
"Gue udah peringatin lo dari kemaren, keluarga gue gak manjangin urusan kemaren harusnya elo bersyukur, bukan malah semakin berani kaya gini. jangan lo pikir keluarga gue diem karena sungkan sama keluarga elo ya!" Hardik Bian menunjuk wajah Calista
"Fabian kenapa lo sekarang kasar sih sama gue, kenapa lo jadi kaya gini, apa gara gara cewek kampung sialan itu hah." pekik Calista tak terima
Plaaakkkk.
Bian menampar pipi Calista hingga pipinya memerah.
"Jangan kira gue gak berani nampar cewek," ucap Bian dingin dan menatap Calista dengan tajam.
"Mas Bian," lirih Jenar sambil memegang lengan Bian untuk meredakan emosi pria di depan nya itu, Jenar tau bahwa Bian sangat menghawatirkan nya namun Jenar tidak suka kekerasan seperti ini.
"Mas, udah jangan kaya gitu," ucap Jenar lagi membuat Calista semakin meradang
"Dasar cewek kampung sialan, gue gak butuh belas kasih lo" pekik Calista lalu mendorong Jenar hingga terjatuh kebelakang, Ketiga teman Jenar senantiasa langsung membantu Jenar untuk bangun.
Sedangkan Bian langsung mencekram lengan Calista dengan kuat, "Kayaknya kuping lo itu udah gak berfungsi dengan baik, sampai tidak bisa mendengarkan ucapan gue barusan."
"Fabian, lo jahat banget sama gue, gue gak terima gue akan aduin ini ke om Adi dan tante Tamara." teriak Calista lalu segera berlari keluar ruangan sambil memegang pipinya yang terasa sangat panas.
"Kamu gapapa Nar?" tanya Bian khawatir
"Aku gapapa, tapi aku gak suka mas Bian kasar kaya gitu." ucap Jenar ketus
"Nar, kak Bian itu kan belain elo" ucap Chaca
"Iya Nar, kak Bian kan belain kamu" ujar Nayla membenarkan
"Tapi aku gak suka ada kekerasan kaya gitu." tegas Jenar
"Lo gak suka, tapi tu nenek sihir suka kekerasan Nar," ucap Chaca sedangkan Bia hanya diam memandang jenar, rasa kagum Bian kepada Jenar semakin dalam setiap tau kelebihan kelebihan yang dimiliki Jenar, Hati Jenar begitu lembut dan baik, padahal ia sudah di siksa oleh Calista tapi dia masih tetap membelanya.
"Kalau kekerasan di balas kekerasan yang ada gak akan ada habisnya, dia akan semakin ngebenci Jenar," keluh Jenar sedikit takut
"Udah lah gak usah di fikirin, aku minta maaf, oke." kata Bian lembut membuat Jenar mengerucutkan bibirnya sebal.
"Jangan pernah pasang wajah seperti itu di depan cowok lain Nar," kata Bian
"Kenapa ?" tanya Jenar bingung
"Pokoknya Jangan, bisa Bahaya apalagi kalau sampe bang Arya tau," kata Bian bergidik ngeri membayangkan kemarahan Arya kalau sampai tau ia kepancing na*su karena Jenar.
"Kalian para cowok emang aneh." gerutu Chacha.
***
Sepulang kuliah Jenar dan teman teman nya memutuskan untuk jalan jalan ke Mall, tentu saja setelah perdebatan panjang sama Arya, Arya menginginkan Jenar menemaninya di kantor, tapi Jenar juga tidak bisa menolak permintaan sahabatnya, toh itu demi kebaikan nya juga.
Mall kota J
"Nar, gimana pernikahan lo bahagia gak?" tanya Chcaa to the point membuat jenar tersedak minum, saat ini mereka tengah menikmati suasana di Caffe yang berada di dalam Mall
"Alhamdulilah," jawab Jenar tersenyum manis
"Tuan Arya kejam gak ke lo Nar, dia nyiksa lo gak dulu?" tanya Chaca penasaran
__ADS_1
"Kamu itu ya Ca, pikiran nya suami kejam terus" ucap Nayla kesal
"Ya gue kan penasaran Nay, lo lihat deh tampangnya tuan Arya, ganteng, tinggi, dingin, datar, arogant, perfect banget buat jadi tokoh antagonis" ucap Chaca mendetail sambil membayangkan Tokoh novel yang sering ia baca
"Tapi mas Arya bukan Artis cacaa" Jenar akhirnya ikut berucap
"Hehehe ya emang bukan sih, tapi kan laki lo itu seorang CEO Nar, bos besar" kata Chaca menggebu
"Pokoknya mas Arya gak kaya di cerita cerita Novel kamu" ucap Jenar ketus
"Syukur deh kalau gitu, berarti lo beruntung Nar," kata Chaca
"Iya, kamu benar, aku memang beruntung banget," kata Jenar sambil tersenyum membayangkan perlakuan perlakuan manis Arya akhir akhir ini.
"Yaahhh, malah ngelamun nih anak." ucap Chaca
"Hemm, Nar lo gak pengen belanja?"
