Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#38


__ADS_3

Hari ini adalah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus entah yang ke berapa author juga lupa. 😂😂😂


Suasana nampak cerah, di sepanjang jalan dihias dengan bendera merah putih, umbul-umbul, bunga-bunga dari plastik warna-warni, lampu Tumbler, ada juga yang membuat air warna-warni yang dibungkus dengan plastik ukuran es lilin, jika malam hari terasa semarak, ini hiburan tersendiri bagi warga kampung.


Pagi ini Lula sudah bersiap-siap untuk pergi ke lapangan mendampingi siswanya mengikuti upacara bendera dalam rangka HUT Proklamasi Kemerdekaan RI.


Matahari nampak bersinar cerah, burung-burung juga masih mendendangkan nyanyian paginya, orang-orang lalu lalang sibuk dengan kepentinganny masing-masing.


Lula mengayunkan langkah santai seperti biasa menuju ke Madrasahnya di kampung sebelah, sambil menunggu orang lewat, siapa tahu ada yang memberinya tumpangan.


Tidak lama kemudian Lutfia menghentikan motornya di samping Lula, dan Lula segera naik ke atas boncengannya. Mereka mampir di MI terlebih dahulu untuk mengetahui kesiapan para peserta didiknya untuk mengikuti Upacara.


Sampai di MI, ternyata Bu Mimah dan Pak Hardi sedang sibuk meruncingkan tongkat bendera milik anak-anak. Karena buatan orang tua mereka kebesaran, jadi tidak bisa masuk lubang bendera plastik.


Sementara Pak Hardi membuatkan tongkat bendera dari bambu sisa kemah untuk anak yang orang tuanya lupa membuatkannya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya sampailah mereka di lapangan. Lapangan yang akan digunakan untuk upacara bendera berbeda dengan lapangan yang dipakai untuk kegiatan jambire. Kegiatan jambore dilaksanakan di lapangan Windu Aji, sedangkan upacara HUT kemerdekaan RI ini akan dilaksanakan di lapangan desa Dororejo. Lapangan ini terbilang masih baru.


Karena suasananya masih lengang, Lutfia membawa motornya masuk ke area lapangan dan memarkirkannya di sudut paling timur.


Upacara berlangsung khidmat meskipun panas terik matahari menyengat kulit. Upacara dipimpin oleh bapak camat setempat selaku pembina upacara.


Bu Mimah yang pulang lebih dulu menitipkan amplop uang saku guru-guru yang lain yang belum disampaikan kepada Lula, terutama milik bapak-bapak, yaitu Pak Hardi, Pak Son dan Pak Yahya. Sejak sampai di lapangan ketiga orang tersebut memang tidak kelihatan batang hidungnya.


Akhirnya Lula berinisiatif untuk mengirimkan pesan SMS saja kepada Pak Hardi


[Pak, Njenengan dimana? Mau minta amplop, tidak? Atau amplopnya buat aku saja?Tolong sampaikan pada Pak Yahya dan Pak Son]


send,


Sesaat tidak ada balasan pesan,


Cling,


[Hus, itu jatah rokok. Iya orangnya di sini semua. Ada Guru MIM juga di sini, masih muda dan ganteng, masih lajang.]


[Boleh donk, kenalin.]


send,


Cling,


[Posisi Njenengan dimana?]


[Aku sama Bu Lut, di pojok sebelah timur Utara lapangan.]


send,


Cling,


[Aku ke situ,]


Beberapa saat kemudian tampak dari kejauhan Pak Hardi dengan pakaian korpri dan ketiga temannya yang mengenakan pakaian seragam khaky Pemda yang belum ada embel-embel melekat di seragam mereka, karena mereka sama seperti Lula, sama-sama guru Wiyata Bakti.


Ketiga orang yang berpakaian seragam khaky tersebut antara lain Pak Yahya, Pak Son dan satu lagi mungkin orang dimaksud Pak Hardi dalam pesan SMS tadi.


