Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#53


__ADS_3

Lula mengecek ponselnya, ada pesan dari Pak Yahya.


[Bu Lula, Bu Sri ijin PPL 1 hari tok, Njenengan kok 2 hari sendiri, ini guru-guru yang lain pada protes. Njenengan itu guru kelas 6 harus fokus untuk menggembleng siswa kelas 6 yang sebentar lagi mau ujian. Kata Bu Sri Njenengan mengganti jam nya pak Nasikon, tidak usah sok-sok an mengganti pekerjaan orang lain dech Bu, kewajiban njenengan dulu dilaksanakan, ini anak-anak kelas 6 terlantar jam nya njenengan tidak ada yang mengajar.]


Astaghfirullah al'adzim.


Lula segera mengirim pesan kepada Wo Roji.


[Wo, jemput aku di MTs Syahid, tolong antarkan ke MI.]


send.


Ia masih menahan emosinya untuk membalas pesan dari Pak Yahya,


Aku bukannya mau mengharapkan pamrih, tapi jadi orang mbok ya ada timbal balik, kemarin-kemarin waktu dia PPL dan KKN memangnya siapa yang mengisi jam nya dia? dia malah bablas nggak ngisi sama sekali, sedangkan aku cuma minta ijin saat ada jam mengajarku di PPL saja dipermasalahkan, benar-benar tidak ada solidernya sama teman. Lula terus mengumpat di dalam hati.


Cling


Wo Roji


[Iya.]


Lula baru akan membalas pesan Pak Yahya.


[Kalau tidak tahu duduk persoalannya mendingan tanya dulu, jangan langsung protes tidak jelas.]


Send.


[Saya mengganti jam pelajaran punya Pak Nasikon itu karena saya baru mendapat pembagian jam mengajar 2 jam saja di hari Senin dan saya butuh 2 jam pelajaran lagi, sedangkan Pak Nasikon 6 jam pelajaran, dan untuk pembuatan laporan PPL minimal 4 jam pelajaran 1 Minggu.]


Send.


[Bu Sri hanya ijin satu hari, karena dia mengajar dua kelas jadwalnya sama di hari Senin, sedangkan aku jadwalnya berbeda.]


Send.


Tidak ada balasan lagi dari Pak Yahya. Wo Roji tiba di Mata Syahid, Lula segera membonceng untuk menuju ke MIS Wringinagung, tempat tugasnya.


Sampai di MI ruangan guru masih kosong, pada pergantian jam pelajaran muncul Bu Mimah dan Bu Zanah. Lula memulai pembicaraan.


"Bu, tadi pak Yahya SMS bilang kalau guru-guru yang lain pada protes, apa benar?" tanya Lula kepada mereka.


"Protes kenapa? Kayaknya sejak tadi pagi tidak ada yang protes," jawab Bu Mimah.


Lula menceritakan tentang isi SMS Pak Yahya dan mengapa dia ijin PPL nya bisa dua hari sedangkan Bu Sri hanya satu hari, Bu Mimah dan Bu Zanah bisa mengerti karena mereka juga pernah mengalaminya juga.


"Tadi juga aku bilang sama Pak Yahya, 'Pak, waktu Njenengan PPL dan KKN dulu Bu Lula yang ngisi jam pelajaran Njenengan tanpa minta bantuan guru-guru lain, mbok gantian sekarang Njenengan yang mengisikan jam pelajarannya Bu Lula.' dia malah menjawab 'Ah, malas,' gitu," tutur Bu Zanah.


Perasaan Lula sekarang menjadi lega setelah mengutarakan semuanya.


Setelah menikah Atif tidak lagi membuka konveksi, ia membantu kakaknya Amin mengurus peternakan bebek petelur yang kandangnya berada di 3 tempat, juga mengurus sawah dan kebunnya.


Lula juga belum bisa untuk memasak sendiri selama sebulan menikah, karena peralatan masaknya belum lengkap, peralatan dapur sebelumnya milik Mbak Imah sudah diboyong semua ke rumah barunya, jadi selama sebulan ini dia mengumpulkan peralatan memasak dan perabot lainnya.

__ADS_1


Lula membeli kompor gas dengan cara kredit 10 kali angsuran pada tukang kredit, kemudian membeli magic com, panci dan peralatan memasak lainnya.


Selama sebulan pula pasangan pengantin baru ini makan tidak tentu tempat, kadang di tempat Mbak Rah, kadang di tempat Mbak Imah, kadang di warung makan dan kalau malam lebih sering makan di warung lesehan sego megono yang banyak berderet di depan pasar dan di pinggir jalan.


