Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#22


__ADS_3

Mungkin masa lalu memang bisa menyakitkan. Tetapi kamu tetap bisa memilih untuk lari atau belajar darinya.


Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat.


Sesi kegiatan KMD hari pertama berakhir pada pukul 21.00 WIB. Para peserta yang banyak yang lebih memilih untuk tidur di rumah dari pada tidur di lokasi kegiatan, terutama mereka yang membawa kendaraan sendiri, atau karena memang rumahnya jauh. Hanya sebagian kecil saja yang menginap di lokasi kegiatan.


Sebelum sesi paling akhir berlayar ke pulau kapuk dilaksanakan, Lula hendak melaksanakan sholat Isya' terlebih dahulu, karena tadi pas materi bakda Maghrib bablas sampai pukul 21.00 sekalian.


"Ada yang mau ke belakang nggak?" tanya Lula pada teman-temannya.


"Tadi Dewi yang mau ke belakang, Mbak Lula." sahut Nur Janah.


"Yang lain nggak ada? Aku takut sendirian, lampunya remang-remang gitu." rengek Lula.


"Ayo aku antar, Mbak!" Imas menawarkan diri.


Imas dan Lula berjalan beriringan, sampai di depan kamar mandi masih ngantri.


"Kamu tunggu di sini saja ya, Mas. Aku mau mengantri di sana." pinta Lula pada Imas.


"Iya, Mbak Lula. Mbak nggak usah takut aku tinggalin." sahut Imas.


Lula mulai mengantri untuk masuk ke kamar mandi. Sementara Imas menunggunya dengan duduk di bangku yang ada di sana. Kamar mandinya memang ada 3, tetapi keadaanya memprihatinkan, maklum karena itu kamar mandi yang dikhususkan untuk siswa MIN, sementara untuk kamar mandi guru khusus untuk panitia dan para tutor.


Akhirnya berakhir sudah penantian Lula, Lula keluar kamar mandi sudah berganti kostum, yang tadinya memakai seragam Pramuka lengkap, sekarang ini di sudah memakai baju rumahan namun tetap tidak meninggalkan kerudungnya.


"Ayo, Mas!" ajak Lula pada Imas, "ketiduran ya, Kamu. Maaf ya lama!" lanjutnya.


"Nggak apa-apa, Mbak." balas Imas.


Merekapun akhirnya kembali ke ruangan kelas yang disediakan khusus untuk transit. Sesampai di ruangan, teman-teman Lula sudah pada anteng, tidak tahu mereka sudah tertidur atau hanya memejamkan mata. Di ruangan itu hanya ada tujuh orang yang menginap sementara yang lain sudah pada pulang dan mimpi indah di rumah masing-masing.


Ternyata cuma aku yang belum sholat isya, batin Lula.


"Nanti kalau sudah selesai tolong lampunya dimatikan ya, Mbak Lula! Aku nggak bisa tidur kalau pakai penerangan." pinta Bu Sri dengan suara seraknya.


"Iya, Bu!" sahut Lula.


Lula menggelar tikar yang akan dipakainya untuk tidur, dan membentangkan sajadah di atasnya. Ia nampak mulai melakukan gerakan sholat, suasana yang hening seperti mendukungnya untuk melaksanakan sholat dengan khusyuk hingga akhir.


Menyanjung, memohon ampun dan memohon pertolongan tidak luput dalam dzikirnya. Cukup lama Lula menumpahkan isi hatinya, berkeluh-kesah kepada Sang Maha Pencipta. Dalam do'anya Lula berucap,


"Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban, wayakuuna shoohiban, lii fiddiini waddunyaa wal aakhiroh."


Artinya: "Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat."


Lula melepas dan merapikan mukenanya kembali kemudian membungkusnya dengan lipatan sajadah meletakkannya di ujung tikar sebagai bantalan untuk dia tidur.


Lula melangkah menghampiri dinding untuk meraih saklar lampu dan menekannya, seketika ruangan menjadi gelap hanya sorot lampu dari luar yang menerangi ruangan itu.


Gadis itu kemudian kembali menuju tikarnya dan merebahkan tubuhnya di sana. Akhirnya ia dapat menyusul temannya yang sudah sejak tadi berlayar ke pulau kapuk. Kapuk dari hongkong kali, orang tidurnya pakai tikar gini, ada juga yang tidur beralaskan evamatik.


"Ahh..tetap nggak bisa tidur!" seru Bu Sri tiba-tiba.


"Hahaha... kukira sudah tidur semua." sahut Lula.


Teman-teman yang lainpun akhirnya melakukan pergerakan.


"Mana bisa tidur kalau keadaannya seperti ini." ucap Bu Sri.


"Kenapa, Bu? selimutnya ketinggalan di rumah?" tanya Imas.


