
Pada langit yang semakin membiru
Gugur daun telah mengembus
Pertanda musim telah terganti
Pertanda dikau tetap ternanti
Pada hari di mana cerah menyengat retinaku hingga terkedip
Namun yang terhati tetap saja ternanti
Bait Hari by Nur Hafizqi
Hari ke delapan di bulan Syawal di Pekalongan di sebut dengan istilah Syawalan, inilah Lebaran yang sesungguhnya bagi warga masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Setelah menjalankan puasa sunnah selama enam hari setelah hari raya Idul Fitri yaitu tanggal 2 sampai dengan tanggal 7 Syawal mereka kembali merayakan kemenangan ke dua ini.
Tradisi ini sudah turun-temurun sejak jaman nenek moyang kita, tiap sudut membuat ciri khas daerah masing-masing, seperti lupis raksasa yang dibuat oleh warga Krapyak Kota Pekalongan, Gunungan atau tumpeng raksasa yang berisi nasi megono di Taman wisata Linggo Asri Kajen, ada juga getuk lindri terpanjang yang dibuat oleh warga masyarakat Desa Ambukembang Kedungwuni, dan masih banyak yang lainnya.
Siang hari bakda dhuhur Atif sudah duduk di kursi ruang tamu rumah Lula. Pemuda yang memakai celana bahan panjang warna mocca dan kaos berkerah warna putih garis-garis di bagian punggung dan dada serta terdapat tulisan 1990 di bagian dada dan punggungnya, mungkin tahun kelahirannya, atau mungkin saja dia hanya asal beli.
Dengan setia ia menunggu Lula berdandan.
Perempuan kalau dandan lama bener, keluarnya jadi apa coba. gerutu Atif.
Setelah menurut Atif lama, yang ditunggu pun keluar juga.
"Lama amat, sih," protes Atif.
"Sepuluh menit doang, lama dari Hongkong." sahut Lula tidak terima.
"Belum makan siang 'kan?" tanya Atif.
"Belum, apa mau makan dari rumah?" jawab sekaligus tanya Lula.
"Enggak usah, nanti nggak kemakan makanannya di sana." jawab Atif.
"Ayo, berangkat!" ajak Lula.
"Nggak pamit Mak e dulu?" tanya Atif yang menyempatkan diri celingukan ke belakang.
"Mak e dari tadi pagi pergi Syawalan, dia ikut rombongan ke Krapyak pakai mobil. Tadi pagi aku sudah pamit kok" jawab Lula.
"Oo.. Ayo!" ajak Atif meraih tangan Lula keluar dari rumah.
Merekapun pergi meninggalkan kampung menuju ke rumah makan dan pemancingan Kulu Asri. Tujuan dari rumah berangkat agak siangan supaya tidak terlalu ramai, ternyata sampai di sana suasana masih tetap ramai.
Tempat parkir kendaraan yang semula berada di dalam ternyata sekarang baru sampai lokasi sudah distop oleh tukang parkir.
"Aku pesan dulu, kamu mau minum apa, pih?"
Lula bertanya pada Atif saat sampai di depan kasir dan tempat pemesanan, karena jika menunggu pelayan saat sampai di meja makan mungkin akan sangat lama karena suasana sangatlah ramai.
"Es jeruk saja, aku cari meja yang kosong." Sahut Atif.
"Siip,"
__ADS_1
Lula menghampiri tempat pemesanan, masih nunggu antrian, walaupun pelayannya ada 3 orang yang melayani pemesanan.
"Mbak, saya mau pesan paket 2, 2 porsi tepi minumannya diganti es jeruk ya." Lula berucap sambil menunjuk ke buku menu kepada pelayan.
"Eh.. Maaf, Mbak. Untuk paket 2 sementara kosong karena ikan yang enam ons sudah habis." jawab pelayan.
"Adanya apa saja, Mbak?"
"Ikan gurami yang paling kecil adanya yang 10 ons, Mbak. Itu cukup untuk 2 orang." jawab pelayan.
Wadoh...belum apa-apa udah seikan berdua. batin Lula.
"Jadi gimana, Mbak? Atau mau pesan paket yang lain?" tanya pelayan.
"Enggak itu saja, Mbak. Gurami bakar satu, minumnya es jeruk, tambah tempe mendoan 6 ya." jawab Lula.
"Oke, ada lagi?"
"Sambalnya mentah ya mbak." pinta Lula.
"Sambal mentah, sip." ucap palayan sambil menulis pesanan, "Di antar ke meja mana ya, Mbak?" tanyanya lagi.
"Itu Mbak, saung yang menghadap ke arah Utara yang ada cowok pakai kaos putih." ujar Lula menunjuk ke arah keberadaan Atif.
"Oh, itu patin 2, Mbak. Atas nama siapa ini Mbak?"
"Atas nama Atif ya, Mbak." jawab Lula.
"Baik, silahkan di tunggu di meja patin 2 ya, Mbak."
"Ikan gurami nya habis yang untuk paket, Pih. Adanya yang berat 1kg, jadi cuma pesan satu buat berdua, enggak apa-apa kan?" lapor Lula pada sang kekasih.
"Nggak apa-apa, duduknya sini jangan disitu." jawab Atif sambil menepuk lantai di sampingnya.
