Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#26


__ADS_3

Sinar matahari lembut berkilauan


Diantara dedaunan, menembus pepohonan.


Menuangkan cahaya Kristal ditengah kehidupan


Aroma alam murni terasa begitu mendalam


Alami dalam simfoni pagi


Mata terbangun melihat cahaya lembut


Diiringi kicauan merdu, tanda hari baru telah dimulai.


Musim gugur tiba merubah warna dunia


Daun jatuh lembut diatas alas alam


Meleleh ketika matahari sudah terbenam


Meninggalkan aroma alam, khas daun berguguran


Burung terbang menyapu bersih pepohonan


Bebas melayang menjelajah alam yang sedang berguguran


Membawa pada renungan kehidupan,


Bahwa dunia ini fana terus berganti-ganti peran


Tetap pada tujuan hingga nanti tak ada penyesalan


Karena Musim terus berganti,


Sedangkan pagi hari selalu dinanti.


Kehidupan baru selalu berulang


Sebagai batasan untuk kita memperbaiki diri


Sebelum bertemu dengan Sang Pemilik Sejati


kompilasi puisi pagi by NN


___________________________________________


Lula bangun pukul 05.00 WIB, setelah melaksanakan sholat subuh, Lula pergi ke belakang hendak mencuci piring-piring kotor dan peralatan masak lainnya yang berserakkan di samping sumur.


Lula mengambil dingklik, kursi kecil sebagai tempat duduk saat ia mencuci piring. Lula mencuci piring sambil bersenandung sholawat seperti kebiasaanya, entah sudah habis berapa rol kaset yang diputar, dari lagu dangdut, sholawat sampai lagu pop rock juga tidak terlewat hingga prosesi mencuci piring pun selesai.


Pintu belakang dibuka dari luar, Mak Kulsum menyembul dari baliknya berucap salam, di tangannya menenteng kantong plastik kresek hitam, dia baru saja menyambangi Mak Siti, membeli banyak bungkus nasi megono kuliner khasnya, tidak lupa tempe mendoan yang selalu menemani nasi megono tersebut.


Lula melangkahkan kakinya menuju ke depan, hendak memanggil Santo dan ibunya untuk sarapan nasi megono bersama. Di ruang tengah ia berpapasan dengan Bu Sri yang memang mau ke belakang.


"Eh, Ibu. kebetulan saya bertemu dengan Ibu, sudah ditunggu Mak e untuk sarapan."


"Oh iya, Lula. Ibu juga kebetulan mau ke belakang." sahut Bu Sri.


"Silahkan, Bu! Saya mau memanggil Mas Santo dulu."


Lula kembali melangkahkan kakinya menuju ke depan, di dapatinya Santo sedang duduk di sofa ruang tamu sedang bermain HP.


"Mas, ayo kita sarapan dulu!" ajak Lula pada Santo.


"Masih pagi, Say. Mas nggak biasa sarapan jam segini." sahut Santo menjelaskan.


"Terus Mas biasanya kalau sarapan jam berapa?" tanya Lula lagi.


"Jam sembilan atau sepuluhlah" sahut Santo.


"Yah gak bisa sarapan donk, disini cuma ada jam 2buah, itu sama yang dibelakang satu." jawab Lula sambil menunjuk ke dinding.


"Ck...Sarapannya nasi, Say. Jam sembilan."


"Hehehe.. jalan-jalan ke sungai aja yuk, Mas!" ajak Lula.


"Ayo!"


Santo hendak membuka pintu samping tempat motornya keluar.


"Mau ngapain?" tanya Lula.


"Keluarin motor,"


"Jalan kaki saja."


"Oh.. Mas kira pakai motor,"


"Aku kan tahu Mas suka yang gratis-gratis," sindir Lula sambil tersenyum.


"Ayo!"

__ADS_1


Mereka berdua berjalan kaki menyusuri jalan setapak dan juga galangan sawah yang biasa dilalui Lula saat berangkat kuliah ataupun pergi ke pasar.


Udara pagi hari begitu segar, sorot cahaya matahari yang mengenai air sungai berkilauan, bagaikan butiran permata seolah-olah mengapung di permukaannya.


