
Seorang Pria mendambakan wanita yang sempurna dan begitu juga wanita mendambakan sosok pria sempurna, namun mereka tidak tahu bahwa Allah telah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan satu sama lain.(kata-kata mutiara)
Setelah kandas janji deal-dealannya dengan Faiz, kini Lula mulai membuka peluang kepada teman SMS-nya lagi.
Dia mengaku bernama Agus, berasal dari Desa Rowokembu Kecamatan Wonopringgo, masih di wilayah Kabupaten Pekalongan juga, tetapi ketika Lula bertanya apa dia kenal dengan teman kuliahnya yang bernama Dewi Aminah dia menjawab tidak kenal.
Agus adalah buruh di pabrik pemecah batu, dia duda beranak satu, laki-laki juga sama seperti Faiz. Dan di rumahnya dia memelihera kambing.
Agus tidak pernah menyebutkan umurnya, Lula sempat kaget ketika dia menelepon, ternyata suaranya tidak bisa membohongi umurnya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Seperti kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya setiap bulan Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri, di toko sembako kakaknya banyak permintaan Snack dan camilan. Lula selalu membantu dengan senang hati. Ia mengubah kemasan jajanan dari 3 sampai 5 kilogram diubahnya menjadi kemasan 250 gram sampai 1000 gram. cling.. berubah.
Saat Lula sedang sibuk-sibuknya bergelut dengan jajanan yang berbahan dasar tepung terigu tersebut, tiba-tiba Mak Kulsum menghampiri dan membisikkan sesuatu.
"Atif di rumahnya Fauzi mau ketemu kamu, Lula." bisik Mak Kulsum memberitahukan sesuatu.
Dalam keadaan seperti ini? badan gerah dari pagi udah keringetan, banyak tepung dan minyak mungkin sudah banyak yang menempel di wajah Lula. Lula berfikir sejenak.
"Nanti malam saja bilang sama dia suruh datang lagi, Mak. Aku nggak siap kalau bertemu sekarang, mukaku pasti kluwus." tolak Lula.
Masa masih puasa mau pandang-pandangan sama lawan jenis sih. batin Lula
Mak Kulsum pun beranjak meninggalkan tempat itu.
Mbak Izzah yang melihat percakapan antara Lula dengan ibu mertuanya menjadi kepo.
"Ada apa, Bu Lek?" tanya Mbak Izzah pada Lula.
"Ehmm..itu, Si Atif yang anak Corotan katanya mau main, dia sudah ada di rumah Fauzi." jawab Lula.
"Kenapa nggak ditemuin saja, Bu Lek? Sudah tinggalin saja pekerjaanmu, biar dihandle yang lain." perintah Mbak Izzah.
Lula tidak juga menghentikan pekerjaannya,
"Nggak apa-apa, Mbak. Nanti malam kusuruh datang lagi saja." sahut Lula.
Lula meneruskan pekerjaannya, sesekali berhenti hanya untuk sholat.
Malam harinya sehabis sholat tarawih, Lula mengenakan kaos rajut lengan panjang berwarna hitam dengan luaran overall batik berwarna dasar putih, saat di rumah memang Lula belum berhijab, jadi dia tidak memakai penutup kepala walaupun hendak menerima tamu, ia hanya menguncir rambut panjang ikalnya.
Kira-kira pukul setengah sembilan, datang dua orang pemuda tampan, ternyata Atif membawa teman karibnya, Lula jadi bingung mana yang bernama Atif. keduanya sama-sama tampan.
Lula memperhatikan kedua orang pemuda tersebut.
Masih brondong semua, mana yang namanya Atif? Aku baru kali ini bertemu dengan mereka, tetapi kok seperti pernah melihat salah satu dari mereka, tapi di mana? Batin Lula.
Bingung juga mau mulai darimana, untung saja Usnul membawakan teh hangat beserta cemilan. Sehingga Lula bisa menawarkan kepada kedua pemuda tersebut untuk dinikmati.
"Monggo silahkan dinikmati teh dan cemilannya, Mas-mas." Lula mulai mempersilahkan.
Kedua pemuda tersebut mengambil gelas berisi air teh yang ada di atas meja kemudian meminumnya. Tiba-tiba salah seorang dari mereka nyeletuk.
"Istriku kalau minum kayak setan." ucapnya mencairkan suasana.
__ADS_1
Oh, dia udah punya istri, berarti bukan Atif donk. Batin Lula lagi.
"Kayak pernah melihat setan saja, haha." sahut Lula sambil tertawa.
"Beneran, Mbak. Satu botol itu kalau diminum gek-gek langsung habis." tuturnya. Padahal Lula tahu kalau itu hanya akal-akalan dia untuk mencairkan suasana.
Tampaknya pemuda yang satunya masih malu-malu untuk berbicara. Tiba-tiba Mak Kulsum yang baru duduk di ruang tengah bertanya.
"Rumahnya di mana, Mas?" seru Mak Kulsum.
"Di Corotan, Mak." jawab Atif.
"Oo, Corotan. Kalau sama Rahayu pedagang brabatan dimananya?" tanya Mak Kulsum lagi.
"Dia Mbakyu saya, Mak. Saya adiknya yang paling mbontot." jawab Atif lagi.
"Berapa bersaudara?" tanya Mak Kulsum.
"Ada lima bersaudara, Mak. Mbak Rahayu anak pertama." jawab Atif.
"Wah sama, aku juga lima bersaudara." Lula menimpali. "Oh iya, kamu masih kerja di Prajegan?" tanyanya kemudian.
