Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#40


__ADS_3

Langit jingga cerah berganti warna,


Perlahan semakin menipis berganti menjadi gelap,


Kicauan burung yang semakin lirih hingga menjadi sunyi.


Sepenggal asa yang sudah usang,


Gejolak rasa diantara luka dan kecewa,


Inilah aku yang hidup tanpa belahan jiwa,


Menyimpan segala khayalku yang terlalu tinggi.


Ku berharap senja mengerti perasaanku,


Sehingga khayalku menjadi terwujud.


Malam hari Lula mendapat panggilan telepon dari Faiz. Faiz memang belum pernah author ceritakan di sini, tapi dia sudah lama berteman dengan Lula via telepon, dia juga teman Usnul juga.


Faiz bilang kalau hari Jum'at besok bakda dhuhur dia mau main ke tempat Lula.


Akhirnya hari itupun tiba, ternyata dia menepati janjinya. Dia datang sendirian, Usnul juga menemani Lula saat Faiz datang.


Mungkin karena ada Usnul yang menemani mereka, Faiz jadi tidak enak kalau mau menceritakan tentang dirinya yang sesungguhnya kepada Lula, hingga satu Minggu kemudian dia mengajak Lula jalan ke Luar.


Masih di hari Jum'at kira-kira pukul sembilan mereka janjian ketemu di Kedungwuni. Lula diantar oleh Usnul sampai di depan pasar Kedungwuni. Faiz sudah menunggu di tempat yang ditentukan. Usnulpun langsung pulang setelah mengantar sang kakak.


Langit nampak cerah kala itu, Faiz yang memboncengkan Lula melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang menyusuri jalur jalan pintas menuju ke arah Karangdadap.


Perjalanan mungkin memakan waktu kurang dari 1 jam hingga sampai di Pantai Sigandu Kabupaten Batang.


Sampai di lokasi pantai Faiz membelokkan kendaraannya ke arah kanan menuju kearah hutan Cemara yang berada di tepi pantai, sejuk udaranya.


Rimbunan pohon Cemara menutupi sebagian pasir pantai. Di sisi kiri dan kanan banyak pasangan muda-mudi yang sedang memadu cinta. Lula merasa malu melihat apa yang mereka lakukan, ia memejamkan mata saat melewati mereka.




Faiz menghentikan motornya. Mereka lalu duduk di atas sebuah bangku yang terbuat dari bambu yang di sandarkan pada pohon cemara. Sejenak mereka hanya diam memandang deburan ombak yang menerjang, bergulung-gulung menjauh, kemudian menerjang lagi.


Entah bagaimana perasaan Lula saat ini, mungkin juga dia sudah tidak memperdulikan lagi tentang perasaan.


Sesekali dia memperhatikan kepiting rajungan yang mengeruk pasir membuat lubang sebagai tempat persembunyiannya, kemudian keluar lagi dari dalam lubang dan membuat lubang lagi begitu seterusnya.


Suasana hening belum ada yang memulai pembicaraan, hanya suara debur ombak yang terdengar, dan burung camar yang sesekali hinggap di permukaan air laut kemudian secepatnya terbang lagi.


"Jadi kamu nggak bisa naik motor, Lula?" Faiz memulai pembicaraan dengan pertanyaan sekenanya.


"Eh..," Lula hanya reflek.


"Terus nanti kalau aku suruh beli terasi ke pasar bagaimana? jalan kaki? jarak dari rumahku ke pasar jauh lho, tidak ada angkot lewat lagi." imbuhnya.


Lula tambah kaget dengan kata-kata Faiz yang to the poin.


Kok to the poin gitu sih? gumam Lula dalam hati.


"Kan bisa minta antar kamu atau naik ojek." jawab Lula mengikuti arah pembicaraan Faiz.


Keheningan melanda lagi, nampaknya Faiz mulai mengambil ancang-ancang untuk berbicara serius. Pria berwajah Arab namun tidak terlalu tinggi itu nampak mengambil napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"Aku pernah gagal, Lula." ungkap Faiz.


