
Aku sampai kembali di lapangan saat matahari sudah tergelincir ke arah barat, menghasilkan bayangan 1/3 dari tinggi benda. Peserta sedang bersiap-siap untuk mengikuti pembinaan PBB dari kepolisian. Aku melanjutkan menandatangani daftar hadir yang belum lengkap.
Kembali kuteringat pada Dadank. Aku mengambil ponsel dari dalam tasku untuk melakukan panggilan telepon terhadapnya. Panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Yank." terdengar salam dari ujung telepon.
"Wa'alaikumussalam, Dank. Udah sampai di Pekalongan ya?" tanyaku.
"Udah dari tadi malam, Yank. Aku sampai jam 10 an kalau nggak salah." jawab Dadank.
"Oh.. Kok nggak kasih tahu kalau sudah sampai. Padahal aku nungguin lho." kataku, padahal mana sempet.
"Hehe.. Aku capek Yank, jadi langsung tidur saja. Gimana? bisa datang ke sini enggak?" tanyanya.
"Maaf, Dank. Kalau sekarang aku nggak bisa, Hari Minggu besok bisa kuusahakan."
"Yah.. Minggu rumah ini udah ditempati orang lain Yank. Nanti malam aja aku udah pulang ke Salatiga, karena besok pagi kakakku sudah harus berangkat ke Padang." jawabnya.
"Kita nggak bisa ketemu, donk. Kamu aja yang ke sini sekarang, mumpung masih siang ini." bujukku.
"Aku nggak paham daerah sini, Yank. Maaf Yank, udah dulu ya, aku harus membantu kakakku packing nih." pamitnya.
"Yaudah, terusin aja. Aku juga masih banyak kerjaan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sambunganpun terputus, aku melanjutkan pekerjaanku kembali yang masih belum kelar, menandatangani rapelan buku daftar hadir.
Terik matahari mulai meredup, terkadang sinarnya tertutup mega sehingga sedikit mengurangi sengatannya. Peserta yang mengikuti sosialisasi PBB dari Kepolisian berbondong-bondong telah kembali, Nampak Bu Lut di belakang mereka.
"Capek, Bu." ucap Avila yang baru duduk di tikar sambil melepas sepatu.
"Kalau capek istirahat, Evil. Minumnya air putih jangan es terus." tukasku. " Yang lain juga, jangan membeli jajan sembarangan, itu nasi kok masih sisa banyak sekali, siapa yang tidak makan?" tanyaku.
Tidak ada yang mau ngaku, yang di hadapanku semua bilang sudah makan.
Dari kejauhan Nailul yang uang sakunya paling banyak datang mendekat bersama Widi, mereka membawa sesuatu yang berwarna orange yang menarik perhatianku.
"Ilul, ada yang jual asinan mangga dimana?" tanyaku sambil menelan ludah yang kusembunyikan.
"Bu Lula mau? ini barengan, Bu." sahut Nailul sambil menyodorkan asinan mangga mudanya yang malah menawari.
"Enggak usah, Bu Lula minta tolong belikan saja. Segitu berapa, Ilul?" tanyaku.
"Ini dua ribu, Bu." jawab Ilul sambil menikmati asinan mangganya.
"Bu Lut mau asinan mangga apa tidak?" tanyaku pada Bu Lut yang sedang rebahan di dalam tenda sambil mengipasi badannya.
"Iya, Mbak. Aku titip lima ribu." Sahutnya sambil merogoh saku celananya dan melemparkan uang lima ribuan, tetapi masih jauh dari jangkauanku.
Akhirnya uang itu jadi tongkat estafet hingga sampai ke tanganku. Akupun merogoh uang yang sama dan kuberikan pada Ilul.
"Ini, Lul. Tolong belikan asinan mangganya lima ribuan dua ya." pintaku sambil menyerahkan uang tadi pada Ilul.
"Pakai cabe tidak, Bu?" tanyanya.
"Iya, pakai cabe." sahutku.
Ilul dan Widipun pergi meninggalkan tenda untuk membeli asinan mangga.
"Jangan membeli jajan sembarangan, Bu." celetuk Avila persis seperti ucapanku saat memberi nasehat padanya tadi.