Suatu hari Jum'at Lula tidak berkunjung dan menginap di rumah ibunya. Karena pohon duriannya sedang berbuah, Atif mulai sibuk mengurusi duriannya.


Pukul lima pagi Atif sudah keluyuran di kebun, dia pulang cuma untuk mengetahui sang istri masak apa hari ini. Atif berdiri di ambang pintu dapur. Lula yang sedang mengupas bawang, menyadari seseorang sedang memperhatikan, iapun mengangkat wajahnya yang menunduk.


"Masak apa, Nya?" tanya Atif pada Lula. Lula kaget karena panggilan Atif padanya bertambah kosakata.


"Hah? Enggak masak apa-apa. Cuma mau buat sambal," jawab Lula.


"Ada ikan asin, kan?" tanya Atif lagi.


"Iya, adanya memang cuma ikan asin," jawab Lula lagi.


"Ikan asinnya digoreng ya! Nanti bawa sama nasi dan sambalnya ke sawah, pipih petikin petai. Pipihau nggencangi durian."


Nggencangi : mengikat buah durian dengan tali rafia bagian pangkalnya diikatkan ke ranting atau ke batang supaya saat tangkai durian terlepas karena matang tidak jatuh ke tanah, melainkan menggantung di pohon. Kalau ke jatuh ke tanah pasti diambil orang lain.🤣🤣🤣


"Iya," sahut Lula.


Atif pergi kembali ke sawah. Lula melanjutkan pekerjaannya. Setelah sambal terasi jadi dan ikan asin goreng matang, Lula menuangkan nasi ke dalam baskom kecil, ia taruh centong di atas nasi tersebut.


Nasi beserta lauknya dimasukan ke dalam tas anyam yang biasa dipakai buat belanja. Sedangkan minumnya, Lula membawa satu cerek kecil air putih.


Oh iya, sekedar info, Atif itu tidak suka dengan makanan basah yang diwadahi dengan perabot dari bahan plastik. Dia hanya mau memakan makanan yang tidak dibungkus plastik, seperti piring beling, kaca, aluminium, stainless steel atau daun.


Lula menjinjing tas nya keluar dari rumah melangkah melewati jalan setapak. Hingga sudah dekat dengan sawah, sudah kelihatan pohon durian yang besar di pinggir sawah.


Sampai di sawah Lula meletakkan tasnya di bawah pohon pisang. Ia menunggu suaminya sampai selesai dengan pekerjaannya dan turun untuk sarapan.


Karena menunggu lama, Lula melepas sandalnya dan masuk ke dalam sawah yang ditanami padi, di area yang ada di bawah pohon durian, tanaman padinya disitu tidak subur namun banyak genjer tumbuh di situ dan masih muda-muda.


Lula memetik batang genjer hingga 2 ikat, tapi Atif belum turun juga. Lalu ia memetik 3 batang daun pisang, digelarnya di tanah yang datar untuk alas tiduran.


Hembusan angin yang menerpa dedaunan hinggap di tubuh Lula membuat ia terlena hingga terlelap tidur beralaskan daun pisang tersebut beberapa menit.


Atif masih saja sibuk dengan galah bambu dan tali rafiah yang menggelayut di pinggangnya. Berpindah-pindah dari dahan yang satu ke dahan yang lain bak seekor tupai.


Lula membuka matanya kembali dan mengambil posisi duduk, tetapi Atif belum juga turun. Atif nampak berpindah dari pohon durian ke pohon petai karena letaknya berdekatan, di sana dia memetik beberapa tangkai petai, kemudian turun dari pohon petai tersebut.


Atif meletakkan petai yang ia petik di depan Lula. Sementara menunggu Atif yang sedang mencuci tangan di sungai, Lula membuka nasi beserta lauk-pauknya dari dalam keranjang tasnya.


Atif kembali ke tempat Lula dengan membawa selembar pucuk daun pisang. Kemudian ia menggunakan pucuk daun pisang yang ia bawa sebagai alas nasi yang akan ia makan.


"Aku bawa piring dua buah, Pi," tutur Lula memberi tahu Atif.


Atif meletakkan pucuk daun pisang tersebut di atas piring yang disediakan oleh Lula, ia mengisinya dengan nasi dan ikan asin di atasnya.


"Lebih enak pakai daun pisang, bareng saja makannya sepucuk berdua biar lebih nikmat," jawabnya sambil mengupas butir-butir petai kemudian dicolek dengan sambal, langsung ia masukan ke dalam mulutnya.


