
Pagi ini matahari bersinar cerah, angin bertiup menarikan dedaunan, di atas sana burung-burung terbang bebas dengan background bentangan langit biru dan awan putih. Gemericik suara air sungai begitu menenangkan fikiran.
Matahari merangkak naik berada di 45° arah timur, waktunya istirahat pertama baru dimulai.
"Wah, sudah ada camilan banyak sekali. Siapa yang bawa?" tanya Pak Yahya heran melihat banyak makanan, karena seringnya garing.
"Kalau nggak salah Bu Lula tadi yang naruh." sahut Pak Hardi.
"Oh, ya. Sepertinya tadi malam dia dapat sangsangan. Soalnya di rumah tadi malam juga ada yang bagi jajan." Tutur Pak Yahya.
Tiba-tiba HP Pak Hardi berdering, ada panggilan masuk dari Pak Furqon pegawai kantor Kementerian Agama. Pak Hardi menekan tombol hijau dan mendekatkan HP nya ke telinga.
"Halo, Assalamu'alaikum, Pak Furqon." sapa Pak Hardi.
"Wa'alaikumussalam, Pak Hardi. Njenengan ngajar di MIS Wringinagung ya, Pak?" jawab serta tanya Pak Furqon di ujung telepon.
"Iya, Pak. Sebelumnya saya di MIN, apa saya mau dimutasi lagi?" terka Pak Hardi bercanda.
"Hehehe, senang bener dimutasi. Tolong sampaikan sama Bu Lula dan Pak Yahya bahwa besok lusa ada penyerahan SK CPNS di kanwil Kemenag provinsi Jawa Tengah di Semarang, dan besok siang pukul 14.00 WIB ada pembekalan pemberangkatan di Aula Kemenag." papar Pak Furqon.
"Alhamdulillah, akhirnya turun juga. Terimakasih, Pak. Infonya. Nanti in sya Allah saya akan sampaikan. Salah satu orangnya sudah mendengar ini." jawab Pak Hardi.
"Alhamdulillah," ucap syukur Pak Yahya.
"Iya sama-sama, Pak Hardi. Maaf saya titip infonya ke Njenengan karena saya belum punya nomor telepon mereka berdua. Nanti info nya yang lebih jelas saya kirim via SMS ya pak." tutur pak Furqon.
"Tidak apa-apa, Pak. Justru saya senang menjadi orang yang lebih dulu tahu info ini daripada mereka berdua." seloroh Pak Hardi.
"Ya sudah, Pak. Saya mau kasih info ke yang lain. Sekali lagi terimakasih, Pak." pamit Pak Furqon.
"Iya Pak, monggo." sahut Pak Hardi.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Tut tut tut..
Lula masuk ke dalam ruangan, duduk dan meneguk tehnya.
"Bu Lul, mimpi ketiban durian ya?" tanya pak Hardi membuka pembicaraan. "kok bisa barengan ya datengnya jodoh, rejeki___"
"Stop!" Lula memotong ucapan Pak Hardi karena takut mendengar kata yang ketiga setelah jodoh dan rejeki. Seperti yang biasa didengarnya 'Jodoh rejeki mati itu urusan Allah.'
"Kenapa distop?" tanya Pak Hardi bingung. "Mau dengerin info bagus nggak nich?" tanyanya.
"Info apa?" tanya Lula agak cuek dengan orang yang biasanya cuma bercanda.
"Barusan aku dipelpon sama Pak Furqon pegawai kantor Kemenag, Njenengan sama Pak Yahya SK CPNSnya sudah turun. Besok lusa tanggal 21 November penerimaannya di kanwil dan besok jam dua siang ada pembekalan pemberangkatan di aula kantor Kemenag." Papar Pak Hardi.
"Beneran ini, Pak Yahya? Alhamdulillahirobbil 'alamiin," tanya Lula masih belum bisa percaya.
"Benarlah, Bu Lula." jawab Pak Yahya.
__ADS_1
"Jangan lupa syukurannya lho, Bu." Pak Hardi kembali mengingatkan.
"Jangan khawatir, Pak. Nanti kalau sudah terima gaji, hehehe." Sahut Lula.
Syukuran darimana coba, buat bayar ongkos bisnya ke Semarang saja bingung mau pinjam siapa. Lula berkata dalam hati.
"Tapi jangan bakso, Durian ya." pinta Pak Hardi ngelunjak.
"Sipp, don't worry." sahut Lula santai, padahal dalam hati ia meringis.
Lula meraih HPnya, sudah ada beberapa pesan di sana. Salah satunya dari Mas Husnan.
K2
[Lula, SK CPNS kamu udah turun, penerimaan SK besok lusa tanggal 21 November, besok siang jam 2 pembekalan pemberangkatan di aula kantor Kemenag.]
Lulapun mencari kontak Atif.
