
Hay sayang sayang mommy, mas Arya dan Jenar datang lagi buat nemenin malem minggu kalian , , ,
Happy reading πππ€
Selesai meminum susu Aiden segera berjalan menuju Kamar, namun saat melihat TV menyala membuat niatnya untuk ke kamar ia urungkan, ia memilih bergabung dengan Dimas dan Bian yang sedang bermain PS.
"Kenapa belum tidur?" tanya Dimas saat tau anaknya ikut bergabung di sebelahnya.
"Aiden belum ngantuk pi," jawab Aiden
"Aahhh sialan" pekik Bian saat kalah dalam permainan nya.
"2-1 hahaha." kata Dimas senang
"Gara gara nih bocah nih ganggu konsentrasi gue" kata Bian menyalahkan Aiden yang duduk di sebelahnya.
"Enak aja Aiden dibawa bawa." jawab Aiden tak terima, "Emang om nya aja yang payah" remeh Aiden
"enak aja, udah sana tidur anak kecil juga jam segini belom tidur" gerutu Bian yang masih tak terima dengan kekalahan nya.
"Kenapa lo jadi nyalahin anak gue" kata Dimas ikut kesal
"Tau nih, main nyalah nyalahin anak orang aja" kata Aiden membela papi nya.
Bian langsung menerkam Aiden dengan gemas dan menggelitik pinggang mungil ABEGEH itu.
"Hahahaha geli om geli ahahaha" Aiden terus memberontak karena kegelian
"Rasain nih rasain" ujar Bian terus menggelitik
"Papiii help me hahahaa papiii tolongin hahaa" Aiden terus meronta dan meminta bantuan Dimas
"Ampun gak lo nih nih nih." Bian terus menggelitik perut dan pinggang Aiden hingga membuat Aiden mengeluarkan air mata
"Gak mau hahaha, papi tolong hahaa"
"Bian" ujar Dimas membuat Bian langsung menghentikan aksinya sambil cemberut kesal.
"Dasar anak papi, beraninya ngadu" cibir Bian kepada Aiden, Aiden hanya mengedikan bahunya cuek sok cool dan kembali mengatur nafasnya
"Makamya jangan macem macem sama anak ganteng," ucap Aiden tersenyum miring
"Ini mau lanjut lagi gak?" tanya Dimas sambil tersenyum miring, "Masih berani gak?"
"Cihh, siapa takut, baru 2-1 kan nanti gue bikin score 5-2" ucap Bian enteng meremehkan Dimas, padahal sedari tadi dia yang kalah
"Kok om Arya gak ikut," tanya Aiden membuat Dimas dan Bian saling menatap lalu tersenyum penuh arti.
"Ehem, kamu panggil om Arya gih, ajak main PS kesini" ucap Bian sambil menahan tawanya
Aiden langsung bersemangat berlari ke kamar Arya karena akan bertemu Jenar kembali.
tok tok tok
__ADS_1
"Om Aryaaa, tante Jenaaarrrr" Teriak Aiden di depan pintu sambil terus mengetuk pintu
"Aiden tau om Arya belum tidur, buka pintu nyaaa,,,"
"Om Aryaaa ayo main PS"
dor dor dor, Aiden terus menggedor pintu kamar Arya hingga beberapa saat, Jenar membuka pintu kamarnya.
"Om Arya mana Tan?" tanya Aiden lalu segera menerobos masuk ke dalam.
"Heemm itu om Arya lagi mandi" jawab Jenar sedikit kikuk
"Kok baru mandi," tanya Aiden bingung karena setaunya Arya sudah pulang dari tadi
"I iya tadi ada kerjaan sedikit jadi... ketunda mandinya," jawab Jenar gugup
"Kerjaan?" tanya Aiden memiringkan kepalanya
"I iya" Jenar tersenyum canggung, "Oh ya kamu kesini ada apa?
"Kata om Bian, om Arya suruh kebawah main PS" kata Aiden
"Hemm nanti tante Jenar kasih tau setelah selesai mandi ya"
"Oke deh," kata Aiden lalu matanya memicing ke arah Jenar
"Ke kenapa?" tanya Jenar gugup
"Leher tante kenapa?" tanya Aiden yang melihat leher Jenar terdapat beberapa warna merah membuat Jenar kelagapan
"Dimana? masa kamar om Arya ada binatang nya sih sampe leher tante kaya gitu." tanya Aiden lagi
"Itu, di kena nya di kampus, iya tadi tante duduk di taman eh kena ulet bulu kayaknya iya ulet bulu" kata Jenar menganggukan kepalanya.
"Ulet bulu?" kata Aiden seperti sedang berfikir dan terus memandangi wajah Jenar.
"Aiden mau keluar dulu ya, nanti jangan lupa bilangin om Arya." ucap Aiden lalu segera keluar dari kamar Arya dan Jenar, membuat Jenar bernafas lega.
