
Setelah cuti kuliah selama kurang lebih 2 minggu, kini Jenar sudah mulai kembali ke kampus.
Selama dua minggu ini juga hubungan Arya dan Jenar semakin dekat layaknya sepasang kekasih, Satu lagi Fakta yang Jenar ketahui tentang Arya yaitu "MANJA", Jenar tidak menyangka bahwa Arya yang selama ini ia kenal Dingin dan arogant ternyata begitu manja terhadapnya, namun Arya juga selalu memanjakan Jenar, selama Jenar sakit Arya tidak pernah membiarkan Jenar melakukan pekerjaan sekecil apapun, Arya senantiasa menggendong Jenar kemana pun ia ingin pergi di area rumah utama.
Terlebih saat Arya melihat mata sayu Jenar kala menangis ketakutan akibat ulah nya waktu itu membuat Hati Arya ikut sakit merasakan kesakitan yang di rasa oleh Jenar.
Selama dua hari Jenar mendiamkan Arya karena kejadian itu, tentu saja bersama Aiden juga, dan ith membuat Arya mengerang frustasi, padahal ia hanya iseng tapi malah berujung dirinya yang sial.
Pagi ini Jenar akan ke kampus di antar jemput oleh Arya, Arya tidak akan membiarkan Jenar kembali dalam bahaya, cukup kemarin adalah kejadian terakhir akibat ulah Fabian, yah ulah Fabian, karena Fans Fabian lah yang membuat Jenar seperti itu.
"Mas, udah Jenar turun disini aja." kata Jenar saat sudah mendekati area Kampus.
"Kenapa?" tanya Arya bingung
"Aku malu," ucapan Jenar malah membuat Arya semakin mempercepat laju mobilnya.
"Kamu tiap hari bareng Bian gak malu tapi giliran sama suami sendiri malu," ucap Arya dingin dan datar, "Apakah aku terlalu jelek untuk membuatmu malu hah atau aku terlalu tua." kata Arya lagi.
"Bukan begitu mas," jawab Jenar cepat,
"Lalu"
"Jenar," panggil Arya dengan menggenggam tangan Jenar, kini mereka sudah sampai di parkiran kampus.
"Aku memang sudah tak muda lagi seperti Bian, tapi aku masih jauh lebih ganteng dari Bian, dan juga aku lebih dewasa dari bocah tengik itu,"
"Aku akan buat perhitungan langsung kepada Calista." sambung Arya dingin menatap arah depan dengan sorot mata tajam.
"Sudah mas, Jangan." kata Jenar lembut, yah Jenar tak ingin Arya balas dendam atau apalah, karena Jenar sudah memaafkan Calista lagian Jenar harusnya berterimakasih kepada Calista.
"Justru Jenar mau berterimakasih sama dia." ucap Jenar membuat Arya mengerutkan keningnya.
"Andai kemaren dia gak nyakitin Jenar, Jenar gak akan tau perasaan mas Arya, dan Jenar gak akan dapetin perhatian dari mas Arya." ucap Jenar lirih sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang tengah merah merona.
Hati Arya seketika langsung berbunga bunga, ucapan Jenar memang benar adanya namun Arya kembali mengingat Luka di kaki Jenar membuat hatinya kembali panas. "Setidaknya dia harus tau siapa kamu, dan tidak ada yang boleh meremehkan istri seorang Arya Pranata." ucap Arya tegas. Jenar segera mencium tangan Arya dengan lembut.
"Mas, Jenar mohon" ucap Jenar lembut menatap mata Arya yang kini terlihat sangat teduh
"Baiklah" Arya menghela nafasnya pelan "Nanti selesai kuliah jam berapa."
"Hemm sekitar jam 1 "
"Baiklah nanti aku jemput. jangan kemana mana sebelum aku datang"
"Iya"
"Ya udah kamu masuk gih, tuh udah di tungguin tiga kurcaci" kata Arya menunjuk ketiga Sahabat Jenar yang tengah memandang ke arah mobil Arya,
"Kurcaci," ucap Jenar sambil memanyunkan bibir nya
"Jangan memanyunkan bibir seperti itu." ucap Arya
"Kena.." Belum sempat jenar menyelesaikan ucapan nya, mulutnya langsung di bungkam oleh bibir Arya dengan lembut, Arya mel*mat dan memberikan his*pan hi*apan kecil pada bibir Jenar, membuat Jenar terdiam dan membukatkan matanya karena tak tau mesti apa, lalu Arya menggigit bibir bawah Jenar pelan agar Jenar membuka mulut nya, setelah itu Arya langsung memasukan li*ah nya dan mengeksplor isi mulut Jenar. Jenar mulai memejamkan matanya menikmati kelembutan Arya pada dirinya, sungguh sensasi yang belum pernah Jenar rasakan sebelumnya. hingga beberapa saat kemudian Arya melepaskan pagutanya dan menyatukan kening nya dan kening Jenar, nafas keduanya terengah engah,
"Mas Arya." lirih Jenar sambil memegangi dadanya dan memundurkan tubuhnya hingga mepet pintu, "Jangan kaya gitu lagi,"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arya
"Jenar gak mau masuk rumah sakit lagi" ucap jenar membuat Arya menyerngitkan dahinya,
Jenar mengambil tangan Arya lalu di letakanya di dadanya, agar Arya dapat merasakan detak jantung nya yang kian bertambah cepat, namun Arya bukan fokus pada detak jantung nya, melainkan pada kekenyalan benda yang ia sentuh, hingga membuat jakun Arya naik turun di buatnya.
