Izurpun juga berjalan-jalan sekedar melihat-lihat lingkungan kampung.


"Mas, beliin sandal jepit donk!" pintaku pada Santo.


"Lha belinya di mana? Mas kan nggak tahu tempat ini," sahutnya. "Nanti pas pulang saja mampir di toko ya, Say!" bujuknya.


Santo mengambil sandalku yang kutaruh di depan teras.


"Ini masih bisa dilem, Say." ucapnya.


Iapun masuk ke dalam rumah, beberapa saat kemudian dia keluar dengan membawa lem alteko ditangannya. Ia mencoba menyatukan hak sandalku yang lepas dengan sandalnya.


"Emang bisa, Mas? lem seperti itu kalau sudah dibuka kan nggak bisa disimpan, isinya akan kering." terangku.


Tanpa ada sahutan, Santo masih berkutat dengan benda yang dipegangnya.

__ADS_1


"Iya, nggak bisa say, udah kering lemnya," nyerah juga dia, "mesti dibawa ke tukang loak ini, Say."


Tukang loak? tukang sol kali.


"Sandal begitu nggak cocok Mas dilem alteko, cocoknya dilem biru."


"Iya nanti beli sandal jepit," sahutnya.


Terdengar Mbak Ayu memanggil kami dari dalam,


"Ini tehnya dientungna!" serunya melongok keluar dari balik jendela. Aku kaget baru pertama kali mendengar kosakata itu.


"Entungna?" tanyaku dengan menaikkan kedua alisku pada Santo.


"Dihabiskan, Say. Itu bahasa sini." jelas Santo.


"Hehehe, baru dengar soalnya."


Kamipun masuk ke dalam, kuteguk segelas teh manis yang dibuat oleh orang seperti baru saja panen tebu. Kamipun berpamitan untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang kulihat ada tukan sol sepatu keliling,


"Mas, itu di depan ada tukang sol, mampir bentar ya!" pintaku.


"Udah mau Maghrib ini, Say." jawabnya.


Padahal entah maghrib atau isya' diapun nggak pernah absen. Aku terima saja alasannya. Memang benar belum sampai rumah Santo aku sudah mendengar sayup-sayup suara azan maghrib. Dan sandal jepit yang tadi ia janjikan tadipun terlewat sudah.


Sampai di rumah Santo aku langsung meluncur menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, aku dan Izur hendak sholat berjamaah, Alhamdulillah Ibu sudah memakai mukenahnya, kali ini dia sholat berjamaah bersama kami, semoga anak-anaknya segera menyusul, aamiin...


Usai sholat aku duduk di ruang tamu, sudah ada hidangan makan malam disana, menu tang sama seperti tadi siang. Sepertinya memang ini masakan tadi siang yang disisihkan untuk makan malam, karena chefsnya kan baru keluar jadi nggak sempat masak.


Apa Mbak Ayu tidak bisa memasak resep yang lain ya? secara dua kali kesini menunya sama terus, kalau suatu saat aku tinggal di sini bisa-bisa sembelit perutku nggak dikasih sayuran.


Setelah menyelesaikan makan malamku, aku bergabung bersama Ibu Sri menikmati siaran televisi ikan terbang. Sesekali kami berbincang-bincang tentang masa depan.


"Lula, kalau besok udah nikah sama Santo ndak apa-apa ya kalau nafkahnya sedikit?" tanya Bu Sri. Waduh, belum apa-apa udah menyurutkan semangatku, "soalnya Santo masih ada cicilan motor itu yang dipakai, nanti kalau sudah lunas ya lumayan." imbuhnya.


"Nggak apa-apa kok, Bu." jawabku.


"Kalau udah nikah langsung boyong ke sini saja, tinggal di sini!" suruh Bu Sri.


"Ehmm.. Saya kan masih kuliah, Bu. Sayang kalau harus berhenti kuliah, Bu." sanggahku.


"Iya nunggu lulus kuliah baru pindah sini, nanti ngajar di sini saja, cari sekolah deketan sini." usulnya. padahal waktu itu kan aku dan ibu udah pernah bahas ini. kenapa juga harus diulang lagi.


Sampai pukul 21.00 mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi, aku pamit sama ibu untuk pergi tidur, sebelum tidur aku pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menguras kantung kemihku kemudian berwudlu.


Aku melaksanakan sholat isya' secepat kilat, karena kantuk ini sudah tak tertahankan. Usai salam aku melipat mukenahku dan kuletakkan di nakas di samping tempat tidur yang akan kutempati. Akupun merebahkan tubuhku hingga terlelap.


🌸🌸🌸🌸🌸


Aku terbangun pukul sekitar pukul lima pagi karena alarm HP yang kupasang. Akupun bangkit dari tempat tidur, sementara Izur masih terlelap disampingku, aku nggak tahu pasti kapan adik bungsuku itu masuk kamar, kubangunkan dia sebelum aku ke kamar mandi.


Aku hanya buang air kecil dan berwudlu, nanti sajalah mandinya, yang penting sekarang mengejar waktu subuh dulu. Akupun melaksanakan sholat subuh sendirian.


Selesai sholat, lama aku tak segera beranjak, padahal sudah selesai dzikirku, entah apa yang kupikirkan, ternyata sudah pukul enam pagi saja, aku segera melipat mukenahku, dan memasukkannya ke dalam tasku.


Ku ambil handuk dan pakaian ganti ku, akupun segera bergegas mandi.


Pukul sembilan pagi aku sudah bersiap untuk pulang, kukemasi pakaian kotorku yang ada di sampiran belakang kumasukkan ke dalam tas, Aku ke depan semua sudah berkumpul di sana.


"Sampaikan salam ibu buat Mak kamu ya, Lul!" pinta Bu Sri.


"Insya Allah, Bu!" jawabku. Aku dan Izurpun mencium punggung tangan ketiga orang tersebut.


Izur sudah menstarter motornya, kupakai sandalku yang buntung sebelah, nggak apa-apalah, nggak jalan kaki juga.


"Eh, tunggu Lul. ini oleh-oleh buat yang di rumah." Bu Sri nampak tergopoh-gopoh dari dalam menenteng plastik hitam besar, nggak tahu isinya apa.


"Terimakasih, Bu!" ucapku


Karena motor bebek yang kami naiki tidak ada cantolan di depan, terpaksa aku memangkunya di tengah.


Kamipun meninggalkan rumah Santo, belum sampai meninggalkan Kecamatan Pangkah, aku merasa keberatan memangku plastik kresek hitam tersebut.


"Ini plastik nggak bisa ditaruh di depan apa, Zur? berat banget, pegel aku mangkunya." rengekku.


"Nggak bisa, Mbak. Memang isinya apa?" tanya Izur.


Akupun membuka plastik tersebut, aku terkejut melihat isinya, ternyata ada 3 bungkus Klanting dan lima butir pepaya.


"Ternyata pepaya, Zur."


"Astaghfirullah, pepaya yang kupetik tadi pagi, Mbak? itukan pepaya bajang, Mbak. Nggak enak. Buang saja, Mbak!"


Izurpun menghentikan laju motornya, aku segera melempar semua buah pepaya tersebut ke sisi kiri jalan, dan kami melanjutkan perjalanan pulang dengan nyaman tanpa beban.


Happy reading


semoga suka


jangan lupa jempolnya ya!


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2