Lula memberikan amplop titipan Bu Mimah kepada Pak Hardi, Pak Son dan Pak Yahya.


"Wah, sentimen ini, kita datang bareng kok aku sendirian yang enggak dikasih amplop sih, Bu?" ledek pak guru asing tersebut pada Lula. Lula yang diledek seperti itu sedikit gugup.


Ternyata orang yang diceritakan Pak Hardi di dalam SMSnya tersebut bukanlah orang asing karena mereka sering dipertemukan dalam kegiatan KKG, namanya Amin Fadholi. Dia memang tampan dan memiliki postur tubuh tinggi, tingginya kira-kira 180 cm.


"Njenengan minta sama Bu Rubaiyah ya, Pak. hehe.." sahut Lula meringis.


"Njenengan ikut pemberkasan, Bu?" tanya Pak Amin.


"Ikut, In sya Allah besok mau mengumpulkan bareng-bareng." jawab Lula. "Lha Njenengan ikut juga?" tanya Lula.


"Tidak, aku belum genap dua tahun ngabdi." sahutnya.


"Oo.. berarti Njenengan masuk di MI seangkatan Bu Lut donk." Lula menyimpulkan.


"Bu Lut?" Pak Amin menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, sama. Aku juga belum genap 2 tahun." Bu Lut pun menyahut.


__ADS_1


Amin Fadholi (ini foto udah pakai android ya, dulu belum ada, jadi jangan pada protes kalau udah dewasa)



Lutfiatur Rohmah, Siti Mutamimah dan Tuzanah.


Upacara telah usai, semua anak didik Lula yang mengikuti upacara juga sudah dijemput oleh orang tua masing-masing, namun untuk kembali sepertinya belum bisa, karena jalanan telah penuh dengan lautan manusia, sepeda motor hingga mobil, mereka sama-sama ingin segera pergi meninggalkan lapangan.


Mereka mengobrol sambil menunggu lapangan mulai lengang.


"Ayo, Mbak." ajak Lutfia yang sudah bertengger di atas motornya pada Lula.


"Ayo. Mari bapak-bapak, Kami pulang dulu, ya!" pamit Lula yang kemudian duduk di belakang Lutfia.


Lula waktu itu memakai baju bawahan rok span panjang dengan ploy di belakang, jadi dia duduk menghadap ke sebelah kiri. Di gerbang keluar masih dipadati manusia dan kendaraan.


Di sana ada mobil puskesmas keliling yang belum keluar. Lutfia berhenti di samping mobil puskesmas keliling tersebut sambil menunggu mobil yang berada di jembatan bergerak pergi.


Di antara lapangan dan badan jalan terdapat saluran irigasi, untuk menghubungkan antara lapangan dan badan jalan dihubungkan dengan jembatan kecil, tetapi itu bukan jembatan, lebih tepatnya hanya 2 buah suling, di sisi kiri dan kanannya juga tidak ada pembatas.


Tidak sabar menunggu lama, mobil yang berada di gerbang keluar itu tidak bergerak juga, Lutfia memajukan motornya karena di samping kanan mobil ada sedikit celah untuk lewat.


Sampai disamping kanan mobil ternyata tidak bisa keluar juga, akhirnya berhenti disana. Tiba-tiba motor yang dikendarai Lutfia miring ke kanan. Lula yang duduk menghadap ke samping kiri tiba-tiba lolos ke bawah.


Brugg...


Kecopar


"Aduh.." seru Lula yang jatuh terjerembab ke saluran irigasi, baru disusul Lutfia dan motornya.


Orang-orang berseru, "Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un!"


Bapak-bapak yang melihat kejadian itu segera berlari untuk mengangkat motor dan menolong mereka, tak ketinggalan Pak Hardi dan Pak Amin yang berada di belakang mereka.


Ternyata saat menghentikan motornya, Lutfia hendak menginjakkan kaki kanannya di tanah, namun di situ tidak ada tanah untuk berpijak, akhirnya kaki tersebut langsung ke bawah.