"Selimut yang bisa kentut, hahaha.." sahut Lula.


"Bisa macem-macem lah selimutnya nggak cuma kentut saja." sahut Bu Sri


"Memang selimut bisa buat apa saja? selimutku cuma bisa buat selimutan sama alas setrikaan doang." tanya Fatimah yang tidak paham obrolan orang dewasa.


"Aduh, Fatimah. Sudah mau nikah belum paham juga." sahut Imas.


"Selimut Bu Sri itu bisa macem-macem, Pat. Bisa nyari uang buat nafkahi Bu Sri dan anak-anak,


sayang sama keluarga, membantu pekerjaan Bu Sri kalau di rumah dan lain-lain." jelas Bu Sri.


"Oo..kalau itu sih suaminya Bu Sri, aku kira selimut beneran, hehehe.." sahut Fatimah akhirnya.


Ada saja yang mereka obrolkan hingga pukul 02.00 WIB mereka baru tertidur.


🌸🌸🌸🌸🌸


Ternyata manusia hanya butuh sabar, yakin dan berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya dari Allah, termasuk soal jodoh. Sabar adalah hal yang amat berharga dalam menjalani kehidupan, ia bak mutiara di dasar lautan yang dalam.


Rasanya sabar sudah cukup untuk  dapat mengarungi bahtera kehidupan yang luas dan penuh tantangan ini.


---+++---


KMD hari Kedua,


Santo memberitahu Lula bahwa dia dan ibunya Minggu depan mau datang kondangan di Wiradesa Pekalongan, rencananya dia mau mampir ke rumah Lula.


Lula jadi cemas dan khawatir, bagaimana tanggapan keluarga dan kerabatnya nanti saat melihat ibunya Santo yang sudah separoh baya tetapi tidak mau menutup kepalanya, apalagi melihat potongan rambutnya.


Bagaimana reaksi mereka kalau melihat keluarga Santo seperti itu? Hadeuh.. apalagi kalau mereka sampai tahu, kalau satu rumah nggak ada yang mau sholat, uuuh.. bisa-bisa aku diceramahi nggak selesai tujuh hari tujuh malam. Gerutu Lula


"Kok, ibu bisa kenal orang Wiradesa?" tanya Lula pada Santo via telpon.


"Iya, dia itu bos plastik langganan ibu dipasar," jawab Santo.


"Oh, yang waktu itu mas bilang mau dijodohin sama Mbak Ayu?" tanya Lula lagi.


"Iya, tapi Mbak Ayunya enggak mau." sahut Santo.

__ADS_1


"Kenapa enggak mau, kan biar sekalian bareng kita, Pekalongan-Tegal." ide Lula


"Mbak Ayu suka sama cowok asal Brebes." jawab Santo.


"Oh.. gitu, udah ya, Mas. dah mau masuk nih." Ucap Lula yang saat itu sedang jeda istirahat.


"Iya, Say. Assalamualaikum!" Santo mengakhiri


"Waalaikumussalam," jawab Lula.


Lulapun kembali masuk ke dalam ruangan kelas, karena sesion berikutnya akan segera di mulai. Materi sesi yang akan dibahas nanti adalah membahas materi tentang penggalang.


Selama mengikuti sesi, Lula hanya sesekali melihat sang tutor yang sedang membahas materi. Pikirannya tidak bisa fokus, blok note yang seharusnya ia gunakan untuk meresume materi yang ia tangkap, ternyata isinya hanya coretan-coretan seperti anak paud yang baru bisa memegang pulpen. Terkadang kertas putih tersebut ia gambari dengan bunga-bunga yang entah bunga apa.


Aku selalu meminta diberikan seorang suami yang Sholeh, mengapa yang datang seperti dia.


Setelah bosan dengan semua itu, ia mulai merasa mengantuk. Ucik yang melihat kepalanya dengat-dengut dan hampir terjatuhpun tertawa terbahak-bahak.


Lula melipat kedua tangannya di atas meja dan menjadikannya sebagai tempat menyandarkan kepalanya. Ia menelungkupkan wajahnya menghadap ke meja.


"Mbak Lula!" panggil Ucik.


Lula menoleh malas,


"Apa? permen mana?"


Ucik merogoh sakunya dan menyerahkan sebutir pada Lula. "Tinggal satu, nih."


"Makasih, kamu sih enak tidur di kasur. Yang nginap disini semalam enggak bisa tidur sampai jam dua pagi." jelas Lula.


"Banyak nyamuk ya, Mbak Lula?" tanya Ucik.


"Banyak nyamuk, alas tidur keras, nggak ada Bantar, berasa kayak di penjara dech pokoknya." jawab Lula menjelaskan menurut sudut pandangnya.


"Hahaha...Mbak Lula ini lucu, masa belum pernah ditangkap polisi sudah merasakan tidur di penjara." seloroh Ucik.


