Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#42


__ADS_3

Pagi menyapa kesunyian,


Kilauan cahaya mentari memancarkan kehangatan,


berkilauan saat pantulannya menerpa air sungai.


Embun mulai mengering,


Seiring berkicaunnya si pipit di sawah yang terhampar luas.


Hari kedua di bulan Syawal,


Jadwal kunjungan ke handai taulan,


Berharap khilap segera dimaafkan.


Pagi-pagi sekali sudah ada tamu yang datang, siapa lagi dia kalau bukan Agus, eh Nahrowi maksudnya. Ternyata dia datang memenuhi janjinya, mungkin dia takut tidak bisa bertemu dengan Lula yang sebentar lagi juga akan mengunjungi sanak familinya bersama dengan anggota keluarga yang lain.


Lula sendiri yang membukakan pintu dan mempersilahkan Agus atau Rowi untuk duduk.


"Silahkan duduk, Mas. Gimana, alamat rumahku mudah dicari 'kan?" tanya Lula.


"Tadi sempat tanya saat bertemu orang beberapa kali, ternyata banyak yang mengenal kamu, Dek." jelas Rowi


Lulapun pamit ke belakang untuk membuatkan minum.


"Sebentar ya, Mas. Aku ambilkan minum dulu."


"Tidak usah, Dek. Saya cuma sebentar saja, yang penting kita sudah ketemu." tolak Rowi.


"Tidak apa-apa kok, Mas. Kolo-kolo njenengan main." sahut Lula sembari berlalu pergi.


Sampai di belakang Lula sudah disambut oleh ibunya yang sudah membuatkan teh manis hangat untuk tamu, beliau masih duduk di meja makan.


"Kok tua gitu, siapa tadi namanya? masih mending yang kemarin pas bulan puasa, keluarganya banyak yang kita kenal."


Mak Kulsum mengemukakan pendapatnya, sejak kedatangan Mas Rowi, dia memang sudah menunjukkan ketidaksukaan. Makanya dia tidak menemui duda beranak satu tersebut.


"Yang ini namanya Rowi, yang kemarin namanya Atif." jawab Lula.


"Kok Rowi? bukannya kemarin-kemarin kamu cerita namanya Agus?" tanya Mak Kulsum heran dan juga bingung.


Lula tak menjawab pertanyaan Mak Kulsum tersebut. Ia membawa nampan berisi dua gelas teh yang sudah disediakan, ia berlalu pergi meninggalkan Mak Kulsum yang ingin mendapat penjelasan darinya begitu saja.


Setelah tamunya pulang, Lula membawa gelas kotor kembali ke dapur, Ibu dan adik-adiknya sudah siap berangkat untuk mengunjungi saudara jauhnya sesuai rencana.


Rupanya Mak Kulsum masih kepikiran tentang tamu Lula yang barusan.


"Pokoknya Mak e nggak setuju kalau kamu lebih memilih pria yang tadi." tukas Mak Kulsum nggak bisa dibantah.


"Iya, Mak. iya.." jawab Lula menetralisir keadaan.


Sekarang Lula tambah bingung, bagaimana caranya nolak orang ya? Duhh.. pusing dech kalau begini.


🌸🌸🌸🌸🌸


Di bawah salah satu sisi langit,


Aku terduduk diantara kegelapan malam,


Berharap suatu keajaiban kan datang padaku,


Membawa serta alunan sendu dari hati.


Diantara pohon yang menari,


Dan diantara para jangkrik penyanyi.


Aku masih menatap langit dengan penuh harap,


Sebuah bintang akan jatuh di hadapanku.


Kulihat berjuta bintang berkedip menawan,


Bertemankan angin yang bersepoi kencang,


Menanti sang dewi malam datang,


Agar menghiasi malam yang remang,

__ADS_1


Tapi mana mungkin dia kan datang,


Ini kan baru malam ke tiga di bulan Syawal.


Malam berbintang kini menjadi gelap,


Karena hujan tiba-tiba datang menjelang.


Suara burung malam bernyanyi,


Memuji kebesaran Illahi,


Yang telah menciptakan kemegahan alam ini,


Sempurna dan patut kita syukuri.


Lula masih kebingungan memikirkan kalimat yang akan ia sampaikan kepada Rowi. Malam hari ini ia mencoba mengetik sebuah pesan yang akan dikirimkan kepadanya.


[Assalamu'alaikum, Mas Rowi. Mohon maaf sebelumnya, Sepertinya ibuku tidak merestui kalau kita berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Jadi kita berteman saja ya, Mas.]


Send,


Tak lama kemudian balasan dari Nahrowipun di terima.


Cling,


[Wa'alaikumussalam, Dek. Tidak apa-apa kok Dek. Sejak kedatanganku tadi pagi, Mas juga sudah punya feeling kalau ibu kamu memang tidak menyukai aku.]


[Aku jadi tidak enak nih, Mas. Tolong maafkan sikap ibuku juga ya, Mas.]


send,


Cling,


[Iya, Dek. Aku juga minta maaf karena sudah membuat suasana tidak nyaman, tolong sampaikan maafku ke ibumu ya, Dek.]


[Iya, Mas. Sama-sama, insya Allah nanti kusampaikan.]


Send,


Dalam benak Lula tiba-tiba terbersit fikiran untuk mengenalkan Nahrowi kepada teman kuliahnya yang sudah menginjak usia kepala empat tetapi tak kunjung mendapatkan jodoh.


