Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#30


__ADS_3

Masa lalu tinggalah kenangan


Bahagia dan sedih selalu beriringan


Jangan salahkan takdir yang tidak sepaham


Zat yang Maha Suci tidak pernah ingkar


Selalu memberikan yang terbaik


Walau semuanya terasa menyakitkan


Ada pesan dari sebuah perpisahan


Jodoh yang baik sedang dipersiapkan


Perbaiki diri dengan fokus pada Illahi


Biarkan Dia yang membimbing


Menuju kebahagiaan sejati


Hati tersakiti karena ikuti ego pribadi


Larutkan dalam pesan Allah semesta alam


Kedamaian di hati menyongsong sang pujaan hati


Berat rasa penantian


Terasa ringan dalam lantunan doa


Semua demi hati yang tentram


Terima segala keadaan


Tanpa perasaan berat penuh keikhlasan


Cinta sejati untuk jodoh mahkota hati


Teruslah mencari dalam usaha dan doa


Jangan berputus asa atas takdir yang diberikan


Kuatkan dalam doa, fokus mengejar cita-cita


Jangan larut dalam angan-angan yang membawa hampa


Terus Mencari Cinta Sejati by NN


______________________________________________


Kurang dari sebulan lagi pernikahan antara Nia dan Arifin akan dilangsungkan 3 hari setelah Hari Raya Idul Fitri, Satu bulan sebelum hari H sudah dipersiapkan mulai dari undangan, perias pengantin dan sewa sound system, tidak ada


wedding organizer di kampung, jadi semua dihandle oleh keluarga secara bergotong royong termasuk juga catering.


Suatu malam Dadank telfon,


"Assalamu'alaikum," sapa Lula dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.


"Wa'alaikumussalam, baru bangun kamu, Lula?" suara Dadank diujung telpon sana.


"Iya, kebangun karena telpon kamu, jam berapa sekarang?" tanya Lula.


"Masih jam tiga," sahut Dadank.


"Kamu dimana? kok rame."


"Ini lagi di masjid, biasa kalau bulan puasa rame. Kamu nggak masak jam segini baru bangun?" tanya Dadank.


"Udah sekalian tadi sore, nanti tinggal diangetin." jawab Lula.


"Gitu ya. Eh, kamu kapan kuliah di Semarang? kita ketemuan yuk!"


"Paling habis lebaran." jawab Lula.


"Iya sekarang masih libur puasa ya. Lula kirim foto donk! aku kan pengen lihat wajah kamu." Dadank memohon.


"Wajahku jelek, aku takut kamu nanti nggak mau berteman denganku." tolak Lula.


"Aku juga jelek kok, pendek, pesek, item, rambut keriting, hidup lagi." jawab Dadang.


Lula malah tertawa membayangkan sosok yang diceritakan oleh Dadank.


Hahahaha,


"Kenapa tertawa?" tanya Dadank.


"Aku nggak percaya, mana ada orang pendek dan pesek suaranya gede, jemengglung ( menggema) kayak kamu. Kamu pikir aku anak kecil apa?"


"Hehehe, terserah kamu dech, Lula. Tapi besok kirim foto ya, Please!" Dadank memohon.

__ADS_1


"Insya Allah, kalau nggak lupa. Hehehe."


"Kok, gitu sih. Awas kalau nggak dikirim, aku cium kamu kalau ketemu." ancam Dadank.


"Ih.. takut. Iya-iya adik kecil besok kukirim via MMS."


"Ck...aku nggak suka ya kamu panggil adik kecil." kata Dadank tidak terima.


"Memang kenapa? umurmu kan di bawah aku jauh."


"Nggak jauh kok, cuma enam tahun. Kamu lupa, Baginda Nabi Muhammad SAW saat menikah dengan Khadijah terpaut berapa usia mereka?" tanya Dadank.


"Iya juga sich." Lula membenarkan.


"Eh, aku udah sampai rumah nich, mau makan sahur, sampai besok ya. Jangan sampai Lupa Kirim Foto ya, Yank!"


"Yank-yank ndasmu peang," sahut Lula.


"Hahahaha..."


Eh, dia malah tertawa, hehehe... kalau si Santoloyo dibilang gitu pasti tersinggung lah, terus 'kita putus!' gitu andalannya.


"Ya udah, Yank. Assalamu'alaikum!"


"wa'alaikumussalam,"


Setelah menutup panggilan, Lula pergi ke dapur untuk menghangatkan capcay yang sudah dimasak tadi sore. Ia memutar siaran radio kesayangannya untuk mengetahui informasi imsakiyah dan untuk menemaninya selama sendirian di belakang.


