Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
Biarlah jadi pedofil


__ADS_3

Setelah tau Jenar sudah di temukan, Bian langsung pulang hari itu juga, ia sangat khawatir saat di beritau Arlan bahwa keadaan Jenar sangat memprihatinkan dengan luka kaki yang lumayan parah serta demam tinggi,


Semua keluarga Pranata sudah berkumpul di Rumah sakit untuk menjenguk Jenar, tak ketinggalan mbok Ni dan juga mbak Alya, Namun Jenar masih enggan untuk membuka matanya, Jenar masih belum sadar dan Arya senantiasa duduk di samping Jenar sambil terus menggenggam jemari tangan Jenar.


"Om, tante Jenar kenapa," tanya Aiden sendu


"Tante nya capek, butuh istirahat," kata Arya lembut, "Doain ya biar cepet sembuh"


"Tante gak di tindas lagi kan sama om Arya." tanya Aiden penuh selidik


"Astaga bocah, lagi keadaan kaya gini jangan ngajak ribut," ucap Arya kesal.


"Aiden sini sama oma sayang," panggil Tamara dari sofa, Aiden pun dengan terpaksa menuruti panggilan sang oma karena tak ingin berdebat dengan om nya.


"Oma, kenapa tante Jenar gak bangun bangun, Aiden capek nungguin nya." keluh Aiden polos.


"Doain ya sayang, biar tante cepet sembuh." kata Tamara yang sebenernya juga khawatir.


"Bagaimana pelakunya Ar," tanya Adi


"Sudah di urus sama Arlan pah," jawab Aeya tanpa melihat ke arah sang papa


"Siapa," tanya nya lagi


Arya menatap ke arah Bian dengan tatapan tajam dan marah membuat Bian menelan saliva nya.


"Ehemm, nanti biar Bian yang urus di kampus bang," Bian berucap lebih dulu sebelum ia di terkam oleh singa.


"Siapa Bi?" tanya Adi dan Dimas bersamaan


"Calista pah," jawab Bian lirih

__ADS_1


"Calista anak om Suryo" tanya Adi tidak percaya namun di balas anggukan oleh Bian


"Astaga" Adi menggeleng gelengkan kepala nya tak percaya bahwa anak dari sahabatnya tega melakukan hal seperti ini terhadap menantunya


"Kaya gitu mau papa jadiin calon mantu cihh." cibir Arya, Arya ingat jelas dulu ia akan menjodohkan Bian dengan Calista


Adi yang di sindir seperti itu oleh Arya hanya diam saja, sedang Bian sudah menahan kesal dan amarahnya, baru kemarin ia memperingati Calista agar tidak terlibat dengan Jenar,


Bian dan Calista pernah berteman saat kecil namun saat SMP Calista dan keluarganya pindah ke luar negri dan baru kembali saat akhir masa SMA, dan Bian sudah merasa bahwa Calista kini berbeda jauh dengan Calista yang ia kenal dulu, makanya ia enggan berdekatan lagi dengan nya, Calista selalu meng klaim bahwa Bian adalah miliknya, Calon suami nya dan akan selalu menyingkirkan siapa saja yang menjadi saingan nya.


"Eugghhh" lenguh Jenar membuat semua mata menatap ke arah nya, Perlahan Jenar membuka matanya sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan silau lampu,


Jenar meringis kala merasakan kaki nya yang terasa amat sakit dan perih.


"Jenar," panggil Arya lembut sambil memegang jemari tangan Jenar, "Akhirnya kamu bangun juga, aku khawatir sama kamu dari semalam, kamu mau apa? mau makan atau minum dulu, atau ada yang sakit dimana yang sakit,"Tanya Arya beruntun dan spontan membuat semua yang ada di sana melongo tak percaya, Seorang Arya loh bisa sekhawatir itu terhadap Jenar, padahal dulu waktu bersama Tata, Arya tak pernah sepanik itu,


"BIAN panggil dokter." pekik Arya dan Bian langsung berlari memanggil Dokter karena terkejut, padahal kalau orang waras ya di atas tempat tidur Jenar ada Tombol untuk memanggil Dokter atau perawat, entahlah semua dilanda bahagia serta panik jadinya pada beg*.


