Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#28


__ADS_3

Entah kenapa ada kesedihan di hatiku saat ini


Padahal bulan menyapa dengan indah


Bintangpun mengedip genit mengajak bercanda


Tapi aku tak mampu menyapa mereka


Ada rasa nyeri yang menyeruak..


Membuatku hanya bisa diam menatap gelap


Malam..


Peluklah aku meski dalam kelammu


Biarkan aku terlelap sejenak


Meski ada air mata yg menetes


Aku lelah dengan rasa ini


Rasa yang tidak berujung


Rasa yg tidak mungkin akan berakhir bahagia…


‪#Peluklah Aku by Nugy


___________________________________________


Malam itu Lula dan Mak Kulsum sedang menonton Televisi bareng.


"Lul, Adikmu Izur tadi bilang sama Mak e. Mak, Mbak Lula hari Minggu besok mau mendampingi murid-muridnya piknik ke Tegal katanya. jangan diijinkan, Mak! apa benar?" tanya Mak e menirukan Izur bicara.


"Iya, terus Mak e jawab apa?" Lula balik tanya.


"Mak jawab saja kalau Mbak Lula kan sudah besar, pasti dia tahu mana yang terbaik." sahut Mak Kulsum.


"Insya Allah Aku nggak akan mampir kok, Mak." janji Lula.


"Masa satu rumah nggak ada yang sholat, Mak. katanya lagi." ujar Mak Kulsum menirukan ucapan Izur.


Mak Kulsum seakan tidak merestui hubungan antara Lula dan Santo, tetapi dia tidak mau mengatakannya langsung.


Kegiatan Jeda Tengah Semester, diisi dengan karya wisata atau piknik bagi kelas IV, V dan kelas VI. Tujuan karya wisata kali ini antara lain Pantai Indah Purwahamba Tegal dan Pantai Widuri Pemalang sekalian ziarah ke makam waliyullah yang ada di dekat pantai Widuri Pemalang Tersebut.


Lula memenuhi janjinya pada Mak Kulsum, ia benar-benar tidak mampir di rumah Santo saat mendampingi anak-anak piknik ke Tegal. Dia juga menjadi jarang kontek-kontekkan lagi dengan Santo.


Suatu sore, saat Lula sudah bersiap hendak mengajar di TPQ,


"Mbak, punya bonus SMS, nggak?" tanya Izur.


"Nih, pakai saja!" Jawab Lula sambil menyerahkan Hpnya.


Lulapun Pergi mengajar di TPQ tanpa Membawa HP.


Ketika Izur sedang SMSan dengan Kekasihnya Ina menggunakan HP-nya Lula, tiba-tiba HP tersebut berdering, ada panggilan dari nomor tak dikenal. Izurpun menekan tombol jawab.


"Assalamu'alaikum," sapa Izur.


"Wa'alaikumussalam, Lulanya ada?" tanya suara perempuan di ujung telepon.


"Mbak Lulanya lagi ngajar di TPQ, HP-nya ditinggal, Bu. Maaf, ini dengan ibu siapa?" tanya Izur.


"Ini Izur, ya? Ini ibunya Mas Santo, Zur."


"Oh, Ibunya Mas Santo. Ada apa ya, Bu?"


"Nanti kalau Mbak Lula pulang, tolong sampaikan ke Mbak Lula ya, Zur! Lula waktu itu ngatain Santo gila, jangan gitulah! masa sama calon suami ngatain gila, calon istri macam apa itu?"


"Mungkin cuma bercanda, Bu. Biasa anak muda suka bercanda." sanggah Izur.


"Pokoknya Ibu tidak terima anak laki-laki ibu satu-satunya dikatain gila, nanti bilangin sama Lula ya, Zur!" suruh Bu Sri.


"Iya, Bu. Nanti kalau Mbak Lulanya sudah pulang Insya Allah, akan saya sampaikan." jawab Izur.

__ADS_1


"Jangan Insya Allah, Zur. Harus disampaikan, ya!" tukas Bu Sri.


Astaghfirullah, batin Izur.


"Iya, Bu, nanti saya sampaikan."


"Ya sudah, jangan sampai lupa, Zur. Ibu tutup telponnya."


"Iya, Bu. Assalamu'alaikum,"


Tut tut tut...


Kira-kira pukul 17.00 Lula kembali dari TPQ. Setelah bertemu dengan Lula, Izurpun menyerahkan HP-nya dan menceritakan kepada Lula tentang pembicaraannya dengan Bu Sri di telpon tadi.


Astaghfirullah al'adzim, masalah kecil saja dibesar-besarkan, lagian dia sendiri yang bilang kalau nomor tersebut bukan nomornya, dasar anak mama tukang ngadu.


Sebenarnya Lula ingin protes, tetapi ia nggak mau kalau Ibunya yang menerima SMS tersebut. Ia menunggu Santo dulu yang menghubunginya. Hingga keesokan harinya ia menerima pesan dari Santo.


cling


"Say, kok dari kemarin nggak SMS, sibuk, ya?"


Lula membalas pesan Santo saat berangkat kuliah naik angkot.


"Mas, kemarin ibu telpon aku. Mas ngadu sama ibu kalau aku ngatain mas gila?"


send


Tak menunggu waktu lama, balasan pesan pun muncul.


cling,


"Mas nggak ngadu, Say. Ibu menemukan sendiri SMS itu. Kebetulan Ibu pakai HP itu buat dengerin lagu-lagu campur sari." sanggah Santo.


