Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 29. Katakan Kamu Mencintaiku


__ADS_3

Prilly hanya butuh waktu tidak lebih dari dua puluh menit untuk membersihkan tubuhnya. Dia yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, tentu tidak membawa baju ganti. Hingga dia hanya memakai handuk yang melilit sebatas paha.


Dia tidak peduli Choco akan memaki atau bahkan memarahinya. Sebab dia tidak akan mungkin bisa mengubah cara pandang suaminya dengan mudah.


Biarlah dia terus-menerus dianggap murahan, yang terpenting dia luar sana dia masih bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang istri.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan tubuh mungil Prilly yang hanya berbalut handuk berwarna putih. Kulitnya masih setengah basah, dengan ikatan rambut yang begitu tinggi.


Hingga dari tempatnya duduk, Choco bisa melihat dengan jelas, kaki jenjang Prilly yang begitu mulus, dan leher gadis itu yang sangat menggiurkan. Apalagi ada beberapa anak rambut yang menjuntai tak beraturan, membuat gadis itu semakin terlihat seksi di mata Choco—sebagai pria normal.


Cukup lama Choco menatap istrinya, hingga dia merasakan sesuatu yang mulai bergerak bangkit. Namun, dia tidak akan mungkin merealisasikan keinginannya, karena dia tahu diri.


"Aku ingin kita bicara!" ucap Choco tiba-tiba, membuat Prilly sedang memilih baju, langsung mengalihkan pandangan matanya. Hingga kedua netra itu bersitatap.


Dari semua nasehat yang keluar dari mulut Kakak sulungnya, dan dari semua dukungan keluarga terhadap Prilly. Sedikit demi sedikit membuat Choco kembali berpikir, bahwa keluarganya tidak akan mungkin bertindak semena-mena.


Karena mereka semua tidak bertindak secara gegabah. Meskipun cintanya terhadap Melinda masih sangat begitu besar, tetapi melawan takdir pun rasanya percuma. Dia tidak akan mungkin bisa mengalahkan sang pencipta.

__ADS_1


"Membicarakan hal apa?" Prilly balik bertanya dengan nada yang begitu santai. Dia sama sekali tidak risih saat Choco menatapnya dengan intens, karena dia tidak lagi peduli, sekalipun pria itu akan memaki-maki.


"Tentang kita."


"Kita? Ada apa dengan kita? Bukankah kamu tidak peduli apapun, lalu kenapa tiba-tiba membahasnya?" Prilly seolah tidak tertarik sama sekali, hingga membuat Choco cukup merasa geram.


Bukankah gadis ini mencintainya? Namun, kenapa saat membahas tentang kita, Prilly malah seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Apakah semuanya hanya permainan? Apakah cinta yang diungkapkan oleh Prilly adalah palsu?


Pelan, Choco melangkahkan kakinya ke arah Prilly yang masih berdiri di depan lemari pakaian. Gadis itu hanya bergeming, hingga sang suami benar-benar ada di hadapannya.


Tak ada tatapan penuh cinta seperti kebanyakan pasangan. Karena rumah tangga mereka begitu terasa hambar.


"Katakan dengan jujur, apakah benar kamu mencintaiku?" tanya Choco, sebagai pria dia mencoba untuk memulainya lebih dulu. Toh, sekuat apapun dia berlari dari kejaran Prilly, jika Tuhan tidak berkehendak, maka dia tidak akan bisa ke mana-mana.


"Aku butuh jawaban!"


Mendengar itu Prilly langsung mengangkat kepalanya sambil membelalakkan mata.


"Harusnya aku yang bicara seperti itu! Aku yang butuh kejelasanmu!"

__ADS_1


"Kalau begitu katakan kamu mencintaiku, maka semuanya akan terjawab!"


Tak bisa bohong, tubuh Prilly mendadak gemetar dengan lutut yang terasa lemas. Hingga pakaian yang ada di tangannya terlepas. Bersamaan dengan air matanya yang menderas.


"Aku sudah pernah bilang, aku mencintaimu. Tapi aku juga tidak akan diam saja ketika kamu menginjak-injak harga diriku!" tegas Prilly sambil mengusap kasar pipinya menggunakan punggung tangan.


"Aku tahu apa yang aku lakukan salah. Tapi aku juga sudah pernah mengatakan semuanya, bahwa aku hanya ingin menyelamatkan orang yang aku cintai, dari rubah betina yang sesungguhnya. Jika kamu tidak terima aku menyebutnya seperti itu, ayolah, cari tahu! Jangan hanya menunggu orang memberitahumu. Karena kamu terlalu pengecut untuk itu!" sambung Prilly, seraya menatap Choco yang membeku.


Pria tampan itu seolah tak dapat mengeluarkan kata-kata yang sudah ada di ujung mulutnya, karena dia tidak bisa terima fakta tentang keburukan Melinda. Apakah benar, selama ini dia tidak benar-benar mengenal wanita yang dia cinta?


Setelah mengatakan ribuan beban di dadanya, Prilly terisak-isak. Sementara Choco hanya bisa berdiri dengan wajah yang begitu datar. Hingga tak berapa lama kemudian, terdengar suara helaan nafas panjang.


"Baiklah, mulai hari ini aku akan mencaritahu semua tentang dia. Tapi jika semua dugaan yang telah kamu berikan tidak benar, maka kamu yang harus mundur!"


Mendengar itu, Prilly tersenyum getir. Sebab dia tahu bahwa cinta Choco terhadap ibu tirinya memang sangat besar.


"Ya, aku akan mengalah."


***

__ADS_1


Rasanya gue pengen remet-remet uler lu🙄🙄🙄



__ADS_2