Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
Mendatangi kantor Pranata


__ADS_3

Hari ini, Chaca dan Hanna sukses dibuat kesal oleh Jenar, iya mengajak mereka untuk menemani nya mendatangi kantor Pranata.


"Gak usah cemberut gitu sih Cha," kata Jenar saat mereka mulai memasuki lift.


"Kamu tuh ngeselin Je, kenapa gak bilang sih kalau minta di temenin nya kesini," kata Chaca kesal. "Mau ngapain coba kesini, lo ketahuan jelas mau nemuin laki lo, dan si Hanna nemuin om asisten. lah gue ngapain?' gerutu Chaca.


"Demuin om Duren hehehe," ucap Jenar terkekeh.


Ting!


Pintu lift terbuka, mereka bertiga segera masuk ke dalam ruangan Arya.


"Kakak," pekik Jenar saat melihat Fahmi juga berada di ruangan Arya.


"Jeje," ucap Fahmi tersenyum ke arah Jenar, dan Jenarpun langsung menghampirinya dan memeluknya, hingga membuat Arya mendengus kesal.


"Suami kamu disini sayang," kata Arya menekankan ucapanya.


"Hehehe, maaf sayang. Aku kan udah lama gak ketemu kakak jadi reflek aja tadi." Ucap Jenar langsung memeluk Arya dengan erat.


"Ngapain kesini hem, tumben gak ngabari dulu," kata Arya mendudukkan Jenar di pangkuannya, kini mereka berdua duduk di kursi kebesarannya Arya, sedangkan Hanna, Chaca, Arlan dan Fahmi duduk di sofa mengobrol berempat.


"Mau kasih surprise," kata Jenar.


"Surprise nya gak tepat, harusnya surprise nya nanti malam," bisik Arya di telinga Jenar.


"Jangan mulai deh mas," kata Jenar tajam membuat Arya terkekeh. Pasalnya Jenar malu setiap kali Arya membahas malam.


"Ohh jadi om kakaknya Jenar," kata Chaca yang memang baru tau ceritanya.

__ADS_1


"Saya masih muda dan belum menikah, harus gitu di panggil om," ucap Fahmi kesal.


"Hehehe maaf, kebiasaan manggil orang yang pake jas begitu," kata Chaca mengingat Dimas, entah mengapa bayangan wajah Dimas selalu melintasi fikiran nya.


"Kayaknya cuma kita doang yang sendiri disini, bagaimana kalau kita keluar ngoffe mungkin," ajak Fahmi.


"Kita ikut," kata Hanna cepat.


Akhirnya mereka berempat pergi ke Coffeshop terdekat dan saling berbincang, jangan tanyakan dimana Jenar dan mengapa tidak ikut, karena mereka yakin pasti Jenar dan Arya akan berakhir masuk kamar dan keluar lama, daripada menunggu orang bertempur mending di tinggal ngopi, iya gak.


Chaca dan Fahmi terus mengobrol dengan seru tanpa memperdulikan Hanna dan Arlan yang juga sedang beromantisme di depan duo jomblo.


Tanpa Chaca sadari, di depan pintu masuk Coffeshop itu tengah berdiri sepasang mata yang menatapnya dengan tajam,(Setajam silet) 😂


Entah mengapa orang itu merasa marah dan geram hingga membuatnya harus mengepalkan tangannya dengan kuat untuk meredam amarah yang ia sendiri tidak tau mengapa.


Tanpa berlama lama ia pun segera berbalik dan pergi meninggalkan Coffeshop itu tanpa jadi membeli.


"Duh, gue pengen ke toilet nih," kata Chaca saya sudah memasuki lift.


"Yaelah Cha, kenapa gak dari tadi aja sih," kata Hanna.


"Ya mana gue tau, ia datengnya tiba tiba gak ngajakin gue diskusi dulu kalau pengen keluar," kata Chaca juga kesal.


"Bodo amat," cibir Hanna membuat Chaca terkekeh.


Ting! pintu lift terbuka dan Chaca segera berlari ke toilet dimana yang Arlan tunjukkan tadi.


"Huhh leganya," ucap Chaca saat selesai mengeluarkan cairan kemihnya.

__ADS_1


Saat Chaca sedang mencuci tangannya di wastafel, tiba tiba sosok pria bertubuh tegap dan kekar menatapnya dengan tajam.


"Siapa dia?" tanyanya datar.


"Maaf, siapa ya?" tanya Chaca mengernyitkan dahinya, "Apa ANDA mengenal saya?" tanyanya lagi.


"Chaca!" serunya.


"Maaf pak, saya permisi," tanpa menjawab pertanyaan orang itu, Chaca segera meninggalkan nya namun tangannya langsung di cekal oleh pria itu.


"Ku tanya sekali lagi, apa hubungan kamu dengan Fahmi," tanyanya dengan tajam.


"Bukan urusan anda!" seru Chaca dengan wajah dingin.


"Jangan mancing amarahku Cha." tekannya.


"Hellow, siapa sih lo, kenal juga kaga sok KEPPO banget sama hidup gue, siapa kak Fahmi itu bukan urusan lo, nyokap gue aja gak banyak keppo kok sama hidup gue ngapain lo nanya nanya," kata Chaca ketus, "Dan juga, kita tidak saling mengenal jadi s ..." ucapan Chaca terhenti karena pria di depannya itu langsung membungkam mulut Chaca dengan bibirnya, ia mencium Chaca dengan liar dan panas membuat Chaca membelakkan matanya tak percaya.


Pria itu menggigit kecil bibir Chaca agar terbuka, lalu mulai menjelajahi seluruhnya, lidahnya berpagut mengeksplor kemana mana dan sesekali ia menghis*pnya dan *****@* nya dengan lembut.


Setelah beberapa saat ia pun melepaskan pagutannya dan menatap Chaca dengan intens.


"Jangan pernah dekat dengannya lagi." ucapnya.


Plaakkk!


Chaca menampar dengan keras wajah pria di depannya ini, setetes air mata jatuh melewati pipi mulusnya.


"Ini Hati bukan parkiran, yang bisa maju mundur gak karuan, ini hati juga bukan Layangan yang bisa di tarik ulur sembarangan," kata Chaca tajam lalu segera berlari pergi meninggalkan toilet.

__ADS_1


'Aaarrkkkhhhhh, kenapa gue bisa kaya gini sihh,' pekik orang itu dalam hati serta menjambak rambutnya dengan frustasi.


Hayo hayoo,, siapa tuhh yang udah nyip@k neng Chaca?? 🤔💃💃💃


__ADS_2