Beruntung tidak ada batu di sana, hanya tanah lumpur dan rerumputan serta air yang mengalir. Baju Lula basah dan kotor oleh lumpur. Setelah badannya ditarik oleh seseorang untuk berdiri.


Lula memperhatikan sekitar, ternyata sekarang dirinya jadi pusat perhatian.


Duh, kenapa jatuhnya di saat ramai seperti ini sih, batin Lula.


"Bisa Jalan nggak, Bu Lula?" tanya Pak Hardi, "Betah banget di situ, ayo naik!" Pak Hardi mengulurkan tangannya, Lula menyambutnya dan ditarik ke atas oleh Pak Hardi.


"Kita ke rumah itu yuk, Mbak!" ajak Lutfia menunjuk sebuah rumah terdekat dari lapangan. "Kita pinjam baju sama Mbak Ratna ,"


Itu kan rumahnya Warjo, dulu tetangganya Laely. gumam Lula.


Lula dan Lutfia berjalan kaki mendatangi rumah yang paling dekat dari lapangan dengan pakaian yang kotor dan basah. Sementara motor Lutfia dibawa oleh Pak Hardi mengikuti mereka.


Suasana di rumah tersebut sangat ramai, sanak saudara penghuni rumah juga banyak yang berdatangan. Sekilas Lula melihat Iyan juga berada di ruang tamu. Rumah itu terbilang besar untuk ukuran orang kampung.


Lula dan Lutfia menuju ke pintu samping yang juga terbuka,


"Assalamu'alaikum," ucap Lutfia dan Lula.


"Wa'alaikumussalam," Utami, adiknya Warjo keluar menemui. "Ee..... Mbak Lut, Mbak Lula, masuk, Mbak." ajaknya.


"Mbak Ratnanya ada? Pakaian kami kotor dan basah, kamu mau pinjam pakaian ganti." ungkap Lutfia.


"Eh, iya, kenapa bisa kotor begitu, Mbak?" tanya Utami.


"Kami jatuh di depan lapangan barusan," jawab Lula.


"Sebentar ya, Mbak. Aku panggilkan Mbak Ratnanya." pamit Utami yang menghilang dari balik pintu.


Tak selang lama, muncul sang pemilik rumah.


"Eh, Mbak. Mari masuk jangan di situ." Ucapnya.


"Maaf, baju kami basah dan kotor, Mbak. Kami mau pinjam baju ganti." ungkap Lutfia.


"Masa mau ganti baju di luar, mari masuk lewat pintu belakang nggak apa-apa." bujuk Mbak Ratna.


Ternyata Mbak Ratna tidak cuma cantik, tetapi dia baik dan ramah. Merekapun masuk dan menunggu tuan rumah mengambilkan baju untuk mereka di depan toilet belakang.


Beberapa saat kemudian Ratna datang membawa dua helai baju atasan menghampiri Lula dan Lutfia yang sedang berdiri menunggunya di depan toilet belakang.

__ADS_1


"Ini baju atasannya, atau sama bawahannya?" tanya Ratna sambil menyerahkan baju yang dipegangnya pada Lula dan Lutfia.


"Atasan saja nggak apa-apa, Mbak. Maaf merepotkan." sahut Lutfia.


"Yakin kamu? Rok kamu kotor gitu." tanya Lula.


Lutfia membuka roknya.


"Legging dalamanku masih bersih kok, nggak apa apa sementara." Sahut Lutfia. "Aku yang ganti baju duluan ya, Mbak." pamitnya kemudian masuk ke dalam toilet.


Lula menunggu, baju bawahan Lula memang tidak separah kotornya dengan baju bawahan Lutfia.


Setelah mengganti baju, Lula dan Lutfia berpamitan kepada pemilik rumah, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih. Mereka menuju ke halaman rumah, Pak Hardi masih setia menunggu di sana.


"Masih bisa bawa motornya nggak, Bu Lut?" tanya Pak Hardi pada Bu Lut.