Entah bagaimana hubungan mereka saat ini, Lula yang sudah muak dengan sikap Santo dan keluarganya tetapi tidak mau menjadi jomblowati. Sementara Santo yang selalu tidak pernah bisa menuruti keinginan Lula tetapi sangat takut kehilangan Lula.


Alula POV


Aku merasa bahagia saat itu, saat ada orang yang menyatakan cinta padaku, walaupun hanya lewat SMS, setidaknya bisa menghibur hatiku setelah kepergian orang-orang yang aku cintai.


Semula aku hanya iseng menerimanya, tak lebih hanya kujadikan sebagai hiburan semata. Mengingat jarak tempat tinggal kami yang cukup jauh meskipun masih dalam satu provinsi. Tiga bulan kami jalani hubungan ini hanya lewat SMS dan telepon gratisan.


Tak kusangka dia seserius ini, dia datang ke rumah mengajak serta salah seorang keluarganya, kakak perempuan satu-satunya. Diapun meminta padaku untuk datang kerumahnya dengan iming-iming, Namun iming-iming itu tak pernah ia wujudkan.


Selalu dan selalu, aku ini seperti anak kecil yang selalu diiming-imingi sesuatu namun akhirnya tidak pernah dia turuti, selalu dialihkan. Aku bosan dengan semua ini. Kok ada ya cowok kayak gitu, medit melilit terbirit-birit.


Sebenarnya dia itu cinta nggak sih sama aku, sayang enggak sama aku, kalau manggil say, say, mana buktinya? omong kosong. Katanya cinta, bukankah cinta bukan hanya rasa ingin memiliki tetapi juga tela berkorban demi orang yang kita cintai.


Aku harus selalu menjaga perasaannya, menuruti keinginannya, sementara dia tak pernah peduli dengan perasaanku. Masa dia pernah mutusin aku gara-gara aku ngetik kata "gundulmu" di SMS, kekanak-kanakan banget kan.


Udah gitu dia sendiri yang merengek-rengek minta balikan. Ditambah lagi ceramah yang disampaikan oleh kakaknya nggak cukup satu jam bicara di telepon. Apapun yang kubicarakan sama dia, ternyata keluarganya juga tahu. Hufft..nggak bisa jaga rahasia banget kan.


Aku heran dech, kenapa dia tidak pernah mengajak temannya ketika main ke rumahku, kenapa selalu anggota keluarganya yang diajak dan dijadikan tameng, apa dia takut temannya merebutku darinya atau memang dia tidak punya teman, kasihan sekali kehidupannya, hehehe...


Ya Allah, jika memang dia jodohku maka buatlah dia menjadi orang baik yang taat terhadap perintah Mu, dan menjauhi larangan-Mu, tapi jika memang dia bukan jodohku maka jauhkanlah dia dari kehidupanku.


🌸🌸🌸🌸🌸



Kali Welo



Sesampai di sungai Lula duduk pada sebuah baru yang tidak begitu besar, ia melepaskan sandal jepitnya dan menggulung celananya.


kedua kakinya dia ongkang-ongkangkan kedalam air, tangan kirinya mengambil kerikil sementara tangan kanannya melemparkan kerikil itu sejauh yang ia bisa.


Matanya memandang air Kedung yang tenang, dan suara gemericik air yang mengalir di antara bebatuan menenangkan, seolah meredam suara manusia disana.


Sementara Santo duduk berjongkok diatas batu besar, sebatang sigaret kretek belum habis dia hisap.


"Mas, udah sundul tuh." ucap Lula sambil menunjuk diantara kedua kaki Santo.


"Apanya?" tanya Santo yang tidak tahu yang dimaksud Lula.


"Kalau mau jongkok jangan di situ, sana di bawah dibalik batu." tunjuk Lula lagi.


"Atau mau mandi?" tanya Lula. Dan tanpa menunggu jawaban dari Santo Lulapun menyiprat-nyipratkan air kepadanya.


"Lula, mas nggak bawa baju ganti ih!" seru Santo sambil menghalangi air dengan kedua lengannya.


"Biarin!" seru Lula. "Kalau perlu mandi sana nyemplung ke tengah, tuh bareng anak-anak!" tunjuknya.