Capcay sudah dihangatkan, kerupuk sudah Tada, sekarang tinggal bikin sambal dan telur dadar dan teh manis jangan lupa, udah.. selesai. Eit, tunggu! Nasinya udah ada belum? jangan-jangan lauk udah siap tapi nasinya habis, kan ambyarr.


Lula segera membuka Magicom untuk mengecek ada nasi atau tidak.


Alhamdulillah, sepertinya cukup untuk santap sahur empat orang.


Setelah semua nasi dan lauknya tertata di atas meja, Lula bergegas membangunkan ibu dan ketiga adiknya.


Mereka akhirnya menyantap menu makan sahur bersama.


🌸🌸🌸🌸🌸


Keesokan harinya, Lula meminta bantuan Usnul untung mengambil fotonya, karena HP Lula belum ada fasilitas kamera depannya, jadi dia harus meminta hentuan orang lain, karena di galery HP nya hanya berisi foto-foto bunga saja.


Lula memakai atasan Tunik warna hijau pupus dengan warna kerudung senada. Setelah berhasil mengambil beberapa foto dengan bantuan Usnul, Lula memilih dua foto kemudian dikirimkan kepada kontak Dadank melalui MMS. Beberapa saat kemudian terlihat balasan dari Dadank.


Cling


[Kamu pake jilbab ya, Yank? Aku suka cewek berjilbab, kamu cantik]


send


cling


[Maaf, HP aku jadul, Yank, nggak bisa buat kirim foto. Nanti aku pinjam HP kakakku ya buat kirim foto.]


[Yah, ternyata aku dikadalin sama anak kecil]


send


cling


[Enggak, Yank. Beneran sumpah aku nggak bohong]


[Beneran ya, nanti dikirim fotonya.]


send


cling


[Iya, janji. BTW kamu lagi ngapain, Yank?]


[Lagi bungkus-bungkus jajanan ini di rumah kakakku. Biasa menjelang hari raya suka banyak pesanan]


send


cling


[Ya udah terusin, Yank. Aku juga ngnatuk, mau tidur, bay.]


[Babay,]


send


Lula memang sedang membantu mengemas, jajanan dan kue permintaan pelanggan di toko milik kakaknya Husnan.


Kemasan besar 5 kg dibagi menjadi kemasan kecil-kecil 1/4 kg, 1/2kg dan 1 kg. itu sudah biasa dilakukan selama bulan puasa.


🌸🌸🌸🌸🌸


Hari Raya Idul Fitri telah tiba, kegiatan pagi setelah sholat idul Fitri dilaksanakan biasanya tiap keluarga membawa ketupat atau lontong lengkap dengan lauknya untuk dimakan bersama oleh kaum bapak-bapak di Mushola.


Setelah bapak-bapak selesai dengan santap lontong bersama, selanjutnya bersama anggota keluarga lain ziarah ke makam orangtua yang telah meninggal.

__ADS_1


Kira-kira pukul 10.00 WIB telah selesai ziarah baru kegiatan maaf-maafan dengan keluarga, selanjutnya meminta maaf dengan tetangga keliling kampung, bila tidak capek kadang merembet ke kampung sebelah.


Hari kedua Lula dan keluarga belum juga selesai silaturrahim ke rumah para sanak famili di desa lain bahkan kecamatan lain, tetapi sudah ditelpon yang mengabarkan bahwa di rumah sudah ada orang yang pasang layos *dan sound* system, ada juga tamu orang yang dahulu sering minta bantuan sama bapaknya.


Sampai di rumah rasanya capek, apalagi dia perginya mbonceng Usnul yang baru bisa naik motor bebek, jadi nahani egal-egolnya, bahkan tadi sempat mau nabrak pagar rumah orang waktu berangkat.


Di saat Lula sedang duduk di teras, HPnya yang dia simpan di dalam dompet yang dia pegang berdering, ada panggilan masuk, dia mengambilnya. nomor tak dikenal lagi, Lula menekan tombol jawab.


"Halo, Assalamu'alaikum!" sapanya.


"Wa'alaikumussalam, ini Lula ya?" jawab seseorang di ujung telpon, suaranya seperti pernah ia dengar.


"Iya, ini siapa?" tanya Lula lagi.


"Ini aku Atif, Kamu gimana kabarnya?" tanyanya.


"Oo..Atif, Alhamdulillah sehat. Kabar kamu bagaimana? kok baru nongol."


