
Sepulang dari Honeymoon badan Jenar malah semakin parah, bahkan hanya untuk bangun dari tempat tidur saja rasanya ia tidak sanggup.
"Sayang, kamu gak usah kuliah dulu ya," kata Arya lembut.
"Hemm," jawab Jenar yang enggan untuk beranjak dari tidurnya.
"Mas berangkat ke kantor dulu, nanti siang mas pulang lagi," Arya pamit untuk pergi ke kantor tapi Jenar benar benar seperti putri tidur, sama sekali tidak bergerak, padahal biasanya Jenar lah yang paling aktif sedari pagi.
Arya menutup pintu kamarnya dengan perlahan lalu mulai berjalan menuruni anakan tangga menuju meja makan.
"Pagi mah, pah," ujar Arya menyapa kedua orang tuanya, lalu menarik satu kursi untuknya duduk.
"Jenar mana sayang?" tanya Tamara lembut, sambil mengoleskan selai ke roti.
"Dia masih pusing mah," jawab Arya sambil mengambil roti.
"Makanya jangan kebanyakan lo, jangan terlalu semangat," ucap Dimas berkomentar.
"Sialan lo," jawab Arya kesal, padahal mah emang iya dia terlalu bersemangat.
"Gak ngampus dia bang?" tanya Bian.
"Jangan dulu deh, badan nya lemes banget kayaknya, dari kemarin di pesawat muntah muntah terus dia," ujar Arya sambil memakan roti.
Tanpa berkata Aiden langsung turun dari meja makan lalu membawa roti beserta susu, melangkahkan kakinya ke lantai dua ke kamar Arya dan Jenar.
"Anak lo perhatian banget sama bini gue," ucap Arya berdecak.
"iyalah, dia pengertian karena punya om yang GAK PEKA," cibir Dimas.
"Sudah sudah, kalian ini bertengkar terus kalau lagi ada giliran gak ada saling nyari." kata Tamara.
Ceklek.
Aiden membuka pintu kamar Jenar dan matanya menelisik ke seluruh ruangan namun tidak menemukan dimana Jenar.
__ADS_1
"Tan, tante Jenar,,," panggil Aiden namun tidak ada suara.
tok tok tok, "Tante di dalam ya?" panggil Aiden lagi mengetuk pintu kamar mandi.
Brugg...
Aiden begitu terkejut begitu mendengar suara sesuatu jatuh, lalu ia berusaha membuka pintu kamar mandi namun tak bisa, sepertinya di kunci dari dalam.
Aiden pun segera berlari menuruni anak tangga hingga nafasnya terengah engah.
"Aiden pelan pelan, nanti kalau jatuh gimana," omel Tamara.
"Tau tuh anak tuyul udah kaya lihat setan aja," cibir Bian.
"Ada apa Aiden," tanya Adi lembut.
Aiden masih mengatur nafasnya yang ngos ngos an.
"Tan tante Jenar huh huh huh," ucap Aiden terbatas karena nafasnya putus putus.
"Sayang, Sayang,, kamu dimana," Arya menelisik mencari keberadaan Jenar namun tak ada, ia pun berjalan ke arah kamar mandi.
Dor dor dor,,, "Sayang, kamu di dalam?" tanya Arya setengah berteriak namun tak ada sahutan.
"Tadi Aiden denger suara ada yang jatuh gitu, Aiden takut tante Jenar jatuh di dalam," ucap Aiden yang baru tiba di kamar Arya.
"Kita Dobrak pintu nya bang," ucap Bian di balas anggukan oleh Arya.
Brakkk,,, cobaan pertama FAILED.
Braaakkk,,, Cobaan kedua GAGAL.
"Shiittt ini pintu di buat dari apaan sih susah banget," umpat Arya kesal.
"Kita coba sekali lagi," kata Bian.
__ADS_1
Dengan hitungan ketiga akhirnya pintu berhasil terbuka.
Braaakk...
"Auuwhwh sakiitt banget," ujar Bian dan Arya.
"Lagi kalian ngapain pake dobrak, kan ada kunci cadangan," ujar Dimas menyerahkan kunci cadangan kepada Arya, membuat Arya melototkan matanya ke arah Dimas, namun Dimas malah terkekeh.
"Jenarrrr," pekik Tamara yang melihat menantunya tergeletak di kamar mandi, membuat tatapan Arya yang tadi menatap Dimas kini teralihkan ke arah dalam kamar mandi. mata Arya sukses membola kala melihat Istri tercinta nya tergeletak di lantai. Arya segera berlari ke arah Jenar.
"Sayang, sayang bangun " ucap Arya lalu ia segera membopong tubuh istrinya dan meletakkan nya di tempat tidur.
"Sayang. jangan bikin aku khawatir,,, bangun dong,"
"Bian kamu telfon dokter Haris." Ucap Tamara kepada Bian, Bian pun segera berlari setelah mendapatkan perintah dari Tamara.
Tamara pun juga segera mencari minyak angin untuk membantu membuat Jenar siuman sebelum Dokter keluarga Pranata datang.
"Pih, tante Jenar kenapa?" tanya Aiden yang matanya sudah berkaca kaca.
"Gak apa apa kok, tante Jenar pasti akan baik baik aja," ujar Dimas.
Setelah mendapatkan minyak angin, Tamara segera menaiki tempat tidur dan segera mengoleskan minta angin ke hidung, kening serta telapak tangan Jenar.
"Arya, kamu oleskan juga ke kaki nya," ujar Tamara memberikan botol minyak angin kepada Arya.
Arya tidak segera mengambilnya malah ia bergidik ngeri sendiri. "Ayo buruan oleskan ke kaki nya," ucap Tamara lagi.
"Tapi mah, Arya ..." Tamara menatap tajam ke arah anak kedua nya ini, sebenarnya Tamara tau bahwa Arya memang tidak menyukai jenis bau minyak minyak kan seperti ini sedari kecil, tapi mau bagaimana lagi ini kan DARURAT.
Dengan terpaksa Arya pun mengambil minyak itu lalu mengoleskan ke kaki Jenar, lagi lagi mata Arya membola kala merasakan kaki Jenar yang sedingin Es.
"Mah, kenapa kaki Jenar dingin banget," tanya Arya panik, Tamara pun segera menyentuk kaki Jenar dan benar saja, Kakinya sangat dingin dan pucat.
Hayooo ada yang tau kenapa sama Jenar??
__ADS_1