"Kan nggak bawa sabun." elak Santo sambil masih tetap menjadikan lengannya sebagai tameng.


"Pakai batu, Mas! Atau kalau Mas mau aku bisa carikan dedaunan atau rumput untuk menggosok kulit kamu." tawar Lula yang berhenti menyiprati air.


"Kamu kira Mas ini kerbau apa digosok pakai rumput." ucap Santo jengah.


"Hahaha... kalau Mas mau dianggap seperti itu ya terserah, tapi jangan salah nenek moyang kita sebelum sabun mandi ditemukan juga kalau mandi digosok pakai batu dan dedaunan." Lula menjelaskan.


"Ehm..Say, Kamu tahu nggak siapa orang yang pertama kali menemukan sabun mandi?" tanya Santo.


"Nggak tahu, memangnya sabun siapa yang hilang?"


"Bukan hilang, tapi orang yang pertama kali membuat sabun mandi siapa namanya?" tanya Santo lagi.


"Nggak tahu juga." jawab Lula. "Memangnya siapa?" tanyanya.


"Orang yang pertama kali membuat sabun mandi itu orang Minang." jawab Santo.


"Kenapa bisa orang Minang?"


"Karena namanya Uni Lever, panggilannya saja Uni, sudah pasti orang Minang. Jhony Lever kan artis Bollywood dari India, berarti Uni Lever orang Minang donk." jawab Santo menjelaskan.


"Oh, gitu. Berarti Uni Soviet, Uni Emirat Arab dan uni-uni yang lain itu berasal dari Minang juga begitu?" tebak Lula.


"Iya Mungkin," jawab Santo sambil garuk-garuk kepala.


"Wah, Kamu makin mirip Jhony Lever dech, Mas." puji Lula menahan tawa. "Pulang yuk!" ajaknya.


"Kenapa pulang? Mas masih betah disini." tolak Santo.


"Aku nanti jam 09.30 ngajar, Mas. Aku hanya ijin berangkat siang" jawab Lula


"Minta ijin tidak masuk saja! di sini udaranya segar, Say, Mas masih ingin menikmatinya." masih berusaha membujuk.


"Ya, udah kalau Mas masih mau disini, nanti balik sendiri ya! Aku nggak enak kalau harus ijin tidak masuk, Mas. Ini kan baru mulai beberapa hari masuk setelah libur semester gasal sampai tahun baru kemarin." papar Lula.


Sudah tahu kan kamu menikmati pemandangan alam itu rasanya seperti apa. Kalau diajak ke tempat wisata saja selalu menghindar.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, ayo pulang saja! aku nggak mau pulang sendiri takut nyasar, kan malu." akhirnya Santo bangkit dari duduknya dan melompat dari batu besar batu-batu lainnya sebagai pijakan.


Lula bangkit dari duduknya, berjalan telanjang kaki menikmati pijatan kerikil-kerikil yang diinjaknya yang kadang terasa sakit dengan tangan kiri menyangking sandal jepit.


Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan setapak dan melewati anak sungai kecil yang terjal. Kadang dorong-dorongan saat melewati jalan setapak yang memanjat diselingi gurauan dan canda tawa.


Setibanya di rumah Lula, mereka langsung disambut dengan cercaan pertanyaan ibunya Santo yang seperti induk ayam kehilangan anaknya di depan rumah, salah sih mereka tadi pagi pergi tidak pamit.


"Lain kali kalau mau pergi pamit dulu ya, To!" pinta ibunya.


"Iya, Bu. Tadi mendadak nggak sempat pamit, maaf!" sahut Santo.


"Lula yang ngajak Mas Santo, Bu. Lula minta maaf! ucap Lula.


"Ya sudah, ibu maafkan. Kalian sarapan dulu sana, atau mau mandi dulu?" suruh Bu Sri.


"Sarapan dulu saja yuk, Mas! Mandinya nanti kalau keringatnya sudah hilang." ajak Lula pada Santo.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke ruang makan. Santo duduk di kursi meja makan, sedangkan Lula mengambil dua gelas teh manis untuk mereka berdua, ia kembali menghampiri meja makan meletakkan nampan berisi dua gelas teh manis disana dan duduk di samping Santo.


"Apa ini yang namanya nasi begono?" tanya Santo.


