
Hari ini Erania dan kedua adiknya memulai babak baru dalam hidup mereka, atas bantuan tuan dan nyonya Wardana adik – adiknya sudah mulai bersekolah. Sedangkan Erania juga sudah memulai bekerja.
Sementara Dito sudah memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia juga ingin menghabiskan waktu bersama orang tuanya.
“Dit, apa kamu sudah memutuskan posisi apa yang kan ditempati Erania nak?" mama Dito bertanya saat mereka sudah berada di ruang makan untuk sarapan.
“Iya ma sudah” jawab Dito sambil meminum kopinya.
“Apa?” tanya mama Dito penasaran.
“Sekretaris Dito ma”
“Benarkah? Hmmm,,, kenapa dengan Sinta kamu memecatnya?” mama Dito sedikit emosi. Mama Dito memang menyukai Sinta menjadi sekretaris Dito karena Sinta sangat cekatan dalam bekerja dan yang pasti dia tidak berusaha menggoda anaknya seperti sekretaris - sekretaris yang sebelumnnya.
“Ih ma, kok mikirnya jelek banget sih”
“Trus apa dong kalau gak kamu pecat SInta? Kenapa bisa Erania menjadi sekertaris kamu kalau Sintanya ada?” Ucap mama Dito sedikit sewot dengan anaknya itu.
“Dia mengundurkan diri ma. Sinta akan menikah dan dia akan ikut dengan suaminya. Mama belum apa-apa sudah main tuduh Dito saja. Oh iya ma Erania sudah berangkat?” lanjut Dito
Mama Dito terkekeh karena salah menilai anaknya “Oh, kirain kamu pecat Sinta. Erania sudah pergi – pagi. Mama sudah bilang bareng kamu saja tapi dia gak enak”.
Vian dan Vano mengakhiri sarapannya. Sejak tadi mereka hanya diam mendengarkan obrolan Dito dan mamanya “Tante kamu sudah selesai sarapan, apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Vian.
“Ayo, Dit mama berangkat dulu ya mau ngantar mereka sekolah dulu” mama Dito terlihat sangat bahagia dengan kesibukan barunya.
“Hati – hati ma” Vian dan Vano mengikuti nyonya Aselin tak lupa mereka berpamitan kepada Dito.
__ADS_1
Selesai sarapan Dito berangkat ke kantor, setibanya di kantor terlihat Erania sedang diberi pengarahan oleh Dimas terkait pekerjaan barunya.
Dito langsung masuk ke ruangannya tanpa menyapa Erania dan Dimas karena tidak ingin mengganggu. Erania yang cerdas memudahkan Dimas memberikan pengarahan, dengan cepat Erania sudah dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaannya sebagai sekretaris Dito.
“Nia, pekerjaan pertama menunggumu” Erania mengikuti tatapan mata Dimas. Tampak seorang wanita berjalan menuju ruangan Dito. Wanita itu terlihat cantik dan tentu saja sangat elegan. Dimas memberi kode kepada Erania, Erania dengan cepat menahan tangan wanita itu sebelum sempat membuka pintu ruangan Dito.
“Maaf bu, apakah anda sudah punya janji sebelumnya. Kalau boleh tahu siapa anda?” sapa Erania ramah pada wanita itu.
Merasa kesal wanita itu yang tak lain adalah Devinda menghempas tangan Erania dari tangannya.
“Siapa kamu berani-berani melarang aku bertemu Dito” Devi meninggikan suaranya.
Erania dengan santai menjawab “ Maaf sekali lagi, aku Erania sekretaris tuan Dito. Aku hanya memastikan semua tamu yang masuk atas persetujuan tuan Dito” Dimas yang berdiri hanya melihat semua yang terjadi. Dalam hati Dimas memuji keberanian Erania menghadapi Devi yang sangat arogan.
Dimas memang tidak menyukai Devinda, walaupun baru pertama kali bertemu namun mendengar cerita bosnya ia juga menjadi kesal. Apalagi dengan tingkahnya yang sekarang ini.
