
Selesai menuntaskan hajatnya Jenar mencuci tangan dan wajah nya sebelum ia kembali ke kelas, Namun saat ia membuka pintu Toilet ternyata terkunci, Jenar berusaha berteriak meminta tolong namun nihil hingga tiba tiba,
Ceklek,
Byurrr,,,
Begitu pintu di buka dari luar, Jenar langsung mendapatkan hadiah istimewa berupa air seember yang ia yakini itu adalah air bekas pel pel an karena hidung Jenar mencium aroma Karbol, Jenar masih diam menatap sosok yang saat ini di depan nya dengan wajah datar,
"Mau apa," tanya Jenar datar, karena sudah kehabisan akal menghadapi senior nya ini, siapa lagi kalau bukan Calista cs,
Calista mendekat ke arah Jenar lalu menjambak rambut Jenar dengan kuat hingga membuat kepalanya mendongak ke atas, namun ekspresi wajahnya masih datar, Jenar sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini dari kecil, jadi ia tak akan menangis.
"Gue udah peringatin ke elo ya, JAUHIN FABIAN," ucap Calista penuh penekanan.
"Emang kakak siapa, Pacar nya, atau istrinya mas Bian," jawab Jenar santai sambil meringis sedikit merasakan jambakan di rambutnya kian kuat,
"Bukan urusan lo gue siapa, gue minta lo jauhin Fabian atau lo gak akan pernah tenang kuliah disini," ancam Calista yang kesekian kali, namun nyatanya Jenar dan Bian sering terlihat bersama bahkan berboncengan motor bersama, membuat Calista kehabisan kesabaran nya,
"Dan bukan urusan kakak juga Aku mau dekat dengan siapa, termasuk mas Bian," jawab Jenar berani,
"Sialan, berani lo sama Calista," pekik salah satu teman Calista,
"Kenapa harus takut," tanya Jenar, "Emang kakak SETAN," jawab Jenar membuat Cakista semakin murka.
Plaakkkk..
Calista menampar pipi Jenar hingga membuat Jenar terhuyung kebelakang dan terjatuh, lalu Calista menginjak kaki Jenar dengan sepatu hak nya, (Sepatu Calista model Wedges yah bukan High hels)
"Auuwww sakittt," ucap Jenar mengaduh kesakitan akhirnya, namun Calista semakin menekan kan kaki nya hingga membuat kaki Jenar memerah, air mata Jenar sudah tidak bisa di bendung lagi, seberapa kuat ia mencoba menahan nya namun rasa sakit itu sungguh menyiksa.
"Ini peringatan terakhir ya buat lo, kalau sampai gue masih lihat lo keganjenan sama Fabian, gue pastiin lo bakal di DO dari kampus ini," ucap Calista lalu segera pergi bersama kedua teman nya, tak lupa ia kembali mengunci pintu toilet dan memasang pemberitahuan bahwa Toilet rusak.
Di dalam toilet Jenar terus menangis merasakan rasa sakit di kaki dan hati nya, mengapa hidupnya harus seperih ini,
'Ayah, Bunda Jenar rindu dengan kalian hiks hiks, Jenar lelah Yah, Bun, jemput Jenar hiks hiks,' gumam Jenar di sertai isak tangis,
__ADS_1
Di dalam kelas, Ketiga teman Jenar juga resah menunggu Jenar yang tak kunjung kembali, padahal pelajaran sudah hampir selesai,
"Sstt, Jenar mana," tanya Nayla berbisik pada Hanna,
"Gak tau nih, apa separah itu ya mules nya ampe blom balik balik juga," ujar Hanna menebak, mengira bahwa Jenar mengalami Diare,
Setelah pelajaran selesai mereka bertiga bergegas berlari ke kamar mandi untuk melihat keadaan Jenar, namun mereka mencari keberadaan Jenar tak kunjung ketemu, Di sana ada Dua toilet dan yang satu rusak, jadi mereka tak mengeceknya ke dalam,
"Eh eh lo lihat Jenar gak," tanya Chacha kepada salah seorang teman nya,
"Oh tadi dia udah pulang katanya perut nya sakit banget," ujar siswa itu, tentu saja ia berbohong karena siapa lagi coba,