"Sudah nggak lagi, dua tahun ini saya cuma di rumah, sobo sawah." jawab Atif. "Kamu sendiri masih ngajar di Gondorio?" tanyanya kemudian.
"Masih." jawab Lula singkat.
"Itu SD atau MI?" Tanya Atif lagi.
"MI, SD-nya kan yang di Prajegan." jawab Lula.
"Di MI mana? Mungkin aku kenal."
"Di MI Mbelar, namanya Amin Fadholi. Kamu kenal?"
"Oh, kamu adiknya Amin Fadholi. Pantesan dari tadi aku seperti pernah melihat kamu tapi di mana. Kalian mirip." ungkap Lula. "Ya jelas kenal walaupun nggak kenal banget, kan kita sering ketemu di KKG." imbuhnya.
Obrolan berlangsung hingga pukul sepuluh malam, kedua tamu tersebut akhirnya berpamitan untuk pulang.
Atif anak terakhir dari lima bersaudara, ibunya sudah lama meninggal, sementara bapaknya sempat menikah lagi beberapa kali, dan sekarang tinggal bersama istrinya yang terakhir.
Sekarang Lula menjadi tambah bingung, dua orang yang datang jauh dari kriterianya tentang umur. Dalam bayangan Lula, dia menginginkan suaminya kelak maksimal 5 tahun di atasnya atau minimal sama dengan umurnya.
Sementara dua laki-laki yang datang, yang satu jauh di bawahnya sementara yang satunya lagi jauh di atasnya.
Lula kembali teringat mimpinya beberapa tahun yang lalu tentang celana jeans yang sudah disediakan untuknya. Kemudian pak tua yang menunjuk ke arah tenggara itu mungkin arah dukuh Corotan tempat tinggal Atif.
Sementara Mas Agus yang tinggal di Kecamatan Wonopringgo itu kan arah barat. Ah, itu mungkin kebetulan saja, Lula menepis pikiran nya sendiri. Jangan terlalu percaya mimpi, Lula, itu tahayul. Percaya hanya kepada Allah, sholat istikhorohlah.
Tapi bisa juga kan Allah memberikan petunjuk melalui mimpi.
Kalau dipikir-pikir sih mendingan pilih Atif yang masih muda, kalau pilih Mas Agus nanti kalau punya anak masih kacil-kecil, masih butuh biaya untuk sekolah, sementara orangtuanya sudah tidak produktif lagi, kan kasihan anaknya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat. (Kata-kata mutiara)
__ADS_1
Sunset Ramadhan beranjak pergi, berganti fajar Syawal di pagi hari, membawa cahaya kedamaian di penghujung Ramadhan, menebar berkah di hari kemenangan, Idzul Fitri.
Seharian tadi sama seperti kebiasaan hari pertama Idzul Fitri sebelumnya, Lula hanya keliling kampung bersama teman-temannya. Siangnya hanya istirahat di rumah, sedangkan malam hari ia ikut rombongan sanak saudara silaturrahim ke Gondorio.
Sepulang dari mengunjungi sanak famili yang ada di dukuh Gondorio, Lula mendapat panggilan telepon dari Agus. Lula menekan tombol jawab.
"Assalamu'alaikum," Lula menyapa dengan salam.
"Wa'alaikumussalam, lagi apa, Dek?" tanya Agus di ujung telepon sana.
"Lagi terima tetepon, Mas." jawab Lula.
"Telepon dari siapa?" tanya Agus lagi.
"Telepon dari Mas Agus, hehe." sahut Lula.
"Aku kira lagi terima telepon dari siapa, aku mengganggu ya?" ucap Agus tidak enak hati.
"Enggak lah mas, HP ku kan cuma ini yang lagi terima telepon. Aku baru pulang silaturrohim dari rumah saudara di kampung sebelah." terang Lula.
"Oh ya, dek. Besok kamu di rumah nggak? Mas mau main." tanya Agus.
"Besok jam 9 an aku dan adik-adikku mau silaturrahim ke tempat saudara yang ada di Kecamatan Karanganyar, Mas." jawab Lula.
"Kalau aku datang lebih pagi, jam tujuh bagaimana? Aku cuma ingin melihat kamu." tanya Agus lagi penuh harap.
"Boleh deh kalau jam tujuh." sahut Lula.
"Terimakasih ya, Lula. Oh ya, Mas mau jujur lagi sama kamu, tolong kamu jangan marah ya," pinta Agus.
"Iya Mas, aku siap mendengarnya." sahut Lula
"Sebenarnya namaku bukan Agus, tapi Nahrowi. Mulai sekarang kamu bisa panggil aku Mas Rowi." tuturnya.
"Oh.." hanya itu tanggapan Lula.
Lula merasa kecewa karena telah dibohongi, meskipun hanya sebuah nama, tetapi tidak menutup kemungkinan bohong hal yang lain juga kan?
"Sudah malam, Mas sudah ngantuk." ucap Agus eh Rowi yang terdengar sambil menguap.
"Yaudah, sampai besok ya, Mas. Aku juga sudah ngantuk. Assalamu'alaikum." Lula mengakhiri percakapan dengan salam.
"Wa'alaikumussalam," jawab Rowi.
Lula meletakkan HP nya di meja kemudian berbaring di samping Usnul dan terlelap.
Malam kian dingin, hari ini telah berlalu, apa yang dilakukan sudah selesai. Rangkullah impianmu, sepanjang malam. Besok akan datang dengan cahaya yang sama sekali baru.
**************
Jalan-jalan membeli permen,
Sebelum berjumpa sang kekasih,
Jangan lupa like dan komen,
__ADS_1
Semoga suka dan terimakasih.