***
Pagi hari saat sarapan semua sudah berkumpul di meja makan, semua mata memandang ke arah Jenar, bukan karena wajah Jenar yang kini Ber make up atau baju Jenar yang berbeda, namun semua fokus menatap Jenar dengan tatapan yang sulit di artikan,
Jenar makan sambil menundukan kepalanya dan sesekali melirik ke kanan dan kirinya,
tiba tiba Aiden memberikan sebuah salep kepada Jenar "Nanti tante olesin sendiri ya" kata Aiden sok dewasa,
"Jenar," ucap Tamara lirih, terlihat raut khawatir di wajahnya. "Kita ke dokter ya"
Uhuukk hukk. Arya tersedak saat mendengar kata dokter lalu ia menatap istrinya dengan tatapan bingung.
"pelan pelan mas" kata Jenar setelah memberikan minum ke Arya.
"Kamu sakit?" tanya Arya juga ikut khawatir
__ADS_1
"Eh, enggak aku gak sakit." jawab Jenar cepat
"Tapi kata Aiden kamu sakit, dan itu dia sampai memberikan obat ke kamu," kata Tamara
"Emm itu ma, anu emm" Jenar begitu gugup dan bingung harus menjawab apa
"Kita ke dokter sekarang ya." kata Arya cepat dan langsung beranjak dari duduknya
"Mas, apaan sih, Jenar gak sakit" kata Jenar semakin kesal karena Arya bukan nya membantu malah semakin memperumit keadaan.
"Kalau kamu gak sakit kenapa baju kamu seperti itu Sayang," tanya Tamara lembut, Jenar memakai Celana jins panjang dan kaos panjang serta jaket dan syal menutupi lehernya. "Coba sini mama lihat seberapa parah" Tamara hendak beranjak dari duduknya namun tidak jadi
"Itu mah anu emm" Jenar merasa semakin terpojokan
"Mama punya kenalan dokter kulit yang bagus, dia pasti bisa nyembuhin sakit kamu sayang, biar gak berbekas." ujar Tamara membuat Arya semakin bingung
"Kamu sakit apa sih? jujur sama aku yank." kata Arya menggenggam tangan Jenar.
"Mas Arya iihhh ngeseliiiinnn." Kata Jenar cemberut lalu segera pergi dari sana karena sudah bingung harus menjawab apa, ia begitu malu bila harus jujur namun ia juga tidak enak melihat wajah khawatir semua orang.
"Eh, kok malah marah." kata Arya bingung
"Om Arya payah, gak bisa jagain tante Jenar" kata Aiden ikut kesal, "Awas aja nanti Aiden bakal rebut tante Jenar dari om Arya." ucap nya yakin
"ini lagi bocah ikut ikut aja bikin makin pusing." ucap Arya memijit pelipisnya, lalu segera berlari mengejar Jenar
Bian dan Dimas sedari tadi saling melirik dan mengulum senyum masing masing.
"Kalian kenapa diem aja sih." tanya Tamara, Seketika Dimas dan Bian tertawa terpingkal pingkal.
"Lagi mama percaya aja sama bocah tengik kaya dia hahaha" ucap Bian menunjuk Aiden
"Aiden lagi yang di salahin" gerutu Aiden
"Aiden lain kali jangan asal menyimpulkan orang sakit ya" kata Dimas di sela tawanya, "Itu akan membuat oma kamu Khawatir"sambung Dimas membuat Adi dan Tamara menyerngitkan dahinya bingung.
"Kan tante Jenar memang sakit," kata Aiden cemberut,"Tante Jenar sendiri yang bilang kalau dia di gigitin ulet bulu waktu di kampus dan Aiden lihat kemaren parah banget bekasnya."
"Separah apa sayang? apakah sampai ke seluruh tubuh tante Jenar?" tanya Tamara
"Enggak oma, karena yang di gigit ulet bulu cuma lehernya aja, jadi gak nyebar ke tubuh tante Jenar" jawab Aiden polos membuat Bian dan Dimas semakin tertawa, sedangkan Tamara dan Adi melongo lalu menepuk jidatnya
"Astaga, pantas aja Jenar kesal sama Arya" gumam Adi pelan dan melirik ke arah istrinya.
"Anak sama Bapak sama aja, gak inget sikon kalo mau nanem cery" ucap Tamara mencibir Adi
"Siapa yang nanem Cerry oma, Aiden juga mau" jawab Aiden cepat, membuat Tamara gugup
"Aiden, nanti aja belajar nanem nya kalau udah gede, sekarang ayo sekolah bareng om Bian naik motor" kata Bian mengajak Aiden beranglat sekolah,
"Come on." pelik Aiden
Aiden memang lebih suka naik motor bersama Bian daripada naik mobil bersama papi nya, dan Bian sejak tidak mengantar Jenar ia jadi tukang antar jemput Aiden.
__ADS_1
Sayang sayang nya Mommy, mulai besok mommy akan Up 3x lagi aja deh yaaa biar gak kelamaan nungguin lanjutan nya, gimana ? tapi mungkin bab nya akan di kurangin sedikit gak sepanjang iniππ