Busyet... senjata makan tuan ini mah.
__ADS_1
Kupandang Avila yang tertawa tetapi sedikit cengar-cengir karena malu. Akupun tersenyum padanya.
"Bu Lula sudah kebal, Evil." sahutku berseloroh.
Tidak berapa mereka kembali membawa kantong kresek kecil dan menyerahkan kantong itu padaku. Akupun menerima dan membuka kantong kresek tersebut, ada dua bungkus kecil asinan mangga, aku mengambil satu, satunya lagi kuserahkan pada Bu Lut.
Aku mulai menikmatinya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam ini malam kedua, malam terakhir kami berada di bumi perkemahan Jambore Ranting ini, tepat pukul tujuh nanti adalah kegiatan api unggun, dan setelahnya adalah malam pentas seni.
Peserta pentas seni adalah gabungan dari regu putra dan regu putri, minimal 6 peserta. Mereka boleh menampilkan kreasi seni apa saja baik itu drama, tari-tarian nusantara, pembacaan puisi maupun menyanyi.
Peserta yang akan ikut pentas sudah dirias sejak bakda magrib tetapi belum memakai kostum. Karena mereka harus mengikuti upacara api unggun terlebih dahulu.
Saat upacara api unggun berlangsung, semua lampu dimatikan, kecuali lampu di tenda para pedagang. Ya iyalah gimana bisa melayani pembeli kalau gelap gulita. Upacara api unggun berlangsung khidmat, pentas seni pun berlangsung meriah.
Orang tua siswa yang menjenguk juga ikut memadati lapangan, mereka ingin ikut menyaksikan anaknya tampil di pentas.
Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini peserta tidur lebih cepat. Setelah semua kegiatan selesai, mereka merebahkan tubuhnya berjajar rapi di dalam tenda dan terlelap. Mungkin karena mereka sudah lelah 2 hari mengikuti kegiatan.
Sebelum merebah, aku sempatkan untuk mengirim pesan pada pak Hardi.
[Pak, minta dibuatkan kopi sama mi rebus, nggak?]
send,
cling,
[Iya, Bu. Tolong buatin mi rebus 4, kopi 2 dan teh 2, kebetulan Pak Yahya dan kang Khadik(Penjaga Madrasah) juga masih di sini.]
[Utus anak putra ke sini donk buat bawain, soalnya anak putri sudah tidur semua.]
send,
cling,
[Njenengan saja yang bawa ke sini, nanti sekalian tak kenalkan pendamping tenda sebelah, masih single]
[Ih, Njenengan kok gitu. Kita di sini bawa almamater madrasah lho, Pak.]
send,
cling,
[Lepas almamaternya, simpan dulu atau gantung pakai hanger, πππ]
[Njenengan mau besok pagi MI kita jadi trending topik di sosmed, Pembina putri MI XXX tengah malam menyusup ke tenda putra.]
send,
Cling
[Baguslah, guru MI ada yang spiral, he he he..]
Spiral? nikah aja belum, masa pasang spiral.
[Pokoknya kalau enggak ada yang ngambil ke sini jangan pada berharap bisa menikmati mi rebus dan kopi tanda seru]
send,
__ADS_1
cling,
[Iya-iya, Bu guru yang paling cantik(kalau sendirian di tenda putra π€π€π€),
Kang Khadik sedang ke situ]
[π π π ]
send
"Sudah matang belum minya?" tanya kang Khadik tiba-tiba mengagetkanku.
"Astaghfirullahal'adzim, Kang Khadik tengah malam ngagetin kayak setan dech." gerutuku.
"Hehe.. Mana ada setan ganteng kayak aku?" ucapnya menyombongkan diri.
"Iya dech, ngganteng kayak kabel sutet. Kalau nggak ngganteng mana Mumuk mau. Nih mi rebusnya." pujiku sambil menyerahkan 4 mangkok mi rebus yang kutata pada keranjang kotak.
Aku menyisipkan empat sachet kopi 3 in 1 di sisi mangkok, dan mengambil termos air panas untuk dibawa Kang Khadik juga.