"Alhamdulilah, demam nya sudah turun, hanya saja kaki nya harus sering di perhatikan ya, untuk sementara jangan buat jalan dulu, jangan buat aktifitas harus banyak istirahat agar tidak semakin bengkak dan inveksi." ujar Dokter menjelaskan


"Tapi saya tidak lumpuh kan Dok," tanya Jenar polos dan takut


"Tidak nona, bila anda menuruti saran dokter insya'allah semua akan baik baik saja dan tidak lama nona akan bisa kembali berjalan," ucap Dokter sambil tersenyum


"Berapa lama dia harus istirahat dan tidak boleh berjalan Dok," tanya Arya


"Hemm mungkin selama seminggu ini jangan buat jalan sama sekali, bila ke kamar mandi bisa minta tolong perawat atau anggota keluarga yang lain untuk membantunya, dan di minggu kedua sudah mulai bisa buat berlatih jalan sedikit demi sedikit," jelas Dokter membuat semua manggut manggut,


"Baiklah terimakasih Dok, silahkan pergi," kata Arya lalu kembali menatap Jenar dengan tatapan yang sulit di artikan.


Setelah Dokter pergi, semua anggota keluarga mendekat ke arah Jenar memberi ucapan rasa syukur karena Jenar tidak apa apa, Jenar merasa sangat terharu karena saat ia sakit banyak yang menghawatirkan nya, tidak seperti dulu,, lagi dan lagi Jenar meneteskan air mata karena terharu,

__ADS_1


"Hey kenapa kamu malah nangis, apa ada yang sakit?" tanya Arya panik melihat jenar menangis, namun Jenar malah tersenyum dan Menggelengkan kepalanya.


"Jenar seneng," jawab Jenar sambil tersenyum dan menghapus air matanya.


"Kalau seneng, gak bakal nangis." ujar Arya menyentil kening Jenar.


"auww, Mas Arya ihhh," kata Jenar dengan kesal.


"Jenar tuh seneng karena saat Jenar sakit semua pada mengkhawatirkan Jenar, Jenar bahagia banget bisa berada di tengah tengah sini, Jenar bahagia karena memiliki keluarga yang menyayangi Jenar dan mengkhawatirkan keadaan Jenar," ujar Jenar sambil meneteskan air matanya, "Terima kasih ma, pa, dan semuanya karena sudah mau menerima Jenar yang bukan siapa siapa ini untuk masuk ke keluarga kalian," jelas Jenar panjang lebar sambil menangis.


Arya segera merengkuh tubuh mungil istrinya, kini Arya sadar bahwa hatinya memang telah berlabuh pada sosok gadis kecil di depan nya ini yang sering kali ia katain bocah, Biarlah Arya di cap sebagai pedofil karena mencintai bocah, Arya tidak perduli bukankah Cinta tidak memandang umur dan status, Yang Arya yakini Jenar tidak akan menghianati nya seperti Tata karena Jenar masih sangat polos dan Arya bisa melihat ketulusan di setiap tatapan mata Jenar,


"Jenar, Kami semua menyayangi kamu, mama sudah menganggap kamu seperti anak mama sendiri, jadi jangan berfikir kamu masih sendiri lagi ya sayang," ujar Tamara lembut lalu ikut memeluk anak dan menantunya.


"Aiden kok gak di ajak pelukan sih," Aiden langsung naik ke atas tempat tidur lalu ikut memeluk Jenar,


"Awas hati hati nanti kena kaki tantenya Aiden," kata Dimas sedikit khawatir


"Tenang pah, Aiden jago kok melindungi wanita, apalagi tante Jenar, Aiden gak akan ngelukai tante," Terang Aiden yakin, "Tante tinggal di rumah lagi yaahh, Jangan di Apartemen," kata Aiden menatap mata Jenar dengan lekat.


"Hemm," Jenar bingung harus menjawab apa, karena semua keputusan ada di tangan Arya,


"Iya bener Ar, kayaknya mending lo pindah lagi ke rumah sampai kondisi Jenar benar benar pulih," kata Dimas sependapat dengan anaknya.


"Bian juga setuju," jawab Bian cepat dan semangat membuat Arya langsung menatapnya dengan tajam.


"Aiden bener sayang, kalau kamu kerja kan di rumah ada mama, ada mbok Ni dan ada Alya yang akan membantu mengurus Jenar, sedangkan di apartemen kalian gak ada yang bisa bantu, bagaimana dengan Jenar," ujar Tamara


Arya membenarkan semua saran dari keluarganya dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali tinggal di rumah utama hingga kondisi Jenar benar benar pulih.


__ADS_1


__ADS_2