"Jenar gak mau kena serangan jantung gara gara mas Arya, mas Arya ngerasain kan gimana detak jantung Jenar cepet banget kerjanya," ucap Jenar panjang lebar namun Arya hanya manggut manggut kepala saja, fikiran nya masih Traveling kemana mana karena tangannnya masih bertahan di satu tempat yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
"Mas Arya," panggil Jenar karena melihat Arya hanya diam saja,"Apakah itu tadi yang namanya Cip*kan?" tanya Jenar polos membuat Arya tersadar dari lamunan nya dan tak bisa menahan tawanya.
"Kok malah ketawa," ucap Jenar menghempaskan tangan Arya dari dadanya karena kesal.
"Maaf, hahaha" Arya masih belum bisa berhenti tertawa akibat pertanyaan Jenar membuat Jenar berdecih sebal.
"Iya, itu adalah pelajaran pertama dari ku," ucap arya lalu menyelipkan beberapa rambut Jenar kebelakang kuping nya,
"cihh pelajaran," cibir Jenar,
"Pelajaran kedua nanti saat dirumah" ucap Arya sambil tersenyum penuh arti
"Apaan?" tanya Jenar penasaran
"Nanti juga akan tau, pelajaran penting sebeum sampai ujian Utama," kata Arya tersenyum, membuat Jenar bergidik sendiri seolah tau kemana arah pikiran Arya
"Dasar mesum" pekik Jenar membuat tawa Arya pecah.
"tapi Kamu menikmatinya kan?" tanya Arya membuat pipi Jenar merona, "Tuh kan Blushing" goda Arya
"Mas Arya iihhh." rengek jenar sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan nya.
"Hahaha, apakah ini kali pertama mu?" tanya Arya sambil tertawa,
"Siapa." tanya Arya dengan wajah datar "Pacar kamu"
"Jenar mana pernah punya pacar sih" kata Jenar kesal
"Lalu"
"Orang yang nyuri ciuman pertama Jenar" kata Jenar memanyunkan bibirnya.
"Siapa" tanya Arya kesal
"Udah ah Jenar mau kuliah dulu,"
"Jangan ngalihin pembicaraan"
"Kok mas Arya malah marah sih"
"Jawab dulu siapa"
"Pengen tau aja apa pengen tau banget"
"Jenarrr"
"Mas Aryaaa"
__ADS_1
Arya menghela nafasnya kasar, ia tidak akan mungkin menang bila berdebat dengan Jenar, Tapi Arya juga penasaran siapa yang sudah mencuri ciuman pertama Jenar. entah kenapa Hatinya menjadi bergemuruh kesal.
"Makasih udah anterin Jenar, mas Arya hati hati ya"
Cup.
Jenar mengecup pipi Arya lalu segera keluar dari mobil dan menghampiri teman teman nya.
Arya memukul setirnya dengan kencang untuk melampiaskan kekesalan nya, entahlah kenapa dia harus marah, bukan kah dulu ia juga sering berciu?an dengan Tata sewaktu pacaran, lalu kenapa sekarang ia tidak terima bila Jenar juga pernah berciuman sebelum nya.
"Aaarkkhhh,, Sial." umpat Arya lalu segera melajukan mobilnya ke kantor.
"Cieee" ucap Chaca saat Jenar sudah mendekat ke arah mereka
"kayaknya ada yang lagi kasmaran nih." ucap Hanna
"Betul tuh, boleh kali PJJ" sambung Nayla
"Makan bakso boleh tuh." kata Hanna
"Kalian apaan sih." ucap jenar malu
Lalu mereka tertawa bersama menuju kelas.
Sesampainya di kelas rupanya Jenar sudah di tunggu oleh Calista and the geng.
"Woaahh,, masih hidup sehat rupanya dia." ucap Calista memandang Jenar jijik.
Jenar tidak menghiraukan ucapan Calista, ia terus berjalan melewati Calista begitu saja, hingga tiba tiba Calista menjambak rambut Jenar lagi. namun kini Jenar tak tinggal diam, dia segera menginjak kaki Calista dengan kuat,
"Aaaahhh sialan sakit banget." pekik Calista saat merasakan kakinya di injak oleh Jenar.
"Itu gak seberapa loh padahal dibanding kaki saya kemarin." ucap Jenar datar dan menatap ke arau Calista.
"Lo udah berani ya sama gue hah." pekik Calista menunjuk wajah Jenar dengan telunjuknya namun Jenar langsung menyingkirkan jari itu.
"Saya sudah berbaik hati tidak memperpanjang masalah kemarin, jadi tolong jangan membuat saya tidak bisa membantu mbak Calista lagi." ucap Jenar masih dengan nada biasa.
"Sialan, lo fikir gue butuh bantuan dari cewek kampung norak kaya elo hah." kata Calista mendorong tubuh Jenar hingga membuat Jenar terhuyung kebelakang, namun segera di tangkap oleh Bian,
"Fa Fabian." ucap Calista terbata gugup
"Kamu gapapa" tanya Bian ke Jenar di balas gelengkan kepala oleh Jenar.
"Gue udah peringatin lo dari kemaren, keluarga gue gak memperpanjang urusan kemaren harusnya elo bersyukur, bukan malah semakin berani kaya gini. jangan lo pikir keluarga gue gak memperpanjangnya karena sungkan sama keluarga elo ya." ucap Bian menunjuk wajah Calista
"Fabian kenapa lo sekarang kasar sih sama gue, kenapa lo jadi kaya gini, apa gara gara cewek kampung sialan itu hah." pekik Calista tak terima
Plaaakkkk.
Bian menampar pipi Calista hingga pipinya memerah.
Bersambung dulu lah...
__ADS_1
Ekspresi mas Bian kalau lg marah 🙄
masih aja ganteng yak 😋