“Aku teman lamanya dan sebentar lagi akan menjadi partner kerjanya. Kamu hanya sekretarisnya tapi sudah berani – berani melarang aku bertemu Dito” Keributan terjadi, namun Erania sama sekali tidak takut. Erania terbilang gadis yang pemberani apalagi jika ia merasa apa yang dilakukannya benar.
“Dito, sekretaris kamu melarang aku masuk. Padahal kan aku hanya ingin membicarakan tentang kerjasama kita” aduh Devi dengan manja kepada Dito.
“Maafkan aku tuan” Erania kembali menundukkan kepala. Sementara Devi merasa di atas angin Devi yakin kalau Dito akan membelanya. Namun sayang keyakinannya tanpa alasan.
Dito dengan cepat menarik tangannya dari tangan Devi “ Aku sudah katakan Dimas akan menghubungi kalian jika ada informasi, jadi anda tidak perlu repot – repot datang ke sini nona Devinda. Erania, lain kali jangan biarkan orang lain menganggu pekerjaanmu. Lakukan sesuai aturan perusahaan, sekarang angkat kepalamu. Aku tidak mau pegawaiku merasa terintimidasi di kantor ini oleh orang luar. Dimas, urus dia” Dito kembali ke dalam ruangannya dan langsung menutup pintu dengan kasar.
Dimas, Erania dan Devinda kaget mendengar bantingan pintu dari Dito.
“Ah sial, papa benar kalau Dito sekarang sangat berbeda. Ia menjadi orang yang sangat dingin. Tapi aku tidak akan menyerah” Devi memberi semangat pada diri nya sendiri.
__ADS_1
“Mari nona saya antar” hayalan Devi terusik dan tatapan tajampun di dapat Dimas, “Aku bisa sendiri” sinis Devi. Hari ini Ia kembali dengan tangan kosong tanpa hasil. Padahal Devinda sudah memiliki rencana besar dengan papanya. Namun semua tidak berjalan lancar.
Selepas kepergian Devinda, Erania menarik nafas panjang. Ia kembali ke mejanya. Dimas mengangkat dua tangkatnya dengan mengacungkan keduanya jempolnya ke arah Erania.
"Kamu sungguh luar biasa Erania, tugas pertama kamu bisa dibilang sukses. Wah, tidak salah kamu masuk lewat jalur prestasi di kantor ini" puji Dimas.
"Pak Dimas tahu, jantung aku rasanya mau copot karena mereka. Baru juga kerja hari pertama sudah kena bentak"
"Itu bagian dari pekerjaan, jadi kamu harus siap mental. Ya sudah kalau begitu, silahkan kamu lanjutkan pekerjaanmu. Kalau ada yang tidak kamu mengerti silahkan tanyakan ke aku ya" Erania mengangguk dan memulai pekerjaannya.
Dimas meninggalkan Erania dan masuk ke ruang Dito.
"Bos, bagaimana sekarang? Apa kita sudah akan menjawab proposal kerjasama tuan Max?"
"Biarkan saja dulu, kita mengulur waktu. Buat mereka menunggu, aku masih mau tahu sejauh mana usaha mereka menyakinkan kita soal kerjasama itu. Sepertinya sedikit menarik jika kita sedikit bermain-main dengan mereka"
"Baik bos"
*****
Devinda membanting kasar pintu mobilnya. Kekesalannya benar-benar sampai di ubun-ubun. Devinda lalu mengambil handphonenya dan menghubungi papanya.
"Halo sayang, bagaiman pekerjaanmu? Apakah ada hasil?" tanya tuan Max papa Devinda.
"Maafin Devinda pa, Devi gagal. Dito tidak mau ketemu sama aku" jawab Devinda pelan.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu tidak usah pikirkan. Biar papa yang urus. Sekarang kamu kembali saja ke kantor"
__ADS_1
"Baik pa, Devi ke kantor sekarang" Devida membuang handphone ke jok belakang. Ia kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan kantor Dito.
Setelah percakapan dengan anaknya berakhir, tuan Max meramas handphonenya. Seperti Devinda, tuan Max juga sangat kesal,"Sepertinya aku harus membuat rencana cadangan untuk mereka. Karena kalau lama-lama kerjasama ini tidak terwujud makan perusahaanku akan bangkrut. Aku tidak boleh membiarkan begitu saja" Ucap tuan Max.