Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 6


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Dito meninggalkan kantor. Sesampai di apartemen Dito kemudian membersihkan diri lalu berbaring. Pikirannya masih tentang ucapan  mamanya. Dito tahu selama ini mamanya tidak pernah seserius ini tentang pernikahannya. Selama ini kedua orang tuanya tidak ambil pusing dengan keputusannya itu.


Sama halnya dengan Erania, ia pun memikirkan tentang ucapan majikannya. “Entahlah, aku merasa tidak pantas untuk semua ini. Mending aku fokus menyelesaikan skripsiku dulu semoga ujian minggu depan aku bisa lulus dengan baik” ucap Erania kemudian menuju meja belajar yang disediakan nyonya Aselin di kamarnya.


Pagi – pagi sekali Dito sudah berada di rumah untuk menemui orang tuanya. Sudah menjadi kebiasaannya setiap akan keluar kota atau keluar negeri Dito akan pamit ke pada orang tuanya. Ia tak akan orang tuanya kuatir berlebihan.


“Pagi ma, pagi pa” sapa Dito pada kedua orang tuanya yang tengah duduk sarapan dan ikut bergabung.


“Pagi nak” jawab papa dan mamanya serentak.


“Ayo nak, sarapan. Erania sini tolong siapkan sarapan buat Dito ya” panggil nyonya Aselin. Erania langsung menghampiri majikannya dengan membawa tambahan piring buat Dito.


“Terima kasih” ucap Dito di jawab anggukan oleh Erania dan langsung ke belakang.


“Pa, Ma hari ini aku akan keluar kota” lanjut Dito.


“Berapa lama nak?” tanya mama Dito


“Mungkin satu minggu ma”


“Kamu sama Dimas nak?”


“Iya pa, sebentar lagi dia jemput aku ke sini”. Orang tua DIto hanya mengangguk – angguk mendengar jawaban anaknya. Mereka melanjutkan makan tanpa bersuara.


Setelah selesai mereka menuju ruang keluarga sambil menuggu Dimas menjemput Dito.


“Nak, gimana omongan mama tempo hari? Kamu sudah pikirkan?” tanya mama Dito. Sejenak Dito terdiam.


“Dito belum tahu ma. Emang kenapa sih ma, biasanya mama gak rewel soal kehidupan  aku?”


“Mama bukannya rewel sayang, cuman kamu tahu kan kalau kami sudah semakin tua. Mama pengen liat


kamu punya keluarga, biar mama tenang menjalani masa tua” jawab Nyonya Aselin lirih.


Suasana hening sejenak sampai suara klakson mobil Dimas mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


“Dito pamit ya” kata Dito sambil memeluk mama dan papanya.


“Semoga pekerjaanmu sukses nak” pesan papa Dito.


Dito dan Dimas kemudian menuju bandara, sementara mama dan papa Dito memandang kepergian anaknya. Setelah mobil mereka  sudah tidak terlihat mama dan papa Dito Kembali ke dalam rumah.


“Pa, Dito kok gak respon ya ucapan mama” Mama Dito terlihat murung dengan sikap anak tunggalnya itu.


“Sabar ma, semua butuh proses. Biarkan Dito memikirkannya denga baik. Jangan sampai desakan mama


justru membuat Dito salah mementukan sikap” papa Dito mengusap lembut kepala istrinya untuk menenangkan.


“Permisi tuan dan nyonya, saya izin mau ke kampus “ Erania tampak sudah rapi. Nyonya Aselin tersenyum melihatnya.


“Kamu lama ke kampus?” tanya Nyonya Aselin.


“Tergantung dosennya nyonya, saya hanya akan meminta tanda tangan untuk ujian skripsi saya minggu depan”


“Waaaaa, kamu hebat sayang. Ya sudah, semoga lancar ya” nyonya Aselin selalu bersemangat kalau tentang Erania.


Erania bergegas ke kampus dengan ojek online yang sudah dipesan sebelumnya. Benar saja hari ini


Setelah 1 jam urusannya telah selesai. “Yeahhh, akhinya bisa juga ujian” ucap Erania senang.


Namun tiba – tiba.. “Daaaarrrrrrr” Erania kaget sementara Caca hanya tertawa melihat kejailannya kepada sahabatnya itu.