Pi2h Cynk
[Pih, alhamdulillah SK CPNS ku udah turun, Besok lusa penerimaan SK di Semarang. Besok siang anterin aku ke Kajen ya, ada pembekalan pemberangkatan.]
send,
Belum ada balasan SMS dari Atif, Lula kembali melanjutkan kegiatannya. Hingga ia sampai di rumah pun Atif belum membalas pesannya. Mungkin dua tidak punya pulsa, atau mungkin dia lupa punya HP, atau mungkin dia lupa kalau sudah punya tunangan.
Fikiran-fikiran buruk pasti muncul kalau seseorang tidak membalas pesan yang kita kirim. Apalagi jaman old, kita cuma bisa tahu pesan kita terkirim atau tidak terkirim. Berbeda dengan jaman Now, kita bisa tahu pesan yang kita kirim telah dibaca oleh penerima pesan atau belum.
Aura bahagia terpancar dari wajah Lula. Lula bersyukur, meskipun terlambat jodoh dan karir akhirnya mendekat juga. SK CPNS dengan ijazah SMA, dapat apa ya? Mudah-mudahan cukup untuk melunasi tabungan siswa yang selama ini selalu raib bika sampai di tangannya.
Sehabis sholat maghrib Lula masih betah duduk bersimpuh di atas sajadah. Bukan dzikir yang dilakukannya saat ini, tetapi dia masih asik berselancar dengan lamunannya.
"Mbak, HP nya bunyi!" teriak unsul dari dalam tiba-tiba.
Secepat geluduk Lula melepas mukena yang membalut tubuhnya, dan bergegas mengayunkan langkah menuju kamar tempat ia menaruh HPnya.
Lula meraih HP tersebut dari atas meja, tertera tulisan Pi2h Cynk memanggil di sana. Matanya berbinar-binar. Ia menekan tombol hijau lalu mengangkatnya, menempelkan di telinga.
"Assalamu'alaikum," sapa Lula.
"Wa'alaikumussalam, Mimih." jawab Atif di ujung telepon.
"Kok nggak bales SMS ku?" tanya Lula protes.
"Maaf, Mi. Tadi Pipih kerja lupa bawa HP, baru pulang mepet magrib." jawab Atif.
"Kerja apa kok sampai mau Maghrib?" tanya Lula.
"Ikut Pak Lekku mengaspal jalan. Jam berapa berangkat ke Kajennya?" jawab Atif lalu kembali bertanya.
"Jam setengah dua siang, kalau Pipih kerja nggak usah lah. Biar Mimih minta antar sama Izur." jawab Lula mengoreksi permintaannya yang di SMS. Lula jadi merasa tidak enak sendiri.
"Nggak apa-apa, Pipih akan antar." janji Atif.
__ADS_1
"Ok dech, berarti enggak kerja lagi donk gara-gara mimih." sesal Lula.
"Nggak apa-apa, kerja bisa besok lagi." sahut Atif. "Oh ya sampai lupa Pipih, selamat ya. Akhirnya di angkat PNS juga, alhamdulillah." imbuhnya mengucapkan selamat.
"Terimakasih, Pipih. Terimakasih juga udah mau nganterin Mimih besok. Tapi belum PNS, baru Calon. Mana ada PNS yang mau ngangkat Mimih?" seloroh Lula.
"Tapi Mimih mau kan diangkat sama pekerja kasar?" tanya Atif.
"Maulah kalau udah qobbiltu dan sah," jawab Lula.
"Mimih belum makan, kan?" tanya Atif lagi.
"Belum, kan pipih telpon Mimih masih sholat." jawab Lula.
"Ya udah makan sana, tutup telponnya." suruh Atif.
"Bilang saja udah bosen dengar suara Mimih." sungut Lula.
"Hehe, soalnya Pipih juga lapar belum makan." ucap Atif memberi alasan.
"Ya udah makan sana, Assalamu'alaikum." suruh Lula menirukan ucapan Atif saat mengakhiri panggilan.
"Wassalamu'alaikum," jawab Atif. Atif menutup panggilannya.
Tut tut tut..
🌸🌸🌸🌸🌸
Pukul setengah dua siang Atif sudah standby duduk di ruang tamu kediaman Lula, menunggu Lula berdandan.
"Ayo berangkat!" ajak Lula yang baru keluar dari kamarnya.
"Sudah siap kan, nggak ada yang ketinggalan?" tanya Atif memandang Lula memastikan.
"Kayak mau pergi jauh saja, yang penting kan punya pegangan." sahut Lula sambil berjalan ke luar rumah.
"Kalau nggak punya pegangan, pinggangku siap kok." seloroh Atif saat menyalakan motornya.
"Ih, ngarep." tepis Lula mencubit pinggang atif.
Mereka meninggalkan kampung menuju ke kantor Kemenag yang ada di kecamatan Kajen melewati jalan tikus.
Tiga puluh menit berlalu sampailah mereka di tempat yang mereka tuju. Atif menunggu di tempat parkir, sementara Lula masuk ke dalam aula mengikuti pembekalan.
.
.
Ceritanya emang nggak asik,
Aku tak pandai mempercantik kisahku.
Terimakasih yang udah mau baca.
__ADS_1