[Mas Rowi mau nggak aku kenalin ke teman kuliahku, umurnya sudah 40 tahun tetapi masih gadis. Kalau mau nanti aku kasih nomor handphone nya.]


send,


Cling,


[Namanya Muhimatun Khasanah, wajahnya sih pas-pasan seperti aku(wkwkwk). Walaupun belum pernah menikah, tetapi dia sudah mengadopsi anak lho, Mas. Mungkin karena dia sudah tidak terlalu berharap akan mendapatkan jodoh, ia berharap anak tersebut kelak dapat mengurusnya saat tua nanti.]


Send,


Cling,


[Dia orang mana, Dek?]


[Dia orang Kertijayan gang 2, Mas. ini nomor HP-nya 085x xxxx xxxx. Mas langsung hubungi saja dia.]


Send,


Cling,


[Terimakasih Banyak, Dek. Udah dulu ya, sudah malam. Assalamu'alaikum.]


[Wa'alaikumussalam,]


send.


Pada saat yang bersamaan terdengar dering panggilan masuk, terlihat di layar handphone nomor yang belum disave. Lula menekan tombol berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum," sapa Lula dengan salam.


"Wa'alaikumussalam," terdengar jawaban di ujung telepon sana, suara seorang cowok.


"Maaf, ini siapa?" tanya Lula bingung tidak tahu yang diajak bicara.


"Masa sama pacar sendiri tidak mengenali suaranya." jawab cowok tersebut menggoda.


Blush.. seketika pipi Lula menjadi merah seperti udang rebus disebut pacar.

__ADS_1


"Pacar? sepertinya aku sedang tidak punya pacar. Ini siapa sih sebenarnya? kalau enggak jawab aku matikan teleponnya nih." ancam Lula.


"Eits, ini Atif. Kok sewotan gitu sih, cepat tua lho nanti."


"Oo.. Atif. Handphone kamu ada berapa sih? nomornya gonta-ganti melulu."


"Aku enggak punya handphone, makanya bisa gonta-ganti. BTW, kamu lagi ngapain?"


"Lagi menghangatkan badan nih, di depan tungku. Eh, Atif. memangnya umur kamu berapa sih? kayaknya umur kamu jauh di bawahku dech."


"Kamu kedinginan ya? Sini aku peluk. Umurku 24 tahun," jawab Atif singkat.


"Apa? 24 tahun? Umurku saja sudah 30 tahun, berarti usiamu lebih muda dari aku 6 tahun. Kamu lebih pantas jadi adikku, kita berteman saja, ya!" sudah berkali-kali Lula mengucapkan kalimat yang sama kepada orang yang berbeda.


Lula membayangkan, berarti saat dia Lulus SMA cowok itu baru Lulus SD donk, oh tidak tidak tidak, umur Usnul saja lebih tua dari Atif.


"Memangnya kenapa kalau usia kita terpaut enam tahun? yang terpaut lebih dari enam tahun juga banyak." sanggah Atif tidak setuju dengan pendapat Lula.


"Ya enggak apa-apa sich, Baginda Nabi Muhammad SAW saja saat menikah dengan Khadijah terpaut 15 tahun." jawab Lula.


"Nah, itu tahu." Atif menimpali.


"Apa kamu enggak malu kalau nanti punya istri umurnya lebih tua?" tanya Lula lagi.


"Kenapa mesti malu? itu bukan hal yang memalukan. Jangan hiraukan omongan orang, yang mau menjalani kan kita."


"Jadi kita jadian?" tanya Lula.


"Memang kamu mau jadian sama aku?" tanya Atif.


"Kenapa mesti enggak mau? Kamu kali yang enggak mau sama aku."


"Aku mau, Lula. Kamu kan tahu aku sudah lama suka sama kamu."


"Siapa yang ngira kamu mau serius sama aku, dari dulu kamu cuma luntap-luntup kayak ingus, Telpon ngilang-telpon ngilang. Kamu pikir empat tahun itu waktu yang sebentar buat nunggu."


"Maaf, aku baru punya keberanian untuk menampakkan wujud asliku."


Wujud asli? kayak pangeran kodok saja.


"Tapi aku nggak mau ah, panggil kamu 'Mas'. kamu kan jauh lebih muda dari aku."


"Terserah kamu mau manggil apa, asal jangan 'Dek', kan nggak lucu."


"Hahaha.. Justru malah lucu tahu, panggilan buat suami 'Dek', kan belum ada dalam sejarah."


"Haduhhh.." Atif menepok jidatnya.


"Iya iya, aku nggak akan panggil kamu 'Dek' kok, gimana kalau kita manggilnya Mimih dan Pipih? aku panggil kamu pipih dan kamu manggil aku Mimih."


Usul Lula yang kembali teringat pada Pipih Kamal yang memanggil calon istrinya dengan panggilan Mimih.


"Boleh juga, Mimih sama Pipih. Eh..Mimih, Syawalan kencan yuk! Mau nggak?" ajak Atif.


"Kemana?" tanya Lula.


"Kamu maunya kemana?" Atif balik bertanya.


"Yang deketan aja, ya! Kulu Asri gimana?"


"Oke, Kita ke Kulu Asri. Udah malam, bobok Yuk. Sampai ketemu Syawalan ya, Mimih Sayang."


"Iya, Pipih cayang. Mimih juga udah ngantuk. Semoga mimpi indah."


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Tut tut tut


Lula masih memandangi handphone nya. Semoga ini bukan mimpi, betapa bahagianya hati Lula saat ini.


Ketika aku menemukanmu kemudian memilihmu dan kamu akhirnya menjadi miliku, saat itu juga aku sadar bahwa Tuhan telah kehilangan satu malaikat indah-Nya dari surga, untuk turun dan bersama-sama dengan aku.


***************


Hampir senja sampai di Jogja,


Padahal masih ingin keliling kota,

__ADS_1


Yang mampir jangan lupa jejaknya,


Terimakasih semoga suka. 😘😘😘


__ADS_2