“Ih, apaan sih Ca. Kamu ngagetin aku tahu” gerutu Erania.


“Iyad eh maaf…maaf.


Abisnya kamu tuh serius amat sih. Ada apa?” tanya Caca.


“Aku baru dapat tanda tangan Pak Hafid untuk ujian ku minggu depan” ucap Erania dengan senang.


“Selamat ya, semoga ujiannya lancar” Caca memeluk Erania.

__ADS_1


“Iya, terima kasih Ca, kamu sendiri kulaihmu bagaimana? Kapan nyusul” cicit Erania sambil melepaskan pelukan mereka. Caca Kembali terkekeh mendengar ucapan temannya itu.


“Doakan ya semoga semester depan bisa nyusul” lanjut Caca


“Amin. Semangat ya” kata Erania sambil mengangkat tangannya memperlihatkan semangat kepada Caca.


“Trus sekarang kamu mau kemana, bagaimana kalau kita rayakan sebelum kamu ujian?” Caca bersemangat apalagi semenjak Erania kerja mereka sudah jarang Bersama.


“Maaf Ca, aku gak bisa. Kamu tahukan aku gak enak sama majikan aku. Dia sudah baik ngasih kerjaan ke aku” Erania sedih, ia juga merindukan kebersamaan dengan temannya. Namun ia tahu kalau bukan saatnya ia bermain – main lagi.


Caca yang melihat temannya seidh langsung memeluk bahu Erania.”Ya gak apa – apa, lain kali kan bisa. Kamu jangan sedih, oke”. Erania tersenyum. Ia sangat senang mengenal Caca karena ia sangat pengertian dengan kondisinya yang tidak sama sepertinya dirinya.


Beberapa saat mereka mengobrol, setelah itu Erania pamit pulang. Caca juga pulang karena kuliahnya hari ini telah selesai.


Sesampainya di rumah Erania mengganti pakaiannnya dan menemui nyonya Aselin untuk mengingatkan


nya untuk minum vitamin dan makan buah. Semenjak ada Erania Kesehatan nyonya Aselin sangat baik. Selain karena perasaannya yang selu senang, Erania sangat cekatan dalam mengurus kesehatannya.


“Terima kasih Erania, kamu merawat saya dengan sangat baik” ucap Nyonya Aselin setelah selesai minum vitamin. Erania tersenyum.


“Oh iya, tolong ambilkan handphone saya. Anak itu kalau sudah kerja sampai lupa sama orang tua” gerutu Nyonya Aselin. Erania lalu memberikan  handphone yang sudah di ambil. Setetah itu ia kemudian memijat bahu nyonya Aselin. Erania benar – benar tahu bagaimana membuat nyonya Aselin tersenyum. Selain itu, Erania melakukan semua itu karena ia sangat bertanggung jawab dengan semua pekerjaannya.


“Halo nak, kamu kenapa tidak menelpon mama setelah sampai?”


“Hehehe,, maafkan Dito ma. Dito terlalu fokus dengan kerjaan. Bagaimana keadaan mama?” balas Dito


“Mama baik sayang, kamu tahu kan Erania merawat mama dengan baik”


“Syukurlah, trus mama mau di bawakan apa sama Dito?”


“Mama tidak pengen apa – apa sayang, asal kamu pikirkan ucapan mama saja “ ada nada sedih dari nyonya Aselin. Erania masih memijatnya dan kini berpindah ke kaki nyonya Aselin.


Dito yang mendengar mamanya memijat kepalanya. Sungguh ia melupakan satu hal itu.


“Ia ma, nanti Dito pikirkan. Sekarang mama istirahat ya. Biar Dito kerja lagi” Dito mengakhiri panggilannya setelah berpamitan.

__ADS_1


“Apa saatnya ya aku memenuhi permintaan mama” terlihat Dito menyadarkan kepadanya di kursi.


Dito kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Bekerja membuat Dito lupa akan sekelilingnya, untung saja ada Dimas yang selalu mengingatkannya. Jika tidak, Dito akan bekerja sampai lupa waktu. Dimas memang sangat memperhatikan waktu kerja bosnya ini, karena dirinya juga akan ikut lembur jika bosnya lembur.


__ADS_2