
Choco langsung tergagap bukan karena dia tidak bisa menjelaskan siapa Clarissa. Akan tetapi melihat tatapan istrinya yang mengintimidasi, membuat dia berpikir apakah Prilly bisa menerima tentang masa lalu mereka berdua?
Sementara trauma akan ditinggalkan sudah mendarah daging di hati Choco. Ya, dia sangat takut Prilly akan kembali pergi dari sisinya.
"Siapa, aku tanya!" ucap Prilly lagi dengan suaranya yang mulai terdengar ketus. Cemburu? Oh sudah tentu, wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya bicara dengan wanita lain? Bahkan wanita itu terlihat sangat asing, karena Prilly memang belum pernah bertemu dengan Clarissa.
"Kita duduk dulu ya, Sayang," ucap Choco sambil meraih pergelangan tangan istrinya, tetapi Prilly lebih memilih untuk menghindar. Dia melipat kedua tangan di depan dada lengkap dengan tatapan tak ramah.
"Aku mau penjelasan!"
"Iya nanti aku akan menjelaskannya."
"Tidak mau, aku maunya sekarang! Titik."
"Iya, tapi kita cari tempat berteduh dulu. Kamu bilang ingin minum, ini aku sudah bawakan kelapa muda untukmu," bujuk Choco dengan suara yang terdengar sangat rendah. Karena ia tahu, bukan akal sehat Prilly yang tengah berbicara, tetapi hatinya.
"Ayolah, aku akan menjawab apapun pertanyaanmu dengan jujur."
Prilly menatap kedua bola mata Choco yang memancarkan kesungguhan.
__ADS_1
Beruntung, gadis cantik itu mau mendengarkan ucapan suaminya. Dia membiarkan Choco menggenggam tangannya untuk sampai di bawah pohon kelapa, tempat mereka untuk berteduh.
Choco lebih dulu duduk di atas pasir, dia meluruskan kaki lalu menepuk kedua pahanya, agar Prilly duduk di sana. "Sayang, sini. Duduk di pahaku."
"Tapi nanti kamu berat, Kak. Biar aku duduk di pasir juga, toh bajuku sudah kotor," tolak Prilly tak enakan. Akan tetapi suaminya tidak bisa dibantah, Choco justru menarik tangan Prilly, hingga mau tak mau gadis itu pun duduk di pangkuan suaminya.
"Aku tidak peduli dengan pakaianmu. Aku hanya takut kamu tidak nyaman, duduk di sini lebih enak 'kan?" ujar Choco yang membuat Prilly langsung merona. Awalnya dia ingin marah, tetapi mendapat perlakuan seperti ini rasanya akan sangat percuma. Hanya buang-buang tenaga saja.
Dengan telaten Choco menyiapkan kelapa muda yang baru saja dibelinya, dia menancapkan sedotan lalu mengulurkan buah tersebut pada Prilly. "Minumlah, kamu bilang sangat haus, aku memilihkan yang terbaik untukmu."
Lagi-lagi Prilly dibuat speechless dengan semua perlakuan Choco. Dia menerima kelapa muda itu, lalu meminumnya pelan-pelan.
"Kamu pasti tidak senang ya aku bicara dengan wanita itu?" tanya Choco untuk pertama-tama, dia membenahi rambut Prilly yang basah, dan menyisirnya menggunakan tangan.
"Dia itu kakak dari Cia, istrinya De. Kamu ingat 'kan? Makanya kami terlihat cukup akrab, karena kami memang saling mengenal satu sama lain. Dia masih kerabat kita," jelas Choco tanpa dipinta, dia terus berbicara dengan pelan tak ingin menyulut kekesalan di hati istri kecilnya.
"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Prilly.
"Waktu pernikahan kita dia tidak datang, karena dia sedang ada di luar kota. Makanya kamu tidak pernah bertemu dengannya, dan sekarang dia juga sedang bekerja."
__ADS_1
Prilly menilisik bahasa tubuh suaminya, karena biasanya orang yang berbohong akan bergerak gelisah.
"Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya?"
Choco menghela nafas kecil, lalu menggelengkan kepalanya. Dia menangkup kedua sisi wajah Prilly, meyakinkan gadis itu bahwa kini di hatinya hanya ada satu nama. "Tidak, Sayang. Kita hanya pernah dekat, tapi tidak sampai menjalin hubungan. Hanya teman. Sama seperti kamu, hanya saja kamu adalah teman hidupku."
Mendengar itu, Prilly tidak bisa untuk tidak tersenyum, tidak bisa menahan kebahagiaan yang membuncah di dadanya, apalagi saat Choco menautkan jari-jari mereka berdua. "Dan sampai suatu hari nanti, hanya tangan ini yang akan aku genggam erat. Kamu tidak akan tergantikan."
"Kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa marah?"
"Kamu ingin tahu alasannya?"
Dengan gerakan polos gadis itu mengangguk. Sementara Choco sudah tersenyum-senyum, dia mendekatkan wajah ke telinga Prilly dan berbisik. "Nanti aku tidak dapat jatah."
Haha. Choco langsung tergelak kencang, sementara wajah Prilly sudah merah padam. Dia langsung mencubit dada Choco penuh kesal, tetapi hal tersebut tak menghentikan tawa di bibir suaminya.
Sebuah pemandangan membahagiakan untuk seorang Clarissa, karena meskipun dia merasa sesak, tetapi dia tidak ingin menjadi si egois dengan merebut kebahagiaan wanita lain.
"Aku turut bahagia melihatmu bahagia, Kak."
__ADS_1
***
Anak baik kamu mah ya, Cla😌😌😌