Lula beringsut mendekat dan bersandar di dinding saung yang terbuat dari batang bambu. Rasa deg-degan dan canggung serta grogi mulai bergelayut di tubuhnya, karena ia baru kali ini tubuhnya dekat dengan Atif.
Menunggu pesanan datang juga pasti akan lama. Lulapun mengambil HP dari dalam dompetnya, dimainkannya game aquadro kesukaannya.
Lama banget sih nunggu pesenannya, lama-lama tenggorokanku garing juga nih kayak ikan bakar. Batin Lula
Tiba-tiba Atif merampas HP dari tangan Lula.
"Jauh-jauh ke sini cuma main HP, mendingan di rumah." gerutu Atif.
"Bosen," sahut Lula.
"Madep sini biar nggak bosen," suruh Atif.
Lula hanya tertawa ringan tersipu malu.
"Kok malah tertawa, ayo madep sini!" ujar Atif lagi.
Lula hanya menatap sekilas kemudian ia membuang lagi pandangannya ke depan memandang jauh ke depan orang-orang yang sedang memancing ikan di empang, ia kini memainkan jari-jari kedua tangannya.
Lagi-lagi Atif merampas apa yang menjadi mainan Lula, ia kini merampas tangan kanan Lula, digenggamnya tangan kanan Lula dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus-elus dan memainkannya.
__ADS_1
Jantung Lula kembali berdebar, hawa panas dingin menjalar ke sekujur tubuhnya. sekarang dia sudah tidak bisa memainkan apapun kecuali membalas genggaman tangan dari Atif.
"Akhirnya aku bisa menggenggam tangan ini," ungkap Atif. "Dulu aku sempat putus asa saat mendengar kamu pacaran dengan wong Tegal." tuturnya.
"Mimih, aku mau tanya tolong jawab jujur. Apa kamu pernah melakukan hubungan badan dengan wong Tegal?" tanya Atif dengan nada serius.
Mendapat pertanyaan seperti itu hati Lula seakan disentil.
Memangnya kamu pikir aku cewek apaan?
Lula menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Lula memalingkan wajahnya menatap orang yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Jujur, demi Allah kami hanya berciuman." jawab Lula mantap.
"Bukankah kamu sempat beberapa kali menginap di rumahnya?" tebak Atif lagi masih mencoba menjebak Lula siapa tahu keceplosan.
"Dua kali aku nginap di rumahnya, di sana aku tidur sekasur dengan Izur, kalau kamu tidak percaya bisa tanya sama Izur." tutur Lula.
"Orang gila itu memang beberapa kali membujukku, tetapi Alhamdulillah aku bisa melarikan diri darinya. Demi Allah aku belum pernah melakukan hal tersebut dengan orang gila itu atau siapapun." ungkap Lula lagi masih menatap mata Atif.
Atif masih diam menatap mata Lula, ia mencoba mencari kebohongan disana, namun ia tidak menemukannya.
"Aku percaya padamu, dan jagalah ia baik-baik untukku hingga saat kita resmi sebagai sepasang suami istri." pinta Atif.
Tiga orang pelayan datang menghampiri saung yang mereka tempati. Lula menarik tangannya dari genggaman Atif.
"Pesanan atas nama Mas Atif?" ujar salah seorang pelayang dengan nada setengah bertanya.
"Iya, Mbak." sahut Lula.
Mereka bertiga meletakkan pesanan Lula di meja. Lula mengamati makanan-makanan pesanannya seperti ada yang salah, ternyata sambal pesanannya nggak ada karena yang datang sambal goreng, sedangkan Lula pesan sambal mentah.
"Sambal mentahnya enggak ada ya, Mbak?" tanya Lula pada Mbak pelayan.
"Maaf, Mbak. Saking banyaknya pesanan jadi belum sempat ada yang membuat sambal pesanannya Mbak." jawab salah satu dari mereka memohon maaf atas pelayanan mereka.
"Oo.. ya udah, ini juga tidak apa-apa, Mbak."
Ketiga pelayanpun pergi meninggalkan meja tersebut. Lula mengambil salah satu piring anyaman lidi kelapa yang sudah dialasi dengan daun pisang dan menuangkan nasi di sana meletakkannya di depan Atif, kemudian baru mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka menikmati makanan yang sudah terhidang di meja dengan lahap karena perut sudah sangat lapar, apalagi Atif sudah sampai di rumah Lula sejak jam 10 pagi. Sesekali mereka tertawa saat jari-jari tangan mereka bertabrakan ketika mengambil bagian dari ikan yang sama.
Tak hentinya Lula bersyukur kepada Allah, telah dipertemukan dengan orang yang selama ini menyayanginya.
Semoga ia adalah jodohku dan dari tulang rusuknya lah aku diciptakan. Haduh, benar nggak sih kata-kata mutiara tersebut. Mana mungkin aku diciptakan dari tulang rusuknya, sedangkan saat aku lahir, dia saja mungkin belum diprogram oleh ayah dan ibunya. 🤣🤣🤣
Terimakasih ya Allah atas nikmat yang Engkau berikan hari ini.
******************************
Ikan bakar ikan guramih,
Tinggalin jejak dan terimakasih.
__ADS_1