"Sama, aku juga pernah gagal." jawab Lula langsung yang tidak tahu maksud pembicaraan Faiz.


"Anakku satu, laki-laki. Sudah kelas dua SD." tutur Faiz lagi. "Ibunya orang Indramayu, dia lebih memilih meninggalkannya saat dia baru berusia satu tahun dan menuruti keinginan orang tuanya bekerja di luar negeri sebagai TKW." paparnya.


Oh,


Lula baru ngeh kalau yang dimaksud Faiz dengan gagal itu adalah gagal dalam membina rumah tangga.


"Terus kamu, beneran pernah gagal?" tanya Faiz sambil memperhatikan body Lula yang kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata).


Lula yang saat itu mengenakan celana potongan lurus berbahan kanvas blus lengan panjang dan kerudung instan berwarna pink serta jaket sweater hoodie berwarna sylver tersebut menjadi risih diperhatikan seperti itu.


"Apaan sih, liatnya kayak gitu amat?" gerutu Lula. "Maksudku gagal itu putus dari cowokku," jelasnya. "gagal juga kan?" tanyanya.


"Oh, putus. Aku kira kamu janda, tapi nggak ada tampang janda."


"Enak aja janda, na'udzubillah min dzalik, jangan sampai dech aku jadi janda. Aku pengennya tuh nikah cuma sekali seumur hidup." elak Lula tidak terima.


"Aku juga pengennya gitu, nikah seumur hidup satu kali, menua bersama. Tapi apa hendak dikata, kita hanya bisa berencana tetapi hasilnya sang Maha Penciptalah yang menentukan." ungkap Faiz.


"Berarti dia bukan jodoh kamu. Aku doakan semoga kamu akan segera menemukan jodohmu." sahut Lula mendoakan.


"Terus tanggapan kamu sendiri bagaimana terhadapku?" tanya Faiz spontan.


Deg,


"Maksudnya?" tanya Lula yang memang agak kurang mengerti dengan ucapan Faiz.


"Lula, aku yakin kamu cukup dewasa untuk mengerti ucapanku. Aku nggak mau maksa kamu, mungkin sulit bagi seorang gadis untuk menerima duda beranak satu seperti aku dengan penghasilan yang tidak menentu sebagai buruh harian lepas." tutur Faiz.


"Ehmm..Yah.. kita jalani saja sesuai alur, jika kedepannya kita ada kecocokan, maka kita bisa melangkah ke jenjang selanjutnya, jika kita tidak cocok, maka kita cukup jadi teman, menurut kamu bagaimana?" ucap Lula.


Lula juga melakukan hal yang sama, "Deal," ucap Lula sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Faiz.


Author malah bingung sendiri ini perjanjian apa ya? kok pakai deal-dealan.


"Oh, iya. Kamu teman seangkatan sama Anik ya?" tanya Lula.


"Anik siapa?" Faiz balik tanya.


"Ani Susiati." jawab Lula. "Kamu bilang alumnus SMAN 1 Kajen."


"Oo..iya-iya dia teman sekelas ku." sahut Faiz.


"Kalau Ulum?" tanya Lula lagi.


"Miftakhul Ulum? dia nggak sekelas, dulu dia pernah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS tetapi gagal. Aku salut sama dia orangnya gigih." cerita Faiz.


Kurang lebih pukul 2 siang Lula dan Faiz memutuskan untuk pulang.


"Sepertinya mau turun hujan, kita pulang saja yuk." ajak Faiz.


"Iya, ayo!" Lula menyahuti.


Mereka dengan segera pergi meninggalkan tempat itu. Faiz agak kencang melajukan motornya, hingga sampai di area Kecamatan Warungasem hujan mulai turun.


Faiz menghentikan motornya karena hujan turun semakin deras, sementara ia hanya membawa 1 stel jas hujan itupun model celana.


Mereka berteduh di teras sebuah warung nasi, di sebelah timur Jembatan Kertoharjo. Niatnya sekalian mau makan siang, ternyata warung tersebut sedang tutup. Kasihan dech..