Lula mengambil nasi dari tempat yang sama dengan Atif dan menyuapkan ke dalam mulutnya, terkadang mereka menyuapi pasangan masing-masing.

__ADS_1


Bahagia itu sederhana, bisa makan dengan lauk seadanya di tepi sawah ditemani oleh orang terkasih, udara yang sejuk dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi, gemericik suara air sungai yang mengalir mengalun syahdu serta burung-burung yang bernyanyi riang menambah indah suasana. Nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan Alula?


Setelah selesai makan, Atif kembali melanjutkan nggencangi buah durian di pohon yang lain, ada tiga pohon besar di sawah tersebut.


Sementara Lula menungguinya dengan memetik daun singkong trubus yang tumbuh di pinggir sawah bekas buangan batang pohon singkong. Kemudian memetik daun salam, serai dan lengkuas. Ada juga jantung pisang kluthuk yang baru muncul.


Di sebelah bawah sawahnya Atif adalah sawah milik bibinya, Lek Rom. Sawah itu ditanami sayuran seperti kangkung, ubi jalar dan sawi. Suaminya Lek Rom yang sedang memetik kangkung dan sawi untuk dijual ke pasar.


Saat Lula sedang beristirahat sambil menunggu suaminya selesai melakukan pekerjaannya. Lek Kuat, suami Lek Rom naik menghampiri Lula dengan membawa segenggam kangkung yang tidak diikat. Ia meletakkan kangkung tersebut di tanah di dekat Lula.


"Ini dimasak buat lauk, Lula," ucapnya kemudian pergi lagi.


"Terimakasih, Lek," seru Lula.


Lek Kuat datang lagi membawa segenggam sawi, dan menaruhnya di tanah di depan Lula.


"Ini buat campuran masak mi," ucapnya lagi kemudian pergi lagi.


"Waduh, terimakasih banyak, Lek. Banyak sekali."


Lula bingung dengan sayuran yang akan ia bawa pulang ke rumah yang begitu banyak, karena ia belum punya lemari pendingin untuk menyimpan sayuran-sayuran tersebut.


"Kalau tahu akan banyak sayuran begini, tadi nggak usah memetik daun singkong sama jantung pisang," sesalnya.



"Kasihan itu pohon pisang, buahnya belum jadi sudah kupetik jantungnya," ucap Lula lagi dengan menyesal. "Tapi kalau sampai jadi pisang, biasanya juga cuma dibuang, paling hanya buat campuran rujak orang hamil tujuh bulanan."


Lula menghibur hatinya dengan ucapannya sendiri, ia merasa takut mendapat kutukan dari pohon pisang klutuk yang baru nyembul jantungnya dan buahnya belum berisi sudah dipetik olehnya, bukankah itu sama saja dengan hukuman kebiri.


Sejak dulu saat Atif belum menikah, hasil kebun dipetik dan dijual oleh Mbak Rah ke pasar, dari nangka, pisang dan lain-lain tanpa memberikan hasilnya kepada Atif. Karena sejak Atif umur empat tahun sudah ditinggal ibunya untuk selamanya dan bapaknya menikah lagi, gonta-ganti pasangan, Mbak Rahlah yang mengurusi semua kebutuhan Atif.


Sekarang saat Atif sudah menikah dan punya kehidupan sendiri. Hasil kebun milik Atif tetap diambil dan dijual Mbak Rah. Tetapi mungkin ia belum terbiasa memberikan hasil penjualannya ke Atif jadi dia tidak melaporkan hasilnya kepada pemilik kebun.


Atif telah selesai nggencangi buah durian, ia turun dari pohon dan menggulung tambang besar yang ia pakai untuk mengikat tubuhnya dengan pohon. Kemudian ia berjalan menghampiri Lula.


"Ayo pulang!" ajak Atif.


Atif memasukan sayuran ke dalam keranjang, kemudian membawa tas tersebut di pundaknya. Sementara Lula membawa dua ikat daun singkong dan dua ikat daun genjer.


Atif berjalan dulu di depan sementara Lula mengikutinya dari belakang. Lula tampak ngos-ngosan berjalan di belakang Atif, karena jalan pulang menanjak naik, ditambah sinar matahari yang mulai terik menyengat, sedangkan tadi saat berangkat jalannya menurun.


.


.


.


Selamat membaca, jangan lupa like n komen.


semoga suka, tararengkiuuh 😘😘😘


baca juga karyaku yang satunya lagi ya

__ADS_1



__ADS_2