"Mas kan bisa bilang kalau aku cuma bercanda, lagian mas sendiri yang bilang kalau nomor HP itu bukan nomor HP kamu."


send,


lama tidak ada balasan,


"Sebenarnya Mas cinta beneran enggak sich sama aku."


send


cling


"Kalau memang Mas cinta sama aku, kenapa mas nggak coba belain aku?"


send


Cling


"Mas mana tau kalau ibu bakal telpon sama kamu."


Lula turun dari angkot satu, kemudian naik ke dalam angkot berikutnya di terminal Kedungwuni. Ia kembali mengirim pesan.


"Kalau memang Mas sudah tidak cinta sama aku, kita akhiri saja hubungan ini secara baik-baik sebelum kita melangkah lebih jauh."


send


cling,


"Mas nggak mau pisah sama kamu, Say."


"Mas, hubungan kita sudah tidak sehat lagi, Mas. Daripada nanti kita udah nikah terus kita pisah, sayang kan biayanya. Banyak kok pasangan yang gagal setelah menikah, karena tidak didasari rasa cinta, contohnya Mbak Ayu."


send,


cling


"Berani-beraninya kamu menghina Mbak Ayu!"


"Aku tidak bermaksud menghina Mbak Ayu, Mas. Aku cuma kasih contoh orang yang kita kenal saja."


send,

__ADS_1


cling


"Tahu apa kamu tentang Mbak Ayu?"


pesanpun bertubi-tubi,


cling


"Beraninya kamu menghina keluargaku!"


cling


"KITA PUTUS!"


cling


"BRENG*EK!"


Lula pun mengetik,


"Putus ya putus, tapi nggak usah pakai kata BRENG*EK juga kenapa?"


send


cling


"Dasar gadis kampung tidak tahu diri!"


Lula segera menonaktifkan HPnya dan menyimpannya ke dalam tas. Makin lama balasan pesan Santo mungkin akan tambah melukai hatinya. Airmatanya lolos sudah tak dapat ia tahan, ia tak luput dari perhatian para penumpang angkot lainnya.


Kenapa ia harus menangis, bukankan itu yang ia inginkan. Bukan kata putus yang ia tangisi, tetapi ia sakit hati disebut breng*ek, gadis kampung tidak tahu diri.


Sampailah ia di kampus, belum banyak yang datang, ia bisa memilih bangku dekat jendela. Air matanya mengering sudah, namun matanya yang sembab tidak dapat disembunyikan.


"Bu Lula kenapa?" tanya Bu Hima yang duduk di samping Lula.


"Ehm.. tidak apa-apa, Bu Him. Tadi kelilipan bulu mata kok nggak ilang-ilang pegelnya." jawab Lula bohong.


"Coba lihat!"


"Udah ketemu tadi, Bu. Cuma mataku masih terasa sakit." tolak Lula.


Dosenpun masuk kelas, Lula tidak fokus mengikuti kuliah kali ini, tapi beruntung sekali yang ngajar Pak Urip, dosen statistika pendidikan itu tetap semangat mengajarnya walaupun tidak ada yang mendengarkan. Signifikan, lagi-lagi signifikan, hanya kata-kata itu yang masuk ke telinga Lula. Terserah bapak dosen sajalah.


Begitupun mata kuliah setelah istirahat, Dosennya Pak Romli yang ngajar Bahasa Arab, dia masih brondong jebolan ponpes, mana berani dia menegur mahasiswanya yang kebanyakan ibu-ibu.


Lancar kan semua?


Pulangnya, Lula naik angkot bersama Bu Sri.


"Bu, nanti mampir di counter tempat biasa kita beli pulsa ya! Aku mau beli kartu perdana." ajak Lula.


"Mau ganti nomor? Kenapa?" tanya Bu Sri.


"Aku udah putus sama Santo, Bu. Aku nggak mau pakai nomor itu lagi." jawab Lula.


Merekapun turun di depan pasar Kedungwuni, dan berjalan kaki menuju counter penjual pulsa. Lula membeli sebuah kartu sim perdana. Setelah itu mereka berjalan lagi menuju ke terminal untuk naik angkot jurusan Doro.


Sepanjang perjalanan Lula terus saja bicara, Bu Sri hanya menjadi pendengar setia. Biarlah, biar keluar semua apa yang ada di dalam hatinya, biar lega perasaannya.


"Belum nikah, ada masalah kecil saja keluarganya melakukan pembelaan, bagaimana nanti kalau udah nikah, jiwa patriotisme sekali mereka terhadap keluarga."


"Masa satu rumah nggak ada yang sholat, Bu. Pas aku di rumahku saja si Santoloyo nggak mau sholat, padahal harusnya kan sama calon mertua tunjukkan yang baik donk. Pas di rumahnya juga ibunya sholat bareng aku cuma sekali."


"Udah pelit melilit kebirit-birit, nggak nyambung lagi kalau diajak ngomong, aku cuma ngasih contoh doang dianggap menghina keluarganya. Sembilan bulan pacaran sama dia, masa dia nggak pernah kasih barang apa kek yang buat cewek senang, coklat misalnya."


Obrolan pun terhenti saat Lula turun di Wonosari, Dia mau menyeberang sungai saja karena kebetulan sungainya lagi dangkal.


sesampai di rumah Lula langsung meregistrasi nomor HP barunya.


__________________________________________


Pengacara (Pengangguran banyak acara) yang selalu siap mengantarkan Lula kemanapun.


Izzur Rohman

__ADS_1




__ADS_2