"Alhamdulillah sehat juga, cuma sekarang udah jadi pengacara." jawab Atif.


"Udah nggak kerja di prajegan lagi?" tanya Lula.


"Udah satu tahun di rumah saja, klayapan di sawah dan kebun orang, nyari rumput." jawab Atif.


"Wah, hebat udah punya peternakan, buat sapi atau kambing?"


"Hahaha, peternakan? gede banget kayanya sebutan itu, cuma 4 ekor kambing, itu juga yang 2 ekor ada orang yang nitip. Kamu masih ngajar di Gondorio?"


"Udah enggak," jawab Lula singkat.


"Kenapa nggak ngajar lagi?"


"Kan sekarang masih libur, mau ngajar nyamuk? hehehe.." jawab Lula.


"hahaha..ku kira udah nggak ngajar lagi."


"Memang kalau aku udah nggak ngajar kenapa?" tanya Lula.


"Kalau kamu udah nggak ngajar, ehm..nggak jadi dech." ucap Atif ragu.


"Kok nggak jadi, apa donk? jadi penasaran nich." tanya Lula.


"Yaudah dengerin baik-baik, ya! susah nih ngomongnya. Kalau kamu udah nggak ngajar, kamu mau nggak ngajarin cinta di hati aku." jawab Atif pelan sepelan keong balapan.


"hahaha... mau nggak ya?" ucap Lula sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di pipi kanannya. "Aku saja belum pernah lihat kamu." lanjutnya.


"Udah dulu ya, Lul. Aku mau nerusin kerjaanku." pamit Atif.


"Eh, ini nomor hp kamu bukan? jangan-jangan pinjam lagi." tebak Lula


"Hahaha, tepat sekali tebakanmu, ini punya keponakanku, jangan hubungi ke nomor ini ya! tunggu aku saja yang hubungi kamu."


"Nunggu kamu telpon keburu umurku tua, dua tahun baru telpon lagi. oh ya, kok kamu bisa tahu nomorku, padahal ini nomor baru loh?" tanya Lula.


"Sebenarnya aku sering main ke rumah tetanggamu, Fauzi. Aku dapat nomor hp kamu dari dia." jawab Atif.


"Kenapa nggak pernah mampir?"


"Nanti kalau aku sudah siap pasti aku mampir, udah ya. Assalamu'alaikum." pamit Atif.


Keburu aku diambil orang nanti menyesal.


"Wa'alaikumussalam." Lula menutup panggilan telpon.


Suasana di rumah Lula sudah semakin rame, sanak famili sudah pada datang untuk membantu memasak dan menata sesuatu. Para muda mudi yang Cauman/Kanoman juga sudah mulai berdatangan, mata Lula berkaca-kaca namun tidak menetes airnya.


Selesai Sholat Maghrib, Lula membaca Alqur'an di kamarnya duduk di atas tempat tidur, mungkin dengan membaca Alqur'an kesedihannya akan terobati.


Akhirnya aku dilangkahi juga.


Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarnya, Nia masuk dengan membawa sesuatu ditangannya. Gadis itu kemudian duduk di tepi dipan.


"Mbak, ini Arifin membelikan mukenah seperti ini dua, buat Mbak Lula sama Mbak Usnul sebagai tanda langkahan. Mbak Lula mau nggak?" tanya Nia sambil menyerahkan benda tersebut kepada Lula.


Lula menerima mukenah tersebut, matanya semakin berkaca-kaca. Lula membuka resleting tas mukena tersebut dan memeriksa isinya, mukena warna putih setelan dari bahan BSY dengan tepian Embroidery, yang satu berwarna hijau pupus, sedang satunya berwarna biru elektrik.


"Nggak apa-apa seperti ini juga, yang penting nggo tombo ora ilok kata orang tua." jawab Lula.


Tiba-tiba Nia memeluk Lula,


"Maafin Nia, sudah melangkahi Mbak! Maaf juga karena Nia tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga buat Mbak." ucap Nia terbata-bata menahan tangisan.


Lolos sudah air mata Lula.


"Mbak nggak apa-apa kok, Nia. Mbak bisa menerima apa yang sudah menjadi takdir Mbak. Dikasih mukenah saja Mbak sudah senang." terang Lula. "Sudah, calon pengantin jangan nangis, tamunya sudah pada datang tuh." bujuk Lula.


Akhirnya Nia melepas pelukannya dan mereka bersama keluar dari kamar untuk melayani para tamu undangan.


Heppy reading


semoga suka

__ADS_1


jangan lupa jempolnya ya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2