
Erania dan Dito kini berada dalam pesawat menuju rumah Erania di kampung. Setelah dari kampus meraka pulang ke rumah untuk berganti pakaian lalu menuju bandara.
Hanya Dito yang menemani Erania pulang karena Caca harus mengikuti ujian besok. Selama Dito pergi maka semua pekerjaan akan di kerjakan oleh Dimas. Nyonya dan Tuan Wardana baru akan Kembali besok hari karena pekerjaan mereka yang tidak dapat ditinggalkan.
Sepanjang perjalanan Erania hanya terdiam, sesekali ia mengusap air matanya yang tidak berhenti. Dito merasa sedih melihat kondisi Erania. Seharusnya hari ini menjadi hari bahagianya, tapi takdir berkata lain.
“Makanlah terlebih dahulu” ucap Dito sambil menyodorkan makanan yang diantar oleh pramugari. Erania hanya menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana kamu akan punya tenaga, ingat adikmu butuh kamu di saat seperti ini” Erania kemudian membuka mulutnya untuk makan. Dito dengan telaten menyuapi Erania sampai makanan yang ada habis.
Entah sikap dari mana yang ditunjukkan oleh Dito, ini pertama kalinya ia menyuapi orang lain selain mamanya.
Setibanya di rumah yang kini dipenuhi oleh pelayat, Erania melihat adiknya berlari menghampirinya. Vano menangis dipelukan kakaknya.
“Kak, kakek, ibu dan ayah kak..hiks..hiks” Erania terdiam sambil mengusap lembut rambut adiknya. Ia kemudian mengajak adiknya masuk.
Dengan langkah lunglai Erania masuk ke dalam rumah, tubuhnya tiba – tiba lemas melihat jasad tiga orang yang sangat di sayangnya berjejer kaku di depannya. Dito yang berada di belakang Erania langsung menahan tubuhnya.
Di samping jasad kakek dan kedua orang tuanya terlihat Vian adik Erania duduk dengan air mata yang juga terus jatuh.
Melihat kakaknya telah tiba, Vian datang menghampiri kakaknya dan memeluknya. Mereka bertiga larut dalam kesedihan yang begitu dalam.
__ADS_1
Semua pelayat yang melihat begitu sedih melihat mereka bertiga. Hati siapa yang tidak akan hancur ditinggalkan oleh orang disayang tanpa pamit. Tidak ada yang memberi mereka kekuatan karena sumber kekuatan itu justru Bersama – sama pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Kakek, ayah, dan ibu kenapa kalian tega meninggalkan Nia sendiri? Bagaimana Nia bisa menjaga dik – adik Nia ? Kenapa kalian tega bohongin Nia? Bukankah ibu sudah janji akan datang ke acara
wisudaku? Ucap Erania dalam hatinya sambil terus memeluk kedua adiknya.
Erania lalu mengambil sebuah tropi dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas kepala ayah dan ibunya “ibu ini kejutan Nia buat kalian, Nia menunggu ayah dan ibu datang buat liat Nia menerima ini dari kampus. Apa kalian tahu, ini hasil perjuangan doa kalian untuk Nia” Erania kemudian tersenyum, di situ tertulis Wisudawan Terbaik.
Sekali lagi hati Dito begitu pilu melihat mereka bertiga. Dito yang baru mengenal Erania tidak dapat berbuat apa.
Hari menjelang sore, karena sudah tidak ada lagi keluarga yang ditunggu maka jenazah akan segera di makamkan.
Erania yang juga begitu terluka harus menenangkan kedua adiknya. Beruntung ada Dito yang juga bisa membantunya.
Langkah Erania dan kedua adiknya begitu berat, mereka bertiga harus mengantar orang yang sangat mereka sayangi untuk pergi ke peristirahatan mereka yang terakhir. Ini adalah pertemuan terakhir mereka.
Kematian akan menghampiri semua orang dengan cara dan waktu yang tidak pernah kita duga, tapi setiap kematian selalu menorehkan luka tersendiri bagi orang – orang yang ditinggalkan.
Tangis Erania dan kedua adiknya kembali pecah saat para penggali kubur mulai menutup jasad dengan tanah. Sungguh ini terlalu berat dirasakan oleh mereka bertiga.
Setelah selesai pemakaman, para pelayat mulai meninggalkan tempat itu. Kini yang ada hanya Erania, kedua adiknya dan juga Dito. Mereka duduk mengelilingi makan itu. Tanpa kata, mereka hanya menangis.
__ADS_1
Saat hari mulai gelap, Dito menajak Erania dan adik – adiknya untuk pulang ke rumah.
“Ayo pulang, ini sudah gelap” ajak Dito sambil memegang tangan Erania.
Erania menatap Dito “ Aku masih ingin di sini tuan” balas Erania.
“Tapi kau akan sakit, kau terlalu lelah hari ini. Kalau kau sakit adikmu pasti akan sangat kuatir. Besok kan kamu masih bisa datang ke sini” lanjut Dito.
Erania sesaat terdiam, kemudian ia bangkit dan mengajak kedua adiknya untuk pulang.
Setibanya mereka di rumah, mereka langsung membersihkan diri dan kemudian ke kamar orang tua mereka. Dito ingin mengajak mereka makan malam namun situasinya tidak memungkinkan.
Dito akhirnya memilih untuk ikut bergabung dengan Erania dan kedua adiknya. Kedua adik Erania akhirnya tertidur karena kelelahan. Erania yag melihat kedua adiknya tertidur kemudian menyadari kehadiran Dito di ruangan itu.
“Maaf tuan, aku jadi melupakan anda. Tuan pasti lelah, silahkan beristirahat di kamar adik ku” Erania kemudian mengantar Dito ke kamar adiknya.
“Silahkan tuan, maaf kalau kamarnya membuat tuan tidak nyaman”
“Terima kasih, jangan lupa istrirahat. Kamu harus kuat demi adik – adikmu” Erania mengangguk kemudian meninggalkan Dito di kamar adiknya.
Erania masuk Kembali ke kamar orang tuanya. Melihat kedua adiknya yang terlelap membuatnya Kembali menitik kan air mata “Ibu, Ayah, apa yang harus Nia lakukan sekarang”
__ADS_1