"Enggak, aku gak ada duit, kamu tau kan disini bajunya mahal mahal." kata Jenar polos sambil berbisik
"Jenar, lo emang gak di kasih duit sama laki lo" tanya Chaca
"Dikasih 5 juta sebulan" kata Jenar dengan raut wajah senang, "tapi Kalau uang nya ku beliin baju nanti hari hariku gimana, dan juga aku yakin uang 5 juta disini paling cuma dapet baju sesetel." sambung nya
"Astaga," Nayla ikut berdecak melihat tingkah polos Jenar, "Kartu yang kamu tanyain ke aku kemarin mana?" Nayla ingat beberapa waktu lalu Jenar sempat menanyakan bagaimana cara menggunakan kartu kredit.
Jenar pun membuka tas nya dan mengambil Black Card yang ada di dompet nya.
"Woaahhh Black Card," ucap Chaca kagum, "Lo punya beginian tapi lo bilang laki lo pelit, Astaga Jenar."
"Hehehex emang apa ya" ucap Chaca tanpa dosa membuat Jenar berdecak.
"Hehehe, okelah kalau gitu ayoo kita belanja" pekik Chaca semangat,
"Tunggu" pekik Jenar
"Kenapa?" tanya Nayla
"Gue gak tau cara make itu kartu gimana," ucap Jenar polos membuat Chaca dan Nayla tertegun.
'Asli gue punya temen kelewat polos apa beg* yak" batin Chaca.
"Udah ikut aja ayok." Caca menggandeng tangan Jenar ia akan mengajari Jenar berdandan dan fashion agar Calista tak lagi meremehkan nya.
"Eh eh tunggu" kata jenar lagi saat mereka baru berjalan beberapa langkah
"Ada apa lagi Jenarrr." ucap Nayla sedikit kesal
"Si Hanna gak mau ikut?" tanya Jenar polos seketika membuat Nayla dan Chaca menolehkan kepalanya kebelakang melihat Hanna yang masih fokus dengan Hape nya dengan sesekali tersenyum sendiri.
Yah sedari awal mereka disana, Hanna hanya diam tidak ikut mengobrol karena ia sibuk dengan Hape nya, entah chating dengan siapa tidak ada yang tau.
"Han, lo mau nginep disitu, ya sudah kita duluan ya" teriak Chaca baru menyadarkan Hanna dan langsung membuat gadis itu kocar kacir menyusul Jenar Cs.
*
__ADS_1
"Bu, kapan kita nyusul kakak ke kota J" rengek Khanza kesekian kalinya
"Sebentar lagi, ibu masih menunggu uang dari juragan Sadi" kata Arini, yah saat ini ia sedang mengurus surat jual beli tanah dengan juragan Sadi untuk memulai hidup baru di kota J
"Khanza udah gak sabar pengen kuliah disana buk."
"Kamu sabar lah, lagian kakak kamu masih baru kerja nya, dia belum bisa membeli rumah, apa kamu mau menjadi gembel disana hah" bentak Arini yang sudah jengah dengan rengekan anak bungsu nya.
"Ibu kok Bentak Khanza" pekik Khanza
"Ibu pusing, lebih baik kamu kembali ke kamar mu"
"Ibu jahat,,, sejak gak ada si Jenar ibu selalu marah marah nya ke Khanza terus" ucap Khanza menangis
"Bukan begitu sayang, maafin ibu ya, ibu hanya capek dan pusing" kata Arini lembut
"Ibu jahat, ibu udah gak sayang sama Khanza" ucap nya lalu ia segera berlari menuju kamar nya. dan membanting pintu dengan kencang.
'Hufftt anak itu benar benar.' gumam Arini pusing menghadapi anak bungsunya.
***
"Bagaimana dengan berkas itu" tanya Arya kepada Arlan, saat ini Arlan sedang melaporkan pekerjaan nya kepada Arya
"Sebentar lagi selesai bos," jawab Arlan yakin "Tinggal selangkah lagi tanah itu akan berpindah tangan, sesuai keinginan bos." sambungnya
"Bagus," jawab Arya tersenyum puas
"Tapi Bos, bagaimana kalau mereka pindah ke kota ini nanti?" tanya Arlan khawatir, "besar kemungkinan mereka akan bertemu kan"
"Kita lihat saja nanti," kata Arya tersenyum miring.
tok tok tok
"Masuk" teriak Arya
Ceklek
"Permisi tuan, ada berkas yang harus anda tanda tangani" ucap sang Sekertaris menyodorkan sebuah berkas kepada Arya
"Saya permisi bos." ucap Arlan yang merasa laporannya telah usai, Arya hanya menganggukan kepalanya lalu kembali membaca berkas yang dibawa sang sekertarisnya.
'Astaga, ganteng banget sih tuan Arya, andai gue bisa miliki dia, hemm gue harus bisa buat dia jadi milik gue' gumam sang sekertaris dalam hati.
"Sudah." ucap Arya datar,"Kau bisa keluar"
Sang Sekertaris itu segera mengambil berkas yang ada di meja kerja Arya namun ia sengaja terjatuh di pangkuan Arya seolah kakinya kesleo, Arya yang terkejut tentu saja sangat marah dan langsung menghempaskan tubuh sekertarisnya hingga terjerembah ke lantai.
"Cari mati kau!" bentak Arya
"Ma maaf tuan, kaki saya kesleo" kilah sang Sekertaris pura pura kesakitan.
"Pergi dari sini, SEKARANG!" bentak Arya menunjuk arah pintu keluar.
Setelah sekertarisnya keluar, Arya kembali melanjutkan pekerjaan nya agar bisa pulang lebih cepat dan bertemu Jenar.
__ADS_1
Bersambung****