
Choco semakin memperdalam ciumannya, bahkan sesekali dia menghisap lidah Prilly dengan cukup kuat. Prilly dibuat kewalahan, apalagi saat Choco sudah mendorongnya perlahan hingga dia berbaring di sofa.
Tubuhnya terhimpit oleh raga perkasa suaminya. Sementara pria itu terus mengabsen setiap deretan gigi Prilly, dengan cumbuan yang hebat.
"Ah," lenguh gadis itu di antara permainan mereka yang semakin panas. Sudah lama tidak menyatu, membuat kerongkongan hasrat mereka kehausan, ya haus akan belaian.
Prilly mengalungkan tangannya di sepanjang leher Choco. Sementara pria itu masih belum puas untuk mencium bibir Prilly, benda kenyal itu benar-benar terasa kebas, karena sedikitpun Choco tidak melepaskannya.
Lenguhan Prilly semakin terdengar keras, saat tangan besar nan hangat itu menyusuri tiap inci tubuhnya. Menciptakan desiran aneh, yang membuat inti tubuhnya berdenyut-denyut.
Apalagi saat jari jemari itu menyusup masuk ke dalam braa, dan memainkan salah satu pucuk merah jambu miliknya. Prilly hanya mampu memejamkan matanya saat merasakan sensasi geli sekaligus nikmat yang tiada tara.
Choco melepaskan ciuman mereka, lalu menatap wajah Prilly yang sudah tampak memerah. Dengan cekatan dia menaikan dress yang Prilly kenakan, hingga dia bisa melihat dua gumpalan daging yang menyembul dari tempatnya.
Namun, kini mereka malah saling tatap. Seolah tak tahu harus melakukan apalagi. "Kita, akan melakukannya di sini?" Tanya Choco, bukan apa dia bertanya seperti itu, dia hanya takut Prilly tidak akan nyaman, karena sofa tersebut cukup sempit untuk mereka berdua.
Ditanya seperti itu tentu Prilly merasa malu. Karena di mana pun, asalkan bersama Choco pasti bisa dia terima.
"Kita pindah saja ya?" tanya Choco lagi meminta persetujuan, karena dia melihat Prilly yang tampak kebingungan.
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Choco mengangkat tubuh mungil itu, lalu melangkah ke arah pintu yang ia yakini adalah sebuah kamar.
Prilly hanya mampu mengeratkan pegangan tangannya pada leher Choco, sambil tersenyum-senyum di balik tubuh kekar itu.
"Yang mana?" tanya Choco, karena ternyata ada dua pintu di sana. Prilly menunjuk kamar yang selama ini ia tempati, lalu Choco melangkah lagi. Mereka persis seperti pengantin baru yang hendak berbulan madu, karena lagi-lagi Prilly bersikap malu-malu.
__ADS_1
"Tanganku susah, boleh aku minta bantuanmu untuk membukanya?" Kini Choco lebih dominan bicara, berbanding terbalik dengan Prilly yang senantiasa mengunci mulutnya. Karena tugas mulut Prilly sekarang hanya untuk mendesaah.
Ceklek!
Benda persegi panjang itu terbuka lebar. Selebar senyum Choco yang menatap Prilly dengan tatapan menggoda. "Istriku memang pintar."
Setelah mengatakan itu, Choco langsung merebahkan tubuh Prilly di atas ranjang. Tidak ada alasan lain lagi untuk menunda semuanya, Choco langsung membuka dan melemparkan kemeja lusuh yang seharian ini menempel di tubuhnya, lalu kembali menyerang tubuh Prilly.
Gadis itu hanya bisa pasrah saat Choco berusaha untuk membuka seluruh pakaiannya. Hingga tubuh mereka sama-sama polos, seperti bayi yang baru saja dilahirkan.
Prilly meneguk ludah, saat melihat ular Choco yang sebentar lagi memangsa dirinya. Namun, mau mundur pun dia tidak akan bisa.
"Ah, Kak!" desaah Prilly saat pria itu menghisap puncak dadanya. Rasanya sungguh menggetarkan, dan membuat seluruh urat syarafnya menegang.
Lidah Choco berlarian, membasahi tiap inci tubuh Prilly hingga bermuara di lembah basah yang baru pernah Choco lihat dengan keadaan sadar. Tampak indah dan menggiurkan.
"Kenapa ditutup?" tanya Choco.
"Aku malu, Kak." jawabnya jujur.
"Aku ingin melihat dan merasakannya."
"Kenapa tidak langsung saja? Kalau dilihat seperti itu, aku malah jadi gugup."
"Kita masih pemanasan, Sayang."
__ADS_1
Ah, sial. Dipanggil seperti itu saja rasanya tubuh Prilly langsung meleleh, hingga dia pasrah saat Choco kembali membuka kedua kakinya.
Prilly tidak tahu apa yang akan Choco lakukan, dia hanya melihat pria itu terus mendekatkan wajah ke inti tubuhnya, hingga detik berikutnya mulut Prilly menganga lebar.
Dia mencengkram bahu Choco, sementara pria itu mulai memainkan lidahnya di dalam sana. "Kakak!" Panggil Prilly, merasakan tubuhnya yang tidak karuan.
Semakin masuk semakin terasa nikmat. Apalagi saat benda tidak bertulang itu bergerak dan berputar-putar.
"Kakak, ini sangat menyiksa, ah!"
Choco melumaat benda yang mirip dengan irisan buah peach itu dengan penuh hasrat. Lalu melepaskannya karena mendengar Prilly berteriak, dia tahu Prilly sudah siap untuk melakukan penyatuan.
Hingga kini dia kembali mengungkung tubuh mungil itu lagi. Prilly menatapnya dengan sorot mata memohon, dan hal tersebut membuat Choco merasa senang. Ini adalah penyatuan perdana mereka, Choco harus memberikan kesan terbaik, dan membuat Prilly mendapatkan kenikmatan yang sempurna.
"Rileks, Sayang."
Choco memegang kedua kaki Prilly, lalu dengan perlahan dia membuat penyatuan. Prilly membusungkan dada selagi benda panjang itu berusaha menembus tubuhnya, dia sedikit tersentak dan merasa sesak, saat Choco menekan pinggul hingga mereka bersatu dalam nirwana yang sama.
Cup!
Choco mengecup kening sempit Prilly, lalu berbisik di telinga gadis itu. "Ekspresikan dirimu dengan bebas, Sayang. Lepaskan semuanya, dan terbang bersamaku menuju puncak nirwana."
Baru setelah itu, Choco bergerak. Mengentak tubuh Prilly dengan cukup kuat.
***
__ADS_1
Mulai bikin spanengggg🤸🤸🤸