Sang Tutor yang mengamati peserta KMD yang mulai pada mengantukpun meminta perhatian.


"Sudah pada ngantuk ya?" Tanya Tutor. "Nyanyi dulu ya, biar nggak ngantuk!" ajaknya.


Kakak Pembina tutor mengambil spidol boardmarker, Kemudian ia menggambar sebuah pohon pada papan whiteboard, dibawah pohon tumbuh rumput yang mengelilingi pohon tersebut, dan diatas pohon itu ada sarang burung dan seekor burung yang sedang mengerami telurnya.


Karena penasaran akhirnya Lula jadi tidak ngantuk lagi.


Tadi ngajak nyanyi kok malah menggambar pohon, batin Lula


"Siap nyanyi semua ya!" seru Sang Tutor mengajak peserta KMD menyanyi. "Satu..dua..tiga..


Ada pohon


pohon indah


pohon di atas rumput,


rumput hijau keliling ling ling


Setelah paham maksudnya akhirnya para peserta KMD dapat ikut menyanyikan lagu itu.


"Lanjut, ya!" ajak sang Tutor.


Ada dahan,


dahan indah


dahan di atas pohon


pohon di atas rumput


rumput hijau keliling ling ling


rumput hijau keliling ling ling


Para peserta KMD langsung meneruskan lagu itu serempak tanpa dikomando lagi.


Ada ranting


ranting indah


ranting di atas dahan


dahan di atas pohon


pohon di atas rumput


rumput hijau keliling ling ling


rumput hijau keliling ling ling


Ada daun


daun indah


daun di atas ranting


ranting di atas dahan


dahan di atas pohon


pohon di atas rumput


rumput hijau keliling ling ling

__ADS_1


rumput hijau keliling ling ling


Ada sarang


sarang indah


sarang di atas daun


daun diatas ranting


ranting di atas dahan


dahan di atas pohon


pohon di atas rumput


rumput hijau keliling ling ling


rumput hijau keliling ling ling


Ada telur


telur indah


telur di atas burung


burung diatas sarang


sarang di atas ranting


ranting di atas dahan


dahan di atas pohon


pohon di atas rumput


rumput hijau keliling ling ling


rumput hijau keliling ling ling


Ada burung


burung indah


burung di atas telur


telur di atas sarang


sarang di atas daun


daun di atas ranting


ranting di atas dahan


dahan di atas pohon


pohon di atas rumput


rumput hijau keliling ling ling


rumput hijau keliling ling ling.


"Sudah tidak ngantuk lagi kan, Adik-adik?" tanya Kakak Pembina.


"Tidak, Kak." jawab semua peserta serempak.


"Karena sebentar lagi masuk waktu dhuhur, boleh istirahat ya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh,"


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh" jawab perserta serempak.


"Salam Pramuka!"


"Salam!"


Setelah Kakak Pembina Tutor meninggalkan ruangan, barulan para peserta berhamburan keluar. Lula dan Ucik melangkah beriringan menyusuri Lorong gedung MIN Kedungwuni.


"Nanti malam kamu harus menginap disini juga donk, Cik! Acaranya kan bakal sampai jam 01.00." ujar Lula.


"Yah...dengan sangat terpaksa, kecuali kalau Mas Umar mau menjemputku." sahut Ucik.


"Kasihan sekali Umar, jauh-jauh dari Batang datang kesini cuma buat ngantar kamu pulang, terus balik lagi ke Batang." Lula mengungkapkan apa yang ada dalam bayangannya.


"Kenapa Mbak Lula yang repot? orang Umarnya juga mau." sela Ucik.


"Pasti kamu iming-imingi sesuatu ya! secara kamu kan jendes," goda Lula.


"Ih, apaan sih, Mbak Lula. Enggak lah ya, NO SEX BEFORE MARRIED!" sanggah Ucik.


"Baguslah." sahut Lula.


Sampailah mereka di depan ruang transit, Lula melepaskan sepatu pantofelnya dan meletakkannya dekat dengan dinding di bawah jendela.


"Mbak Izah belum sampai, Bu?" tanya Lula pada Bu Sri saat masuk ke dalam ruangan.


"Belum, mungkin sebentar lagi." jawab Bu Sri.


Lula menggelar tikarnya dan merebahkan diri di sana.


"Aku mau tidur dulu, nanti kalau Mbak Izah sampai tolong bangunin ya!" pinta Lula.


"Mintanya sama siapa?" tanya Bu Sri yang juga sudah rebahan.

__ADS_1


"Ya pokoknya sama semua yang ada disini, ya adik-adik, kakak tidur dulu ya! Salam Pramuka!"


Mungkin karena sangat mengantuk, hingga walaupun suasana sangat ramai pun Lula terlelap tidur


__ADS_2