"Kok begono? begini kali hehe.. Megono, Mas." Lula membenarkan.


"Iya, maksudnya Mas begitu." sahut Santo. "Habis ini Mas mau pulang." pamitnya.


"Kok langsung pulang?" tanya Lula.


"Buat apa Mas disini kalau kamunya nggak ada di rumah?" Santo berargumen.


"Mandi dulu lah." ujar Lula.


"Ku kira kamu mau nahan Mas pulang, Say." ucap Santo agak kecewa.


"Aku ngajar cuma dua jam pelajaran kok, Mas. Nanti jam 11.00 juga sudah selesai." sahut Lula.


Tapi kalau kamu mau pulang juga nggak apa-apa sih, Mas. batin Lula.


"Mas mau pulang saja, biar nanti sore bisa istirahat, besok pagi kan kerja." ujar Santo.


Selesai menghabiskan sarapan, Lula meneguk teh manis, demikian juga Santo. Memang sebaiknya minum air putih, tapi itu sudah menjadi kebiasaan.


"Aku atau Mas yang mandi dulu?" tanya Lula.


"Kamu saja, Say! Mas mau menghabiskan ini dulu, sayang kalau nggak habis." jawab Santo yang sedang menghisap sebatang rokok kreteknya.


Lula pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan baju seragam dinas hari itu beserta dalamannya. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menjalankan ritual mandinya.


Selesai mandi Lula kembali masuk ke dalam kamar lagi untuk berdandan dan menyiapkan keperluan untuk dibawa ke kantor. Ia keluar kamar dan mendapati Santo dan ibunya sudah bersiap untuk pulang.


Santo dan ibunya berpamitan kepada keluarga Lula.


"Ibu pamit pulang ya, Lula." ujar Bu Sri sambil menyerahkan punggung tangannya untuk dicium Lula. "Santo nggak pamitan sama Lula, sama cium dulu ke dalam!" suruh ya pada Santo.


Dasar ibu songong, ibu lain mana ada yang nyuruh anaknya ciuman sebelum nikah.gerutu Lula dalam hati.


"Nggak usah, Bu. Nanti riasan Lula rusak lagi, Lula udah kesiangan kalau harus dandan lagi." tolak Lula.


"Yaudah kalau begitu, Kami pamit ya, Mak, Usnul, Nhia, Izur. Besok-besok main ke Tegal lagi ya, Zur! yang lain juga." pamit Bu Sri.


"In sya Allah, Bu." sahut Izur.


Santo dan Ibunyapun akhirnya pergi meninggalkan kediaman Lula. Lula diantar Izur berangkat ke Madrasah.


Pukul 09.18 Lula sampai di Madrasah, masih ada waktu sebentar untuk istirahat, dia masuk ke dalam kantor saat semua guru semua guru sedang istirahat.


"Assalamu'alaikum!" ucap Lula yang langsung masuk dan duduk di kursi kerjanya.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua temannya kompak seperti vokal grup.


"Cieee..yang baru diapeli calmi," goda Pak Hardi.


"Calmi-calmi, memangnya ada bukti kalau dia calmiku?" elak Lula


"Biasa sajalah, Bu. Nggak usah ngegas gitu, Buktinya sampai menginap." sahut Pak Hardi.


"Mereka menginap karena nggak mau keluar uang buat bayar hotel." jawab Lula sekenanya.


"Kalau nggak ada apa-apa sama Bu Lula, mereka kan bisa pulang langsung. Perjalanan dari sini ke Tegal paling dua jam juga nyampe." Pak Hardi berargumen.


"Au ah." sahut Lula tidak ingin membahas.


Bel otomatis berbunyi, mereka yang mempunyai jadwal mengajar segera meninggalkan kantor menuju ke kelas masing-masing.


Lula menata buku pelajaran dan buku administrasi kelas untuk di bawa ke kelas. Ia melangkah meninggalkan kantor menyusuri koridor MI kemudian menaiki tangga, Karen ruangan kelas VI berada di lantai dua.


Ia memasuki ruangan kelas VI, para siswa sudah menunggunya di sana.


Happy Reading, semoga suka


jangan lupa jempolnya!

__ADS_1


Maturnuwun πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2