
Selamat datang kekasih, di petapaan rinduku
Kubawa gelas madu untuk hidangan
Di atas restuNya tersulam ikatan
Menuju anjungan cintaNya di taman surga
Kan kujadikan kau permata di pentas hidupku
Pintaku padamu kekasih hati
Temanilah aku menyelam rinduNya
Itulah destinasi percintaan ini
Pada kau yang bergelar istri
Kuhadiahkan sekalung rindu Illahi
Kubimbing sama langkahmu
Dan kau pun sama
Jika kau tertelan empedu akulah penawarmu
Jika ku tertusuk duri kaulah penawarku
Kekasih, kekal lah bersamaku
Langit telah menuliskan di dedaun rindu
Takdirmu merawat pohon cinta bersamaku
Destinasi Rindu by NN
___________________________________________
Suara sound system semakin menggema memekakan telinga, Mbah Tari yang selalu judeg dengan suara kebisingan akhirnya mengungsi ke rumah Lek Nasiroh di dusun Blendo.
Hari ke tiga di bulan Syawal, suasana rumah Lula sudah semakin ramai, sanak saudara yang jauh mendekat dan yang dekat merapat, dari siang mengerjakan apa yang ada di depan mata saja, seperti mengantarkan minuman untuk para tamu, kadang menengok ke dapur membantu para rewang membuat jajanan.
Pukul 15.00 WIB rombongan dari keluarga calon mempelai pria datang untuk acara lamaran.
Malam harinya mereka tidak tidur semalaman suntuk, karena mempersiapkan nasi buat berkat walimah, yang akan dilaksanakan besok pagi.
Pukul 02.00 dinihari Lula membantu memasang penutup besek agar tidak polos.
Tiba-tiba ponsel Lula berdering, panggilan dari Pipih Kamal, dia teman curhat Lula asal Tegal juga.
Sebelumnya Lula cuma manggil namanya saja, tetapi beberapa waktu lalu ceweknya telfon, cerita kalau si Kamal cerita sama dia punya teman yang asik diajak ngobrol, ceweknya tersebut manggil dia pipih, jadi Lula ikutan manggil pipih juga. Eh, si Pipih Kamal juga manggil Lula dengan panggilan mimih, jadilah satu pipih punya dua mimih. wkwkwk...
Lula mengambil ponselnya dan menekan tombol jawab,
"Halo, Assalamu'alaikum, Pipih." sapa Lula.
"Wa'alaikumussalam, Mimih. Lagi ngapain?"
"Lagi nata besek, buat nasi berkat."
"Gesek enak ow," sahut pipih Kamal.
"Besek bukan gesek," sanggah Lula mengoreksi.
"Ikan besar kering yang dibelah itu kan? enak itu dibakar buat lauk nasi."
"Ck, dibilangin ini besek bukan gesek, besek itu anyaman dari bagian dalam bambu, untuk wadah nasi berkat walimahan." terang Lula.
"Oo.., memang ada acara apa pakai bikin walimahan? jam segini lagi." tanya Pipih Kamal.
"Adikku besok pagi nikahan." jawab Lula.
__ADS_1
"Lah, kok adiknya duluan, mimih belum nikah kan?"
"Ya belum lah, Mimih dilangkahin." jawab Lula memelas sambil pura-pura nangis.
"Cup cup cup, jangan sedih ya Mimih, ada pipih disini yang siap menghibur Mimih. Memang dilangkahinya pas tiduran, jongkok atau sujud?"
"Berdiri, puas puas puas?" jawab Lula menirukan gaya Tukul Arwana.
"Hahaha, nggak puas."
"Pipih lagi dimana? jam segini kok rame." tanya Lula.
"Biasa, kumpul sama teman ngobrol sambil ngopi."
"Udah dulu ya, mau ngelanjutin kerjaan nih." pamit Lula.
"Iya, Mimih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Pipih." jawab Lula, panggilanpun terputus.
Lula melanjutkan pekerjaannya, berhenti sebentar untuk melaksanakan sholat subuh dan melanjutkannya kembali.
Pukul 07.00 pagi jadwal akad nikah akan segera dilangsungkan, mempelai pria beserta pengiringnya sudah datang, mempelai wanita juga sudah siap dengan riasan yang cantik menunggu di balik kelambu kamar.
Lantunan pembacaan Al-Qur'an surat Ar Ruum ayat 21 mulai terdengar, hingga ijab qobul diucapkan oleh mempelai pria dengan sekali tarikan napas.
Acara resepsi di gelar malam harinya, hingga satu Minggu dari akad tamu masih terus berdatangan, acara diakhiri dengan acara Mbalik Kloso yaitu kunjungan balik dari keluarga mempelai wanita ke kediaman mempelai pria.
Suatu hari ada dua orang pemuda datang berkunjung, lantai masih beralaskan tikar, meja kursi masih belum dikembalikan ke tempat semula.
Ternyata itu tamunya Usnul, Lula membuatkan teh untuk mereka, dan membawanya ke depan mereka. Lula tidak segera beranjak dari sana, dan menemani Usnul, walaupun hanya sebagai pendengar yang baik.
"Pulangnya mana?" tanya Lula kepada kedua pemuda itu.
"Pekalongan Kota, Mbak." jawab salah satu dari mereka.
"Pekalongan kota sebelah mana? Pekalongan Timur, Barat, Selatan atau Utara?" tanya Lula lagi.
"Denasri, Mbak. Terminal baru ke timur lagi." jawab salah satunya.
"Iya, memang ikut kabupaten Batang. Kok Mbak tahu?" tanyanya lagi.