"Gelasnya sudah ada di tenda putra ya, kang."
"Maturnuwun, Bu." ucapnya.
"Nggih sami-sami, Kang." sahutku.
Kang Khadik membawa keranjang kotak berisi 4 mangkok mi rebus tersebut di lengan kirinya seperti pelayan rumah makan Padang, sementara tangan kanannya menyangking termos.
Kelar sudah tugasku hari ini, saatnya menjemput impian. Masih di posisi yang sama seperti kemarin malam, tidur beralaskan tikar evamatik dan beratapkan langit. Di atas sana rembulan seperti mengejekku, semoga aku bisa bertemu jodoh malam ini walau dalam mimpi, aamiin...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Aku terbangun ketika Kak Andri Gunawan membangunkan peserta lewat pengeras suara dari sekretariat. Yup, ini memang sudah subuh, subuh ini begitu dingin. Rasanya enggan bagiku untuk menggerakkan anggota badanku, apalagi untuk bangun. Tubuhku terasa remuk redam, mataku juga masih sulit kubuka.
Sayangnya aku tidur di tempat terbuka seperti seorang gelandangan, bedanya aku tidur beralaskan tikar evamatik, tubuhku berbalut jaket Hoodie dan selimut bulu yang tebal, sedangkan gelandangan hanya beralaskan koran atau kardus bekas, bahkan banyak yang tidak beralaskan apa-apa dan tidak berbalut apa-apa, hanya pakaian yang melekat di tubuhnya saja.
Tubuhku enggan untuk bangun tetapi tidak dengan jiwaku, jiwaku meronta-ronta. Ayo bangun, Lula. Memangnya kamu enggak malu? Sebentar lagi pasti tukang bubur ayam dan tukang bubur kacang ijo akan naik haji, eh mangkal di samping kamu maksudnya. Kamu rela bodi kamu jadi hiburan gratis buat mereka?
Sebentar lagi aja dech, aku masih mau meneruskan mimpiku, tadi aku mimpi bertemu cowok ganteng tiba-tiba buyar gara-gara Pak Andri Gunawan membangunkan, huh..
Aku kembali ke alam mimpi, tetapi tidak lagi bertemu dengan pemuda ganteng dalam mimpiku yang tadi, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku,
"Mbak Lula... Mbak." Suara perempuan memanggilku. Pak Andri Gunawan membangunkan lagi?
Eh, tunggu. Kenapa suaranya jadi perempuan? Kayaknya bukan Pak Andri Gunawan dech, sebab dia kan tidak pernah memanggil teman perempuannya dengan sebutan Mbak, dia selalu memanggil teman sesama guru perempuannya dengan sebutan Nju, Nju Lula.
Memang unik sendiri itu Pak Andri, wong Solo tapi manggil dengan sebutan Nju, Nju itu kan panggilan untuk kakak perempuan di Pekalongan yang hampir punah, untuk kakak laki-laki dengan sebutan Kang, sekarang panggilan tersebut sudah lengser terganti dengan Mas dan Mbak, bahkan Mas dan Mbak juga hampir terkikis oleh Brother dan sister.
"Mbak Lula," suara itu kembali memanggil. "Kalau mau lanjutin tidur di dalam tenda saja, Mbak. Di sini buat lewat anak-anak susah." ucapnya lagi.
Eh, ternyata Bu Mimah. Akupun bangkit dan duduk, ku regangkan otot-ototku.
"Jam berapa?" tanyaku padanya.
"Jam lima. Aku mau pulang dulu ya, Mbak. Aku sudah merebus air, nanti kalau sudah mendidih tolong dimatikan apinya." pesannya.
Tanpa menunggu jawaban dariku, dia langsung pergi meninggalkanku. Yah, mesti nunggu air mendidih dulu nih, padahal aku sudah kebelet pingin pipis. Mau minta tolong sama anak-anak, nanti kalau terjadi sesuatu tanggung jawabnya gede. Duh.. sabar ya, kemih, cuma sebentar kok.
Happy reading
semoga suka
Jangan lupa jempolnya ya!
__ADS_1
Tararengkiuuh πππ