
Sepulang mengantar Vian dan Vano dari sekolah nyonya Aselin menuju ke kantor Dito. Ia ingin melihat Erania bekerja di hari pertamanya sekaligus mengajaknya makan siang bersama.
Dimas yang kebetulan berada di lobby segera menghampiri nyonya Aselin.
“Selamat siang tante, apa kabar?” sapa Dimas pada nyonya Aselin.
“Siang Dim, tante baik. Kamu?”
“Dimas baik juga tan. Tante mau ke ruang bos Dito?”
“Tidak, tante tidak ingin menemui bosmu itu”ucap nyonya Aselin santai. Dimas tampak bingung.
“Lalu tante”
“Tante ingin menemui calon mantu tante. Ini hari pertamanya bekerja jadi tante akan memberinya semangat” nyonya Aselin melenggang santai menuju ruangan Erania meninggalkan Dimas yang masih melongoh karena bingung.
Lift terbuka, nyonya Aselin tersenyum melihat Erania yang begitu sibuk dengan pekerjaannya sampai – sampai ia tidak menyadari kehadiran dirinya.
“Bagaimana hari pertamamu bekerja sayang?” Erania menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya Erania melihat siapa yang berdiri depannya.
‘Ah, nyonya kapan datang? Kok Nia gak dengar ya?” Erania kemudian memeluk nyonya Aselin.
“Eits, kok panggil nyonya sih. Sekarang kamu kan bukan lagi perawat kamu jadi jangan panggil nyonya. Panggil mama,oke?”
“Tapi nyo…….”
Nyonya Aselin menggangkat jari telunjuknya serta menggoyang – goyangkan ke kanan dan ke kiri “Tidak ada tapi – tapian panggil mama” tegasnya memotong ucapan Erania yang masih ingin menolak permintaannya
Erania yang melihat raut wajah nyonya Aselin langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Oh iya ma, tuan Dito ada di dalam. Mama silahkan masuk saja” nyonya Aselin tersenyum mendengar panggilan mama dari Erania tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Nyonya Aselin langsung menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Mama ke sini bukan mau menemui bosmu itu. Mama mau lihat kamu di hari pertama bekerja, sekalian mau ngajak makan siang. Sekarang bereskan barang – barangmu kita berangkat” perintah nyonya Aselin kepada Erania.
“Tapi ma waktu istirahat kan masih lama” tolak Erania setelah melihat jam melingkar manis di tangan kirinya.
__ADS_1
“Kamu tenang saja, biar Dimas yang urus. Benarkan Dimas?” Dimas yang sudah berada di belakang nyonya Aselin langsung mengangguk cepat.
Dengan berat hati Erania akhirnya mengikuti mantan majikannya yang sekarang merubah jadi mamanya.
Sebenarnya ada kehagatan yang menjalar di hati Erania saat ia memanggil mama pada nyonya Aselin.
Nyonya Aselin dan Erania kemudian pergi meninggalkan Dimas, tiba – tiba telpon di meja Erania berbunyi. Dimas mengangkatnya “Erania segera ke ruanganku sekarang” belum sempat Dimas bicara si penelpon yang tak lain adalah bosnya itu langsung menutupnya.
“Ah sial,, apalagi ini. Main tutup – tutup saja”gerutu Dimas yang beranjak ke ruangan bosnya.
Tok..tok..tok.. Dimas mengetuk pintu ruangan Dito.
“Masuk” ucap Dito dari dalam ruangannya.
Dimas membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan Dito. Dito yang sibuk dengan berkas – berkasnya segera mengangkat kepalanya karena merasa aneh dengan suara langkah kaki sepatu pria.
“Loh kenapa kamu yang masuk Dim? Aku kan panggilnya Erania”
Dimas hanya tersenyum “Maaf bos, itu…itu”
“Erania pergi dengan mamanya bos” ucap Dimas dengan tempo yang sesingkat – singkatnya.
‘Apa?” teriak Dito.
“Untuk apa mama mengajak Erania keluar di saat jam kerja begini?”
“Tadi katanya makan siang bersama bos “ Dimas hanya bisa berdiri dan menjawab semua pertanyaan Dito yang sudah terlihat menahan kekesalannya.