__ADS_1


Mereka duduk di bangku yang yang ada di depan warung tersebut sambil menunggu yg hujan reda. Lula nampak memegangi perutnya.


"Laper." ucapnya.


Karena sejak berangkat pagi tadi perut mereka memang tidak terisi apapun. Lula juga tidak kepikiran untuk membawa minuman dan camilan. Lula mengira di pantai Sigandu banyak penjual, itu yang di sebelah barat. Ternyata Faiz membawanya ke pantai sebelah timur di hutan cemara yang jauh dari keramaian pedagang.


"Tahan dulu, nanti kita mampir di warung yang buka." bujuk Faiz.


"Hujannya kok lama banget sih?" Lula semakin gusar.


"Sabar,"


Dua jam sudah mereka hanya duduk pada sebuah bangku di depan warung tersebut. Hujan mulai mereda. Mereka akhirnya pergi meninggalkan warung yang tidak berpenghuni tersebut.


Faiz menghentikan motornya di depan sebuah warung mi ayam di pinggir jalan Watusalam. Mereka masuk ke dalam warung tersebut dan duduk di salah satu bangku panjang, kebetulan tidak ada pembeli lainnya selain mereka. Mereka memesan 2 mangkok mi ayam dan 2 gelas teh manis panas.


Saat pesanan datang, Lula mengaduk-aduk mi ayam miliknya.


"Ada yang aneh," ucapnya.


"Iya, baru kali ini aku makan mi ayam pakai kangkung." sahut Faiz memperjelas ucapan Lula.


"Hehehe, mungkin petani sawi langganan penjual mi ayamnya alih profesi jadi petani kangkung." Seloroh Lula.


"Hahaha, alih profesi? itu sih tetap saja jadi petani." sahut Faiz.


Setelah menghabiskan mi ayam dan membayarnya, Faiz mengantarkan Lula Pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Lula, Faiz singgah sebentar untuk berpamitan dengan Mak Kulsum.


Lula membuatkan teh hangat dan menyuguhkannya bersama butter cookies kesukaan Mbah Tari, butter cookies dengan kemasan kaleng besar yang ada rantai emasnya sisa lebaran.


Faiz meminum teh buatan Lula,


"Oo..ini boleh dimakan?" ucap Faiz sambil membuka tutup kaleng butter cookies. "Aku kira cuma buat pajangan." candanya. Padahal dia minta ditawari.


"Itu kan memang buat pajangan, bukan buat dimakan." sahut Lula.


Setelah berpamitan dengan Mak Kulsum Faiz pergi meninggalkan rumah Lula.


Setelah kencan sehari tersebut, Faiz menjadi jarang telepon maupun SMS kalau bukan Lula yang memulai, Lula tidak tahu apa sebabnya. Kalau di SMS juga balasannya lama. Hingga akhirnya datang pesan darinya yang membuat Lula patah semangat.


[Assalamu'alaikum, Lula. Sebelumnya aku minta maaf, aku dipecat dari pekerjaanku, mungkin aku tidak bisa lagi main ke rumah kamu, dan maaf aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita.]


Kenapa pekerjaan yang jadi alasan, pekerjaan kan bisa di cari. Sesaat Lula memikirkan isi SMS tersebut, sedih? tidak tahulah. Mungkin ia sudah kebal dengan keadaan seperti sekarang ini. Lulapun membalas pesan tersebut.


[Tidak apa-apa, Faiz. Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Aku juga minta maaf kalau selama ini ada salah sama kamu.]


Send,


Kebiasaan dech Lula nggak balas salam,


[Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh,]


Send,


Gagal maning, gagal maning son. Thor.. Thor.. kapan kau tuliskan jodohku Thor?


*******************


Naik-naik ke panggung new palapa,


Menyanyikan lagu tanda kasih.

__ADS_1


Like dan rate 5 jangan lupa,


Semoga syuka dan terima kasih.


__ADS_2