"In Sya Allah masih bisa, Pak." jawab Bu Lut.


"Ada yang sakit, Nggak Bu Lut, Bu Lula?" tanyanya lagi.


"Nggak ada, enggak tahu juga nanti." jawab Lula.


"Aku heran, tadi kan ada mobil puskesmas keliling, kenapa nggak ada orang yang mendekat menolong, dilongok kek parah atau tidak yang kecelakaan." gerutu Pak Hardi.


"Sudahlah, Pak. Yang penting aku dan Mbak Lula nggak apa-apa, nggak ada yang luka." redam Bu Lut.


"Nanti siang langsung cari tukang urut saja, takutnya sekarang belum terasa sakit, besok malah nggak bisa gerak." saran Pak Hardi.


"Iya, kami pulang duluan ya, Pak. Terimakasih." pamit Lula


Lutfia membawa motornya meninggalkan rumah tersebut, begitupun Pak Hardi.


Sesampai di rumah, Lula langsung membersihkan badannya dan berganti pakaian, kemudian ia merebahkan tubuhnya di kamarnya. ia hanya keluar untuk sholat dan makan, kemudian rebagan lagi.


Kira-kira pukul empat sore saat Lula masih rebahan di kamarnya, tiba-tiba Lutfia sudah muncul di pintu kamarnya. Lula menoleh,


"Mbak, aku sama Pak Hardi mau pijat di tempatnya De Rumi, Mbak Lula mau ikut, tidak?" tanyanya.


"Kayaknya aku nggak apa-apa, nggak ada yang sakit. Aku nggak ikut ya." sahut Lula.


"Bener nggak apa-apa? takutnya sakitnya malah baru muncul besok pagi." tutur Lutfia.


"Aku nggak usahlah, lagian aku belum pernah diurut, takutnya setelah diurut malah badanku tambah sakit semua." terang Lula.


"Yaudah, aku tinggal ya." pamit Lutfia.


"Iya." sahut Lula.


Lutfia pun pergi meninggalkan kamar Lula.


Sepertinya sudah cukup untuk Lula rebahan, Lula keluar, penasaran dengan suara-suara yang didengarnya sejak tadi.


Ternyata di halaman rumah Mbah Tari sedang diadakan perlombaan untuk anak-anak dalam rangka memeriahkan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. Lomba tersebut Antara lain makan kerupuk, joget jeruk, membawa kelereng pakai sendok, pentung air, memasukan pensil ke dalam botol, dan yang paling menarik adalah lomba menangis.


Lula mendekat,


Berita tentang jatuhnya Lula ternyata sudah tersebar sampai ke telinga Mbah Tari. Wah Lula viral donk.


Saat Lula duduk di teras rumah Mbah Tari, beliau mendekat.


"Tadi kata Lek Rudin Kamu jatuh di got?" tanya Mbah Tari.


"Bukan di got Mbah, itu saluran irigasi, airnya bersih kok. Lula baik-baik saja kok." jawab Lula sambil memamerkan badannya melenggak-lenggokkan ke kiri dan ke kanan.


"Baju yang tadi kamu pakai di mana?" tanya Mbah Tari lagi.


"Kan kotor, Mbah. Ya aku rendam pakai sabun cuci." jawab Lula.


"Jangan direndam, harusnya tadi kamu sobek-sobek langsung pakai gunting kemudian lempar ke sungai untuk membuang sial." tukas Mbah Tari.


"Iya, Mbah. Nanti aku buang." Jawab Lula tidak ingin berdebat dengan simbahnya.


Waduh, Simbah. Itu kan baju seragam khaky Pemdaku satu-satunya, dan masih bagus. Aku juga belum punya uang untuk membeli yang baru lagi, memangnya artis apa gonta-ganti baju. batin Lula.


Jalan-jalan ke taman ria,


di sana masih ada petugas bersih-bersih,

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya,


Semoga suka dan terimakasih.


__ADS_2