"Kan aku pernah tinggal di Pekalongan Timur, Kalau pagi-pagi kadang jalan kaki sampai ke sana, hehe.." jawab Lula.
"Oo..Tinggal dimana, Mbak?" tanya salah satu dari mereka.
"Di Karang Malang, sebelah barat Hotel Jayadipa. Yang namanya Alif yang mana?" Lula bertanya lagi.
"Aku Alif, Mbak." jawab salah satu dari mereka mengulurkan tangan.
Lula menjabat tangan tersebut.
"Alula, mbaknya Usnul, panggil saja Lula. Kayaknya kita seumuran."
Lula juga menjabat tangan pemuda yang satunya.
"Yos," ucap pemuda yang satunya sambil menjabat tangan.
Mereka mengobrol ngalor-ngidul, apapun dibicarakan yang penting mengundang gelak tawa.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sudah lama Lula tidak mendengar kabar dari Santo sejak kedatangannya ke rumah. Lula ingin menelpon nomor Santo namun dengan privat number. Malam itu pukul 02.00 dinihari, Lula menggunakan bonus free call. Ia mulai mencari kontak Santo dan memencet tombol panggil.
Tersambung,
Tuu...t
tuu...t
tuu...t,
__ADS_1
Terhubung, ada yang menjawab panggilan tetapi cuma diletakkan saja. Lulapun demikian, ia hanya menempatkan HP di telinganya tanpa berucap apapun.
"Siapa, Soh?" tanya seorang wanita yang Lula kenal suaranya.
"Tidak Tahu, Bu. Tidak ada suaranya, orang iseng kali kurang kerjaan, nomornya juga diprivasi," sahut seorang wanita lainnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Itu pasti Lula, biarin saja."
"Iya, aku pikir juga dia."
"Orang hutan dia,"
"Iya betul, sekalinya punya pacar orang kota ya gitu, pinginnya jalan-jalan terus."
"Tiap ke sini kan udah jalan-jalan. eh pas ibu sama Santo ke sana dia ngajak jalan-jalan juga, dia pikir nggak capek apa jalan-jalan terus."
"Dia pikir bisa morotin uang si Santo, anda salah, Lula."
"Masa di rumah calon mertua cuma ongkang-ongkang kaki, tidak mau membantu pekerjaan sama sekali, nyapu kek, atau nyuci piring,"
"Dia pikir dia seorang putri apa, putri nggak tahu malu, kerjanya cuma makan tidur makan tidur, calon mantu apaan tuh?"
Sebenarnya kalian mau nyari menantu atau pembantu sich. Umpat Lula dalam hati.
"Menghina keluarga kita lagi, dasar orang hutan, songong memang dia."
"Untung si Santo udah putusin dia."
Tututut..
Sambungan terputus otomatis setelah 30 menit.
Bulir-bulir bening merembes ke dalam bantal yang mengganjal wajah Lula, beberapa saat kemudian Lulapun terlelap.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Ayam jantan berkokok menyambut pagi,
pagi ini begitu dingin, membuat manusia ingin menarik selimutnya kembali.
Katanya sich lagi musim kembang kopi.
Tidak tahu juga bagaimana yang pasti,
anggap sajalah seperti itu.
Dengan mata setengah terpejam Lula bangkit dari tidurnya, ia melangkah dengan tangan berpegangan pada tembok. Rasanya baru memejamkan mata, kenapa sudah subuh, cepat sekali waktu berlari. Lula mendudukan bokongnya pada resbang yang ada di dekat dapur sebelum ke kamar mandi. Yang ada kepalanya malah tengat-tengut ke depan dan ke samping.
"Mataku masih pedas, kenapa nggak diundur dulu sih subuhnya?" tanya Lula tidak tahu ditujukan kepada siapa.
Mungin jodohmu diundur-undur karena kamu suka mengundur-undur waktu kali, Lul. Bangun tidur saja duluan ayam, jadi rejekimu dipatok ayam tuh.
Setelah matanya sedikit terbuka, Lula kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kamar mandi. Menguras kembali kantung-kantung di dalam perutnya, kumur-kumur dan berwudlu. Benar-benar author sudah hafal kegiatannya. Lula keluar, matanya sudah terbuka, dan setelah itu ia pasti akan sholat subuh dan tidur di atas sajadah dengan masih memakai mukenahnya.
"Lula, gantian eh!" Mak Kulsum membangunkan Lula. "Lula, pindah ke kamar gih."
Lula membuka matanya, melepas mukenanya dan meninggalkannya teronggok di lantai begitu saja, dia bangkit namun tidak melangkah menuju ke kamarnya, melainkan ke dapur. Dia nampak mencari sesuatu di lemari yang ada di dapur. Dia pergi lagi menuju ke kios Mbak Is, kakak iparnya lewat pintu samping.
"Nyari apa, Bu Lek?" tanya Mbak Is menganggil Bu lek karena memanggilkan anaknya.
"Kopi tri in wan, Mbak." sahut Lula, saat menyobek satu sachet kopi 3 in one yang dicarinya, ia kemudian menyerahkan selembar uang dua ribuan.
Lula kembali ke dapur untuk menyeduh kopinya.
Ia sekarang nampak sudah menikmati kopi buatannya sendiri.
Setelah dirasa beban yang menggelayut di matanya sirna, Lula mulai melakukan rutinitas paginya, nyuci piring. Setelah nyuci piring selesai baru ia sarapan pagi, menu wajib nasi megono kuliner khasnya Mak Siti.
Nyuci piring sudah, sarapan sudah, sekarang tinggal mandi terus siap-siap berangkat mengajar.
Happy reading
__ADS_1
semoga syuka
jangan lupa jempolnya yahπππ