Dito lalu mengambil handphone nya dan langsung menelpon mamanya.
Tut..tut..tut… terdengar dering telpon mama Dito yang tersambung namun tidak diangkat. Dito mencoba beberapa kali namun hasilnya tetap sama.
Dito menoleh ke arah Dimas “Mana nomor Erania” Dimas menggeleng dengan cepat. Tatapan Dito semakin tajam mendapat jawaban yang tidak sesuai keinginannya. Mengerti dengan maksud tatapannya bosnya itu Dimas kemudian langsung menghuhubngi bagian HRD untuk meminta nomor Erania.
*“Bos aneh\, tinggal serumah tapi tidak punya nomornya”*ucap Dimas dalam hatinya.
__ADS_1
Ting.. sebuah pesan masuk di handphone Dimas. Dengan cepat Dimas membukanya dan memberikan pada bosnya itu.
Dito kemudian menekan tombol – tombol di handphonenya. Kali ini Dito menghubungi Erania.
Sama seperti ketika menghubungi mamanya, panggilan ke nomor Erania tersambung tetapi tidak ada jawaban dari pemiliknya. Dito kembali mencoba namun semua panggilannya tidak ada yang terjawab.
Dito akhirnya menyerah, ia kembali ke mejanya untuk fokus dengan pekerjaannya. Dan tentu saja Dimas menjadi pelampiasan dari kekesalan Dito dan juga harus mengerjakan tugas Erania yang ditinggal pergi.
Di dalam mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang tawa nyonya Aselin seakan saling menyahut dengan suara kendaraan. Ia begitu bahagia karena berhasil membuat anak tunggalnya itu kesal.
"Ngapain kamu masih di sini Dim? Kerjakan tugas Erania sekrang juga?" Perintah Dito dengan wajah yang benar-benar kesal.
"Ba... baiak bos" balas Dimas dengan cepat sambil berlalu ke ruangannya.
"Dim,," Dimas berhenti sambil menoleh ke arah bosnya karena panggilan itu.
"Ya bos?" tanya Dimas.
"Lain kali jangan sampai terulang kejadian seperti ini. Aku tidak mau ada karyawanku yang keluyuran di jam kerja, apalagi pegawai seperti itu. Seharusnya sebagai lulusan terbaik ia menunjukkan predikat itu bukan malah sebaliknya. Kamu menegerti?"
"Mengerti bos" jawab Dimas cepat. "Ada lagi bos?" tanya Dimas lagi.
"Tidak ada, lanjutkan pekerjaanmu"
Dito duduk kembali ke kursinya. Pekerjaannya yang menumpuk membuatnya bisa melupakan kejadian ini untuk sesaat.Paling tidak Dito tidak memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya menjadi marah atau pusing.
Berbeda halnya dengan Dito, Dimas menghentak-hentakkan kakinya kesal."Ini nih yang dibilang maju kena, mundur kena. Kalau tadi aku larang pasti kena omel tante Aselin, eh giliran setuju sekarang malah kena marah bos. Lagian bos ada-ada saja, mana mungkin kan aku berani sama tante. Itukan mamanya bos, otomatis bos aku juga" Dimas mengacak-acak rambutnya.
Dengan berat hati Dimas akhirnya mengerjakan semua pekerjaan Erania yang memang sedikit menumpuk karena mbak Sinta sekertaris lamanya yang sudah mengundurkan diri sebelum Erania bekerja.
Selain pekerjaan yang banyak, Dimas juga disibukkan dengan perintah-perintah Dito. Dimas harus bolak-balik ke ruangan Dito entah untuk ambil ini itu, tanda tangan dokumen. Untung saja hari ini mereka tidak ada jadwal pertemuan di luar kantor.
Setelah bekerja beberapa jam, akhirnya Dimas bisa menyelesaikan semua pekerjaannya. Dimas merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena duduk di depan komputer dengan semua pekerjaan yang banyak.Jam menunjukkan pukul delapan malam saat Dimas meninggalkan kantor.
Sementara Dito sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Dito terlihat masih kesal saat meninggalkan kantor.
__ADS_1