"Oh ya sudah, makasih yah," kata Chacha bernafas lega, "Jenar udah balik duluan, mungkin dia mau kerumah sakit dulu kali," kata Chaca
"Kamu tau gak kosan nya dimana," tanya Nayla,
"Dari awal gue nanya ke dia itu, dia gak mau ngejawab, katanya nanti dia bakal ngasih tau tapi sampai sekarang gak juga ngasih tau," ujar Chaca sedkkit kesal karena tidak mengetahui tempat tinggal sahabat nya,
"Hemm terus ini gimana dong tas nya," kata Hanna,
"Ya udah lo bawa aja dulu, besok baru balikin," kata Chaca,
Arya pulang dari kantor nya sudah pkl.7 namun Apartemen nya masih sangat sepi, tidak ada tanda tanda adanya keberadaan Jenar di sana,
Biasanya saat Arya pulang, Jenar akan selalu menyambutnya di depan TV, namun ini tidak, bahkan lampu lampu masih belum menyala semua,
Arya berjalan menuju kamar juga nihil tidak ada Jenar disana, Arya mencari ke seluruh ruangan sambil memanggil nama Jenar, namun tak kunjung ia temukan,
"Shiitt, kemana lagi itu bocah," umpat Arya kesal bercampur khawatir, karena Arya tau jadwal kuliah Jenar hanya sampai jam 5, Arya mikir pasti kelayapan,
Arya segera menghubungi Jenar beberapa kali namun tak kunjung di angkat, lalu Arya mencoba menelfon Bian, barang kali mereka sedang bersama, itu lebih baik daripada ia tidak tau dimna keberadaan Jenar,
"Hallo bang," Jawab Bian saat menjawab panggilan Arya,
"Dimana kamu, sama Jenar gak" tanya Arya to the point
__ADS_1
"Abang lupa apa pikun sih, Bian kan masih di kota B seminggu ini. besok Bian baru balik," kata Bian membuat Arya tersadar bahwa adik nya sedang ada tugas di kota B,
"Shiitt,," umpat Arya,
"Kenapa bang, emang Jenar kemana," tanya Bian juga ikut khawatir,
"Harusnya ia udah pulang dari sore, tapi abang pulang kerja dia gak ada di Apartemen, nomor nya juga abang telfon gak di jawab," kata Arya frustasi,
"Coba Bian tanyain ke temen temen Bian dulu, kali aja ada yang lihat," ucap Bian lalu segera mematikan sambungan telfon nya dan mencari keberadaan jenar lewat teman teman nya.
Arya masih terus menghubungi nomor Jenar, Nyambung namun tidak di angkat, setelah lebih dari sepuluh kali akhirnya ada juga yang mengangkatnya namun Arya kecewa karena itu bukan Jenar,
"Hallo," ucap Hanna di seberang sana yang baru selesai mandi,
"Hallo. siapa ini," tanya Arya bingung karena bukan suara istrinya.
"Loh, harusnya saya dong yang nanya anda siapa, anda yang telfon kok," omel Hanna tanpa menyadari bahwa itu Handphone Jenar bukan Handphone nya.
"Saya mau menelfon istri saya, kenapa kamu yang jawab, dimana istri saya," kata Arya dingin,
"Dihh, ngaco situ ya gak waras, nyari istri kesini, emang kapan kita nikah, ckck ada ada aja," kata Hanna, "Maaf anda salah sambung," Hanna lalu mematikan Handphone nya dan saat melihat memang tertera nama 'Suami' yang menelfon, Hanna menelan saliva nya dengan susah saat menyadari bahwa itu Handphone Jenar bukan handphone nya,
"Eh tunggu, tapi kok suami, apa jangan jangan Jenar udah nikah?" gumam Hanna terkejut, "Hah apa jangan jangan kak Bian itu suami Jenar haaaahh," Pekik nya tak percaya,
Tak lama, Handphone Jenar kembali berdering, dan tertera nama 'Mas Bian' disana,
"Kalau yang tadi suami nya Jenar terus sekarang mas Bian, berarti suami Jenar bukan kak Bian," alih alih mengangkat Hanna malah sibuk menerka nerka sendiri."
__ADS_1
Karena foto2 mas Arya yg di awal2 Bab mommy sempet hapus, jadi mommy upload lagi disini 😘😘
semoga gak akan bosen mandangin foto mas Arya ya 😂😍😍